Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Setelah sedikit obrolan dengan adiknya Devan, Alya bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Perlahan dia membuka kamarnya, suasananya masih sama dan bersih. Alya segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah itu mengambil baju santai lalu turun kebawah.
" Mama darimana" tanyaku ketika melihat mama yang sudah berkutak di dapur.
" Mama tadi ke supermarket bentar, beli bahan makanan buat nanti malam" jelas sang mama.
"Emangnya nanti malam mau ada acara apa ma"
" Kan nanti malam calon suami Lo bakal datang" bukan mama yang menjawab tapi Devan yang kebetulan ke dapur untuk minum.
"Calon Suami"
" Jadikan calon mu itu datang malam ini, atau belum kamu kabari" tanya mama
Ya ampun aku hampir lupa soal itu. Kan tujuanku pulang tadi buat makan malam.
" Ohhh... Jadi dong ma"
" Papa kapan pulang ma"
" Paling bentar lagi pulang"
"Tuh mobilnya udah nyampe"
Aku segera ke ruang tamu disana ada Devan yang masih main game daritadi apa dia tidak capek main game terus.
"Papa" sambutku langsung mencium punggung tangannya
" Tumben pa, cepat pulang"
" Tadi pagi mama kamu suruh papa cepat pulang katanya calon menantu papa mau datang"
Aku hanya tersenyum mendengarnya, melihat mama dan papa yang begitu bersemangat membuatku jadi semakin sedih. Bagaimana jika nanti semuanya terungkap?
\=\=\=\=
Malam harinya,Suasana rumah Alya sore itu berbeda dari biasanya. Dinding ruang makan yang sederhana tampak lebih bersih, taplak meja diganti, dan ibu Alya sibuk di dapur menyiapkan ayam bakar madu kesukaan ayahnya. Hari itu adalah malam pertama Reihan akan makan malam bersama keluarga Alya sebagai menantu resmi.
Alya berdiri di depan cermin kamar, mengenakan blouse putih dan celana panjang warna krem, wajahnya sedikit gelisah.
“Kamu yakin dia bisa menyesuaikan diri?” tanya Nia lewat telepon.
“Nggak yakin sih, tapi dia janji datang tepat waktu. Dan... kamu tahu sendiri, Pak Reihan itu nggak pernah telat,” jawab Alya sambil menatap bayangannya sendiri.
“Dia udah tahu aturan rumah kamu kan? Nggak boleh banyak diem, harus ikut ngobrol.”
Alya menahan tawa. “Dia itu lambangnya keheningan, Nia. Kalau bisa ngobrol lebih dari lima kalimat, aku bakalan anggap itu keajaiban"
" Udah dulu yaa gua rasa dia udah datang"
Setelah menutup teleponnya,Alya segera berlari ke depan. Reihan berdiri di luar pagar, tampak sopan dan rapi dalam kemeja navy dan celana abu-abu. Tangannya membawa dua kotak kecil—oleh-oleh.
“Ini untuk ayah sama ibu kamu,” katanya singkat saat Alya membukakan pintu.
“Terima kasih. Tapi jangan terlalu formal, mereka bukan orang yang suka basa-basi.”
“Noted.”
Di dalam rumah, ayah Alya, Pratama, sudah duduk di sofa ruang tamu dengan koran di pangkuan, sementara ibu Alya putri saraswati masih sibuk di dapur. Saat Reihan masuk, ayah Alya menoleh singkat.
"Pah, ini Mas Reihan, mas Reihan ini papa aku" ucapku memperkenalkannya pada papa aku merasa sedikit geli saat memanggilnya dengan sebutan mas tapi tidak mungkin juga aku memanggilnya dengan bapak.
" Halo om " sapa Reihan sambil menjabat tangan calon mertuanya itu
" Ya ampun menantu mama udah datang, kita makan dulu yuk mama udah masakin masakan yang spesial untuk calon menantu mama."
" Ayok pah, Alya panggilin Devan juga ya dikamarnya"
"Iya ma"
Setelah memanggil Devan Alya langsung pergi kemeja makan di ikuti dengan Devan
" Jadi kamu seorang Dosen" tanya Pratama
" Iya om saya Dosen di kampusnya Alya sekaligus Dosen pembimbingnya." Jelas Reihan
" Tinggal dimana, gajinya berapa, umur berapa, dekat sama kak Alya dari kapan" kali ini Devan yang ngomong sementara Alya dan ibunya menata makan.
Reihan menatap ke arah Devan sambil tersenyum singkat.
" Saat ini saya tinggal sendiri di apartemen dekat kampus saya mengajar, untuk gajinya mungkin tak seberapa tapi saya juga saat ini sedang memimpin perusahaan papa saya."
"Untuk umur, saya masih 32 tahun" Reihan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan terakhirnya
" Jadi kamu juga seorang CEO ya nak Reihan" tanya mama putri
" Bisa dibilang begitu Tante"
"Alya ambilin nasi buat calon suami kamu"
"Ih mama kan mas Reihan bisa sendiri"
"Saya bisa sendiri kok Tante"
Alya langsung mengambil piringnya Reihan, dan mengambilkan nasi untuknya
"Segini cukup mas"
"Cukup"
" Lauknya mau di ambilin yang mana mas"
" Trserah kamu saja"
"Ngga alergi seafood kan mas"
"Tidak"
Setelah makan malam yang singkat kini mereka semua ada di ruang keluarga termasuk Devan.
" Jadi kapan rencana kalian akan menikah?"
Tanya Pratama
"Rencananya satu Minggu lagi om"
Uhuk....
Alya hampir kesedak air liurnya sendiri. Dia menatap ke arah Reihan begitu juga sebaliknya.
"Kamu kenapa Alya kaget" tanya putri
"Ohh ngga kok ma kita udah bicarakan ini sebelumnya. Iya kan mas"
"Iya Tante "
Tapi nyatanya tidak Alya saja heran mengapa dosennya ini tidak memberitahunya apa apa.
Malam semakin larut. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Reihan izin pamit pulang.
"Alya antarkan nak Reihan kedepan,"
"Iya pah"
"Ayo mas"
Setelah pamit pulang, Reihan beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan Alya dibelakangnya.
"Bapak kok ngga ngomonh apa sama saya"
Reihan menghentikan langkahnya sejenak menatap ke arah Alya yang menatapnya dengan muka cemberut.
"Bukannya lebih cepat lebih baik"
" Orang tua saya juga ingin pernikahan ini segera diadakan"
" Yaa tapi kan bapak ngga bisa ngambil keputusan sepihak begitu aja"
" Besok kita bicarakan lagi, say tunggu kamu diruangan saya"
Alya hanyaa malemutar mata malas, belum apa-apa Dosennya ini sudah sangat menjengkelkan
"Kalo begitu saya pulang dulu" pamit Reihan
" Ohh iya pak. Hati-hati dijalan"
" Hm"
Reihan menatap Alya satu detik lebih lama sebelum berbalik ke mobil.
Setelah mobil Reihan menghilang di ujung jalan, Alya masih berdiri diam di depan pagar rumah.
“Masuk, Alya,” panggil ibunya dari dalam rumah.
Dengan langkah pelan, Alya kembali ke dalam. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahan di balik senyuman singkat pada ibu dan ayahnya yang masih membereskan gelas dan piring di meja makan.
“Mama suka anak itu,” kata ibunya tiba-tiba.
Alya mengerutkan dahi. “Siapa?”
“Nak Reihan. Dosenmu itu. Kalem, pintar, sopan, dan jelas punya masa depan.”
Alya tersenyum paksa. “Mama, bisa aja.”
Alya segera naik keatas ke kamarnya
Begitu pintu kamar tertutup, senyum palsunya lenyap. menatap langit-langit dengan dada sesak.
Menikah kontrak...
Kata-kata itu terus berputar dalam kepalanya. Ia tidak bodoh.
Bagaimana jika perasaan ikut terlibat? Bagaimana jika semuanya berubah? Bagaimana jika kebohongan itu menjadi bumerang?
Alya mendesah keras dan melempar tubuhnya ke kasur.
Ahhh bodo amat yang penting dia bisa terhindar dari perjodohan konyol yang mamanya buat.