NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Dunia Yang Berbeda

Malam semakin larut, namun Karina sama sekali belum bisa memejamkan mata. Ia berbaring di atas kasur king size yang empuk dan lembut di kamar tidur utama di lantai dua. Kamar ini sangat luas, berdesain mewah dengan dominasi warna krem dan emas, lengkap dengan lemari pakaian yang bisa muat untuk ratusan gaun. Secara materi, kamar ini adalah surga bagi setiap wanita. Namun bagi Kirana, tempat ini terasa seperti seluas samudra yang dingin dan sepi.

Ia memeluk guling erat-erat, menempelkan pipinya pada kain sutra yang halus. Di seberang sana, di lantai bawah, ada misua nya. Pria yang secara hukum negara dan agama sudah sah menjadi miliknya, namun secara hati dan perasaan... entahlah milik siapa, yang jelas bukan miliknya.

Pikirannya melayang kembali pada percakapan singkat namun menyakitkan tadi. "Jangan campuri urusanku... kita hidup di dunia masing-masing." Kalimat itu terus berputar di kepalanya bagaikan kaset yang rusak.

"Dunia masing-masing..." gumam Kirana pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Seberat itukah harus hidup denganku, Arga?"

Air mata kembali menetes, membasahi bantal. Ia lelah menangis, tapi rasanya air matanya tak pernah habis untuk hari ini. Hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidup seorang wanita, justru menjadi hari terkelam dan paling menyedihkan baginya.

Keesokan paginya, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden jendela. Kirana sudah bangun sejak pukul lima subuh. Ia tidak bisa tidur lagi. Rasa cemas dan gugup membuat perutnya terasa mulas. Hari ini adalah hari pertama ia benar-benar menjalani kehidupan barunya sebagai Nyonya Wijaya di rumah ini.

Dengan gerakan lambat, Karina turun dari tempat tidur. Ia memilih mengenakan pakaian yang sopan namun sederhana, sebuah gamis berwarna soft blue dan kerudung yang senada. Ia ingin terlihat rapi, namun tidak ingin terlihat mencolok atau berusaha terlalu keras.

Saat melangkah keluar dari kamar, suasana rumah masih sangat hening. Langkah kakinya pelan, seolah takut mengganggu ketenangan yang ada. Saat sampai di tangga, ia berhenti sejenak, menunduk memandang ke lantai bawah.

Matanya langsung menangkap sosok tinggi besar yang sedang duduk di ruang makan.

Arga.

Pria itu sudah duduk tegap di kepala meja. Ia sudah berganti pakaian, mengenakan kemeja kerja berwarna putih dengan lengan yang digulung sedikit hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kekar. Wajah-nya tampak lebih segar dibandingkan kemarin, namun tatapannya tetap saja tajam dan serius. Ia sedang menikmati secangkir kopi hitam sambil membaca koran cetak dengan santai namun penuh wibawa.

Kirana menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Haruskah ia menyapa? Atau pura-pura tidak melihat?

Tiba-tiba, seolah merasakan kehadiran seseorang, Arga mendongak. Tatapan mata mereka bertabrakan.

Kirana tersentak kaget, refleks menundukkan pandangan. "Pagi..." ucapnya lirih, nyaris tak terdengar, sambil terus berjalan turun dengan hati was-was.

Arga hanya mengangguk singkat, tidak membalas sapaan itu dengan kata-kata. Tatapannya kembali tertuju pada koran di hadapannya, seolah kehadiran Kirana hanyalah seperti angin lalu yang tak penting.

Kirana merasa semakin kecil. Ia berjalan menuju meja makan, berdiri agak jauh dari sana.

"Maaf... apa aku boleh sarapan?" tanyanya dengan sangat hati-hati.

Arga menurunkan korannya sedikit, menatap Kirana dari balik kacamata bacanya yang tipis. "Ini rumahku, Kirana. Kamu isteriku. Tentu saja boleh. Jangan bertingkah seperti orang asing atau pencuri di rumah sendiri. Itu memalukan."

Nada suaranya datar, namun kata-katanya menusuk. Kirana mengerti maksudnya. Di depan orang lain mereka harus terlihat normal, tapi di balik pintu tertutup, sikapnya tetaplah dingin.

"Duduk," perintah Arga singkat.

Kirana pun duduk di ujung meja yang paling jauh dari posisi Arga. Ia mengambil roti dan selai dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia berusaha makan dengan tenang, tapi rasanya sangat sulit saat ada aura intimidasi yang begitu kuat terpancar dari pria di hadapannya.

"Setelah sarapan, kamu akan diantar berkeliling kompleks dan dikenalkan pada tetangga sebelah kanan dan kiri. Mereka teman bisnis ayahku," ucap Arga tiba-tiba tanpa menatap Kirana.

"Oh... baik," jawab Kirana patuh.

"Dan ingat, saat di luar sana, senyumlah. Bicara yang sopan. Jangan buat aku malu. Tunjukkan bahwa kamu layak menjadi Nyonya Wijaya," pesan Arga lagi, kali ini suaranya terdengar lebih tegas. "Aku tidak peduli apa yang kamu rasakan di dalam sini, tapi di luar, citra keluarga harus terjaga."

"Aku mengerti, Arga. Aku tidak akan mengecewakanmu," jawab Kirana pelan.

Arga menghela napas pendek. "Bagus. Aku akan berangkat kantor setelah ini. Biasanya aku pulang malam. Jangan tunggu aku. Lakukan saja kegiatanmu. Belilah apa pun yang kamu butuhkan untuk menghias kamarmu atau keperluanmu sendiri, kartuku ada di Bibi Sumi. Gunakan seperlunya saja, jangan berlebihan."

Kirana cuma mengangguk. Ia tidak berniat memakai uang pria itu untuk hal-hal yang tidak penting. Baginya, selama ia bisa makan dan tinggal di sini, itu sudah cukup.

Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang kaku. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring sesekali. Mereka duduk bersebelahan sebagai suami isteri, namun jarak psikologis di antara mereka begitu jauh, bagaikan berada di dua dimensi yang berbeda.

Arga adalah Laki-laki dari dunia yang keras, penuh persaingan, uang, dan kekuasaan. Sementara Kirana... ia hanyalah wanita biasa yang menginginkan kehidupan tenang, penuh kasih sayang, dan kehangatan.

Setelah selesai, Arga berdiri. Seorang sopir dan bodyguard sudah siap di depan pintu. Ia merapikan bajunya, lalu menoleh sekilas ke arah Kirana yang masih duduk menunduk.

"Aku berangkat," ucapnya singkat.

"Hati-hati," jawab Kirana refleks.

Arga tidak membalas. Ia berbalik dan berjalan keluar dengan langkah tegap. Pintu tertutup. Suara mesin mobil menyala, dan tak lama kemudian, kendaraan mewah itu melaju meninggalkan halaman rumah.

Baru saat itulah Kirana merasa beban di dadanya sedikit terangkat. Ia menghela napas panjang, seolah baru saja melewati ujian yang sangat berat.

"Fyuuuuuh..."

"Non Karina tidak apa-apa?" tanya Bi Sumi yang tiba-tiba muncul membereskan piring kotor. Wanita paruh baya itu menatap Kirana dengan tatapan iba.

Kirana tersenyum tipis, mencoba terlihat kuat. "Aku baik-baik saja, Bi. Terima kasih."

"Tuan Arga memang orangnya dingin dan pendiam, Non. Tapi beliau baik hati kok, tidak pernah marah-marah atau kasar selama tidak diganggu. Non tinggal pelan-pelan saja membiasakan diri," kata Bi Sumi mencoba menghibur meski terbata-bata.

Kirana hanya mengangguk. Ia tidak ingin berharap banyak. Ia tahu, mendapatkan kehangatan dari Arga Wijaya sama sulitnya seperti meminta bunga tumbuh di tengah kutub utara.

Hari itu berlalu dengan sangat lambat bagi Kirana. Ia menghabiskan waktu dengan membereskan barang-barangnya, merapikan kamar agar terasa lebih nyaman dan sedikit berwarna, mencoba menghilangkan kesan dingin yang ada. Siang harinya ia diantar berkeliling dan bertemu tetangga, semua berjalan lancar karena ia berusaha bersikap ramah dan sopan sesuai permintaan Arga.

Namun, saat malam tiba, kesepian itu kembali datang menghantam.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Arga belum pulang.

Kirana duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi tapi tidak bener-benar menonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Apakah pria itu masih di kantor? Atau sedang bersenang-senang dengan teman-temannya? Atau... mungkin sedang bersama wanita lain?

Pikiran terakhir itu membuat hati Kirana terasa nyeri. Ia tahu ia tidak punya hak untuk cemburu atau marah. Arga sendiri yang bilang, jangan campuri urusannya. Tapi sebagai seorang isteri, meskipun pernikahan ini tidak diinginkan, naluri wanitanya tetaplah merasa sakit membayangkan suaminya dekat dengan wanita lain.

Akhirnya, menjelang pukul sebelas malam, terdengar suara mobil masuk ke halaman.

Kirana segera berdiri, reflek ingin menyambut, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Tidak, Kirana. Jangan terlihat terlalu berharap. Ingat posisimu, batinnya menegur diri sendiri. Ia pun kembali duduk, berusaha terlihat santai meski jantungnya berdegup.

Pintu utama terbuka. Arga masuk. Wajahnya tampak sedikit lelah, ada kantung mata yang mulai terlihat. Bau parfum mahal bercampur dengan sedikit bau asap rokok dan alkohol yang samar tercium dari tubuhnya.

Kirana menunduk. "Kamu sudah pulang, Arga?"

Arga melempar kunci mobil ke atas meja dengan suara agak keras. Ia melepas dasinya dengan gerakan kasar, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa seberang Kirana. Ia menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, mungkin karena sedikit pengaruh alkohol atau memang karena kelelahan ekstrem.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya dengan suara yang terdengar lebih berat dan serak dari biasanya.

"Menunggu... eh, belum ngantuk," jawab Kirana terbata-bata, hampir saja ketahuan kalau ia menunggu.

Arga menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, memejamkan mata sejenak. "Hari ini melelahkan. Rapat panjang."

Ada keheningan sejenak. Untuk pertama kalinya, suasana tidak terlalu mencekam. Mungkin karena Arga terlihat lebih manusiawi saat sedang lelah seperti ini.

"Kau..." Arga membuka matanya, menatap Kirana. "Hari ini kau tidak membuat masalah kan?"

"Tidak, Arga. Semuanya berjalan lancar. Aku sudah bertemu tetangga dan semuanya baik-baik saja," jawab Kirana cepat.

Arga mengangguk pelan. "Bagus."

Ia kemudian berdiri, langkahnya sedikit sempoyongan tapi masih bisa menahan diri.

"Aku mandi dulu," ucapnya singkat.

"Mau aku buatkan teh hangat atau susu?" tawar Kirana tanpa sadar. Naluri ingin melayani suami keluar begitu saja.

Arga berhenti melangkah. Ia menoleh, menatap Kirana lekat-lekat. Ada kilatan aneh di matanya.

"Tidak perlu," jawabnya dingin, namun tidak setajam biasanya. "Pergilah tidur. Jangan tunggu-tunggu. Itu perintah."

"Baik..."

Arga pun berjalan menuju kamar mandi utama di lantai bawah. Kirana terdiam memandangi punggung lebar itu menghilang.

Ia sadar betul, hidupnya kini berada di tangan pria itu. Setiap hari akan menjadi ujian kesabaran. Dunia mereka memang berbeda, langit dan bumi. Namun entah mengapa, saat melihat Arga yang pulang dalam keadaan lelah dan sendirian seperti ini, ada sedikit rasa iba yang muncul di hati Kirana.

"Mungkin dia juga tidak sebahagia itu menjalani hidupnya," batin Kirana berandai.

Tapi ia segera menggelengkan kepala. Jangan bermimpi, Kirana. Dia adalah Arga Wijaya. Dia punya segalanya. Dan kau hanyalah isteri formalitas yang dipaksakan padanya.

Dengan langkah berat, Kirana pun beranjak naik ke kamar tidurnya. Malam ini berlalu, dan esok hari... pertarungan hati yang sunyi ini akan terus berlanjut.

 

 

Lanjut ke Bab 4? 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!