NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Pertama Bersama

Aruna benci telat.

Tapi hari ini dia telat lagi. Bukan karena kesiangan—bukan—tapi karena Bu Maita nahan dia sepulang sekolah, minta tolong beresin buku-buku di gudang belakang kelas. Aruna nggak bisa nolak. Dia nggak pernah bisa nolak kalau guru minta tolong.

Jadi sekarang... sekarang udah jam setengah lima sore, dan langit di luar gelap banget. Mendung tebal. Kayak mau...

Gledek.

Aruna berhenti di teras sekolah, pegang tali tasnya erat-erat.

Hujan.

Hujan deres banget.

Airnya menyembur dari langit kayak dibalik dari ember raksasa, bunyi gemuruh nyaris nutupin semua suara lain. Angin kenceng, bikin daun-daun pohon di halaman sekolah goyang-goyang liar. Ada genangan air di mana-mana.

Dan Aruna... nggak bawa payung.

*Astafirullah.*

Dia lupa. Pagi tadi langit cerah, jadi dia pikir nggak bakal hujan. Bodoh. Kenapa dia nggak inget cuaca lagi nggak bisa diprediksi belakangan ini?

Aruna gigit bibir bawahnya. Jalan kaki dari sekolah ke rumah butuh dua puluh menit. Kalau kehujanan kayak gini... dia bakal sakit. Dan Arya pasti marah. Kakaknya itu selalu marah kalau Aruna sakit—bukan marah beneran, tapi marah khawatir, marah karena sayang.

"Ya Allah... gimana ini..." gumam Aruna pelan, ngeliat hujan yang nggak ada tanda-tanda mau berhenti.

Sepi. Teras sekolah sepi. Semua orang udah pulang dari tadi. Cuma tinggal Aruna sendirian di sini, berdiri di ambang teras sambil peluk tas di depan dada.

Dia suka hujan. Beneran suka. Tapi sekarang... sekarang dia malah kesel. Kesel sama diri sendiri yang bodoh lupa bawa payung.

Mau tunggu sampai reda?

Tapi... kalau hujannya nggak berhenti-berhenti gimana? Nanti makin malem. Nanti Arya pulang kerja duluan, terus nanti dia khawatir cari Aruna kemana-mana—

"Aruna?"

Jantung Aruna langsung lompat.

Dia noleh cepet.

Dan di sana... Dhira.

Berdiri beberapa langkah di belakangnya, jaket sekolah udah dipake, ransel di satu bahu, rambut sedikit basah—mungkin kehujanan dikit tadi—dan di tangan kanannya... payung. Payung hitam besar yang masih terlipat.

"Dhira...?" suara Aruna keluar pelan, hampir ketelan suara hujan.

"Kamu belum pulang?" Dhira jalan mendekat, berdiri di samping Aruna sekarang, ikut ngeliat hujan deres di depan mereka.

"A-aku... tadi diminta Bu Maita bantuin beresin gudang... jadinya telat..." Aruna nunduk, main-main sama tali tas lagi. Kebiasaan buruk kalau gugup. "Terus... aku lupa bawa payung..."

Dhira diam.

Aruna nggak berani ngeliat cowok itu. Jantungnya dag dig dug lagi. Kenapa sih tiap ketemu Dhira jantungnya kayak gini terus? Rasanya mau copot.

"Rumahmu jauh?" tanya Dhira tiba-tiba.

"Nggak terlalu... jalan kaki dua puluh menit-an..."

"Oke." Dhira buka payungnya. Klik. Payung hitam itu mengembang, besar, kokoh. "Mau bareng?"

Deg.

Aruna menengadah, ngeliat Dhira dengan mata yang... bingung. Kaget. Nggak percaya.

"A-apa...?"

"Mau bareng?" ulang Dhira, kali ini ngeliat Aruna. Tatapannya... datar. Nggak ada ekspresi aneh. Cuma... nawarin. Biasa aja. "Aku juga jalan kaki. Kebetulan lewat arah sana juga."

Lewat arah sana?

Tapi... rumah Dhira kan... Aruna nggak tau sih rumah Dhira di mana, tapi pasti nggak searah kan? Kenapa dia—

"Aruna." Dhira manggil lagi, kali ini nada suaranya agak... tegas. "Hujannya deres. Kamu bakal sakit kalau nekat jalan sendiri tanpa payung. Ayo."

Dan cowok itu udah jalan duluan, turun dari teras, payung di atas kepalanya, sepatunya nginjek genangan air—byur—tapi dia nggak peduli. Dia noleh lagi ke Aruna.

"Cepetan. Aku nggak mau nunggu lama."

Aruna... nggak bisa mikir.

Otaknya kosong.

Kakinya gerak sendiri.

Dia turun dari teras, lari kecil—airnya langsung menyiprat ke sepatunya, dingin, basah—terus berdiri di samping Dhira. Payung hitam itu sekarang nutupin kepala mereka berdua.

Deket.

Terlalu deket.

Bahu Aruna nyaris nyenggol lengan Dhira. Dia bisa denger napas cowok itu. Bisa nyium wangi samar... sabun? Parfum? Entahlah. Wangi yang... bikin Aruna makin gugup.

"Jalan pelan aja. Nggak usah buru-buru," kata Dhira, terus mulai melangkah.

Dan mereka jalan.

Berdampingan.

Di bawah satu payung.

 

Sunyi.

Nggak ada yang ngomong.

Cuma suara hujan. Gemuruh air yang menyembur dari langit, bunyi tetesan di payung mereka—tuk tuk tuk tuk—bunyi sepatu mereka yang nginjek genangan—byur, cep, byur—dan sesekali suara guntur jauh, menggelegar pelan di kejauhan.

Aruna jalan dengan kepala nunduk, ngeliat sepatunya yang basah, ngeliat jalanan yang penuh genangan. Tangannya menggenggam tali tas erat, jari-jarinya dingin, gemetar dikit—tapi bukan karena dingin. Karena... karena jantungnya nggak berhenti dag dig dug dari tadi.

Dhira jalan santai. Langkahnya pelan, ngikutin kecepatan Aruna. Tangannya yang pegang payung... stabil. Nggak goyang-goyang. Sesekali dia ngelirik ke samping—ngeliat Aruna—tapi nggak bilang apa-apa.

Lima menit berlalu.

Masih diam.

Aruna mulai... nggak tahan. Diamnya terlalu... kaku. Awkward. Tapi dia nggak tau harus ngomong apa. Otaknya blank. Kosong. Cuma bisa mikir: *Kenapa Dhira mau nemenin aku? Kenapa dia nawarin payung? Kenapa dia—*

"Kamu suka hujan?"

Suara Dhira tiba-tiba, bikin Aruna kaget. Dia hampir tersandung kakinya sendiri.

"H-hah?"

"Hujan. Kamu suka nggak?" Dhira ngeliat ke depan, nggak noleh ke Aruna. Suaranya tenang. Kayak nanya hal biasa.

Aruna ragu sebentar. "S-suka... aku suka..."

"Kenapa?"

Kenapa?

Aruna mikir. Lidahnya kelu. Susah ngomong. Tapi akhirnya... dia jawab pelan. "Karena... karena tenang. Hujan itu... bikin tenang..."

Dhira diam. Beberapa detik.

Terus... dia senyum kecil. "Aku juga."

Deg.

Aruna menengadah, ngeliat Dhira dari samping. Cowok itu masih ngeliat ke depan, tapi senyumnya... lembut. Nggak kayak senyum yang biasa dia tunjukin ke orang lain. Nggak kayak senyum... pura-pura.

"Aku suka hujan karena... orang-orang jadi pada diem," lanjut Dhira pelan. "Nggak berisik. Nggak ribet. Cuma... hujan aja."

Aruna nggak jawab.

Tapi dadanya... dadanya terasa sesak lagi. Sesak yang aneh. Hangat tapi nyesek.

Mereka lanjut jalan lagi. Masih diam. Tapi kali ini... diamnya nggak seaneh tadi. Lebih... nyaman.

 

Tiba-tiba.

Kilat.

Cahaya putih menyambar langit—terang banget—menyinari seluruh jalanan selama sepersekian detik.

Aruna reflek tersentak. Kagetnya... nggak bisa ditahan. Dia loncat dikit, tubuhnya refleks menyerong ke samping—ke Dhira—tangannya... tangannya nggak sengaja nyentuh lengan cowok itu, nyaris merangkul.

"A—" Aruna nyadar. Cepet. Dia mundur, melepaskan tangannya, wajahnya panas banget sekarang. "M-maaf! Maaf aku... aku kira... kira ada petir—"

Tapi nggak ada suara petir.

Cuma kilat doang.

Nggak ada guntur.

Aruna... malu banget. Ya Allah, malunya nggak ketulungan. Dia pengen masuk tanah aja sekarang.

Tapi Dhira... ketawa.

Ketawa pelan. Bukan ketawa ngejek. Ketawa yang... geli.

"Kamu takut petir?" tanya Dhira, masih senyum.

"A-aku... nggak tau... refleks aja..." Aruna nunduk dalam-dalam, rambutnya jatuh nutupin wajahnya yang merah padam. "Maaf..."

"Nggak papa." Dhira geleng-geleng kepala, tapi senyumnya nggak ilang. "Lucu."

Lucu.

Dia bilang... lucu.

Aruna nggak tau harus seneng atau tambah malu.

Mereka lanjut jalan lagi. Tapi sekarang... Aruna ngerasa jarak mereka agak... mendekat. Nggak tau siapa yang geser, tapi payungnya sekarang naungin mereka lebih... pas. Bahu Aruna kadang nyenggol lengan Dhira. Kadang tangannya nyaris kesentuh.

Dan tiap kali kesentuh... jantung Aruna langsung lompat.

*Astafirullah. Ya Allah. Kenapa aku kayak gini sih. Kenapa jantungnya nggak bisa tenang. Kenapa rasanya kayak... kayak...*

"Udah deket belum?" tanya Dhira lagi.

"H-hampir... tinggal belok kanan di depan..."

"Oke."

Mereka belok ke gang kecil. Gang yang lebih sepi, lebih gelap, jalanannya lebih becek. Aruna hapal banget jalanan ini. Rumahnya cuma lima menit jalan lagi dari sini.

Tapi... dia nggak mau sampai.

Nggak mau cepet-cepet sampai.

Karena kalau sampai... Dhira bakal pergi. Dan mereka bakal pisah lagi.

*Ya Allah, aku... aku nggak mau dia pergi...*

Tapi rumahnya udah keliatan. Rumah kecil dengan pagar besi hijau tua yang catnya udah mengelupas. Ada pot bunga di teras depan—bunga melati yang ditanam Aruna sendiri. Jendela kamarnya di lantai dua, yang tirai birunya kelihatan dari luar.

Mereka berhenti di depan pagar.

Hujan masih deres. Tapi mereka berdua berdiri di situ, diam, di bawah payung yang sama.

Aruna nggak tau harus ngomong apa.

Dhira juga diam.

Beberapa detik berlalu.

Terus...

"Makasih," kata Aruna pelan, suaranya nyaris ketelan hujan. Dia nunduk, nggak berani ngeliat Dhira. "Makasih udah... udah nemenin..."

"Sama-sama."

Aruna ngangkat kepalanya dikit, ngelirik Dhira dari bawah. Cowok itu ngeliat rumahnya, ngeliat pagar, ngeliat pot bunga melati, terus... senyum kecil.

"Rumahmu... kayak di buku cerita," gumam Dhira pelan.

"H-hah?"

"Nggak. Nggak apa-apa." Dhira geleng, terus ngeliat Aruna. "Besok kita lanjutin lagi ya. Tugasnya."

"I-iya..."

"Oke. Hati-hati di jalan. Jangan lupa mandi air anget."

Dan Dhira... tersenyum.

Senyum yang... beda. Senyum yang bikin Aruna lupa caranya bernapas.

"S-sampai jumpa..." Aruna mundur, buka pagar, masuk ke halaman rumahnya dengan langkah terburu-buru, hampir tersandung batu di pinggir jalan. Wajahnya panas. Jantungnya mau meledak.

Dia noleh sekilas.

Dhira masih berdiri di sana. Payung di tangannya. Menatap Aruna dengan tatapan yang... Aruna nggak ngerti. Tatapan yang lembut. Atau... penasaran?

Aruna cepet-cepet masuk ke dalam rumah, tutup pintu, sandarkan punggung ke pintu, terus...

Napas.

Napas panjang.

Dalam.

*Ya Allah... ya Allah ya Allah ya Allah...*

Jantungnya masih dag dig dug.

Tangannya masih gemetaran.

Dan wajahnya... wajahnya masih panas.

"Aruna? Kamu pulang?"

Suara Arya dari dapur. Aruna kedip-kedip, sadar diri, terus jalan ke dapur. Arya lagi masak—tumis kangkung kayaknya—rambutnya diiket ke belakang, baju kerjanya udah diganti kaos rumah.

"Kak... aku pulang..." kata Aruna pelan.

Arya noleh, terus melotot. "Kamu basah? Kehujanan?"

"Nggak... cuma sepatunya aja yang basah... aku... aku di payungin temen..."

"Temen?" Arya matiin kompor sebentar, ngedeketin Aruna, ngecek rambutnya yang memang agak basah di ujung-ujungnya. "Temen siapa? Kayla?"

"Bukan... temen... temen sekelas..."

"Oh." Arya nggak banyak tanya lagi. Dia cuma ngelap rambut Aruna pake handuk kecil yang nggantung di dinding. "Udah, mandi sono. Nanti sakit."

"Iya, Kak..."

Aruna naik ke kamarnya. Langkahnya pelan. Masih... melayang. Rasanya kayak lagi mimpi.

Dia ganti baju, mandi cepet, terus duduk di kasur dengan handuk masih melilit di kepala. Jurnalnya dia ambil dari tas, buka halaman baru, pulpen di tangan.

Dia mulai nulis.

 

Hari ini... aku pulang bareng Dhira.

Dia nawarin payungnya. Kami jalan berdampingan. Aku nggak ngomong banyak. Dia juga nggak banyak ngomong. Tapi... rasanya...

Rasanya beda.

Hujan yang biasanya aku suka karena bikin tenang, hari ini... terasa lebih hidup.

Karena ada yang jalan di sampingku.

Karena ada yang... nemenin.

Aku nggak ngerti kenapa jantungku berdebar terus. Kenapa wajahku panas. Kenapa tanganku gemetar.

Apa ini... apa ini yang namanya...

Aruna berhenti nulis.

Tangannya berhenti di tengah kalimat.

Dia tatap tulisan itu lama.

Terus... coret pelan.

~Apa ini... apa ini yang namanya...~

Dia tutup jurnalnya. Cepet.

Rebahan di kasur, peluk bantal, tutupin wajah pake bantal itu.

Dan dalam hati... dia teriak.

*Ya Allah, aku... aku mulai suka sama dia.*

*Beneran suka.*

*Gimana ini?*

*Gimana?*

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma suara hujan di luar jendela.

Rintik. Pelan. Lembut.

Kayak bisikan yang nggak akan pernah Aruna lupakan.

 

Sementara itu.

Di ujung gang.

Dhira berdiri sendirian, payung masih terbuka di atas kepalanya, menatap rumah kecil dengan pagar hijau tua itu.

Dia diam.

Lama.

Terus... senyum sendiri.

Senyum yang... aneh. Senyum yang dia sendiri nggak ngerti kenapa muncul.

"Lucu..." gumamnya pelan.

Terus dia berbalik, jalan meninggalkan gang itu, melangkah perlahan di tengah hujan yang nggak kunjung reda.

Dan entah kenapa...

Dadanya terasa... hangat.

Saat malam tiba hujan udah reda dengan segelas kopi today sasetan di depan dan jurnal yang setia menemani Aruna kemana mana

Aruna menulis di jurnalnya malam itu: "Hari ini, hujan terasa berbeda. Seperti ada yang ikut berjalan bersamaku."

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!