Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
PIO memiliki banyak area pengalaman yang digunakan untuk menguji berbagai proyek baru perusahaan.
Hari itu Joshua membawa Yurika menuju area pengalaman VR.
"Proyek ini penting."
Ia berhenti di depan sebuah ruangan.
"Pak Austin ingin kau ikut mencoba langsung."
Yurika sedikit terkejut.
"Saya?"
Joshua mengangguk dan berkata, "Masuk saja."
Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkannya.
Yurika menarik napas perlahan sebelum membuka pintu dan mendapati ruangan itu remang-remang.
Cahaya lembut dari lampu dinding menciptakan suasana yang tenang dan sedikit misterius.
Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada Austin yang sedang duduk di sofa beludru merah.
Pria itu sedang membaca dokumen di tangannya. Ketika mendengar suara pintu terbuka, ia mengangkat kepala.
Tatapan mata mereka langsung bertemu.
"Kau datang." Suara Austin terdengar tenang.
Yurika mengangguk pelan. Ia datang untuk mencoba proyek VR. Namun anehnya, perhatian pertamanya justru tertuju pada pria yang duduk di depannya.
Dua kancing teratas kemejanya terbuka. Di bawah pencahayaan redup, garis rahang dan tulang selangkanya terlihat semakin jelas.
Austin memang memiliki penampilan yang sulit diabaikan. Bahkan ketika ia hanya duduk diam tanpa melakukan apa pun.
Yurika segera memalingkan pandangan. Ia datang untuk bekerja bukan untuk memperhatikan wajah atasannya.
Sementara ia masih berusaha mengendalikan pikirannya sendiri, Austin sudah berdiri dan berjalan mendekat.
Di tangannya terdapat perangkat VR.
"Pernah mencobanya sebelumnya?"
"Pernah. Tapi belum pernah di area pengalaman perusahaan."
Austin mengangguk pelan. Kemudian ia berhenti tepat di hadapannya.
Jarak mereka kini jauh lebih dekat daripada biasanya. Aroma parfum maskulin yang samar langsung memenuhi indra penciuman Yurika.
Austin mengangkat perangkat VR itu.
"Aku akan membantu memasangkannya."
Entah mengapa, saat mendengar kalimat sederhana itu, jantung Yurika tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Yurika memasang perangkat VR yang diberikan Austin dengan sedikit gugup. Saat pria itu membantu menyesuaikan posisi alat di kepalanya, aroma samar tembakau bercampur wangi parfum maskulin yang lembut menyentuh indra penciumannya.
Austin bergerak dengan tenang dan profesional, tanpa sentuhan yang berlebihan. Sikapnya tetap datar seperti seorang atasan yang hanya sedang membantu bawahannya.
Bulu mata Austin yang panjang sedikit menutupi sorot matanya ketika ia berkata pelan, “Coba nikmati permainannya.”
Yurika mengangguk kecil sebelum dunia di hadapannya berubah menjadi pemandangan virtual yang begitu nyata.
Ruangan pengalaman itu cukup luas sehingga ia bisa bergerak bebas mengikuti alur permainan. Tanpa sadar, Yurika benar-benar tenggelam dalam cerita dan berbagai petunjuk yang harus ia pecahkan. Ia berjalan ke sana kemari, sesekali berjongkok, lalu berlari kecil mengikuti arahan dalam permainan.
Waktu berlalu begitu cepat hingga lapisan tipis keringat mulai membasahi punggungnya.
Saat akhirnya menemukan jawaban yang selama ini ia cari, Yurika begitu bersemangat hingga langsung berbalik. Namun gerakannya yang terlalu cepat membuat tubuhnya menabrak sesuatu yang keras.
Bukan dinding, melainkan dada Austin.
Tubuh Yurika langsung membeku. Jarak yang begitu dekat tiba-tiba membangkitkan kenangan yang selama ini berusaha ia abaikan, tentang malam di bar itu.
Dengan panik, ia segera melepas perangkat VR dari wajahnya. Begitu penglihatannya kembali jelas, yang pertama kali ia lihat adalah Austin yang berdiri tepat di depannya.
Pria itu hanya mengangkat satu alis.
“Masih mau lanjut bermain?” Nada suaranya terdengar santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Yurika membuka mulut, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.
Sementara itu, Austin menunduk dan memungut salah satu kancing perangkat yang tanpa sengaja terlepas akibat gerakannya tadi.
“Kalau kau melihat lebih ke kiri,” katanya sambil memasang kembali bagian yang terlepas itu, “kau akan menemukan pemandangan yang lebih bagus.”
Yurika menelan ludah.
“Aku... kurasa aku sudah cukup mengerti.”
Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang ia inginkan.
Austin hanya mengangguk.
“Kalau begitu, kita keluar.”
Sesampainya di luar ruang pengalaman, Yurika diam-diam menyentuh pipinya yang terasa hangat.
Padahal itu hanya permainan biasa. Namun karena mereka berdua berada sendirian di dalam ruangan, dan karena mata Austin yang gelap selalu terlihat begitu sulit ditebak, jantungnya tetap berdebar tidak wajar.
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏