Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsip yang Terkunci
Pukul delapan malam. Kompleks The Golden Bridge terasa sunyi setelah jam operasional berakhir.
Lampu keamanan otomatis berkedip di sepanjang koridor, memantul di lantai marmer yang mengkilap.
Nadia tiba di pintu samping sekolah, yang terhubung langsung ke gedung Komite.
Ia mengenakan hoodie gelap di balik blazer sederhana, membawa tas tangan berisi laptop mini terenkripsi dan kunci KGS dari Ibu Rina.
Tak disangka, seorang petugas keamanan sudah menunggunya.
Pak Jaya, bapak tua dengan seragam rapi, tersenyum sopan.
“Malam, Bu Nadia. Ibu Rina sudah telepon. Semuanya siap untuk ‘proyek khusus Kirana’,” katanya bangga.
Nadia tersenyum tulus.
“Terima kasih banyak, Pak Jaya. Hanya satu jam. Saya janji tidak akan mengganggu keamanan.”
“Silakan, Bu. Ruang Arsip aman dan dingin,” jawab Pak Jaya sambil menggesek kartu akses, membuka pintu kokoh menuju tangga bawah tanah.
Tangga yang ia turuni terasa panjang, seolah membawa dirinya ke masa lalu yang kelam.
Ruang Arsip Komite menyerupai bunker kecil, penuh rak berkas, diakhiri dengan dua server rack yang berkedip.
Udara dingin bercampur bau kertas lama dan ozon dari mesin fotokopi yang jarang dipakai.
Nadia mengunci pintu di belakangnya, menyalakan lampu meja kecil, lalu membuka tas.
Persona ibu lugu sudah ia tinggalkan di lantai atas.
Prioritas pertama adalah akses digital.
Server Komite adalah tambang emas.
Nadia cepat mengenali unit server yang menyimpan arsip Komite, bukan data akademik siswa.
Ia memasang perangkat kecil ke port jaringan utama.
Perangkat itu mulai bekerja, menduplikasi data arsip ke hard drive internal Nadia.
Prosesnya akan memakan waktu sekitar empat puluh menit.
Sambil menunggu, Nadia mengalihkan perhatian pada berkas fisik dan ponselnya.
Suara notifikasi dari Grup WA Inner Circle langsung menarik perhatiannya.
Masalah bullying Rio telah meledak sesuai rencana.
“Astaga, aku menangis membaca surat anonim itu,” tulis seorang ibu.
“Memang keterlaluan. Anak-anak Super Mom makin lama makin kejam. Tidak ada etika,” balas yang lain.
Nadia tersenyum tipis.
Simpati itu adalah senjata pertamanya.
Ibu-ibu mulai terbelah, dan Kirana tak bisa mengendalikan narasi emosional ini.
Ia lalu membuka Grup WA Elite Moms—grup yang dikendalikan penuh oleh Kirana.
Di sana, Nadia masih anggota pasif.
[Kirana Widjaja]: “Tolong abaikan hoax yang beredar di grup lain. Kami sedang mengurus masalah kecil di junior high dengan profesional. Fokus Komite adalah Gala Dinner.”
[Ibu Siska]: “Tepat sekali, Bu Kirana. Mereka yang menyebar drama hanya iri.”
[Ibu Vanya]: “Kasihan sekali yang membesar-besarkan masalah anak kecil. Memalukan.”
Nadia menyadari betapa kuat tembok gaslighting yang dibangun Kirana.
Namun, di antara balasan yang mendukung, ada satu ibu yang diam: Ibu Nina.
Pemilik butik haute couture, sponsor utama Gala Dinner.
Keheningan Nina berarti keraguan.
Suara ponsel mereda.
Hening kembali menguasai ruangan, dan Nadia perlahan mengalihkan perhatiannya ke rak arsip.
Ia mencari berkas kasus Aksa.
Berkas itu tidak ada di bagian “Sanksi Siswa.”
Kirana pasti menyimpannya di tempat lebih sensitif.
Nadia menggeser tumpukan berkas keuangan 2023.
Di baliknya, terselip binder hitam tanpa label.
Ia menariknya keluar.
Di dalamnya, salinan berkas Aksa.
Kesaksian tertulis dari guru Matematika, Mr. Taufik.
Kesaksiannya kaku dan terstruktur.
Namun, di halaman terakhir, ada memo kecil tulisan tangan Mr. Taufik untuk Kirana:
—“Bu Kirana, saya sudah tandatangani yang Anda minta. Tapi saya tegaskan sekali lagi, data statistik Aksa sangat original. Tindakan ini murni karena kewajiban.”—
Nadia segera memotret memo itu dengan ponsel, memastikan timestamp dan pencahayaan sempurna.
Ini bukti kunci: Kirana memaksa atau mengancam guru untuk berbohong.
Ia menyimpan memo itu, tapi tidak memindahkan berkas Aksa.
Berkas harus tetap di sini, agar Kirana merasa aman.
Suara dengungan dari server semakin keras.
Lampu hard drive berkedip cepat—proses duplikasi selesai.
Nadia mencabut perangkat.
Ia kini memiliki data lima tahun Komite: berkas keuangan yayasan amal, proposal bisnis, daftar kontak donatur, dan yang paling penting, e-mail internal Kirana.
Waktunya habis.
Ia mengembalikan binder ke tempat semula, menutupnya rapi di bawah berkas keuangan.
Lampu meja ia matikan.
Saat menaiki tangga, Nadia tidak merasa menang, melainkan terbebani.
Ia kini memegang kekuasaan mutlak, tapi kekuasaan itu berbau kebohongan dan pengkhianatan.
Ia telah menyusup, bukan sebagai ibu pencari keadilan, melainkan agen rahasia yang dingin.
Di pintu keluar, Pak Jaya tersenyum.
“Berhasil, Bu Nadia? Semoga display Kirana besok cantik.”
“Pasti, Pak Jaya,” jawab Nadia, senyumnya terasa palsu.
“Terima kasih banyak atas bantuannya.”
Nadia berjalan ke mobil.
Kunci KGS ia masukkan ke amplop kecil, diletakkan di bangku belakang untuk dikembalikan pada Rina besok.
Malam itu, di mobil, Nadia tidak langsung pulang.
Ia membuka laptop.
Lima tahun kehidupan Kirana tersaji di layar.
Ia tidak mencari skandal murahan.
Ia mencari simpul kebohongan moral yang bisa menghancurkan Kirana di mata komunitas.
Matanya tertuju pada folder: “Dana Peningkatan Kualitas Yayasan Tangan Emas.”
Yayasan amal Kirana. Pilar citranya.
“Ini tempat yang tepat untuk memulai,” pikir Nadia.
Pukul sebelas malam, ia tiba di rumah.
Keheningan menyambutnya, dan Aksa sudah terlelap.
Nadia duduk di meja kerja, memproses e-mail Kirana.
Dalam korespondensi Yayasan Tangan Emas, Kirana selalu menekankan “pengurangan dana operasional demi memaksimalkan donasi untuk anak-anak.”
Namun, satu e-mail mencurigakan muncul.
Ditujukan pada akuntan suaminya:
—“Pastikan donasi kita ke Yayasan Tangan Emas tahun ini mencapai 5 Miliar. Itu penting untuk tax deduction dan publikasi. Tapi sisakan 3% untuk dana operasional Komite, tanpa dicantumkan di laporan publikasi. Kebutuhan branding kita lebih penting daripada biaya administrasi yayasan.”—
Tiga persen dari 5 Miliar adalah 150 Juta Rupiah.
Dana yang seharusnya untuk anak yatim piatu, dialihkan ke dana taktis Komite demi citra Kirana.
Nadia bersandar.
Ini bukan korupsi kriminal, tapi pengkhianatan moral yang sempurna.
Menggunakan amal sebagai kendaraan citra pribadi.
Inilah yang akan menghancurkan Kirana di mata donatur dan ibu-ibu yang memujanya.
Nadia mulai merancang campaign barunya.
Kali ini, targetnya adalah “Tangan Emas” milik Kirana.