Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Keheningan yang mencekam mendadak jatuh seperti tirai besi di dalam ruang kerja utama Mansion Luther-Stone.
Kata 'dua puluh empat tahun' yang meluncur dengan begitu lugas dan tenang dari bibir Aiden seolah-olah menjadi pukulan telak yang menghentikan detak jantung di dalam ruangan itu.
Nora Amelie Stone seketika mematung.
Wajah cantiknya yang semula dipenuhi rona kemarahan mendadak pucat pasi, kehilangan seluruh warna darahnya dalam sekejap.
Sebagai seorang ibu yang membesarkan putra tunggalnya dengan segala kedisiplinan dan proteksi ketat, fakta ini jauh lebih mengejutkan daripada sekadar skandal remaja sekolah yang tertangkap kamera di apotek.
Putranya—bocah delapan belas tahun yang masih mengenakan seragam high school—ternyata telah menyentuh seorang wanita dewasa yang matang.
"Dua puluh empat tahun?" suara Nora bergetar, nyaris berupa bisikan yang sarat akan kengerian.
Otak medis dan naluri keibuannya langsung berputar pada spekulasi-spekulasi terburuk.
Ia menatap lekat-lekat pada sepasang mata elang Aiden yang tampak begitu dingin dan tak tergoyahkan.
"Aiden Hayes Stone... katakan pada Mommy dengan jujur. Apa... apa wanita itu sengaja menjebakmu? Apakah dia memanfaatkan kemudaanmu dan nama besar keluargamu untuk menyeretmu ke dalam perangkapnya?!"
Martin Luther Stone yang duduk di balik meja mahoninya juga tidak bisa menyembunyikan kilat keterkejutan di matanya.
Rahangnya mengatup rapat, mengunci pandangan taktis pada sang putra mahkota yang berdiri tegap di tengah ruangan.
"Tidak, Mom," jawab Aiden dengan nada suara yang teramat tenang, namun berdentum penuh penekanan yang mutlak.
Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, hanya ada gurat kedewasaan yang kokoh terpancar dari wajah tampannya.
"Dia tidak menjebakku. Dia bahkan tidak tahu siapa aku saat malam itu terjadi. Aku yang menginginkannya, dan aku mencintainya."
Mencintainya.
Kata yang teramat sakral itu keluar dari mulut seorang remaja delapan belas tahun dengan begitu tegas, membuat Nora dan Martin seketika terdiam seribu bahasa.
Martin menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menatap putranya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Di dalam dinasti Stone, saat seorang pria telah mengucapkan kata 'cinta' dengan binar mata seintens itu, maka tidak akan ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa mengubah ketetapan hatinya.
Nora menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang menggila. Ia bertukar tatap sejenak dengan suaminya, sebelum akhirnya kembali menatap Aiden dengan sorot mata yang mutlak.
"Kalau begitu, hanya ada satu solusi, Aiden. Nikahi dia," ucap Nora dengan tegas, nadanya tidak menerima bantahan apa pun lagi.
"Mommy tidak mau tahu bagaimana caramu, dan Mommy tidak peduli berapa usianya saat ini. Kau telah merenggut kehormatannya, kau telah membelikan obat seperti itu untuk tubuhnya, dan kau mengatakan kau mencintainya. Selesaikan apa yang telah kau mulai sebagai seorang pria Stone. Bawa dia ke hadapan Mommy dan nikahi dia setelah ujian kelulusanmu bulan depan."
Aiden terdiam di tempatnya berdiri. Rahangnya mengatup rapat.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ego dan keinginan terbesarnya memang adalah meresmikan Suzanne menjadi miliknya seutuhnya di hadapan hukum dan altar pernikahan.
Dia ingin melepaskan nama Daendels dari belakang nama wanita itu detik ini juga.
Namun, realita kaku yang baru saja ia baca dari laporan detektif semalam menahan lidahnya untuk mengiyakan perintah sang Mommy.
Status Suzanne masih merupakan milik pria lain.
Dia masih terikat pernikahan sah dengan Willem Daendels.
Aiden tahu dia harus mengurai benang kusut itu terlebih dahulu, menghancurkan cengkeraman Daendels Group dari leher Suzanne, sebelum ia bisa membawa wanita itu masuk ke dalam gerbang Mansion Luther-Stone sebagai Nyonya Stone yang baru.
... * * * ...
Sementara sidang fajar di Mansion Stone baru saja mereda, sebuah taksi kuning berhenti tepat di pelataran luas Rumah Sakit Pusat Stone.
Suzanne melangkah turun dengan tergesa-gesa.
Pagi ini, hatinya dipenuhi kecemasan yang mendalam setelah menerima pesan singkat dari Willem semalam mengenai ancaman pemutusan biaya perawatan ayahnya.
Dengan langkah setengah berlari, Suzanne melewati pintu kaca lobi, menuju ke arah meja resepsionis utama yang terletak di dekat bangsal ICU.
"Selamat pagi, Suster," ucap Suzanne dengan napas yang sedikit memburu. "Aku ingin mengecek kondisi dan administrasi atas nama pasien Tuan Klatten di ruang ICU."
Suster yang berjaga di balik meja komputer menatap layar monitor sejenak, sebelum akhirnya memberikan senyuman yang teramat ramah dan penuh rasa hormat—sebuah perlakuan yang sangat kontras dengan sikap dingin yang biasanya Suzanne terima dari staf administrasi rumah sakit ini selama berbulan-bulan lalu.
"Oh, Nyonya. Pagi ini Tuan Klatten sudah tidak berada di ruang Vip umum lagi," jawab suster itu dengan nada memuja yang kental.
"Sesuai dengan instruksi darurat medis semalam, ayah Anda telah dipindahkan ke ruang VVIP Suite priority Lounge Nomor Satu di lantai teratas. Seluruh fasilitas terbaik dan tim dokter spesialis utama telah dialokasikan khusus untuk memantau kondisi beliau."
Suzanne seketika tercengang. Tubuhnya mematung di depan meja resepsionis, matanya melebar karena rasa tidak percaya yang luar biasa.
Dipindahkan ke ruang VVIP Suite? Pelayanan khusus?
Otaknya langsung berputar cepat pada nominal angka.
Biaya satu malam di ruang VVIP Suite Rumah Sakit Stone setara dengan harga perhiasan mewah, sesuatu yang bahkan Daendels Group pun akan berpikir dua kali untuk membayarnya demi orang asing.
"T-tunggu sebentar, Suster," sela Suzanne, suaranya bergetar hebat karena kepanikan yang mendadak menyerang sistem kesadarannya.
"Siapa... siapa yang melakukan semua ini? Siapa yang meminta pemindahan ruangan dan menjamin biayanya?"
Suster itu mengerutkan keningnya sejenak, lalu memeriksa kembali data enkripsi pada sistem komputer rumah sakit.
"Di dalam sistem kami, seluruh otorisasi pemindahan dan jaminan perawatan medis ayah Anda ditandatangani dan diselesaikan atas nama Anda sendiri, Nyonya Suzanne. Pelunasan tagihannya juga telah selesai."
"Atas namaku sendiri?!" Suzanne menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Itu tidak mungkin! Aku bahkan tidak memegang uang sepeser pun untuk membayar biaya ICU biasa, bagaimana mungkin aku melunasi kamar VVIP Suite?!"
Suzanne menarik napas pendek, mencoba menenangkan logikanya yang mulai kacau.
Jika bukan dirinya, dan jelas-jelas bukan Willem yang melakukan ini—karena pria brengsek itu justru ingin melihat ayahnya mati—maka hanya ada satu nama yang melintas di dalam benak Suzanne.
Sesosok remaja delapan belas tahun.
Apakah... apakah ini ulah Aiden?
"Suster, kumohon periksa sekali lagi dengan teliti," desak Suzanne, jemarinya mencengkeram tepi meja konter marmer dengan erat.
"Apakah ada nama lain yang muncul di balik transaksi semalam? Apakah ada nama 'Aiden' yang tercantum di sana?"
Suster itu tampak ragu sejenak, melihat bagaimana paniknya Suzanne.
Ia menekan beberapa tombol pintas pada kibornya, menembus batas privasi sistem internal kelas atas.
Detik berikutnya, matanya melebar kecil saat membaca nama pemilik akun rekening privat yang melakukan transfer dana eksternal bernilai fantastis semalam.
"Ah, Anda benar, Nyonya. Di sini tertera bahwa pelunasan seluruh tagihan perawatan ayah Anda untuk dua tahun ke depan telah dibayarkan secara mutlak melalui akun privat Tuan Stone," jawab suster itu dengan suara berbisik, seolah-olah nama itu adalah mantra suci yang tidak boleh diucapkan sembarangan.
"Stone?" Suzanne mengerjapkan matanya, jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang teramat liar.
"Maksudmu... Luther-Stone? Siapa dia? Kenapa dia membiayai rumah sakit ayahku dalam jumlah sebesar itu?!"
Suster itu menatap Suzanne dengan pandangan heran, seolah menganggap wanita di hadapannya ini sedang berpura-pura tidak tahu soal Salah satu pewaris di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Nyonya, Tuan Aiden Luther Stone. Beliau adalah pewaris dari dinasti Luther, salah satu pemilik sah dari jaringan rumah sakit ini dan seluruh Luther Corporation."
Deg.
Seluruh dunia Suzanne seolah runtuh dan berputar terbalik detik itu juga.
Sentakan kenyataan itu menghantam dadanya begitu keras hingga ia harus melangkah mundur satu langkah untuk menjaga keseimbangan kakinya yang mendadak lemas.
Pria itu... bocah SMA bertubuh kekar yang merenggut kesuciannya hanya dalam semalam, berondong yang mencium pelipisnya di pantai kemarin, bernama Aiden Luther-Stone?
Suzanne tertawa hambar, sebuah kekehan parau yang terdengar teramat ironis di udara sepi lobi rumah sakit.
"Oh Tuhan..." lirihnya, menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan yang bergetar hebat.
"Apa ini sebuah keuntungan... atau justru kesialan terbesar dalam hidupku?"
Suzanne benar-benar tidak menyangka. Selama ini, dia mengira Aiden hanyalah anak dari keluarga kaya biasa yang kebetulan memiliki unit apartemen di lantai elite yang sama dengan Willem.
Dia tidak pernah menyangka bahwa di balik seragam sekolah high school yang kaku itu, mengalir darah dari dinasti penguasa finansial tertinggi di seantero Chicago.
Aiden adalah pewaris tunggal keluarga Luther—sebuah nama yang bahkan jika disebutkan di depan ayah mertuanya, akan membuat seluruh petinggi Daendels Group tertunduk gemetar penuh ketakutan.
Didorong oleh rasa syok dan kepanikan yang luar biasa, Suzanne segera melangkah menuju sudut koridor yang sepi.
Dengan jemari yang gemetar hebat, ia merogoh ponsel pintarnya dari dalam tas rajut, lalu membuka aplikasi mesin pencari.
Untuk pertama kalinya, ia mengetikkan satu nama yang selama ini hanya ia ketahui sebagai 'Aiden'.
Aiden Luther Stone Chicago
Klik.
Dalam waktu kurang dari satu detik, ribuan hasil pencarian langsung bermunculan di layar ponselnya.
Suzanne menahan napas saat matanya membaca rentetan artikel berita, profil bisnis keluarga, hingga baris gosip media sosial yang baru saja meledak pagi ini.
Di sana, terpampang foto-foto Aiden dengan sangat jelas.
Wajah ganteng sempurna khas remaja dengan garis rahang yang teramat tegas, sorot mata elang yang dingin, dan proporsi tubuh atletis yang luar biasa menawan.
Namun, fokus Suzanne seketika terkunci pada tajuk berita utama yang menduduki peringkat teratas pencarian pagi ini:
"Skandal Kontrasepsi Pewaris Stone: Siapakah Wanita Misterius yang Dibawanya ke Pantai dan Apotek Kemarin Sore? Apakah Sang Artis Aleonie Bethman?"
Suzanne menggulirkan layarnya ke bawah dengan cepat, dan jantungnya serasa copot dari tempatnya saat melihat lampiran foto di dalam artikel tersebut.
Di sana, terekam siluet seorang wanita ramping yang mengenakan blus biru pucat dengan rambut yang digelung asal, sedang berjalan berdampingan dengan Aiden di area parkiran pantai dan foto Aiden di pelataran apotek.
Blus biru pucat itu... itu adalah pakaian yang ia kenakan kemarin.
"Itu... itu aku..." batin Suzanne, suaranya tercekat di dalam tenggorokan.
Seluruh tubuhnya mendadak dingin laksana es.
Suzanne menyandarkan punggungnya pada dinding koridor rumah sakit, menatap layar ponselnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh keriuhan rasa takut yang teramat sangat.
Isu tentang obat kontrasepsi darurat, spekulasi tentang kekasih misterius sang pewaris Stone, hingga terseretnya nama artis muda Aleonie Bethman—semuanya bersumber dari pelarian gila yang ia lakukan bersama Aiden kemarin.
Suzanne meremas ponselnya erat-erat, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Oh tidak... dia... aku... kita benar-benar berada dalam masalah besar sekarang."
Ia sadar, jika sampai Willem, media, atau bahkan keluarga besar Luther-Stone berhasil menguak fakta bahwa wanita misterius di dalam foto itu adalah dirinya—seorang istri sah dari eksekutif Daendels Group yang sedang berselingkuh dengan seorang anak sekolah—maka tidak hanya pernikahan sampahnya yang akan hancur berkeping-keping, melainkan seluruh sisa hidupnya dan keselamatan ayahnya di atas ranjang VVIP Suite itu akan diseret ke dalam badai kehancuran yang tidak akan pernah bisa ia bayangkan sebelumnya.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍