NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 SWMU

Sinar matahari pagi yang cerah berusaha menembus celah-celah gorden beludru yang berat, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas karpet Persia di kamar Nadia. Gadis itu terbangun dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Ia masih terduduk di lantai, bersandar pada pintu kayu yang semalam ia gedor hingga tangannya memerah. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Pintu itu tidak lagi terkunci.

Cklek.

Pintu terbuka perlahan. Bukan Bramantya yang muncul, melainkan seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan yang sangat rapi dan wajah yang kaku tanpa ekspresi. Wanita itu membawa nampan berisi sarapan mewah dan setumpuk pakaian yang masih terbungkus plastik pelindung.

"Selamat pagi, Nona Nadia. Saya Bi Inah, kepala pelayan di sini. Tuan Bramantya menunggu Anda di ruang makan dalam tiga puluh menit," ucap wanita itu dengan suara yang datar namun sopan.

Nadia bangkit dengan tubuh yang terasa kaku. "Bi, apakah aku benar-benar dilarang keluar?"

Bi Inah hanya meletakkan nampan di atas meja kecil dekat jendela tanpa menatap mata Nadia. "Tuan Bramantya hanya ingin Nona aman. Silakan mandi dan bersiap. Pakaian Anda sudah disiapkan secara khusus oleh Tuan."

Nadia menatap tumpukan pakaian itu. Sebuah gaun simpel berwarna biru pucat dengan bahan berkualitas tinggi. Tampaknya Bramantya memang sudah merencanakan segalanya, bahkan hingga detail pakaian yang harus ia kenakan.

Setelah membersihkan diri seadanya, Nadia melangkah keluar dari kamarnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat bagian dalam Mansion Mahendra dalam keadaan terang. Jika semalam tempat ini terasa seperti penjara yang mencekam, pagi ini tempat ini terlihat seperti museum yang megah namun tak bernyawa.

Lorong-lorongnya sangat luas, dengan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan minyak berukuran besar dan guci-guci antik yang diletakkan di setiap sudut. Lantai marmernya begitu mengkilap hingga Nadia bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat di sana. Rumah ini terlalu besar, pikir Nadia. Terlalu besar untuk ditinggali oleh satu orang pria. Setiap langkah kakinya bergema di sepanjang koridor, menciptakan suara yang memekakkan telinga dalam kesunyian yang ganjil.

Ia menuruni tangga melingkar yang megah menuju lantai dasar. Di sana, ia menemukan ruang makan yang luasnya mungkin setara dengan seluruh luas rumah lamanya. Di ujung meja panjang yang bisa menampung tiga puluh orang, Bramantya Mahendra duduk sendirian sambil membaca koran pagi dan menyesap kopi hitam.

"Kau tepat waktu. Duduklah," ucap Bramantya tanpa mengalihkan pandangan dari korannya.

Nadia menarik kursi yang terasa sangat berat dan duduk dengan canggung. Di depannya tersedia berbagai macam hidangan, namun seleranya hilang entah ke mana.

"Bagaimana tidurmu?" tanya Bramantya, akhirnya melipat korannya dan menatap Nadia.

"Paman mengunciku," jawab Nadia langsung, suaranya sedikit gemetar karena keberanian yang dipaksakan. "Kenapa Paman mengunciku seperti binatang?"

Bramantya meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan. Bunyi denting cangkir yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu tajam. "Aku tidak menguncimu sebagai binatang, Nadia. Aku menjagamu dari rasa takutmu sendiri. Semalam kau tidak stabil. Jika kau berlari keluar dalam keadaan gelap dan berkabut seperti itu, kau tidak akan pernah kembali."

Nadia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku ingin melihat rumahku. Aku ingin mengambil barang-barang pribadiku yang tersisa."

"Rumahmu sudah disegel," jawab Bramantya dingin. "Barang-barang yang kau butuhkan sudah ada di sini. Apa pun yang tidak ada di sini, berarti tidak kau perlukan lagi."

"Paman tidak berhak menentukan apa yang aku perlukan!"

Bramantya bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi besar seolah menelan seluruh cahaya di ruangan itu. Ia berjalan mendekati Nadia, membuat gadis itu refleks menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Bramantya tidak berteriak, namun suaranya yang rendah terasa jauh lebih menakutkan daripada bentakan.

"Dengar, Nadia Clarissa. Di luar gerbang mansion ini, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya seorang gadis yatim piatu yang dikejar utang ayahnya. Tapi di dalam sini, kau adalah keponakanku. Kau aman, kau terlindungi, dan kau terhormat. Jangan paksa aku untuk bersikap kasar hanya karena kau keras kepala."

Bramantya kemudian mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Nadia dan mengangkatnya agar mata mereka bertemu. "Makan sarapanmu. Setelah ini, aku akan menunjukkan padamu batas-batas gerbang mansion ini. Agar kau tahu, sejauh mana kau boleh melangkah."

Setelah sarapan yang terasa seperti menelan kerikil bagi Nadia, Bramantya membawanya berjalan ke bagian belakang. Di sana, sebuah taman labirin yang sangat luas terbentang, dikelilingi oleh pagar besi hitam tinggi yang ujungnya runcing seperti tombak. Di kejauhan, terlihat gerbang utama yang dijaga oleh beberapa pria berbadan tegap dengan setelan safari.

"Rumah ini dibangun oleh kakekmu, namun ayahmu menjual bagiannya kepadaku bertahun-tahun lalu karena dia butuh uang untuk memulai bisnisnya yang gagal itu," cerita Bramantya sambil berjalan dengan tangan di dalam saku celananya.

Nadia terkejut. Ayahnya tidak pernah bercerita bahwa dia menjual warisannya pada sang paman.

"Dia selalu merasa lebih hebat dari aku," lanjut Bramantya dengan nada sinis. "Tapi pada akhirnya, dia tetap datang padaku untuk meminta bantuan. Dan sekarang, dia meninggalkanmu padaku sebagai satu-satunya hal yang tersisa darinya."

Nadia menatap gerbang besi yang jauh di sana. "Apakah aku boleh keluar jika aku ingin?"

Bramantya berhenti berjalan. Ia menatap gerbang itu, lalu beralih menatap Nadia. "Kau boleh keluar, Nadia. Tapi dengan syarat: kau harus bersamaku. Kau tidak boleh melintasi gerbang itu tanpa kehadiranku di sisimu. Dunia di luar sana tidak lagi ramah untukmu."

Nadia merasa sesak. Perkataan Bramantya terdengar seperti perlindungan, namun rasanya seperti bentuk kepemilikan. Ia menatap mansion megah di belakangnya. Rumah itu indah, namun terasa hampa dan mati. Tidak ada foto keluarga di dinding, tidak ada suara tawa, hanya ada kesunyian yang dipaksakan.

"Kenapa Paman tidak menikah? Kenapa rumah sebesar ini hanya dihuni oleh Paman dan para pelayan?" tanya Nadia, mencoba mengalihkan pembicaraan dari rasa tertekannya.

Bramantya terdiam sesaat. Matanya menatap ke arah kabut yang mulai menyelimuti puncak pepohonan di luar pagar. "Karena aku tidak pernah menemukan alasan untuk membagi rumah ini dengan siapa pun... sampai sekarang."

Tatapan Bramantya kembali terkunci pada Nadia. Kali ini, ada kilatan aneh di matanya yang membuat jantung Nadia berdebar tidak karuan. Bukan debaran cinta, melainkan debaran waspada.

"Paman..."

"Panggil aku Bram jika kita sedang berdua, Nadia," potongnya dengan suara yang lebih dalam. "Kata 'Paman' membuatku merasa sangat jauh darimu, padahal kita sedarah."

"Tapi Paman adalah adik ayahku..."

"Darah Mahendra memang mengalir di tubuh kita, tapi bukan berarti kita harus terikat pada sebutan yang kaku," Bramantya mendekat, berdiri sangat dekat hingga Nadia bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin dan dingin. "Di rumah ini, aku adalah tuanmu, pelindungmu, dan satu-satunya duniamu. Ingat itu baik-baik."

Nadia tertunduk, tak berani menatap mata pria itu lebih lama. Ia menyadari satu hal yang pasti: Gerbang Mansion Mahendra bukan hanya pagar besi untuk menghalau musuh dari luar, tapi juga penjara untuk memastikan apa yang ada di dalam tidak akan pernah bisa melarikan diri.

Nadia menatap tangannya yang kecil, lalu menatap tangan Bramantya yang besar dan kuat. Ia merasa seperti seekor burung pipit yang baru saja ditangkap oleh seekor elang. Sang elang berkata dia akan menjaganya dari badai, namun sang elang jugalah yang memegang cengkeraman paling kuat pada sayapnya.

Malam kedua di mansion pun menjelang. Saat Nadia kembali ke kamarnya, ia menemukan sebuah kotak kecil di atas tempat tidurnya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk gembok kecil yang indah.

Di bawahnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi: "Pakai ini. Agar kau selalu ingat di mana rumahmu yang sebenarnya sekarang."

Nadia meremas kertas itu. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Ia menatap keluar jendela, ke arah gerbang yang tertutup rapat di kejauhan. Di rumah yang terlalu besar untuk satu orang ini, Nadia merasa lebih kesepian daripada saat ia berdiri di atas pusara orang tuanya. Karena di sini, ia tidak hanya kehilangan orang tua, tapi ia mulai kehilangan jati dirinya sendiri.

1
itsmeiblova
semangatt thor 🔥 yukk update lagi
Han*_sal
jadi kepo aku
Han*_sal
lanjut
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!