NovelToon NovelToon
Jodoh Titipan

Jodoh Titipan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Perjodohan / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Romansa / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Taqi Bassami, hanya karena ia seorang anak angkat, pria itu harus mengorbankan hidup selamanya. Taqi menukar kebebasannya demi membayar balas budi. Berkat sang ayah angkat, hidupnya yang terpuruk di jalan, kini menjadi sukses.
Bila balas budi bisa dibayar dengan uang, Taqi pasti melakukan hal itu. Tapi bagaimana, jika Taqi harus menikahi wanita pilihan keluarga angkatnya itu untuk membalas jasa. Belum lagi latar belakang Taqi yang perlahan mencuat ke permukaan. Siapa sebenarnya Taqi? Ketika banyak pihak mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ZONK

Jodoh Titipan Bagian 20

Oleh Sept

Tidak hanya Taqi yang tersentak kaget, begitu pun dengan Nada. Ibu satu anak itu lantas bergegas merapikan diri.

'Tadi Mas Taqi lihat apa tidak, ya?' batin Nada merasa canggung.

Sudah dibilang, kalau Nada dan Taqi ini seperti adek sendiri. Jadi bisa dibayangkan apa yang keduanya rasakan saat ini. Satu oksigen di dalam ruangan yang sama, hanya menyisahkan rasa canggung bagi mereka berdua.

"Maaf, Mas tidak tahu kalau kamu ada di dalam sini. Tadi nggak ada," terang Taqi.

Nada pun membela diri.

"Ummi yang minta Nada ke sini," ucapnya malu.

"Oh ... ya sudah. Mas cuma mau ambil sesuatu."

Tanpa melihat ke arah Nada lagi, Taqi berjalan mendekati laci. Ia mengambil sesuatu di dalam sana. Sebuah map hitam, Taqi membukanya sebentar, karena itu yang dia cari, Taqi pun beranjak meninggalkan kamarnya sendiri.

"Maaf, yang barusan," ucap Taqi sembari pergi meninggalkan Nada yang menahan rasa malunya.

"Aduh!" gumam Nada yang semakin canggung saja.

***

Di teras rumah

Mr. Samir sudah menunggu sambil ditemani abah, ternyata keduanya terlihat cepat akrab. Samir bahas bahas apa, abah langsung nyambung.

Ya, mungkin karena abah juga bukan orang sembarangan. Dulu sebelum terjun ke yayasan Amsojar. Abah adalah pengusaha besar. Sempat melebarkan usahanya di dataran Arab. Di kala muda, abah memang sosok yang giat. Hidupnya hanya untuk kerja dan kerja.

"Kapan-kapan Abah main lah ke Malaysia. Kita bisa bahas lebih dalam. Sekalian Abah lihat pabrik Samir. Mau berguru juga sama Abah," canda Mr. Samir.

Abah menimpali dengan tertawa lebar. Sembari berucap, "Abah sudah tua. Sudah pensiun!"

Samir pun ikut terkekeh bersama Abah Yusuf. Sampai Taqi heran, apa yang membuat dia pria beda generasi tersebut tertawa saat ia pergi ke dalam.

"Ini, Mister."

Taqi mengulurkan berkas yang ia bawa dari dalam.

Samir pun menerimanya, kemudian membolak-mbalik beberapa kali. Setelah itu pamit pergi. Karena masih harus melakukan sesuatu.

"Maaf tidak bisa lama. Abah ... senang berkenalan dengan Abah Yusuf. Lain kali ... Kita harus ngopi bareng!" canda Mr. Samir sekali lagi. Pria keturunan India-Indonesia itu tersenyum ramah saat akan meninggalkan kediaman keluarga abah Yusuf.

***

Malaysia

Seorang pria berkacamata hitam, menatap gedung perusahaan Taqi yang ada di Malaysia di dekat tower kembar PETRONAS. Di belakangnya ada beberapa pria berbaju serba hitam, juga menatap ke arah yang sama.

"Kalian bereskan malam ini,"

"Baik, Tuan!"

Sosok pria itu langsung masuk ke dalam mobil. Kemudian mengangkat telpon yang sudah berdering berkali-kali.

"Sudah kau dapatkan berkasnya?" tanya pria itu dengan suara baritonya yang super berat.

Indonesia, Mr. Samir masih di dalam mobil di sekitar rumah abah.

"Sudah, Tuan," ucapnya pada sang bos.

"Bagus! Palsukan segera. Malam ini anak buahku yang akan bergerak."

"Baik, Tuan."

Mr. Samir kemudian meminta sopir untuk melanjutkan mobil mereka.

"Langsung ke hotel Hilton."

Sopir langsung mengangguk mengerti.

***

Malam hari, kediaman abah sudah sepi. Tamu benar-benar sudah pulang semua. Saudara pun sudah tidak ada. Hanya tinggal keluarga inti saja.

Ketika makan malam, pengantin baru sama-sama terlihat kaku dan canggung. Sudah mirip kanebo yang sudah jadi artefact.

Sedangkan ummi dan abah, dua orang itu terlihat sangat senang sekali. Rasanya, pernikahan ini adalah hal paling membahagiakan bagi mereka paska perginya Zain.

Pernikahan Taqi dan Nada bagai kabar gembira di kala kabut duka dalam keluarga besar mereka masih menyelimuti.

Abah dan ummi sekarang benar-benar lega. Akhirnya cucu mereka punya sosok pelindung. Ya, Taqi Bassami. Anak angkat yang bagai anak kandung sendiri.

"Makan yang banyak, Taqi."

Ummi memberikan banyak lauk untuk pria tersebut. Karena dilihatnya Nada masih canggung. Tapi ummi sangat paham sekali.

"Makasih, Ummi. Sudah jangan banyak-banyak."

"Banyak apa, udah ... pokoknya makan yang banyak. Biar sehat, kuat!"

Seketika Taqi merasa aneh. Mereka pun akhirnya makan dengan tenang.

"Nambah, Taqi?" tawar ummi semangat.

"Cukup Ummi ... cukup."

Abah lantas geleng-geleng kepala.

"Ummi, kasian Taqi. Kekenyangan dia."

Dan ummi hanya tersenyum.

"Nada juga ... makan yang banyak. Kamu sedang memberi ASI!" Ummi menambah lauk di piring Nada.

"Sudah Ummi. Sudah banyak ini."

Nada ingin menolak karena ummi begitu banyak memberikan lauk ayam goreng, cumi bumbu hitam dan juga udang Krispy. Semua ditaruh di atas piring Nada.

"Sayurnya juga. Biar asinya lancar!" tambah ummi.

Uhuk uhuk ...

Semua mata menatap Taqi yang terbatuk.

'Astaghfirullahaladzim!' batin Taqi.

Nada spontan mengambil minum, dan tanpa sengaja malah tangan mereka bersentuhan. Makin salting lah kedua insan yang tiba-tiba menjadi sepasang suami istri tersebut.

Ummi yang menangkap pemandangan itu, hanya tersenyum kecil.

***

Selesai makan, mereka mengobrol di ruang tamu. Hingga sampai akhirnya Nada berkali-kali ketahuan menguap.

"Kamu tidur dulu, Sayang. Kalau ngantuk, Naqiyyah juga sudah tidur sejak tadi."

Ummi meminta Nada tidur saja.

"Belum ngantuk, Ummi."

Sebenarnya, Nada merasa gundah. Bagaimana nanti. Ibu dari Naqi itu dilema saat harus satu kamar dengan Taqi, padahal pria itu kini adalah suaminya sendiri.

Meski menolak berkali-kali masuk kamar, ternyata Nada merasakan serangan kantuk yang maha berat. Mau tidak mau, Nada pun akhirnya pamit ke kamar.

Beberapa jam kemudian.

Ruang tamu nampak sepi, hanya Taqi yang sedang menonton siaran bola tengah malam. Abah dan ummi sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu juga dengan Nada, sudah masuk kamar beberapa saat yang lalu. Entah mengapa, Taqi juga mendadak tidak bisa tidur.

KLEK

Sebuah pintu terbuka, membuat Taqi reflect menoleh.

"Loh belum tidur?"

Ummi tiba-tiba keluar, mungkin mau sholat malam.

"Belum mengantuk, Ummi."

"Sudah larut, jangan bergadang Taqi ... ingat kesehatan itu modal utama."

"Iya, Ummi."

Kareka ummi terus saja menatapnya, alhasil Taqi pun pergi ke kamarnya. Ada perasaan khawatir saat ia akan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

"Apa aku ketuk dulu?" tanya Taqi pada diri sendiri.

Pria itu mengaruk tengkuk lehernya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 malam.

"Hemm ...!"

Taqi menghela napas panjang. Kemudian memutar knop pintu kamarnya.

KLEK

"Alhamdulillah!" gumamnya ketika melihat Nada sudah lelap.

Taqi kemudian melihat ke arah sofa. Pria itu lalu mengambil kain selimut. Memilih tidur di atas sofa saja.

***

Pukul 3

Suara Naqiyyah yang menangis keras, membuat Taqi seketika terbangun. Sambil mengusap mata, ia berjalan cepat ke arah box bayi. Sedangkan Nada, ibu muda itu masih larut dalam mimpinya.

"Kenapa? Kenapa menangis?" tanya Taqi pada bayi kecil yang belum bisa bicara tersebut.

Taqi yang masih mengantuk berat, menggendong Naqi dengan telaten. Karena sangat mengantuk, akhirnya ia mencoba untuk duduk.

Sambil bersandar di sofa, ia pangku bayi kecilnya itu. Bayi yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya. Sebab, ia menikahi ibu si bayi. Mengambil tanggung jawab keduanya.

Oek ... oek ...

Taqi tersentak, bayi yang semula ada dalam dekapan kini sudah tidak ada. Rupanya Taqi sudah tertidur beberapa saat. Hingga tidak sadar kalau Nada sudah mengambil bayinya.

"Maaf, Mas Taqi pasti kebangun karena dia nangis."

Taqi mengusap wajahnya. Kemudian menggeleng kepala.

"Apa dia menangis lagi?" tanya Taqi kemudian.

"Haus, sepertinya dia lapar."

Nada melirik sekilas ke arah Taqi. Kemudian pria itu paham dan mengerti. Taqi seketika berbalik, tidak menatap ke arah Nada. Sebab sepertinya Nada akan memberikan ASI untuk bayi munggilnya.

***

Pagi yang cerah, Taqi bangun dengan mata panda. Rupanya, malam pengantin bersama bayi itu begini rasanya. Tidak terjadi apa-apa, karena Nada milik Naqiyyah semalaman. Lagian Taqi juga belom ada niatan dalam hati untuk menyentuh istrinya tersebut.

"Kalian kelihatan capek sekali?" kata ummi saat keduanya keluar kamar hampir bersamaan.

"Naqiyyah rewel, Ummi!" sela Nada cepat. Takut kalau mertuanya memikirkan hal yang macan-macam.

"Apa nanti malam tidur sama ummi? Kamu pompa aja ASI-nya."

Taqi merasa aneh dengan pembicaraan itu, ingin tidak menghiraukan tapi telinganya mendengar.

'Dipompa?' batin Taqi.

Bersambung

Naqiyyah Malik Bassami, ibu Nada bagi dua ya... jangan dimonopoly. Hehehe ....

1
Jhon Kuni Wong
Luar biasa
Surati
bagus ceritanya👍🙏🏻 semangat thor 💪👍
Churin iin
Luar biasa
@bimaraZ
taqi salahjuga..meskipun cuma menena gkan g harus memeluk juga...
@bimaraZ
hhh tagi jadi ketagihan tuh...😍
@bimaraZ
anggap saja nisa dan taqi tidak berjodoh...
@bimaraZ
sampai g bisakomen bacanya ..g kebayang di posisi taqi
jawab iya salah jawab tidak juga berat
RL
Luar biasa
Zumi Zauhair
seruu
indah
😭😭😭😭😭😭
indah
Maa shaa Allaah Gemes ny 😍😍
indah
Hem Rumit nih
indah
Bawang Bombay
😭😭😭
Safitri Agus
jodoh othor yg menentukan 😁🤭
komalia komalia
ooh iya apa nada engga pakai hijab ya
komalia komalia
mas taqi mau bulan madu
komalia komalia
umii iis bukan nya diem bikin orang jadi malu aja
komalia komalia
umi kaya nya engga pernah bikin cap si abah
komalia komalia
udah baca
komalia komalia
itu lah kalau kita punya hutang budi bagai buah si malakama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!