NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Bangga atau memanfaatkan?

Menjelang malam, Thalia kembali berdiri di depan lemari pakaian. Kali ini, ia tidak ingin memilih untuk suaminya, melainkan untuk dirinya sendiri.

Tangannya berhenti pada gaun berwarna biru gelap. Potongannya sederhana, kainnya jatuh lembut mengikuti tubuh tanpa terlalu menonjolkan apa pun. Bagian lehernya berbentuk V tipis, cukup anggun tapi tidak berlebihan. Lengannya pendek, bahannya halus, dan warnanya membuat kulit Thalia terlihat lebih hangat. Ia memakainya.

Thalia membiarkan rambutnya tetap terurai, wajahnya ia beri riasan tipis, bibir ia poles menggunakan warna coral, bukan merah seperti yang biasanya disukai Rendra. Dan ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin, Thalia tidak melihat wanita yang dipersiapkan untuk dipamerkan. Ia melihat dirinya sendiri.

Tidak sepenuhnya bebas, tetapi setidaknya malam ini, ia memilih warna bibirnya sendiri.

Drtt... Drtt...

Suara getar ponsel di meja membuat Thalia mengarahkan pandangan ke ponsel, meraih ponsel itu, dan melihat pesan dari suaminya muncul di layar.

Rendra: "Aku sudah di Liora. Jangan terlambat."

Thalia membaca pesan itu, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas tanpa membalas diakhiri helaan napas panjang.

Liora yang suaminya sebutkan adalah restoran yang berada di lantai atas sebuah hotel yang menghadap langsung ke kota.

Berbeda dengan ballroom malam itu, tempat ini jauh lebih privat. Pencahayaannya hangat, ruangan yang diiringi melodi piano lembut. Meja-meja yang tersusun berjarak, memberi kesan mahal dan tenang.

Saat Thalia tiba, pelayan menyambut kedatangannya dan mengantar Thalia ke ruang makan privat di mana suaminya berada.

Namun, saat ia baru sampai di depan pintu, ia berhenti. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar suara suaminya.

“Thalia akan datang sebentar lagi, Pak. Saya yakin kehadirannya bisa membuat suasana lebih cair.”

Thalia membeku.

“Saya tidak mengundang istri Anda untuk mencairkan suasana.”

Kali ini suara Arkana yang terdengar.

Rendra tertawa kecil. “Tentu, Pak. Maksud saya hanya—”

“Saya mengundangnya karena Anda sudah lebih dulu memasukkan namanya ke dalam percakapan bisnis yang tidak seharusnya melibatkan istri Anda.”

Hening.

Thalia masih berdiri mematung di depan pintu, tubuhnya mendadak kaku.

“Saya hanya bangga pada istri saya, Pak.”

Suara Rendra terdengar lagi.

“Bangga atau memanfaatkan?” sindir Arkana tajam .

Jantung Thalia berdetak keras, paru-parunya mendadak terasa sesak seolah udara dalam paru-parunya tersedot habis. Tidak ada jawaban dari suaminya.

Sementara pelayan di samping Thalia tampak bingung, tidak tahu apakah harus mengetuk pintu atau mundur meninggalkan Thalia di depan pintu.

Thalia mengangkat tangan pelan, memberi isyarat agar menunggu meski jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama.

Di dalam, suara Arkana terdengar lagi.

“Saya tidak mencampuri rumah tangga orang lain, Pak Rendra. Tapi saya tidak menyukai pria yang membawa istrinya ke meja bisnis lalu berpura-pura itu bentuk penghargaan.”

Thalia merasakan tenggorokannya mengering, sesaat kemudian suara Rendra kembali terdengar dengan nada terkendali, tapi ada emosi tertahan di sana.

“Dengan segala hormat, Pak, Thalia adalah istri saya. Saya tahu apa yang terbaik untuknya.”

Arkana diam beberapa detik.

“Benarkah?”

Satu kata itu membuat bulu kuduk Thalia meremang. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang mempertanyakan kalimat Rendra tanpa gentar.

Thalia tahu ia seharusnya tidak mendengar ini. Ia seharusnya masuk, tersenyum, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Tetapi kakinya seperti tertanam di lantai.

Pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam diikuti sosok Saka di baliknya. Mata pria itu sedikit melebar saat melihat Thalia berdiri di sana.

“Nyonya Thalia.”

Suara dari dalam terhenti. Thalia tidak memiliki cukup waktu untuk menyusun ekspresinya saat Arkana sudah menoleh ke arahnya begitu pula dengan Rendra.

Ada jeda keheningan singkat yang terasa begitu panjang, dan itu cukup untuk membuat semua orang di dalam ruangan sadar bahwa Thalia mungkin sudah mendengar lebih banyak dari yang seharusnya.

Rendra berdiri. “Thalia.”

Senyum di bibir suaminya muncul, senyum palsu yang begitu kentara dalam penglihatan Thalia. “Kamu sudah datang.”

Thalia memaksa kakinya melangkah masuk. “Maaf saya terlambat.”

“Anda tepat waktu,” kata Arkana cepat.

Thalia menatap Arkana.

Pria itu berdiri di sisi meja, mengenakan setelan gelap yang sempurna. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.

“Silakan duduk, Nyonya Thalia.”

Rendra mendekat, hendak menyentuh pinggang istrinya seperti biasa. Namun sebelum tanganya sampai, Thalia bergeser halus, dan meletakkan tas di kursi. Gerakan halus yang membuat tatapan Rendra sedikit menggelap.

“Gaunmu bagus,” kata Rendra.

Thalia menatap suaminya sekilas, tahu itu bukan pujian, melainkan penilaian. “Terima kasih.”

“Kupikir kamu akan memakai yang merah,” ucap Rendra lagi, lebih ke penakanan dibandingkan pertanyaan.

Thalia duduk perlahan. “Aku memilih yang ini.”

Rendra tersenyum kaku.

Arkana duduk di seberang mereka. Di meja itu sudah ada tiga gelas air putih dan beberapa dokumen tipis. Investor belum datang. Menumbuhkan kecurigaan di benak Thalia jika makan malam ini bukan sekadar makan malam.

Rendra duduk di samping Thalia, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan.

“Pak Arkana tadi sedang memberi masukan soal proposal,” kata Rendra, suaranya kembali ramah. “Masukan yang sangat berharga.”

Arkana menatap Rendra datar. “Saya harap revisinya tidak hanya kosmetik.”

“Tentu tidak, Pak,” jawab Rendra cepat.

Thalia hanya diam, tapi telinganya menangkap setiap kata yang mereka berdua katakan.

Beberapa menit kemudian, pelayan masuk menawarkan minuman. Rendra memesan wine tanpa bertanya kepada Thalia.

“Untuk istri saya juga sama.”

“Saya air putih saja," kata Thalia cepat.

Rendra menoleh. "Lia."

“Aku sedang tidak ingin wine.”

Rendra tersenyum pada pelayan, tapi jari-jarinya mengetuk meja sekali.

“Air putih untuk istri saya,” ucap Rendra akhirnya.

Pelayan mengangguk dan pergi.

Arkana memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Tidak lama setelah itu, dua investor datang. Percakapan bisnis pun dimulai.

Thalia kembali mengambil peran diam.

Rendra berbicara dengan lancar, tapi beberapa kali ia tampak berhati-hati setelah teguran Arkana tadi siang. Arkana mendominasi percakapan dengan cara yang tidak mencolok. Ia memberi ruang orang lain bicara, tapi setiap kali ia membuka mulut, arah pembicaraan berubah mengikuti kehendaknya.

Thalia tanpa sadar memperhatikan tangan Arkana saat pria itu memegang gelas. Jari-jari panjang, tenang, dan tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Ia tersentak, dan segera memalingkan pandangan. Namun, semakin ia melarang dirinya, semakin sadar ia akan kehadiran pria itu.

Suara rendah pria itu, aroma maskulin yang ada di tubuh pria itu, dan tatapan Arkana yang sesekali jatuh ke arah Thalia seolah ingin memastikan apakah ia baik-baik saja.

Dan setiap kali itu terjadi, Thalia merasa batas di dalam dirinya bergeser setipis helai rambut.

Setelah hidangan utama selesai, salah satu investor bertanya kepada Thalia.

“Nyonya Thalia, Anda sendiri apakah terlibat dalam bisnis Pak Rendra?”

Rendra sudah membuka mulut untuk berbicara, namun kali ini, Thalia menjawab lebih cepat.

“Tidak secara langsung.”

Investor itu tersenyum. “Tapi saya dengar Anda punya latar belakang konsultan?”

Thalia melirik Rendra sekilas. “Benar. Dulu.”

“Sayang sekali berhenti.”

“Thalia memilih fokus pada rumah tangga,” ucap Rendra menyela.

Memilih. Kata itu hampir membuat Thalia tertawa. Ia menatap gelas air di depannya, lalu mengangkat wajah.

“Waktu itu saya pikir begitu,” ucap Thalia pelan. “Sekarang saya sedang mempertimbangkan untuk kembali bekerja.”

Rendra membeku. Arkana juga menatap Thalia. Namun tatapan Arkana berbeda. Bukan terkejut karena marah, melainkan karena pria itu mendengar sesuatu yang penting.

Rendra tertawa pelan. “Kamu tidak pernah mengatakan hal itu padaku.”

Thalia menoleh ke arah suaminya. “Banyak hal yang belum sempat kukatakan.”

Suasana mendadak berubah. Investor yang sebelumnya melempar pertanyaan mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Namun keretakan itu sudah terlihat. Setidaknya bagi tiga orang di meja itu.

.

.

Makan malam berakhir pukul sembilan lewat.

Para investor berpamitan. Rendra mengantar mereka sampai pintu ruang privat dengan senyum profesional yang kembali sempurna.

Thalia tetap di dekat meja, mengambil tasnya. Ia berpikir Arkana juga akan langsung pergi. Namun pria itu masih berdiri di sana, beberapa langkah darinya.

“Keputusan yang bagus,” ucap Arkana pelan.

Thalia menoleh. “Maaf?”

“Mempertimbangkan kembali bekerja.”

Thalia menggenggam tasnya lebih erat. “Itu hanya kalimat spontan.”

“Tidak terdengar spontan," sambut Arkana tenang.

“Bapak terlalu mudah menilai,” ucap Thalia.

“Saya mengamati.”

Thalia terdiam mendengar kalimat yang sama seperti kalimat di malam itu.

“Terkadang pengamatan bisa keliru,” kata Thalia.

Arkana memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Kalau begitu koreksi saya.”

Thalia terdiam. Tidak banyak pria dalam hidupnya yang memberi ruang untuk itu. Rendra bahkan tidak pernah. Rendra selalu memutuskan sendiri apa yang Thalia rasakan, pikirkan, dan inginkan.

.

.

Di dalam mobil yang melaju meninggalkan hotel, Rendra mengemudi dalam diam. Kedua tangannya mencengkram kuat pada kemudi.

“Kau sedang mempermalukan aku pelan-pelan, ya?” tanya Rendra setelah lama terjebak dalam keheningan.

Thalia memejamkan mata sejenak. “Aku menjawab pertanyaan.”

“Kamu bilang ingin kembali bekerja?” tanya Rendra.

“Karena aku memang mempertimbangkannya,” jawab Thalia.

“Kapan kamu mau memberitahuku?” tanya Rendra.

“Kapan kamu pernah benar-benar ingin mendengar?” Thalia balas bertanya.

Rendra tertawa hambar. “Jadi sekarang salahku juga?”

“Aku tidak bilang begitu,” sanggah Thalia.

“Tapi maksudmu begitu.”

Thalia menoleh ke arah suaminya. “Kalau kamu merasa begitu, mungkin karena ada benarnya.”

Mobil melambat, Rendra menggenggam kemudi lebih erat. “Sejak bertemu Pak Arkana, kamu berubah.”

Thalia menghela napas pelan, ia sudah tahu tuduhan itu akan datang. “Tidak. Aku berubah karena aku mulai sadar aku tidak ingin terus seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Seperti istri yang hanya boleh tersenyum saat dipamerkan, diam saat direndahkan, dan menurut saat dipakai,” jawab Thalia.

Rendra mengembuskan napas kasar. “Kamu mendengar pembicaraanku dengan Pak Arkana tadi?”

Thalia diam.

Rendra tersenyum dingin. “Bagus. Jadi kamu mendengar dia membelamu?”

“Dia tidak membelaku,” bantah Thalia.

“Tidak usah pura-pura. Aku lihat cara dia menatapmu,” sahut Rendra.

Thalia menatap jalan di depan. “Yang paling menyedihkan adalah... kamu lebih marah karena dia melihat caramu memperlakukanku daripada karena kamu memang memperlakukanku seperti itu.”

Rendra terbungkam. Kalimat itu mengenai tepat sasaran. Tapi, bukan Rendra namanya jika ia harus kalah dalam perdebatan.

“Jangan terlalu percaya diri, Thalia. Pria seperti Arkana tidak akan mengambil risiko hanya untuk wanita yang bahkan tidak bisa mengatur rumah tangganya sendiri,” ucap Rendra.

“Lalu kamu?” Thalia balas bertanya. “Kamu pria seperti apa?”

Rendra menoleh sekilas sebelum kembali menatap jalan di depan. “Apa maksudmu?”

“Kamu mengambil risiko apa untukku?” tanya Thalia.

Hening.

Tidak ada jawaban apapun yang suaminya keluarkan. Diamnya Rendra hanya mempertegas jika pria itu tidak memiliki jawaban yang membuat dia terdengar benar.

Thalia kembali menatap ke depan. Malam itu, ia pulang bersama suaminya. Namun pikirannya tertinggal pada kalimat yang Arkana ucapkan.

Bangga atau memanfaatkan?

Pertanyaan itu terdengar seperti pintu yang diketuk dari dalam hatinya sendiri.

Apakah selama ini ia dicintai? Atau hanya dimanfaatkan dengan nama pernikahan?

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
〈⎳ FT. Zira: 🙈🙈 kebanyakan karya hiatus yak🤭
total 1 replies
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
〈⎳ FT. Zira: hayoo siapa🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
〈⎳ FT. Zira: terima kasih banyak kaka🥰
total 1 replies
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!