NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:108.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Yang Disalahkan

Lorong rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya saat Amanda melangkah masuk. Bau antiseptik menyengat, lampu putih yang terlalu terang membuat kepalanya makin berat. Setelah dari kantor polisi, tubuhnya lelah, tapi pikirannya jauh lebih kacau.

Begitu sampai di ruang tunggu, ia langsung melihat Amel duduk di kursi plastik, wajahnya penuh khawatir. Tak jauh dari sana, ayah dan ibu Aldo juga ada—raut wajah mereka tegang, terutama sang ibu, Tante Leni, yang sudah tampak siap “menyambut” Amanda dengan segudang pertanyaan.

Belum juga Amanda benar-benar mendekat, suara Tante Leni langsung menembus udara.

"Manda, kok bisa kejadian begini? Gimana ceritanya?”

Nada suaranya bukan sekadar penasaran—tajam, menekan, seperti sedang mengadili.

Amanda menelan ludah. Tangannya masih dingin. Ia berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan, berusaha setenang mungkin.

"Iya Tante… aku juga nggak tahu… tiba-tiba Kamil mukuli Aldo…”

Alis Tante Leni langsung terangkat tinggi. Ia melipat tangan di dada.

"Kenapa bisa begitu? Ada hubungan apa kamu sama dia?”

Pertanyaan itu terasa seperti tuduhan. Amanda refleks menggeleng cepat.

"Gak ada hubungan apa-apa, Tan… dia cuma teman nongkrong…”

"Dia tahu nggak sih kalau kamu sudah punya cowok?”

Amanda terdiam sesaat. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mulai merasa terpojok.

"Kayaknya… nggak, Tan…”

"Oh kalau gitu kamu PHP-in dia ya?”

Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa jeda, tanpa empati.

Amanda langsung mengangkat wajahnya, kaget.

"Nggak sih… dia memang pernah nembak beberapa kali, tapi aku nggak pernah nanggepin—”

"Kamu bilang nggak kalau kamu sudah punya cowok?” potong Tante Leni cepat, suaranya meninggi.

Amanda menggigit bibir bawahnya. Suaranya melemah.

"Secara langsung… nggak sih, tapi kan—”

"Salah!” Tante Leni memotong lagi, kali ini lebih keras. “Itu namanya kamu PHP-in dia. Wajar dia ngamuk. Itu karena cemburu.”

Ucapan itu seperti tamparan.

Ruangan mendadak terasa semakin sempit. Amanda terdiam. Dadanya sesak. Ia ingin membela diri, ingin menjelaskan bahwa ini bukan salahnya—bahwa kekerasan tidak pernah bisa dibenarkan.

Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Di sampingnya, Amel menggenggam tangan Amanda pelan, seolah memberi kekuatan. Tatapannya tidak setuju dengan ucapan Tante Leni, tapi ia memilih diam, memberi ruang bagi Amanda.

Sementara itu, ayah Aldo hanya menghela napas panjang, tampak lebih fokus pada kondisi anaknya di dalam ruangan perawatan daripada perdebatan di luar.

Amanda menunduk. Air matanya mulai menggenang, tapi ia tahan mati-matian.

Di kepalanya hanya ada satu hal yang berulang:

Kenapa aku yang disalahkan…?

Padahal jelas—yang memukul adalah Kamil.

Yang kehilangan kendali adalah Kamil.

Tapi di mata sebagian orang, perempuan tetap jadi pihak yang paling mudah untuk dituduh.

Amanda mengangkat wajahnya pelan saat Tante Leni kembali membuka suara. Nada bicaranya kali ini bukan hanya tajam—tapi juga penuh kecurigaan.

"O ya, kata Aldo, orang yang memukulinya itu… si Kamil yang lagi viral itu ya?”

Amanda mengangguk kecil.

"Iya, Tan…”

Tante Leni menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan, seolah sedang merangkai sesuatu di kepalanya.

"Jangan-jangan… dia menceraikan istrinya setelah akad itu… demi kamu, benar?”

Pertanyaan itu membuat Amanda benar-benar terpaku. Matanya membesar, napasnya tercekat sesaat.

"Aku… nggak tahu, Tan…”

Jawaban itu jujur. Tapi di telinga Tante Leni, terdengar seperti penghindaran.

"Tante jadi khawatir sama keselamatan Aldo… kalau Aldo masih bersama kamu.”

Kalimat itu lebih pelan, tapi justru lebih menusuk.

Amanda langsung menatap Tante Leni, kali ini dengan ekspresi yang benar-benar terluka.

"Maksud Tante…?”

"Ya bisa jadi dia tambah dendam sama Aldo. Karena dia ngerasa Aldo merebut kamu dari tangannya.”

Sejenak, dunia Amanda seperti berhenti.

Merebut?

Dari tangannya?

Seolah-olah dirinya adalah sesuatu yang bisa dimiliki. Seolah-olah ia punya andil dalam semua ini.

Amanda menggeleng cepat, suaranya sedikit bergetar, tapi kali ini ia mencoba lebih tegas.

"Nggak, Tan… dia sudah ditangkap polisi. Tadi aku langsung melaporkannya.”

Tante Leni menoleh cepat.

"Ditangkap? Dipenjara maksudmu?”

"Iya, Tan…”

Ada jeda. Hening beberapa detik. Tapi bukan hening yang menenangkan—justru seperti badai yang sedang menahan diri sebelum kembali menghantam.

"Dipenjara kan ada bebasnya.”

Kalimat itu jatuh dingin. Tanpa emosi, tapi penuh makna.

Amanda terdiam. Dadanya kembali sesak.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, rasa takut yang berbeda muncul. Bukan lagi tentang apa yang sudah terjadi… tapi tentang apa yang mungkin akan terjadi nanti.

Tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung bajunya sendiri.

Di sampingnya, Amel langsung menoleh tajam ke arah Tante Leni, jelas tidak setuju. Tapi lagi-lagi, ia memilih menahan diri—meski rahangnya terlihat mengeras.

Amanda menelan ludah. Kali ini, suaranya hampir seperti bisikan.

"Tante… maksudnya aku harus menjauh dari Aldo…?”

Pertanyaan itu bukan sekadar meminta jawaban.

Itu adalah ketakutan yang akhirnya keluar.

Tante Leni tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Amanda, lalu menghela napas panjang.

Tatapan itu tidak lagi sekadar menilai.

Tapi juga… menjaga.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Karena di mata Tante Leni—

Amanda bukan korban. Amanda adalah risiko.

Amanda duduk lemas di kursi lorong, tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Percakapan dengan Tante Leni barusan masih terngiang-ngiang di kepalanya, berulang tanpa ampun.

Amel yang sejak tadi di sampingnya akhirnya menggeser duduk lebih dekat, menepuk pelan punggung Amanda.

"Sudah, Man… namanya juga orang tua. Khawatir sama anaknya, ya pasti reaksinya begitu.”

Amanda tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong, menembus lantai putih mengilap di depannya.

"Gue takut…” suaranya pelan, nyaris seperti pecahan, “Aldo disuruh putus sama gue…”

Amel langsung menoleh cepat, ekspresinya berubah tegas.

"Nggak lah. Lagian kalaupun iya, emang Aldo mau? Dia itu cinta mati sama lo.”

Amanda menoleh sedikit, menatap Amel. Ada harapan di sana, tapi juga ragu yang belum hilang.

"Semoga aja ya, Mel…”

"Iya,” Amel mengangguk mantap, lalu meraih tangan Amanda, menggenggamnya erat. “Udah, nggak usah dipikirin terus. Ini bukan salah lo, kok.”

Amanda menarik napas panjang, tapi dadanya masih terasa berat. Amel menggeleng kesal, rahangnya mengeras.

"Emang si Kamilnya aja yang gila,” lanjutnya, kali ini dengan nada penuh emosi. “Lo nggak pernah kasih harapan, lo juga nggak punya hubungan apa-apa sama dia. Dia aja yang maksa masuk ke hidup lo.”

Amanda terdiam. Kata-kata itu perlahan masuk, menenangkan sedikit demi sedikit kekacauan di kepalanya.

"Iya ya…” gumamnya pelan, meski belum sepenuhnya yakin.

Amel menepuk tangannya lagi.

"Iya. Jangan sampai lo ikut nyalahin diri sendiri gara-gara omongan orang. Yang salah tetap dia.”

Amanda mengangguk kecil.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Meski ketakutan itu belum benar-benar hilang—tentang Aldo, tentang masa depan hubungan mereka—setidaknya sekarang dia tidak merasa sendirian. Di tengah dinginnya lorong rumah sakit, genggaman Amel terasa hangat.

1
sunaryati jarum
Itulah yang emak mau,dokter Andra.Tspi emak sangat suka jawaban Raya, jangankan memberi kesempatan, menatap saja tak sudi/Good//Good//Good/
Rini Hasmira
keren thor
sunaryati jarum
Ananda benar-benar benar tidak punya malu,jika Andra masih mau menerima Ananda berarti dia nggak punya harga diri , hanya sebagai ban serep
sunaryati jarum
Nah gitu Nak Dokter jadi emak terus lanjutin kisah ini,jawabanmu langsung menohok,jika masih punya urat malu segera menyingkir percaya dirimu terjun bebas
sunaryati jarum
Jika sampai Andra jatuh karena godaan Ananda emak berhenti mengikuti kisah Raya
Ma Em
Andra kalau kamu mau balikan sama Ananda berarti kamu bodoh Andra mau saja dipake cadangan , setelah Ananda dibuang sama cinta pertamanya mau kembali pada Andra enak di Ananda bodoh di Andra , kalau emang Andra blm bisa melupakan Ananda jgn dekati Raya karena kasihan Raya nanti akan sakit hati lagi untuk yg kedua kalinya .
falea sezi
masak sama jalang aja. gamon😒
Lee Mba Young
Raya cm pelarian, Dan Andra masih blm move on.
krn Cinta nya Andra sdh hbis pd Ananda Dan sisa nya kl dia sm Raya itu cm melanjutkan hidup atau skedar pelarian 🤣.
Nana Geulise
kakak adik(ananda n amanda) ga ada malunya.urat malunya dah putus.🫢🫢🫢...kok bisa ya kakak adik kelakuannya sama🤔...owh...kan cuma ada di dunia halu😁..mungkin ada x nya🤔.semanggat Author💪
Djuaningsih: lg seru banget brenti
total 1 replies
sunaryati jarum
Agar nanti jika ada ulet bulu nekat kamu jadi tamengnya Ray agar tak bisa menyerang dokter Andra.Sepertinya mantan tidak punya urat malu mau datang..Awas jika Dokter Andra memberikan kesempatan emak berhenti mengikuti kisahmu Ray.Emak tetap berharap kalian berjodoh.Amanah sebagai direktur Nisraya berhasil.
sunaryati jarum
Waah meetingnya diselingi dengan lamaran terselubung ya Dok,semoga memang kalian berjodoh
Lee Mba Young
kl Andra mau balik an ya bodoh lah masak masih mau ma bekas orang lain.
kcuali janda baik baik ok ae, ini dulu masih gadis nyampak an masak sekarang dah bekas pake 4th mau balik an di terima iuhhh jijik banget lah.
falea sezi
klo. tergoda ma ananda🤣 berarti Andra goblok🤣 ada berlian kayak raya malah milih kerikil bekas
Arieee
Andra jangan mau sama sodara nya Mak lampir ya🤧
Ma Em
Andra jgn sampai tergoda lagi sama Ananda ingat Andra dulu sdh dicampa kan sama Ananda cuekin saja Ananda dan pura2 Andra tdk kenal Ananda .
Lee Mba Young: 🤣 kl mau balik an ya bodoh masa dulu jls di campak kan trus sekarang dah bekas pake mau balik an di terima iya ogah lah kl Dr Andra Pinter. kcuali blm move on walau bekas ya masih mau 😄
total 1 replies
Mahmudah Mahmudah178
lanjut thro
Ester Natalia
suka ceritanya
Ester Natalia
ditunggu up nya
Isabela Devi
syukurlah raya bisa pegang butiknya srndiri💪
Ma Em
Alhamdulillah Raya sekarang sdh naik jabatan dari direktur utama , semoga amanah Raya menjalaninya dan makin sukses butik nya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!