Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepedihan yang Nyata
Gerimis tipis yang mengguyur Jakarta malam itu tidak membawa kesegaran, melainkan bau apek dari selokan tersumbat yang merembes ke dalam sebuah petak kontrakan sempit di pinggiran kawasan padat penduduk Tambora. Di dalam ruangan berukuran tiga kali empat meter itu, suara tetesan air yang bocor menghantam ember plastik menjadi satu-satunya musik latar bagi kehancuran hidup dua insan yang pernah berada di puncak dunia.
Helen Kusuma duduk bersimpuh di atas tikar pandan yang sudah mulai mengelupas. Di hadapannya, sebuah kompor minyak tanah tua yang apinya sering batuk-batuk menjadi satu-satunya sumber panas. Ia menatap tangannya yang kini kasar, kuku-kukunya yang dulu selalu terawat di salon mewah kini patah dan menghitam karena debu jalanan.
Dua puluh delapan tahun ia hidup sebagai putri mahkota. Baginya, "miskin" hanyalah sebuah kata dalam naskah drama atau pemandangan sekilas dari balik kaca mobil limousine yang kedap suara. Kini, realitas itu mencengkeram lehernya. Ia harus menghitung koin demi koin hanya untuk membeli sebungkus mi instan yang dibagi dua.
Di sudut ruangan, Ario Diangga terbaring diam. Luka di bahunya memang sudah mengering, namun luka di harga dirinya masih menganga lebar. Seluruh asetnya—apartemen di Singapura, perusahaan investasi di Jakarta, hingga rekening rahasianya—telah disapu bersih oleh jaringan perbankan Belanda yang digerakkan Beatrix. Ario yang dulu begitu perkasa, kini tampak seperti harimau yang kehilangan taring, terkurung di dalam kandang sempit yang berbau lembap.
"Ario... makanlah sedikit," bisik Helen, menyodorkan mangkuk plastik berisi mi kuah encer.
Ario menoleh perlahan, matanya yang cekung menatap langit-langit kontrakan yang terbuat dari triplek lapuk. "Aku gagal, Helen. Aku membawamu ke sini. Aku berjanji akan menjagamu, tapi lihatlah tempat ini. Bahkan anjing penjaga di rumah Menteng dulu tidur di tempat yang lebih layak."
****
Helen menggelengkan kepalanya dengan tegas. Air mata yang sempat menggenang ia usap dengan kasar menggunakan punggung tangannya. "Bukan kau yang gagal, Ario. Tante Beatrix yang licik. Dia mencuri segalanya dari kita, tapi dia lupa satu hal. Dia tidak bisa mencuri siapa kita di dalam sini."
Helen menyuapi Ario dengan tangan yang gemetar. "Selama dua puluh delapan tahun, aku adalah boneka cantik yang dipajang Papa. Aku tidak tahu cara berjuang. Tapi di hutan Venezuela, di dermaga Aruba, dan di ruangan sempit ini, aku belajar satu hal. Kebencian adalah bahan bakar yang jauh lebih murni daripada bensin kelas satu."
Ario bangkit duduk dengan susah payah, bersandar pada dinding yang bergetar setiap kali kereta api melintas di kejauhan. "Dia sudah mengonsolidasikan kekuasaannya, Helen. Seluruh direksi sekarang adalah orang-orangnya. Polisi sudah berada di bawah ketiaknya. Kita ini buronan, kita ini sampah di mata hukum."
"Maka kita akan bertindak seperti sampah," desis Helen, matanya berkilat penuh dendam yang dingin. "Sampah bisa menyumbat saluran, sampah bisa menyebabkan banjir, dan sampah yang terbakar bisa meruntuhkan sebuah gedung. Aku tidak akan membiarkan Papa mati sebagai orang yang 'sial dalam kecelakaan'. Dia dibunuh, Ario. Dan wanita ular itu sekarang sedang menari di atas nisannya."
****
Di saat yang sama, di ruang ballroom hotel bintang lima, Beatrix van Amgard sedang memegang gelas champagne kristal. Ia dikelilingi oleh para investor Eropa yang tertawa bangga atas "modernisasi" yang ia lakukan pada bekas perusahaan Aditya.
"Aditya Kusuma adalah sosok yang romantis, tapi tidak praktis," ucap Beatrix dalam bahasa Inggris yang fasih, disambut tawa para koleganya. "Dia terlalu mencintai budayanya sampai lupa bahwa bisnis adalah tentang angka, bukan tentang perasaan. Sekarang, di bawah bendera V.A. Nordic, kita akan menguasai pasar Asia."
Bambang mendekatinya, berbisik di telinganya. "Mereka tinggal di sebuah kontrakan di Tambora, Nyonya. Kondisinya sangat mengenaskan. Perlu kita selesaikan sekarang?"
Beatrix tersenyum, menyesap minumannya perlahan. "Jangan. Membunuh mereka sekarang terlalu manusiawi. Biarkan mereka mencicipi rasanya menjadi rakyat jelata. Biarkan Helen merasakan bagaimana perihnya perut yang lapar dan dinginnya lantai semen. Aku ingin keputusasaan itu sendiri yang membunuh mereka. Pantau saja, pastikan mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan bahkan sebagai pencuci piring sekalipun."
****
Kembali di kontrakan, Helen mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sudah lecek dari balik bajunya. Di dalamnya terdapat coretan-coretan tangan tentang jadwal rutin Beatrix yang ia ingat, nama-nama pelayan setia yang mungkin masih bisa dihubungi, dan satu nama kunci yang ia simpan sebagai senjata terakhir.
"Ario, kau ingat Pak Haris? Sopir pribadi Papa yang sudah bekerja selama tiga puluh tahun?" tanya Helen.
Ario mengerutkan kening. "Pria tua yang dipecat Beatrix tepat setelah pemakaman itu?"
"Ya. Dia tidak hanya sekadar sopir. Dia adalah saksi bisu setiap perjalanan bisnis Papa. Dia yang mengantar Papa ke lokasi kecelakaan malam itu," Helen mendekatkan wajahnya ke Ario, suaranya kini penuh dengan intensitas yang membara. "Aku yakin dia tahu sesuatu. Aku yakin ada sesuatu yang Papa katakan padanya sebelum mobil itu menabrak pembatas jalan."
"Tapi mencarinya di Jakarta yang seluas ini dengan kondisi kita yang dicari polisi... itu bunuh diri, Helen," ujar Ario ragu.
"Kita sudah mati, Ario! Kita sudah mati sejak kaki kita menginjak trotoar bandara kemarin!" Helen mencengkeram tangan Ario, kuku-kukunya menancap di kulit pria itu. "Aku akan pergi mencarinya. Aku akan menyamar sebagai pemulung, sebagai buruh cuci, apa pun! Aku akan masuk ke dalam celah-celah Jakarta yang tidak bisa dijangkau oleh intelijen Tante Beatrix."
"Baiklah," bisik Ario, semangatnya mulai pulih melihat determinasi Helen. "Aku masih punya satu ponsel rahasia yang tidak terdaftar atas namaku. Aku bisa mencoba meretas sistem keamanan lama di pabrik dari sini, asalkan aku bisa mendapatkan akses sinyal yang kuat. Kita akan serang dia dari dua arah. Kau di lapangan, aku di dunia digital."
****
Helen bangkit berdiri, berjalan menuju pintu kayu yang rapuh. Ia membukanya sedikit, membiarkan angin malam yang membawa bau sampah masuk ke dalam ruangan. Di kejauhan, lampu-lampu pencakar langit Sudirman bersinar angkuh, termasuk gedung yang dulu milik ayahnya.
Ia meraba lehernya yang kosong. Kalung ibunya telah hilang demi nyawa Ario. Hartanya telah lenyap demi keserakahan Beatrix. Tapi di dalam nadinya, darah Aditya Kusuma mengalir lebih kencang daripada sebelumnya.
"Pa..." bisik Helen pada langit yang gelap. "Tunggu sebentar lagi. Aku akan menyeret wanita itu ke hadapan makammu. Aku akan membuat dia memohon ampun dalam bahasa yang tidak akan pernah ia mengerti: bahasa rasa sakit."
Malam itu, di kontrakan yang menyedihkan, tidak ada lagi air mata. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam—kesunyian sebelum badai besar melanda. Helen Kusuma telah menanggalkan sutranya dan mengenakan jubah dendamnya. Dan di menara kacanya, Beatrix van Amgard sama sekali tidak menyadari bahwa mangsa yang ia biarkan hidup sedang bersiap untuk merobek jantung kekuasaannya.