NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Tidak Layak Bahagia

Siapapun pasti berpikiran bilamana Jakarta seperti sedang memuntahkan seluruh amarahnya pada malam itu. Air tumpah dari langit untuk menghajar aspal kota tanpa ampun. Darren merapatkan tubuh ke pintu besi sebuah toko yang sudah tutup total. Emperan selebar satu meter itu sayangnya tidak memberi banyak perlindungan yang cukup baginya. Alhasil celana jeansnya basah kuyup, dan jaket kulit sintetiknya yang sudah sobek di bagian bahu mulai terasa berat menyerap air. Suhu udara juga menurun drastis, menyentuh kulitnya yang kurus, memaksa pori-porinya meremang kedinginan.

Sejak tadi, pandangan Darren terkunci pada fasad bangunan mewah di seberang jalan. Lampu neon berwarna ungu dan biru memanggilnya dari tempat karaoke eksekutif itu. Dia sedang menunggu Andre Gunawan. Nama itu tertera jelas di dalam map kertas yang didekap Darren erat-erat, layaknya pelampung satu-satunya di tengah lautan masalah.

Andre sejatinya adalah seorang pengusaha properti muda yang namanya sedang naik daun karena memiliki tunggakan pinjaman online sebesar Rp450 juta. Itu utang pokok delapan bulan lalu. Kini dengan bunga berlipat ganda yang dihitung harian oleh sistem perusahaan tempat Darren bekerja, angka itu sudah membengkak menjadi tidak realistis lagi.

Saku celana Darren bergetar sebelum dirinya cepat-cepat merogoh ponselnya. Layar yang retak itu menampilkan pesan dari Rina, istrinya.

Cello demam tinggi. Kamu lagi di mana? Bisa pulang sebentar?

Darren hanya menatap teks itu sampai getaran kedua muncul.

Terserahlah. Aku bisa urus sendiri.

Darren tidak membalas. Alih-alih tidak peduli, dia sadar betul tidak memiliki jawaban yang pantas. Jempolnya menggulir riwayat percakapan ke atas, ke pesan tiga hari lalu yang masih menyisakan rasa bersalah. Ibunya masuk UGD dan butuh uang muka Rp15 juta agar bisa pindah ke ruang rawat. Adapun jawaban Darren saat itu yang dengan pedenya berkata, "Gak usah khawatir, nanti aku cari," kini malah terasa seperti kebohongan paling kejam yang pernah dia ucapkan.

Pikirannya seketika pening kala itu sampai pintu kaca besar di seberang jalan terbuka. Gelak tawa keras lantas menerobos hujan. Andre Gunawan keluar bersama dua pria berbadan tegap. Kelompok itu tampak limbung di bawah pengaruh alkohol. Tak hanya bersama dua orang itu saja, tangan Andre juga terlihat melingkari pinggang seorang perempuan muda berpakaian minim, yang penampilannya sama sekali tidak mirip dengan foto istri Andre yang pernah Darren lihat di media sosial.

Lantas Darren menegakkan punggung. Rasa dingin di tubuhnya mendadak lenyap, digantikan oleh adrenalin yang memompa kencang. Pemuda itu menggenggam map itu kuat-kuat sebelum melangkah keluar dari perlindungan emperan toko, dan menembus tirai hujan menuju rombongan tersebut.

Dengan satu hembusan napas, dia mencegat mereka tepat sebelum Andre mencapai pintu mobil mewah yang sudah menunggu.

“Pak Andre. Selamat malam,” kata Darren, berusaha keras untuk melawan kebisingan air yang menghantam atap mobil.

Langkah Andre pun terhenti. Orang itu mengerjapkan mata yang merah dan bengkak, mencoba memfokuskan pandangan pada Darren. Seringai sombong pun segera menghiasi wajahnya begitu dia mengenali siapa yang berdiri di depannya.

“Anjing. Kamu lagi,” keluh Andre. “Bukannya aku sudah bilang ke bosmu? Jangan ganggu aku kalau aku sedang bersenang-senang.”

Masalahnya Darren tidak bisa mundur. Dia membuka map yang basah itu dan memperlihatkan lembaran dokumen di dalamnya. “Tunggakan pokok sudah delapan bulan, Pak. Total dengan bunga sekarang jadi Rp780 juta. Perusahaan minta minimal setoran awal Rp50 juta malam ini untuk freeze bunganya.”

Langsung saja si Andre tertawa menghina sebelum dia merenggut map itu dari tangan Darren. Dengan kasar, Andre merobek dokumen itu. Kertas-kertas perjanjian utang berterbangan, segera basah dan hancur terkena air hujan sebelum mendarat di genangan air kotor.

“Rp50 juta katamu?!” Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Darren dengan bau alkohol yang menusuk hidung. “Dengar ya, bodoh. Aku tahu siapa kamu. Mantan analis kredit bank terkemuka yang kena PHK massal, kan? Sekarang malah jadi kuli tagih pinjol ilegal.”

Andre pun mundur selangkah lalu menunjuk Darren dengan telunjuknya. “Kamu itu sampah. Minta sedekah saja sana, jangan tagih aku.”

Sementara Darren mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Jika tidak ada pembayaran, sistem akan otomatis melempar data Pak Andre ke kolektor lapangan tingkat lanjut. Anda seharusnya tahu konsekuensinya.”

“Coba saja,” tantang Andre, matanya berkilat penuh arogansi. “Aku bisa beli semua preman di kota ini untuk melindungi rumahku.”

Andre pun merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit tebal. Dia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan lima puluh ribuan, lalu melemparnya tepat ke wajah Darren. Uang-uang itu berhamburan, basah terkena air hujan, dan jatuh berserakan di sekitar kaki Darren.

“Itu. Ambil. Buat beli nasi biar kamu gak mati konyol kelaparan di jalan,” kata Andre sambil menyeringai puas.

Dia dan rombongannya itu akhirnya masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup rapat, meredam tawa mereka dan mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan cipratan air genangan yang mengenai celana Darren. Lagi-lagi celananya jadi korban.

Setelah itu Darren hanya bisa berdiri merenung. Air hujan mengalir turun dari rambutnya, membasahi matanya yang panas saat dirinya menatap uang-uang yang berserakan di aspal. Hingga dia berlutut. Satu per satu, dia memunguti lembaran uang itu dan membersihkan lumpur yang menempel dengan ujung jarinya. Totalnya Rp300 ribu.

Jelas sekali ini bukan uang pembayaran utang melainkan uang hinaan.

Kantor perusahaan pinjaman online itu terletak di lantai dua sebuah ruko di kawasan Grogol. Saat Darren tiba pukul 23.30, suasana masih ramai. Ruangan itu bau asap rokok, dicampur aroma mi instan yang baunya mengalahkan apapun. Beberapa kolektor lain terlihat sedang duduk melingkar sambil bermain kartu di atas meja yang penuh dengan botol-botol minuman keras kosong.

Sedangkan di ruang belakang yang hanya dipisahkan oleh sekat kaca itulah Herman duduk di balik meja besarnya. Kaki kanannya digips, diletakkan di atas kursi. Herman mengklaim itu akibat kecelakaan motor, tapi rumor di kantor menyebutkan itu hasil karya salah satu debitur yang kehilangan kesabaran.

Segeralah pria bernama Herman itu menatap Darren yang barusan masuk. Tatapannya jelas dingin, tidak bersahabat.

"Setor," kata Herman.

Darren pun meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja yang di dalamnya terdapat uang Rp2,3 juta, hasil tagihan dari tiga debitur kelas teri seharian ini. Angka itu jauh dari target harian yang ditetapkan Herman sebesar Rp15 juta.

Herman membuka amplop itu untuk menghitung isinya, lalu melempar amplop itu kembali ke dada Darren dengan kasar.

"Kamu bercanda? Cuman Rp2,3 juta?" nada suara Herman jelas meninggi.

"Hujan deras dari sore, Bos. Banyak debitur yang tidak ada di tempat atau menolak bukain pintu," Darren mencoba memberikan alasan wajar.

Masalahnya Herman tidak peduli. Dia memukul meja dengan telapak tangannya. "Aku gak peduli hujan atau badai! Bunga ke investor harus dibayar, gaji preman di depan juga harus dibayar. Kalau setoranmu kurang, dari mana aku ambil uangnya? Dari dompetmu yang kosong itu?"

Herman berdiri terpincang-pincang, bersandar pada kruk lalu mengitari meja untuk mendekati Darren. Sementara matanya menyipit.

"Lagipula, aku dengar kamu bertemu Andre Gunawan malam ini," kata Herman, lebih mengancam. "Dia memberimu uang, kan?"

Herman mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah foto yang dikirim oleh salah satu kolektor junior yang ternyata membuntuti Darren. Foto itu memperlihatkan Darren sedang berlutut memunguti uang di aspal di depan tempat karaoke.

"Uang itu milik perusahaan, Darren. Semua uang yang kamu pungut dari debitur adalah milikku. Setorkan sekarang," perintah Herman.

"Andre yang merobek map dan melempar uang itu sebagai hinaan. Itu bukan pembayaran, nominalnya juga gak seberapa," Darren mencoba menjelaskan.

Lantas punggung tangan Herman menghantam pipi kiri Darren dengan kekuatan penuh. Suara tamparan itu amat keras di ruang yang sempit. Darren jelas kaget bukan main, keseimbangannya hilang, dan dia jatuh tersungkur ke lantai. Adapun dari luar kaca, suara tawa kolektor lain terdengar samar-samar.

Herman pun menunduk setelahnya, menatap Darren yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang memerah.

"Kamu gak berhak untuk berpikir, Darren. Tugasmu cuman nagih, setor, nagih, setor. Gak perlu banyak alasan untuk sampah seperti kamu," kata Herman, meludah ke lantai tak jauh dari wajah Darren. "Pokoknya target besok Rp20 juta. Kalau gagal, kamu dipecat. Oh ya, jangan lupa, utangmu untuk biaya operasi ibumu tempo hari masih ada di catatanku. Pikirkan itu baik-baik."

Darren sampai di rumah sakit pukul 01.30 dini hari. Wajahnya bengkak, bibirnya sedikit sobek akibat tamparan itu. Alhasil dia menyempatkan diri untuk mencuci muka di toilet umum, mencoba membersihkan sisa darah dan kotoran agar ibunya tidak curiga.

Lastri terbaring lemah di ruang rawat inap kelas tiga. Ruangan itu penuh sesak dengan delapan tempat tidur yang hanya dipisahkan oleh tirai kain tipis. Bau obat yang menyengat bercampur dengan aroma manusia dan suara tangis keluarga pasien lain membuat suasana terasa berbeda dari dunia luar.

Lastri membuka mata saat Darren duduk di kursi plastik di samping tempat tidurnya. Matanya yang cekung menatap wajah Darren dengan cemas seperti biasa.

"Wajahmu kenapa, Nak?" tanya Lastri.

"Jatuh motor, Bu. Licin karena hujan," jawab Darren, mencoba tersenyum meskipun rasanya sakit.

Lastri menatapnya lama, tidak percaya namun terlalu lelah untuk berdebat. Dia menghela napas panjang. "Tadi Rina menelepon. Katanya dia mau membawa Cello ke rumah orang tuanya besok pagi. Dia bilang... dia sudah capek."

Pada saat itu juga Darren membeku. Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan Herman.

"Darren," kata Lastri, meraih tangan anaknya yang gemetar. "Kamu harus memilih. Pekerjaan ini atau keluargamu. Kamu tidak bisa membiarkan Rina menderita terus seperti ini."

"Ibu jangan pikirkan itu dulu. Fokus saja pada kesembuhan Ibu," kata Darren mulai terbata-bata.

Dia menunggu ibunya kembali tertidur pulas. Saat keheningan mulai menguasai ruangan itu, ponsel Darren kembali bergetar. Ada pesan suara dari Rina. Kebetulan sekali.

Darren memasang earphone dan memutar pesan itu.

"Mas, besok pagi aku ke rumah sakit. Tapi bukan untuk menjenguk Ibumu lagi. Aku mau ambil buku nikah dan akta cerai yang sudah aku siapkan. Aku tidak sanggup lagi, Mas. Aku lelah hidup dengan orang yang lebih takut sama bos pinjol daripada memikirkan nasib anak istrinya. Cello aku bawa juga. Tolong jangan cari kami dan jangan buat ribut di rumah orang tuaku."

Darren tidak menangis. Air matanya seolah sudah kering. Yang bisa dia lakukan hanyalah menatap layar ponsel yang perlahan menggelap, membiarkan notifikasi itu membakar habis sisa-sisa harapannya. Sepuluh menit berlalu tanpa gerakan. Akhirnya, dengan jari gemetar, dia membalas singkat.

Iya. Jaga Cello baik-baik.

Pagi harinya, Herman menelepon. Seperti biasa, orang itu berbicara dengan tidak sabaran.

"Darren, ke gudang Sunter sekarang. Ada debitur besar, namanya Toni. Tunggakannya Rp2 miliar. Dia sedang ada di sana jadi temui dia dan pastikan ada setoran."

Mendengar itu, Darren justru merasa aneh. Debitur dengan tunggakan miliaran biasanya ditangani oleh kolektor senior yang berbadan tegap dan punya reputasi kejam. Tidak pernah diberikan kepada penagih kelas teri seperti dirinya. Tapi sayangnya dia tidak punya kekuatan untuk menolak. Biaya pengobatan ibunya belum lunas. Rina dan Cello sudah pergi. Tidak ada lagi yang tersisa di hidupnya selain fokus pada utang tanpa beban keluarga.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren naik angkutan umum menuju kawasan industri Sunter. Gudang yang ditunjuk Herman terletak di ujung jalan, sepi dan terabaikan. Suasananya di dalam gudang itu apek, pengap, dan gelap karena minimnya pencahayaan. Begitu Darren melangkah masuk, pintu besi besar di belakangnya tertutup rapat dengan keras lalu dikunci dari luar.

Sementara di tengah gudang itu, malah bukan debitur berinisial Toni yang menunggu. Justru Herman yang berdiri di sana, dikelilingi oleh lima orang kolektor berbadan tegap yang sering Darren lihat bermain kartu di kantor. Herman menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk Darren merinding.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!