NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|06|Flashdisk

"Kontrak...?" Suara Aruna bergetar, Ia semakin mundur saat melihat Devara semakin mendekat kepadanya.

"Kontrak yang sudah kamu tanda tangani Run" Balas Devara saat mereka sudah sangat dekat. Suaranya datar, tidak terlihat marah ataupun emosi. Devara sangat tenang, namun tidak setenang perasaan Aruna sekarang. Gadis itu sampai jatuh ke ranjang karena Devara semakin dekat dengannya.

'Rumor yang katanya Devara tidak menyukai perempuan, ternyata salah. Sekarang mati lah aku, pria itu membuka bajunya tepat didepan mataku' -batin Aruna.

Aruna mencoba menutupi matanya dengan tangan. Devara memaksa ntuk tetap melihat, tangan kanannya memegangi kedua tangan Aruna sedangkan tangan kirinya membuka kancing kemeja-nya satu per satu.

"Udah denger kan suara diatas?" ujar-nya pelan, seperti berbisik tepat di telinga Aruna.

Gadis mana yang tidak syok dan takut saat pria yang Ia takuti dan hindari tiba-tiba datang mendekat dan sangat dekat dengan dirinya dan sekarang pria itu membuka bajunya, kancing terakhir dan semua terbuka, terlihat jelas oleh Aruna otot perut yang terbentuk sempurna, jelas Devara rajin berolahraga untuk membuat tubuhnya sangat terlihat atletis. Namun Aruna tidak tertarik sama sekali.

Devara beralih, Ia melepar baju kemeja-nya kearah Aruna. "Bersihkan noda itu" suruh Devara.

Pria itu menunjuk sedikit percikan noda berwarna merah di kemeja putihnya. Bau karat yang sangat tajam, jelas itu adalah noda percikan darah. Tangis Aruna pecah saat itu juga saat memandang kerah bermotif merah itu, sedikit namun mampu membuat kaki Aruna lemas dan dirinya makin takut saat itu juga.

"Pasal 3 pihak kedua harus berada ditempat tidur pukul 21.00-06.00, radius 2 meter ranjang, pelanggaran" Ujar Devara, Ia menyender di kusen pintu sambil menyilangkan tangannya.

"Pelanggaran?, Aku berada disini tak keluar selangkah pun" Aruna tertawa pelan diantara tangisannya yang mulai mereda. Ia takut, dan berusaha membela diri.

Devara senyum sekilas, lalu menatap Aruna. Dagu-nya menunjuk cctv yang berkedip kearah Aruna. "Ingat, kamu udah saya beli Run!" ujarnya singkat, namun mampu membuat Aruna sadar kalau dirinya adalah sebuah barang tak berguna yang sudah Devara beli dengan bukti tanda tangan Aruna diatas materai kemarin.

"Kalau begitu, bunuh aku saja sekarang" ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Aruna, entah seberapa banyak lagi permainan Devara untuk dirinya, namun kali ini Aruna sudah nyaris menyerah.

"Mahal, nyawa kamu udah saya bayar!, Saya akan mengambil kemeja itu, harus sudah kembali bersih tanpa noda" Ucapnya datar, lalu menutup pintu. Pelan, terdengar suara klik dua kali, satu kali untuk mengunci Aruna dari dalam dan kedua kalinya untuk mengunci dari luar.

Aruna mengusap matanya yang basah. Ia lampiaskan kemarahannya dengan kemeja putih yang ada dipangkuannya. Aroma Devara masih menempel di kemeja itu membuat Aruna mual, Ia kembali menatap cctv yang terus berkedip memandanginya. Saat itu Aruna sadar kembali, tidak ada sejengkal rahasia-pun yang bisa Aruna sembunyikan.

Aruna beralih dari tempat tidur, Ia masuk kedalam kamar mandi. Melihat keatas plafon mencari keberadaan cctv yang Ia curigai juga ada disana. Dan benar saja Aruna menemukannya atas wastafel. Tak sampai kedalam tempat Ia biasa mandi.

"tapi itu bukannya melanggar privacy?. Manusia mana yang obsesi melihat gadis yang Ia benci dilayar cctv-nya. Mungkinkah aku bukan gadis yang Ia benci melainkan adalah peliharaannya yang selalu Ia kunci?" -batin Aruna.

Tangan Aruna gemetar saat mencuci wajahnya, memandangi cermin didepannya dengan mata merah sehabis menangis, bau antiseptik dari sabun kamar mandi itu mengingatkan Aruna kepada bau jas dokter Bayu, tiga tahun yang lalu.

Dokter keluarga Mahesa waktu masih jaya, dokter spesialis jantung yang menangani ayahnya sejak dulu. Senyumnya masih melekat di benak Aruna hingga sekarang.

Aruna mengalihkan pandangannya ke-tangan kanan nya yang sudah memegangi kemeja Devara. Perlahan Ia basahi kemeja itu dengan air mengalir, warna air kemudian berubah menjadi merah, Aruna semakin mual dan berlari ke dalam toilet, Ia tak tahan dengan bau amis darah itu, darah seseorang yang telah berakhir tragis ditangan iblis menyeramkan itu. Bahkan tato naganya seperti menyeringai ketika melepar kemeja berdarah itu kearah Aruna.

Aruna kembali menghampiri kemeja itu dan memberi sabun yang banyak agar bau menyengat hilang, namun ada sesuatu yang Ia temukan didalam saku kemeja putih itu.

Aruna mengangkat benda pipih yang sudah basah itu. "Flashdisk?" gumam Aruna. Lalu menatap kelayar cctv, jelas Aruna tau kalau dirinya sedang ditonton oleh iblis bertato naga itu.

Aruna memasukkan kembali flashdisk itu kedalam saku kemeja Devara, kemeja yang masih basah sengaja Ia angkat menghadap cctv, sengaja supaya Devara tau kalau dia tidak mengambil barang yang sudah lelaki itu siapkan untuk menghancurkan Aruna lebih dalam lagi, Aruna sudah tau jalan permainanan Devara. Ia melanjutkan mencuci kemeja Devara.

...****************...

"Satu kapal dipelabuhan lagi diperiksa sama polisi Pak" ujar Andre dengan panik, i-Pad nya masih menyala memperlihatkan foto dari barang-barang yang sudah sebagian dibongkar dari dalam kapal.

Devara masih menyesap rokoknya, tanpa panik, tanpa emosi, dan masih berekspresi datar. "Siapin petugas lapangan" Ujarnya seraya menyender di kursi dengan santai.

Andre mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Devara. Pria itu membuka laptopnya, terpampang cctv yang memperlihatkan Aruna menyelipkan kembali flashdisk yang sudah Ia simpan di saku kemeja itu. Lalu terlihat Aruna yang mengangkat kemeja-nya yang masih basah dengan flashdisk kembali ke tempat semula.

Pertama kalinya Devara menarik bibirnya membentuk senyuman kecil, samar namun cukup membuat dirinya sadar dan segera menutup laptopnya. Devara melirik jam diatas meja kerja-nya. jarum jam menunjukan pukul 06.00 pria itu mematikan rokoknya dan beranjak dari duduknya.

Kamar Aruna, langkahnya terhenti tepat didepan kamar gadis itu, jempolnya menekan finger-print yabg terpasang rahasia dipintu itu. Terdengar suara klik dua kali pintu terbuka. Aruna masih tidur dengan posisi kaki menjuntai dilantai dan terlentang.

Devara mendekat kearah jendela lebar itu dan membuka tirai yang menghalangi cahaya masuk. Ia melamun melihat pemandangan diluar dengan tangan ditaruh disaku-nya.

"Kamu?" Suara Aruna serak, matanya menyipit setelah pandangannya terusik oleh pria bertato naga yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.

Devara beralih memandang Aruna. "Kemeja?" ujarnya lirih, datar tanpa ekspresi.

Drrttt.... Getaran suara ponsel dari saku Devara menghentikan langkah Aruna.

"Iya, aku jemput jam 9 nanti, see u" ucap Devara dari balik teleponnya, tatapannya lurus kedepan memandang jendela kaca lebar, namun tanpa senyuman, tetap datar.

'Devara memanggil dirinya dengan sebutan 'aku' bukan 'saya' , sebenarnya dia sedang menerima telepon dari siapa, suaranya nampak berbeda ketika menerima telepon itu, hangat seperti manusia. -batin Aruna.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!