laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Retak Yang Terakhir
Matahari yang belum tampak menandakan pagi itu masih gelap. Seperti biasa, Erna sudah sibuk di dapur sebelum seluruh keluarga terbangun. Rutinitasnya tak berubah, pelayanannya pun tetap sama, tetapi kini semuanya hanya menjadi formalitas di depan anak-anak.
Hati Erna sudah kosong. Ia tak sanggup lagi berpura-pura, tak sanggup hidup satu atap dengan seorang pengkhianat.
Ia ingin pergi. Setiap hari keinginan itu makin kuat. Namun setiap kali melihat kedua putrinya, hatinya kembali bimbang. Bagaimana menjelaskan semuanya kepada anak-anak yang masih terlalu kecil?
Jika ia mengajak mereka pergi, ia tahu ia tak punya cukup uang. Kalaupun ada, hanya cukup untuk dirinya sendiri. Erna tidak ingin masa depan Zaskia dan Rania hancur hanya karena ia tak memiliki apa-apa.
Dari ambang pintu, Erna menghampiri Zaskia yang sedang merapikan kamar.
“Mana adikmu?” tanya Erna lembut.
“Keluar sama Ayah, Bu. Katanya mau beli apa gitu, Kia nggak tahu. Tapi aku minta dibeliin pensil warna,” jawabnya sambil tetap merapikan barang-barangnya.
Erna mengangguk. “Kenapa Kia nggak ikut? Mumpung hari Minggu, bisa sekalian jalan-jalan.”
“Nggak ah. Kamar aja udah berantakan. Semenjak Kia masuk sekolah kan nggak ada yang bantu Ibu. Ibu pasti capek ngurus kami.”
Erna membalikkan tubuh Zaskia agar menghadap padanya, lalu mengelus rambut putrinya lembut. “Kia baik sekali. Padahal Ibu nggak apa-apa, itu sudah kewajiban Ibu.”
“Ibu juga baik. Kalau aku sudah dewasa nanti, aku janji bakal merawat Ibu seperti Ibu merawat aku dan Rania.”
Ucapan itu membuat dada Erna hangat—dan sakit sekaligus. Meski berat jika suatu hari ia harus pergi, ia tahu Zaskia anak yang bijak dan dewasa di usianya yang baru tujuh tahun. Erna memeluk Zaskia erat, lalu memangkunya.
“Selalu jadi anak yang baik ya. Tapi jangan sampai kebaikan Kia bikin Kia sendiri rugi.”
Mata Zaskia membulat, ia berkedip pelan, bingung. Erna terkekeh melihat wajah polos itu.
“Nggak ngerti, ya?”
Zaskia menggeleng.
“Contohnya gini. Misalnya Kia cuma punya uang lima puluh ribu. Uang itu jatah buat makan besok. Terus teman Kia mau pinjam dan janji bakal balikin malamnya sebelum dipakai belanja. Karena Kia baik, Kia pinjemin. Eh, ternyata temannya nggak balikin. Alasannya masuk akal, tapi tetap saja Kia yang rugi. Besok mau makan apa kalau nggak bisa belanja?”
Zaskia mengangguk paham. “Berarti aku boleh pinjemin kalau aku punya uang lebih dari lima puluh ribu, gitu Ibu?”
“Betul, Sayang. Tapi ini bukan cuma soal uang.”
“Kia paham, Ibu.”
Saat mereka asyik mengobrol, suara teriakan keras terdengar dari luar—senang sekaligus memanggil.
"Ibu... Kak Kia...!" suara Rania keras dari luar.
Rania berlari kecil menuju kamar sambil menenteng jepit rambut lucu. Ia memperlihatkannya dengan bangga.
“Lihat ini! Aku dibeliin jepit sama Ayah! Bagus kan, Bu?”
“Bagus, Nak. Tapi kok cuma satu? Buat Kak Kia mana?”
Rania mengernyit bingung. Zaskia hanya diam.
“Kata Rania, Zaskia nggak suka jepit rambut karena rambutnya pendek. Jadi Ayah belinya cuma satu,” sahut Alim yang muncul menyusul.
Erna menatap malas. Raut muaknya tak bisa ia sembunyikan—setiap melihat Alim, ingatan yang ingin ia kubur justru muncul. Ia ingin marah, ingin berontak, tapi senyum kedua putrinya adalah rem yang menahannya. Ia tak ingin air mata mereka jatuh karena tahu siapa ayah mereka yang sesungguhnya.
“Padahal Kia sekarang lagi pakai jepit,” ucap Zaskia lemas. “Kakak bukan nggak suka, Dek. Cuma jarang pakai. Aku nggak pernah bilang begitu.”
Rania menggaruk telinganya, merasa bersalah. Sebenarnya ia bilang begitu agar tidak dibelikan jepit kembar; ia ingin sesuatu yang berbeda.
“Maaf, Kak...nanti minta dibeliin lagi sama Ayah.”
“Nggak perlu. Jepit kakak masih bagus,” jawab Zaskia datar. “Tapi Ayah beliin pensil warna kan? Mana?”
“Iniii,” Alim mengangkat kresek hitam, lalu membuka isinya. “Pensil warna pesanan Zaskia, dan ini crayon hadiah karena Zaskia dapat nilai bagus waktu menggambar.”
Mata Zaskia berbinar. “Waaaah! Ada crayonnya juga? Terima kasih, Ayah!”
“Sama-sama, Nak.”
“Aku mau itu!” rengek Rania tiba-tiba, menunjuk pensil warna.
“Jangan nangis dong, Sayang,” bujuk Alim sambil memeluknya. “Itu buat Kak Kia. Rania nanti Ayah beliin kalau sudah masuk sekolah, ya?”
“Nggak mau!” Rania memukul dada Ayahnya kecil-kecil.
“Ya udah, ya… cup, cup. Ayo Ayah beliin.”
“Nggak mau! Aku maunya yang punya Kakak!”
Zaskia langsung menyembunyikan pensil warna di balik tubuhnya.
Alim menatap Zaskia memohon.
“Kak Kia, sini.”
Zaskia maju.
“Kasih dulu ke adiknya, ya? Besok Ayah beliin lagi yang sama persis.”
“Ayah besok kerja. Mana sempat beliin aku? Kelamaan kalau nunggu Minggu lagi,” protes Zaskia.
Alim menepuk jidat. Kata-kata Kia benar, tapi ia juga tak tahan mendengar tangisan Rania.
“Pensil Kia kan masih ada. Nggak apa-apa ya, Nak? Kasih dulu ke adiknya, kasihan nangis terus.”
Zaskia terdiam. Ia menatap pensil warna itu lama—hatinya mencubit. Lalu menyerah.
“Ya sudah… ini.”
Zaskia bergegas keluar dengan wajah kusut.
“Mau ke mana, Nak?” tanya Erna.
“Mau mandi, Bu” sahutnya pendek.
Rania ikut keluar sambil bersorak. Tinggallah Erna dan Alim—hening.
Alim ingin bicara, tetapi Erna bahkan tidak menoleh.
Saat ia hendak melangkah pergi, suara Erna menghentikannya.
“Jangan ajari anak sulung kita untuk terus mengalah. Aku nggak mau dia tumbuh dengan beban harus menahan diri. Ajari dia memahami alasan kenapa sesuatu terjadi… bukan sekadar karena dia kakak, jadi harus ngalah.”
Alim terdiam. Nada Erna berbeda—dingin, tegas, terluka.
“Adil itu bukan berarti semua dapat hal yang sama...Adil itu ketika mereka paham alasan di balik keputusan. Dengan begitu mereka belajar menerima, bukan merasa dibandingkan.”
“Aku salah, maaf, ”nadanya pasrah, tapi dibalik itu, Alam merasa lega di dadanya yang sesak karena diamnya Erna setelah kejadian malam itu.
Saat Erna hendak melangkah pergi, suara Alim menghentikannya.
“Boleh aku bicara?”
Langkahnya terhenti. Erna membuang napas panjang—berat, getir. Setiap kali melihat wajah Alim, luka itu terbuka lagi. Bukan sekadar marah; ada bagian dalam dirinya yang sudah patah dan tidak mungkin kembali. Cinta? Sudah lama hangus malam itu. Kalau saja ia menuruti amarahnya sebagai seorang istri yang dikhianati, ia mungkin sudah kehilangan kendali. Tapi ia seorang ibu—dan kasih sayangnya pada anak-anak selalu menang.
“Aku hanya mau bicara kalau soal anak-anak. Selain itu... nggak ada lagi yang perlu dibahas.”
“Aku harus apa, Dek? Tolong…”
Tiba-tiba Alim berlutut. Gerakannya cepat—terlalu cepat—hingga Erna refleks mundur selangkah. Kedua tangan Alim terkatup, wajahnya kusut penuh penyesalan.
Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri dalam hening yang menyesakkan.
“Hukum saja aku. Aku terima… kesalahanku besar. Tapi jangan diamkan aku begini. Aku ingin tetap jadi suamimu, bukan hanya ayah di depan anak-anak.”
“Sudah? Berdiri.”
Nada Erna tajam. Alim pun berdiri perlahan, dan untuk pertama kalinya mata mereka bertemu jelas.
“Di sini…” Erna menunjuk dada kirinya. “Sakit sekali. Aku nggak kuat menahannya. Aku hanya bertahan karena senyum anak-anak.”
Suara Erna pecah, tapi tetap ia tekan agar tidak terdengar keluar kamar.
“Kamu memang suamiku...tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, aku bahkan nggak tahu apakah kamu masih pantas jadi itu.”
Alim membelalak. “Maksudmu...kamu mau pergi? Dek, jangan. Anak-anak butuh kamu. Perasaan mereka pasti hancur kalau tahu ayah dan ibunya pisah.”
Ia mencoba meraih tangan Erna, tapi Erna menepisnya kasar.
“Wow, Mas... wow. Seharusnya otakmu itu dipakai sebelum kamu berani ngelakuin hal itu.”
Seketika Alim mencengkeram pundaknya. Napasnya berat, seperti tiap tarikan adalah penebusan yang tak pernah cukup.
“Lihat aku. Apa kamu nggak lihat penyesalan ini? Aku menyesal, Erna. Aku janji berubah. Kasih aku kesempatan,” desaknya sambil menggoyang pundaknya.
Erna mencengkeram kerah baju Alim, menariknya kasar. Matanya merah, basah, tapi tajam.
“Dari rahim seorang wanita kamu dilahirkan.
Dari kasih sayang wanita kamu dibesarkan.
Dari didikan wanita kamu belajar.
Dan dari seorang wanita pula kamu mendapatkan status sebagai ayah.
Wanita itu separuh dunia.
Wanita adalah tanah air.
Dan tanah air tidak akan dikhianati.
Seorang laki-laki yang tidak menjaga tanah airnya, tidak pantas hidup di dalamnya.”
Kata-kata itu meluncur lantang—bergetar marah, tapi tetap anggun. Tidak ada hormat yang tersisa untuk lelaki di hadapannya.
Erna melepas kerah itu.
Keduanya terdiam.
Alim tidak berkedip, seperti baru dihantam kenyataan yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Erna mengusap sisa air matanya, menyingkirkan tangan Alim dari pundaknya. Tanpa menoleh, ia melangkah keluar kamar.
Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.
“Kalau kamu sudah gagal jadi suami, jangan pernah gagal menjadi Ayah, ingat kata-kataku!”
Pintu tertutup perlahan.
Sementara itu, di baliknya, sesuatu dalam diri Erna retak untuk terakhir kalinya—dan setelah itu, hanya ada keheningan yang penuh keputusan.