NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

BAYANGAN YANG TIDAK PERNAH PERGI

Langit tidak pernah menyukai kata gagal.

Terlebih jika kegagalan itu selalu berakhir pada satu nama yang sama, Aira.

Di sebuah gudang kosong di pinggir kota, tiga pria itu berdiri tertunduk. Wajah mereka lebam, bukan karena Kartik—melainkan karena amarah Langit yang meledak tanpa sisa.

“Gue bayar kalian bukan buat mundur,” suara Langit rendah, tapi bergetar. “hanya satu cewek Dan kalian selalu pulang dengan tangan kosong.”

Salah satu preman memberanikan diri bicara. “Ada orang lain, Bang. Orang itu...”

BRAK.

Botol kaca menghantam dinding di samping kepalanya, pecah berkeping-keping.

“Jangan sebut orang itu,” potong Langit tajam. Rahangnya mengeras. “Gue nggak peduli siapa dia. Yang gue tahu, Aira selalu lolos. Selalu.”

Ia membelakangi mereka, menarik napas kasar. Tangannya mengepal.

“Pergi,” katanya akhirnya. “Dan jangan muncul lagi di depan gue sebelum kalian benar-benar berguna.”

Ketiganya pergi tergesa, meninggalkan Langit sendirian dengan pikirannya sendiri, dan obsesi yang kian membusuk.

Ia menutup mata. Aira. Selalu Aira.

...####...

Dua hari kemudian langit bertemu dengan Aira. Aira baru keluar dari minimarket dekat rumah sakit. Tangannya penuh kantong plastik kecil, air mineral, biskuit, dan obat tambahan untuk ibunya. Ia tidak menyadari sosok yang berdiri di seberang jalan sampai suara itu memanggil namanya.

“Aira.”

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh. Langit.

Wajah pria itu terlihat rapi seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya, gelap, mendesak, tidak sabar.

“Aku cuma mau ngomong,” kata Langit sambil mendekat. “Sebentar.”

“Aku nggak punya waktu,” jawab Aira dingin.

“Aku tungguin kamu berapa lama, Ra?” Langit tertawa kecil, getir. “Setelah hari, aku ngungkapin isi hatiku, kamu seperti menjauh?”

Aira menggenggam kantong plastik lebih erat. “Justru itu masalahnya, Langit. keadaan belum mengizinkan kita.”

Langit berhenti tepat di depannya. Jarak mereka terlalu dekat.

“Aku ungkapin isi hati ku itu karena aku cinta sama kamu,” katanya cepat. “Dan kamu tahu itu. Jangan pura-pura nggak pernah ada apa-apa di antara kita.”

Dada Aira terasa sesak. Ia memang mencintai Langit. Atau setidaknya, pernah. Sebelum terlalu banyak kejadian aneh. Sebelum rasa aman berubah jadi rasa diawasi. Sebelum cinta terasa seperti tekanan.

“Kamu bikin aku takut,” ucap Aira lirih, jujur. “Dan cinta nggak seharusnya bikin orang takut.”

Langit tertawa pendek. “Takut karena kamu masih peduli.”

“Aku ragu,” jawab Aira. “Aku ragu kamu tulus.”

Langit mendekat lagi, suaranya merendah, mendesak. “Terima aku lagi, Ra. Sekarang. Jangan kabur terus.”

Aira menggeleng. “Aku butuh waktu.”

“Tidak,” potong Langit. “Aku butuh jawaban.”

Ia menahan lengan Aira. Tidak kasar, tapi cukup kuat.

Di kejauhan, dari balik kaca mobil hitam yang terparkir setengah tersembunyi, Kartik melihat semuanya.

Ia tidak turun. Ia tidak menghampiri. Tangannya hanya mengencang di setir.

Aira menatap Langit. Ada sisa cinta di sana, tapi juga kelelahan yang dalam. Dunia terlalu berat untuk ia hadapi sendirian, dan Langit, dengan segala kerusakannya, masih terasa seperti satu-satunya yang mau mengaku mencintainya secara terang-terangan.

“Kalau aku terima,” suara Aira nyaris berbisik, “kamu juga harus bisa terima keluarga ku.”

Langit tersenyum cepat. “Apa pun. Aku janji.”

Janji yang terlalu mudah.

Aira mengangguk pelan. “Baik,” katanya. “Aku terima.”

Langit menariknya ke dalam pelukan.

Dan di saat itu, Kartik memalingkan wajah.

Ia tidak marah. Tidak juga membenci. Hanya ada rasa kosong yang mengendap pelan, seperti hujan yang jatuh tanpa suara.

Asalkan Aira baik-baik saja, pikirnya.

Itu saja.

Malam itu, Kartik duduk sendirian di balkon apartemennya. Lampu kota berkelip di kejauhan, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

Ke sebuah sore bertahun-tahun lalu. Lapangan basket sekolah. Sorak-sorai siswi yang riuh.

Kartik, kelas tiga SMA, berdiri di tengah lapangan. Keringat mengalir di pelipisnya. Tepuk tangan dan teriakan memenuhi udara.

Dan di tribun, di antara semua wajah yang bersorak berlebihan, ia melihat Aira.

Anak Kelas tiga SMP. Duduk tenang. Tidak berteriak. Tidak melonjak

.

Hanya menonton. Sesekali tersenyum kecil.

Tatapan Kartik beberapa kali melayang ke arahnya. Ada sesuatu yang berbeda. Aira tidak menatapnya seperti yang lain, bukan kagum yang bising, melainkan perhatian yang diam.

Sejak hari itu, Kartik sering mencari bangku itu. Sering memperhatikan gadis yang tidak pernah mencoba mencuri perhatian.

Dan entah sejak kapan, ia jatuh cinta. Pelan. Dalam diam. Kartik menjaga Aira dari kejauhan, Kartik tau siapa teman dekat Aira, apa kesukaannya, dan tempat yang sering Aira datangi,

saat Aira bersedih, Kartik mengirimkan penjual manisan kapas, atau penjual coklat dengan dalil, Senin Barokah, Selasa barokah, dan masih banyak cara lain nya.Supaya Aira kembali tersenyum,

Saat ada teman sekolah laki-laki yang menggoda nya, Kartik memberikan pelajaran dengan mengancam tanpa sepengetahuan Aira.

Kartik tak berusaha menampakkan diri karna cinta nya sunyi, ia takut akan penolakan, dan dalam kesunyian tak ada penolakan,bukankah cinta tak harus memiliki dan cinta akan menemukan jalan untuk bertemu,

Kartik belajar dengan giat, menjadi laki-laki yang menghormati wanita, laki-laki yang bertanggung jawab, pintar, cerdas agar bisa bersanding dengan Aira, ia akan berjuang mendapatkan Aira, tapi bukan dengan memaksa nya. Ia kira saat ia sukses, ia langsung akan melamar Aira, ternyata, Kartik sudah keduluan.

Bukan untuk memiliki. Hanya untuk memastikan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali berdiri di bayangan yang sama.

Menjaga. Tanpa terlihat. Tanpa diminta.

Karena beberapa cinta memang tidak diciptakan untuk dimenangkan. Hanya untuk bertahan.

Dan Kartik Arkana tahu, selama Aira masih bisa pulang dengan selamat, ia akan baik-baik saja, meski hatinya tidak.

Langit datang tanpa undangan.

Ruang besuk itu dingin, berbau logam dan waktu yang membusuk pelan. Ayah Aira duduk di balik meja besi, seragam tahanan melekat di tubuhnya yang makin kurus.

Rambutnya memutih lebih cepat dari usia. Namun sorot matanya masih tegak, mata seorang ayah yang belum selesai melindungi anaknya, meski tubuhnya terkurung.

Ketika Langit duduk di seberang, ayah Aira langsung tahu, ini bukan kunjungan biasa.

“Apa urusan kamu ke sini?” tanyanya datar.

Langit tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. “Saya cuma mau bilang satu hal, Om. Aira sekarang sama saya.”

Ayah Aira menatapnya lama. “Dan?”

“Dan kalau Om masih berharap ada orang yang bisa nyelamatin dia dari saya,” suara Langit merendah, “Om salah.”

Tangan ayah Aira mengepal. “Jangan main-main dengan anak saya.”

Langit tertawa pendek. “Saya nggak main-main. Saya serius.”

Ia condong sedikit ke depan. “Kalau Aira suatu hari memutuskan pergi… saya pastikan hidupnya hancur pelan-pelan. Kariernya, reputasinya, bahkan ketenangannya.”

Udara seakan membeku.

“Kenapa?” tanya ayah Aira, suaranya serak tapi terjaga. “Apa salah dia?”

Langit menyandarkan punggungnya. “yang pertama karena dia anak anda, Salman Maheswari dan yang kedua Karena dia berani ragu. Dan saya benci ditinggalkan.”

Penjaga memberi isyarat waktu hampir habis. Langit berdiri, merapikan jaketnya.

“Sampaikan salam saya ke Aira,” katanya ringan. “Bilang… dia milik saya sekarang.”

Langit pergi. Dan ayah Aira tertinggal dengan satu ketakutan yang tidak bisa ia sentuh, takut yang justru tumbuh paling subur di tempat sempit.

Di sisi kota yang lain, Kartik Arkana belum tidur sejak semalam.

Meja kerjanya dipenuhi map cokelat, fotokopi dokumen, laporan keuangan, dan catatan tangan yang rapi tapi tegang. Nama ayah Aira berulang kali muncul di halaman-halaman itu, bersama angka-angka yang tidak sinkron,

tanda tangan yang dipalsukan, dan transaksi yang seharusnya tidak pernah terjadi.

“Kamu yakin jalurnya lewat perusahaan cangkang ini?” tanya seseorang di seberang telepon.

Kartik mengangguk, meski lawan bicaranya tak bisa melihat. “Yakin. Aliran dananya dipotong di sini. Ayah Aira dijadikan kambing hitam.”

“Ini butuh waktu,” suara itu memperingatkan.

“Saya tahu,” jawab Kartik singkat. “Tapi saya nggak akan berhenti.”

Ia menutup telepon, lalu menyandarkan kepala ke kursi. Lelah menjalar, tapi tidak cukup kuat untuk menghentikannya.

Karena Kartik tahu, selama ayah Aira masih di penjara, Aira akan selalu dalam posisi lemah. Dan orang seperti Langit… hidup dari kelemahan orang lain.

Keesokan harinya, Aira duduk di ruang besuk yang sama.

Ayahnya menatapnya lama, terlalu lama, seolah mencoba menghafal wajah putrinya, jika suatu hari ia tak bisa lagi melihatnya.

“Aira,” katanya pelan. “Dengar ayah baik-baik.”

Aira tersenyum kecil. “Kenapa wajah ayah sangat serius?”

“Kamu masih sering bertemu teman kamu yang bernama Langit?”

Pertanyaan itu membuat Aira terdiam.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Kenapa, yah?”

Ayah Aira menarik napas panjang. “sudah ayah katakan Menjauhlah.”

Aira mengernyit. “kenapa yah?”

“Jauhi dia,” ulang ayahnya tegas. “ayah nggak minta apa-apa lagi sama kamu selain itu.”

“ayah enggak kenal langit yah, atau karena langit salah satu korban yang terdampak?” suara Aira mulai bergetar. “Ayah cuma lihat dari luar...”

“Aira,” potong ayahnya. “Dia datang ke sini.”

Darah Aira seakan surut dari wajahnya. “Dia… ke sini?”

“Dan dia mengancam,” lanjut ayahnya pelan, tapi tiap katanya jatuh seperti palu. “Bukan ayah yang dia incar. Kamu.”

Aira menelan ludah. “ayah tidak bohong kan?” jawabnya lirih

“Cinta yang memaksa bukan cinta, Ra. Itu penjara. Dan ayah sudah cukup lihat penjara untuk tahu bedanya.”

Mata Aira berkaca-kaca. “Tapi langit adalah anak yang baik yah, mungkin ia, hanya belum bisa melupakan masalalu, langit selalu ada untuk Aira”

Ayah Aira menatapnya lembut. “Langit tidak benar-benar tulus Aira.”

“Ayah, selalu menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya ke Aira dulu?”

“ayah lebih baik tetap di sini daripada, melihat kamu dengan anak itu” katanya pelan, “ayah enggak mau melihat kamu hancur, ayah sudah banyak berkorban untuk itu. Dan kamu harus memilih antara ayah atau anak itu”

Air mata Aira jatuh tanpa suara.

Di luar ruang besuk, tanpa Aira tahu, Kartik berdiri beberapa langkah dari pintu. Ia tidak masuk. Tidak ingin mengganggu.

Ia hanya mendengar satu kalimat itu.

Kartik tahu, waktu mereka tidak banyak.

Karena ancaman sudah diucapkan, peringatan sudah diberikan, dan cinta, dalam bentuk yang paling berbahaya, sudah memilih untuk menyerang.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!