NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — AKU MEMBENCIMU LAGI

Sunyi.

Hanya napas kami yang terdengar di sambungan telepon.

Aku masih berdiri di depan locker 217.

Map hitam itu terbuka di tanganku.

Dokumen-dokumen berserakan di lantai.

Dan semuanya terasa seperti mimpi buruk yang datang terlalu cepat.

“Alena…”

Suara Arkan terdengar lebih pelan sekarang.

Tidak setajam tadi.

“Kamu ada di mana?”

Aku tertawa kecil.

Lelah.

“Kenapa?”

Aku menatap tanda tangannya lagi.

“Kamu takut aku menemukan sesuatu?”

Sunyi.

Dan justru itu—

yang membuat dadaku makin sakit.

“Jawab aku.”

Suaraku mulai dingin.

“Apa semua ini benar?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu—

“Aku bisa jelaskan.”

Aku langsung memejamkan mata.

Sakit.

Sialnya—

itu jauh lebih sakit daripada kalau dia langsung menyangkal.

Karena artinya…

dia memang tahu.

“Jadi benar.”

Bisikku pelan.

“Alena, dengarkan dulu—”

“Tidak!”

Suaraku akhirnya pecah.

Menggema di lorong locker yang sepi.

Tanganku gemetar.

Aku bahkan tidak sadar sejak kapan air mata mulai jatuh lebih banyak.

“Kamu tahu apa yang paling lucu?”

Aku tertawa kecil di sela napas yang mulai berantakan.

“Aku mulai percaya sama kamu.”

Sunyi di seberang sana.

Dan aku benci fakta bahwa aku bisa mendengar napasnya berubah.

Seolah kata-kataku benar-benar mengenainya.

“Aku mulai mikir…”

Aku menggigit bibir keras.

“…mungkin kali ini ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihakku.”

“Alena—”

“Tapi ternyata kamu sama saja.”

Aku menutup telepon.

Langsung.

Tanpa memberi dia kesempatan bicara lagi.

Lalu aku berdiri diam.

Beberapa detik.

Mencoba bernapas.

Mencoba berpikir.

Tapi kepalaku terlalu penuh.

Potongan-potongan ingatan mulai muncul lagi.

Cara Arkan selalu tahu terlalu banyak.

Cara dia beberapa kali mencoba menghentikanku mencari sesuatu.

Cara ibunya tetap tenang bahkan saat kami menyerang.

Dan sekarang—

dokumen ini.

Tanganku mengepal kuat.

Aku membenci diriku sendiri.

Karena di tengah semua rasa marah ini…

bagian paling menyakitkan bukan pengkhianatannya.

Tapi fakta bahwa aku benar-benar terluka karenanya.

Aku mengambil semua dokumen cepat.

Memasukkannya kembali ke map.

Aku harus pergi.

Sekarang.

Karena kalau Arkan datang—

aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.

Aku keluar dari gedung penyimpanan.

Udara malam langsung menghantam wajahku.

Dan tepat saat aku hendak masuk mobil—

sebuah tangan menahan pintu.

Aku langsung membeku.

Arkan.

Napasnya berat.

Kemejanya sedikit berantakan.

Sepertinya dia datang secepat mungkin.

Tatapan kami bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

aku tidak melihat pria yang berdiri di sisiku.

Aku melihat seseorang yang mungkin sudah membohongiku sejak awal.

“Masuk ke mobil.”

Suaranya rendah.

Aku langsung tertawa kecil.

“Masih berani ngatur aku?”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Aku menatapnya tajam.

“Lepas.”

Tapi dia tidak bergerak.

“Biar aku jelasin.”

Aku mengangkat map hitam itu ke depan wajahnya.

“Jelasin yang mana?”

Tanganku gemetar.

Marahku makin naik.

“Tanda tangan kamu?”

Aku membuka salah satu dokumen.

Menunjukkannya tepat di depan matanya.

“Atau fakta kalau kamu ikut menghancurkan hidupku?”

Wajah Arkan langsung berubah.

Bukan kaget.

Bukan takut.

Tapi… frustrasi.

“Ini tidak sesederhana itu.”

Aku tertawa.

Kali ini lebih keras.

Lebih sakit.

“Ya ampun…”

Aku menggeleng pelan.

“Kalimat itu lagi.”

Orang-orang memang lucu.

Selalu bilang semuanya rumit setelah mereka menghancurkan seseorang.

“Aku tidak pernah bermaksud nyakitin kamu.”

Kalimat itu langsung membuat emosiku meledak.

“BERHENTI BILANG KAYAK GITU!”

Suara pecahku menggema di area parkir.

Beberapa orang menoleh.

Aku tidak peduli.

“Kalau kamu tidak bermaksud nyakitin aku…”

Air mataku jatuh lagi.

“…kenapa namamu ada di sana?!”

Sunyi.

Arkan memejamkan mata sebentar.

Seolah mencoba menahan sesuatu.

“Aku tanda tangan dokumen itu.”

Akhirnya dia mengaku.

Dan dunia rasanya benar-benar runtuh.

Aku menatapnya.

Lama.

Tidak percaya.

Sakitnya jauh lebih besar saat mendengar langsung dari mulutnya sendiri.

“Tapi aku tidak tahu semuanya waktu itu.”

Aku tersenyum tipis.

Pahit.

“Tetap saja kamu melakukannya.”

“Karena aku dipaksa!”

Aku langsung diam.

Arkan mendekat satu langkah.

Tatapannya kacau sekarang.

Tidak setenang biasanya.

“Aku bahkan tidak tahu dokumen itu akan dipakai buat apa.”

“Bohong.”

“Aku serius!”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

aku melihat dia benar-benar kehilangan kendali.

“Aku waktu itu cuma disuruh tanda tangan oleh ibuku!”

Dia mengepalkan tangan keras.

“Aku pikir itu cuma soal aset perusahaan!”

Aku menatapnya tajam.

“Dan kamu langsung tanda tangan tanpa cari tahu?”

Dia diam.

Dan diamnya…

sudah cukup jadi jawaban.

Aku tertawa kecil lagi.

Pelan.

“Luar biasa.”

Aku mundur satu langkah.

“Jadi hidupku hancur…”

Aku menatap matanya dalam.

“…karena kamu terlalu pengecut buat melawan ibumu sendiri.”

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Aku bisa lihat dari perubahan wajahnya.

Tapi aku tidak peduli lagi.

Karena sekarang—

aku yang hancur.

“Alena…”

Suaranya melemah sedikit.

Dan sialnya—

aku hampir goyah mendengarnya.

Hampir.

Tapi lalu aku teringat sesuatu.

Malam-malam saat aku sendirian.

Saat hidupku dihancurkan.

Saat aku kehilangan identitas.

Keluarga.

Segalanya.

Dan nama Arkan ada di dokumen itu.

Cukup.

“Aku bodoh.”

Bisikku pelan.

“Aku benar-benar bodoh sempat percaya sama kamu lagi.”

Aku masuk ke mobil.

Tapi sebelum pintu tertutup—

Arkan menahannya.

Tatapannya langsung ke mataku.

Dan kali ini—

aku bisa lihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Takut.

“Jangan pergi.”

Dua kata itu terdengar begitu lemah dari pria seperti dia.

Dan justru itu yang membuat dadaku makin sakit.

Aku menatapnya lama.

Sangat lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Tenang.”

Air mataku jatuh pelan.

“Aku tidak akan lari.”

Tatapanku berubah dingin.

“Tapi mulai sekarang…”

Aku menepis tangannya dari pintu mobil.

“…jangan pernah berdiri di depanku lagi seolah kamu ada di pihakku.”

Pintu tertutup keras.

Dan untuk pertama kalinya—

aku meninggalkan Arkan berdiri sendirian.

Bukan sebagai sekutu.

Bukan sebagai seseorang yang kupedulikan.

Tapi sebagai pria yang baru saja kehilangan satu-satunya orang…

yang mulai membuat hidupnya berarti lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!