_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpus date.
du membelalak kaget saat Galih memergokinya disana.
" K-kak Galih, ng-ngapain kesini??" Tanya ayya syok.
Melihat ayya yang gerak-geriknya tak tenang membuat Galih mengernyit curiga.
" Ngapain kesini? Ya nyari buku lah, emang ga boleh?" Tanyanya balik.
Ayya menggeleng cepat. " Gak, maksudku.. Lebih baik nyari ditempat lain.. Disini ga ad-.."
" Kenapa kamu aneh terus sih?" Tanya galih heran.
Ah shit! Ayya tak bisa bersikap normal di saat menyadari di belakang sana ada beberapa pasangan yang tengah bercumbu mesra.
" Udah deh, aku mau kesana dulu.."
" Ah kak galih, jangan!"
Ayya menarik lengan galih membuatnya relfek menoleh dan menatap tangan ayya.
" Kasih alasan kenapa aku dilarang kesana? Bukannya kamu abis dari sana barusan?" Tanya galih.
Tapi, ayya bingung untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi disana, ia hanya bisa melarang galih agar tak lanjut kesana.
Namun sial! Ayya tak bisa menghentikan galih hingga pemuda itu langsung melesat pergi ke pojokan tersebut.
Ayya menggigit jari menunggu respon galih dari dalam sana.
Dan benar saja, galih langsung berlari menemui ayya yang masih berdiri di tempat semula.
Galih menatap ayya yang gugup, ia pun berkacak pinggang sembari menahan kekesalan.
" Kenapa ga bilang kalo di dalem ada orang lagi ciuman?"
Oh shit! Ayya berdegup kencang, tak menyangka jika galih bakal sejelas itu menyebutnya.
" Em, aku ga tau harus ngomongnya gimana ke kak Galih.." Ucapnya tertunduk.
Terdengar galih yang mendesis jengah, " Bisa-bisanya berbuat mesum di tempat umum!"
Ayya melirik sedikit, nampaknya galih kesal setelah menyaksikan para pasangan mesum di dalam sana.
Namun tak ingin terus berlanjut hingga menimbulkan keributan, ayya langsung meraih lengan galih untuk diajaknya pergi.
" Udah kak biarin, kita pergi aja sebelum kena masalah.." Ucap ayya.
" Apa katamu? Biarin aja?"
God!? Ucapan galih benar-benar menakutkan bagi ayya, ia langsung melepas tangannya.
Galih tau ayya takut karenanya, namun ia tetap tak akan membiarkan keburukan terjadi.
" Kamu diem disini, tunggu aku selesai buat kasih paham mereka disana.."
Ah tidak-tidak, ayya tak ingin keributan terjadi karena mereka.
" Kak, jangan bikin gaduh.." Peringat ayya cemas.
Galih menggeleng, " Ga bakal gaduh, tenang aja.."
Ayya tak bisa mengelak lagi sehingga saat itu juga Galih kembali pergi ke belakang.
Ayya awalnya tak yakin Galih tak membuat gaduh, namun ternyata gaduh juga.
Hufff..
_
" Kalian semua bubar, ga punya otak kah bikin mesum di tempat umum, kalian udah pada dewasa harusnya paham kelakuan kalian yang mesum itu bisa mengganggu orang sekitar, bahkan tempat umum seperti perpustakaan ini
Dan itu bisa dituntut ke pihak berwajib, jika masih mau bermesraan sampai cium-cium jangan disini, ada banyak hotel diluar yang bisa kalian puas-puasin mesra disana."
" Alah bocah ingusan, belum juga lulus SMA ga usah sok jadi pahlawan, belum tau arti dewasa ga usah bacot!"
" Dewasa ga akan melakukan hal yang abang lakukan di tempat umum."
" Bangsat, hajar aja nih anak bro!"
" Sini kalo berani, tiga lawan satu gue lawan!"
.
Ayya mendesis jengah, melihat Galih berjalan di sampingnya dengan wajah tanpa dosanya.
Benar-benar membuat kegaduhan di lantai 2, sebagai pelanggan setia yang sudah dihafal staff sana, sudah jelas ayya menanggung malu akibat ulah Galih.
" Ayya, maaf.."
Ayya mengacuhkan Galih, terserah tuh cowok mau ngomong apa ayya ga peduli, ia lebih memilih jalan cepat agar tak terlalu dekat dengan Galih.
Tapi bukannya menjauh Galih malah berjalan lebih dekat lagi sehingga membuat ayya menggerutu sebal.
" Kak Galih bisa stop gak?! Ga usah ikutin aku, cari lorong bukumu sendiri, atau nggak balik ke lantai satu, kumpul sama Louis dan yang lain."
Galih menggaruk kening. " Mereka ga ada di bawah, keknya udah ke caffe duluan.."
" Ya udah terserah kamu mau ngapain kek disini, asal ga usah deket-deket aku." Peringat ayya.
" Ga bisa, perpus ini lumayan besar dan aku baru pertama kesini, takut tersesat.."
Argghh ayya menggeram lirih, menahan kesabarannya saat ini, terlebih saat melihat pemuda di belakangnya itu masih berdiri dekat.
" Jauh-jauh.." Ucap ayya sebelum lanjut jalan.
Galih pun tersenyum tipis melihat ayya jalan mendahuluinya.
Seperti pengawal saja, Galih memperhatikan sekitar ayya, memastikan tak ada buku buku yang terlihat akan jatuh.
Cukup lama ayya mengelilingi lorong buku, Galih menjadi heran dan mendekatinya.
" Cari buku apaan sih daritadi?" Tanya Galih.
Ayya pun mendesis. " Buku apapun, emang kenapa tanya? udah capek kan?"
Galih menggeleng. " Cuma mau bantuin nyari, biar kamu ga capek muter."
Ayya memutar matanya malas. " Ga perlu, kalo kamu yang capek silahkan tunggu di bawah atau pulang duluan pun boleh."
Nah! Galih tersenyum tipis saat melihat cover beberapa novel di dekapan dada ayya.
" Kamu lagi suka baca asmara remaja kan? aku bisa cariin.." Tawarnya senang.
" Ga perlu." Ayya acuh, ia masih sibuk memeriksa rak buku berisi novel yang diincar.
Galih pun berinisiatif mencarikan beberapa buku yang menurutnya bakal ayya suka, novel mafia yang menyamar.
" Ayya, coba buku ini.. Kayaknya bagus, kamu pasti suka.." Ucap Galih antusias memberikan bukunya ke ayya.
Ah tidak, melihat sampulnya saja ayya sudah tak minat, ia hanya menggeleng menolak hingga Galih langsung mengembalikan buku itu ke tempat semula.
Tak berhenti disitu saja, Galih masih mencari buku novel yang akan membuat ayya suka.
Sebenarnya Galih tak tau apapun tentang novel percintaan, tapi demi mendapat maaf dari ayya dia bakal mencarikan buku untuknya.
Buku detektif, novel anak durhaka, novel perselingkuhan, novel rebutan warisan..
Arghhhh!! Ayya sudah tak tahan dengan Galih yang terus menerus menunjukkan buku pilihannya.
" Mending kak Galih diem aja deh."
" Tapi gimana sama kamu?"
Hufff, melihat Galih yang sedari tadi sibuk mencarikannya buku cukup membuat ayya kasihan.
" Udah, aku udah dapet buku yang mau aku beli kok.." Ucapnya bohong.
Sebenarnya ayya masih belum selesai, biasanya sampai berjam-jam dia menghabiskan waktu disana, karena merasa telah merepotkan teman-temannya ayya pun mengakhiri lebih cepat.
Sampai di lantai satu, mereka berdua berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran, FYI perpus ini juga menjual buku, so.. ayya sangat suka tempat ini.
Begitu pembayaran selesai, mereka berdua pun keluar perpus menuju caffe corner dimana Louis dan yang lain menunggu.
Mereka sudah dua jam menunggu disana, menghabiskan banyak makanan yang Louis traktir katanya, padahal kan niat Louis hanya traktir ayya, tapi ini malah?
" Ga apalah, hemat mingdep biar kebeli." Ucap louis yang langsung diacungi jempol oleh kedua kakak kosnya itu.
Kania pun turut mengacungkan jempol, namun dirinya malah salfok di depan pintu masuk caffe, dimana galih dan ayya datang.
" Heh itu galih bawa tas belanjaan siapa jir?" Tanya Kania pada Louis.
Roy dan willy pun serempak menoleh, tak lama mereka tergelak lirih.
" Udah kaya orang pacaran mereka berdua, mana pake bawain tas belanjaan segala.." Ucap Roy.
Kania pun mengerucutkan bibir. " Bisa-bisanya mereka jalan berdua? pasti udah barengan di perpus dari tadi??"
" Kenapa lo? cemburu?" Sindir willy.
" Dikit.. Hiks.." Kania cemberut.
Ketiga cowok itupun menertawakan Kania, tepat sekali Galih dan ayya datang bergabung.
" Bukannya nemenin ayya di perpus malah nongkrong disini semua." Cibir Galih.
" Tadi sih udah nunggu diaana bentaran doang. sunyi banget bro, kek lagi di ruang angkasa..."
Pfttt, Louis menahan tawanya.
" Ya untungnya ada bang Galih yang nemenin ayya, sekalian aja kita tunggu diluar.." Ucap willy.
Louis pun menoleh pada ayya yang mulai disibukkan dengan novel barunya.
" Hemm seneng banget nih kutu buku dapet mainan baru." Sinisnya.
Mereka memperhatikan ayya yang tak merespon apapun.
" Ayya kenapa diem aja bro?" Tanya Roy pada Galih.
Galih pun teringat dengan kegaduhannya dengan tiga pria mesum di perpus tadi, dengan sangat antusias ia menceritakan semua kejadian pada mereka.
Sedangkan ayya hanya memutar matanya malas saat mendengar Galih bercerita.