NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: DINGIN DI BANGSAL VIP

BAB 23: DINGIN DI BANGSAL VIP

​Aroma antiseptik yang menyengat langsung menyambut Amira begitu pintu ruang perawatan intensif itu digeser terbuka. Ruangan bergaya minimalis dengan fasilitas VIP itu terasa sunyi, hanya diisi oleh bunyi monitor jantung yang berbunyi teratur, tiit... tiit... tiit..., memecah keheningan yang mencekam.

​Di atas ranjang berseprai putih bersih, Ibu Ratna terbaring lemah. Wanita tua yang biasanya berdiri angkuh dengan dagu terangkat dan perhiasan emas yang berdenting di pergelangan tangannya, kini tampak begitu ringkih. Setengah tubuh bagian kanannya lumpuh total akibat serangan stroke yang menghantam saraf otaknya saat ia membaca test pack dua garis merah milik Amira kemarin sore. Mulutnya tampak sedikit tertarik ke samping, gurat penyesalan dan ketakutan tercetak jelas di wajah keriputnya yang kini pucat pasi.

​Amira melangkah masuk dengan sangat tenang. Sepatu hak tinggi sewarna kulit yang dipakainya mengetuk lantai granit dengan bunyi yang konstan, memberikan ritme dominasi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya di depan ibu mertuanya itu. Ia tak lagi mengenakan blazer hijau zamrud dari Batam; siang ini Amira memilih gaun midi berpotongan formal berwarna hitam pekat, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai rapi, sementara plester medis di pipi kanannya sengaja ia lepas, memamerkan sisa memar keunguan yang mulai memudar sebagai lencana perjuangannya.

​Mendengar suara langkah kaki, kelopak mata Ibu Ratna bergerak perlahan. Begitu sepasang matanya yang sayu menangkap sosok Amira, pupil matanya membelalak lebar. Air mata seketika merebak di sudut matanya yang keriput.

​"A-Am... am... ra..." suara Ibu Ratna terdengar sangat lirih, tidak jelas, dan bergetar hebat. Tangan kirinya yang tidak lumpuh mencoba menggapai-gapai ke udara, seolah-olah ingin meraih ujung gaun menantu yang selama tiga tahun ini ia injak-injak harga dirinya.

​Amira berhenti tepat satu meter di samping ranjang periksa. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sosok wanita tua di bawahnya dengan pandangan yang sangat kosong. Tidak ada air mata benci, tidak ada letupan amarah, dan yang paling menyakitkan bagi Ibu Ratna—tidak ada lagi sepercik pun rasa iba di mata Amira.

​"Selamat siang, Ibu Ratna yang terhormat," sapa Amira, nadanya begitu datar dan sedingin es di kutub. "Bagaimana rasanya tidur di atas ranjang empuk rumah sakit ini? Tenang saja, seluruh biaya pengobatan hari ini sudah saya bayar lunas menggunakan sisa uang kas operasional Snack Pratama... yang sekarang sudah resmi menjadi hak milik saya sepenuhnya."

​Mendengar kata “hak milik saya sepenuhnya”, tubuh Ibu Ratna bergetar. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi bantal putih rumah sakit. Mulutnya yang miring mencoba meracau, memohon ampunan yang terlambat. "A-Anak... ku... Aris... Nu-nduk... ja-ngan..."

​"Jangan apa, Bu?" Amira menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menusuk ego Ibu Ratna. Ia perlahan meraba perutnya sendiri yang masih rata di balik gaun hitamnya. "Jangan bawa pergi cucu Ibu? Bukankah dulu Ibu yang setiap hari berdoa agar rahim saya dikutuk kering? Bukankah Ibu yang menyusun rencana bersama Lista agar Mas Aris menceraikan saya karena saya dianggap mandul?"

​Amira memajukan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ibu Ratna agar setiap jengkal kalimatnya terdengar seperti paku yang menghantam kesadaran wanita tua itu.

​"Anak di dalam kandungan saya ini tumbuh dengan sangat kuat, Bu. Dia mendengar setiap makian yang Ibu lontarkan pada ibunya dari balik kamar bawah tanah. Dan hari ini, saya datang bukan untuk membawakan cucu yang Ibu dambakan... saya datang untuk menegaskan satu hal: tidak ada tempat bagi penindas seperti Ibu di masa depan anak saya."

​Ibu Ratna menggelengkan kepalanya dengan lemah, tangisnya semakin histeris namun tertahan oleh kelumpuhannya. Ia menyadari dengan sangat perih bahwa seluruh penderitaannya saat ini—kehilangan anak tunggalnya yang mendekam di sel, kehilangan rumah mewahnya, hingga tubuhnya yang lumpuh—adalah buah murni dari racun keserakan yang ia tanam sendiri selama ini.

​Tepat di saat itu, pintu ruangan kembali terbuka. Pak Sanusi melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi, membawa seberkas dokumen pengadilan yang sudah distempel resmi.

​"Ibu Amira, mobil jenazah—maksud saya, mobil jematan pengadilan sudah siap di luar," ujar Pak Sanusi dengan nada profesional yang tegas. "Sidang perdana pembacaan gugatan cerai dan eksekusi pengalihan seratus persen aset saham di Pengadilan Agama Jakarta Selatan akan dimulai satu jam lagi. Saudara Aris Pratama sudah digiring dari sel polres menuju ruang sidang."

​Amira menegakkan kembali punggungnya. Ia melirik Ibu Ratna untuk terakhir kalinya—tatapan perpisahan mutlak yang menandakan runtuhnya hubungan keluarga di antara mereka.

​"Mari kita selesaikan ini, Pak Sanusi. Biarkan Ibu Ratna beristirahat dengan tenang di sini... menikmati hasil dari seluruh perbuatannya," ucap Amira penuh kemenangan.

​Amira membalikkan badan, berjalan keluar ruangan dengan langkah yang mantap dan tegas tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di atas ranjang, monitor jantung Ibu Ratna mendadak berbunyi semakin cepat dan tidak beraturan, tit-tit-tit-tit!, mengiringi keputusasaan mutlak sang mantan ibu mertua yang kini ditinggalkan sebatang kara dalam penyesalan yang membatu.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!