Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana bapak Hiro
Hiro tahu benar cara menyombongkan otoritasnya kepada anaknya yang keras kepala. Mengurung Dai di dalam mansion megah miliknya adalah keputusan mutlak bahwa kendali penuh berada di tangannya. Hampir satu minggu, Dai terperangkap dalam kemewahan yang menyesakkan. Sebuah penjara emas yang dibangun oleh ayahnya sendiri, tempat di mana perlawanan menjadi hal yang sia-sia.
Namun, Hiro tidak melakukan ini karena kekejaman semata. Kondisi fisik Dai sangat memprihatinkan setelah rentetan peristiwa yang menimpa anaknya, menjadi alasan Hiro mengurung Dai sementara. Tubuh Dai butuh pemulihan total, dan hanya jaringan serta kekayaan Hiro yang mampu menyediakan perawatan medis terbaik. Tak tanggung-tanggung, Hiro mendatangkan tim dokter spesialis langsung dari Singapura. Tugas mereka hanya satu yaitu memastikan sang putra mahkota sembuh total tanpa ada satu pun bekas luka yang tertinggal di tubuhnya.
Sebenarnya, kehidupan Dai di dalam mansion tidak seperti pesakitan di sel tahanan. Dia bebas melangkah ke mana saja, menjelajahi perpustakaan pribadi yang luas, berjalan di taman belakang, atau berenang di kolam air hangat. Namun, kebebasan itu semu. Batasnya adalah pagar tinggi dan para pengawal bertubuh tegap yang berjaga di setiap sudut luar mansion.
Suatu sore, Hiro datang ke kamar luas tempat Dai mendapat perawatan terbaik dari para dokter. Dia berdiri di ambang pintu, menatap putranya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong ke arah jendela.
"Dokter bilang kemajuan fisikmu sangat bagus," ujar Hiro datar, memecah keheningan. "Besok mereka akan melepas perban terakhir di lenganmu."
Dai tidak menoleh. Dia hanya mendengus sinis. "Anda tidak perlu repot-repot mendatangkan dokter dari luar negeri hanya untuk memastikan properti anda ini kembali mulus, Tuan Hiro."
Hiro berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai marmer. "Aku merawat aset sekaligus anakku. Jangan kekanak-kanakan, Dai. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisimu saat aku membawamu kemari."
"Dan sebagai gantinya anda mengurungku di sini?" Dai menatap ayahnya dengan kilat amarah yang tertahan.
"Kamu bebas bergerak di rumah ini. Ini kan rumah mu." potong Hiro tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada tinggi putranya. "Tapi aku tidak mengizinkan mu pergi dari sini sebelum aku merasa kamu siap."
Kata-kata Hiro bagai hantaman telak. Dai mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia ingin memaki lelaki yang tampak tenang itu, ingin menghancurkan barang-barang di kamar ini, atau berlari menerobos gerbang depan. Namun, akal sehatnya berbisik bahwa semua itu tidak ada gunanya. Dia tidak memiliki uang, ponselnya disita, dan fisiknya belum sepenuhnya pulih untuk melakukan kontak fisik. Sekali lagi, dia tidak memiliki kuasa apa-apa.
Setiap hari, yang bisa Dai lakukan hanyalah melontarkan makian dan sarkasme saat sarapan atau makan malam bersama ayahnya. Namun, Hiro selalu menyambutnya dengan ketenangan yang menjengkelkan. Pada akhirnya, dengan rasa frustrasi yang menumpuk, Dai menyadari satu hal.. Untuk saat ini, dia hanya bisa mengalah pada keadaan dan menerima perannya sebagai tahanan eksklusif sang ayah, sampai waktunya tepat untuk membalas.
Ketukan pelan di pintu ruang kerja Hiro memutus keheningan malam itu. Xylas, asisten pribadi Hiro yang selalu bergerak tanpa suara seperti bayanqgan, melangkah masuk dengan tablet digital di tangannya.
"Tuan, ada undangan makan malam yang ditujukan untuk anda dari pimpinan perusahaan MahaTech." Xylas, mengatakan dengan suara bariton yang stabil.
"Ck, tidak tahu malu," ejek Hiro sinis, sama sekali tidak berniat mengalihkan tatapannya dari dokumen di depannya. "Perusahaan kecil yang nyaris bangkrut saja berani memberiku undangan jamuan makan malam. Mau memberiku makan apa mereka dengan uang yang tidak seberapa itu? Kerikil? Batu bata?"
Xylas memilih diam, mengunci rapat mulutnya. Lelaki yang telah mengabdikan separuh hidupnya untuk melayani keluarga Daichi ini sudah tahu betul bagaimana watak pria dewasa di balik meja kerja tersebut. Xylas bahkan sering membatin dalam hati, kok bisa orang tajir yang menjadi bos nya itu punya sifat serandom itu.
Sekarang Xylas tidak perlu heran dari mana datangnya sifat julid dan sarkasme berlebihan yang dimiliki Dai. Semuanya murni warisan genetik dari bapaknya, Hiro Daichi!
"Tunggu, Xylas," sela Hiro tiba-tiba, menaruh bolpoin mewahnya di atas map dengan ketukan yang tegas. Seringai tipis mendadak terbit di wajahnya. "Terima saja undangannya. MahaTech harus tahu siapa sebenarnya pemilik saham terbesar di perusahaan kecil yang sangat mereka banggakan itu."
"Anda akan mengajak Tuan Muda Dai untuk ikut dengan Anda ke jamuan tersebut, Tuan?" tebak Xylas, sekadar ingin memastikan agenda bosnya.
Hiro bersandar pada kursi kulitnya, menatap Xylas dengan pandangan meremehkan. "Menurutmu? Badai terlahir sebagai singa, dia tidak boleh terus-menerus menyamar sebagai kucing anggora, Xylas. Dia harus mulai menunjukkan kuasanya sebagai pemimpin."
"Baik, Tuan. Saya akan menyampaikannya pada tuan muda," pamit Xylas membungkuk hormat sebelum berbalik keluar.
Ruang olahraga berfasilitas lengkap di dalam hunian mewah itu tampaknya menjadi satu-satunya tempat perlindungan bagi Dai. Di sanalah dia bisa menumpahkan seluruh emosi yang menyumbat dada, membuang energi negatif demi membentuk otot sekaligus mengasah kemampuan bela dirinya. Di ruangan kedap suara itu, Dai bebas menendang, meninju, memukul, bahkan berteriak sekencang mungkin tanpa perlu mengkhawatirkan penilaian dunia luar. Terserah dia ingin menjadi sebuas apa.
Bugh! Plak!
Sebuah tendangan memutar yang presisi dan bertenaga menghantam heavy bag hingga rantai besinya berderit nyaring. Napas Dai memburu, memompa dadanya naik-turun dengan cepat. Keringat bercucuran, membasahi wajah dan kaus yang kini melekat ketat di tubuhnya. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Dai mengabaikan kehadiran Xylas yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dan memanggil namanya berkali-kali. Bagi Dai, saat ini dunia hanya berisi dirinya dan samsak di depannya.
Melihat usahanya sia-sia, Xylas akhirnya menyerah. Daripada lelah berdiri dan tenggorokannya kering karena terus dikacangi, dia memilih berjalan santai menuju sofa di pojok ruangan. Pria itu duduk bersandar, melipat kaki, dan menonton pertunjukan sirkus emosi sang majikan muda dengan takzim. Dalam hati, Xylas merutuki dirinya sendiri.. harusnya tadi dia membawa sebungkus kuaci agar tidak mati gaya seperti ini.
"Dai." kali ini Badai menoleh. Suara yang memanggilnya bukan lagi sang asisten pribadi bapaknya, melainkan sang bapak itu sendiri.
Xylas berdiri mendekat ke arah Hiro. Sekali lagi dia memenuhi hatinya dengan grundelan yang hanya menambah dosa..
'Lain kali saya akan memanggil anda dengan meminjam speaker sound kumis audio, siapa tahu anda langsung menoleh dalam sekali panggilan saja.'
jujur pancet salah ngapusi soyo nggladrah meneng ambekan tok wae lho asli pancet salah
mosok ben dino kon riyoyo ben arek wedok iku ngaku salah trus
arek lenang bener kan pas riyoyo tok😒
org yg selama ini kamu anggap sampah, tyt org yg bisa dg sekejap mata membuatmu menjadi butiran upil..😏
sblm akhirnya kamu mati mendadak krna dipukul telak oleh kenyataan yg sbntar lagi kamu dengar
ngidek cengell ora nek ngeneki PO langsung tembus jeroan 🤭
jadi makin gak sabar buat sllu nunggu lanjutannya..
smoga gak tiba² dibuat siyok kek Baga aja😌
Ciutt tuhh nyali Djiwa 🤣🤣
pengen delok dapure djuwa pas eruh sek dimusuhi sek bakal ngrayakne perusahaannya hahahh
kiro2 langsung stroke ora ya