NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 19

...19: UJIAN MASUK...

...****************...

Mendengar instruksi tegas dari Liera, Kenzie justru melepaskan sebuah uapan lebar yang tampak sangat malas. Sepasang matanya berair karena kantuk yang mendadak menyerang. Kenzie benar-benar merasa jenuh dengan segala hal yang berbau pelatihan fisik atau ujian formal. Baginya, delapan tahun hidup di tengah hutan belantara dan disiksa habis-habisan oleh menu latihan ekstrem dari Arvendel sudah lebih dari cukup untuk membuatnya muak. Jangankan ujian masuk akademi, duel kecil-kecilan seperti ini pun terasa seperti membuang-buang tenaganya yang berharga.

"BAIKLAH! DENGAN INI, UJIAN PENERIMAAN MURID RESMI AKADEMI GUNUNG LANGIT DIMULAI! DAN ACARA AKAN DIAWALI DENGAN PIDATO SAMBUTAN OLEH WAKIL DEKAN KEPALA AKADEMI!" seru seorang guru berwibawa yang bertindak sebagai pembuka acara menggunakan siaran suara bertenaga energi Ki.

Tepat saat wakil dekan hendak melangkah maju ke podium, sebuah ide gila, nakal, dan super jahil mendadak melintas di dalam tempurung kepala Kenzie. Sambil melirik Ryujin yang berdiri di sebelahnya dengan wajah tanpa beban, Kenzie menyeringai tipis.

Tanpa memedulikan etika, Kenzie tiba-tiba mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara dan berteriak dengan lantang, "PERMISI, PAK GURU! APAKAH AKU BOLEH BICARA SEBENTAR, DAN DIPERKENANKAN UNTUK MEMBAGIKAN SEBUAH IDE BRILIAN MILIKKU?!"

Suara Kenzie yang nyaring dan penuh percaya diri itu seketika memotong keheningan lapangan. Dalam sekejap, ribuan pasang mata—mulai dari para penguji, tetua, hingga seluruh calon murid baru—langsung tertuju lurus ke arah pemuda berambut perak tersebut.

Ryujin yang berdiri tepat di sebelah Kenzie bukannya merasa malu, ia justru menatap Kenzie dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. Pemuda berambut merah itu langsung mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. *Wow... Gila, dia keren banget! Berani sekali memotong pidato petinggi akademi!* batin Ryujin yang benar-benar terpukau oleh mental baja Kenzie.

Sementara itu, di tribun penonton tempat para murid resmi berkumpul, Rava dan Liera yang sudah duduk nyaman di kursi mereka langsung tersedak. Wajah Rava mendadak pucat pasi melihat kelakuan Kenzie yang begitu lancang.

"Apa... apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Kenzie?!" Rava bergumam frustrasi sembari menepuk jidatnya berulang kali, merasa kepalanya mendadak pening.

"Entahlah... otakku juga masih sementara mencerna situasi gila ini!" sahut Liera dengan panik, sampai-sampai ia menggigit kuku jarinya karena cemas setengah mati akan nasib mereka yang membawa Kenzie ke sini.

Di tribun kehormatan para guru akademi, atmosfer langsung menegang. "Bocah bodoh! Kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan, hah?! Berani sekali kamu berbuat lancang di hari sepenting ini!" bentak salah satu guru pengurus dengan wajah memerah menahan amarah.

Master Helena sendiri hanya memilih berdiam diri di kursinya. Sebagai seorang Guru Agung dengan status tertinggi, ia harus tetap menjaga ketenangan agar reputasi agungnya tidak rusak di mata publik. Namun, di dalam hatinya, Helena mengeluh berat. *Anak nakal ini... baru hari pertama menapakkan kaki di sini saja sudah berani membuat ulah yang mengguncang akademi... Haiss,* batin Helena sembari menopang kepalanya dengan tangan, berusaha tetap terlihat elegan di kursinya meskipun hatinya dongkol.

Sebelum keributan semakin meluas, Wakil Dekan Akademi yang berambut putih panjang perlahan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar guru pengurus tadi meredakan amarahnya. Dengan tatapan penuh wibawa dan bijaksana, sang Wakil Dekan menatap Kenzie. "Ide apa yang kamu miliki, Bocah? Sampai-sampai kamu begitu berani memotong sambutan dewan guru. Jika idemu masuk akal dan bagus, aku akan mempertimbangkannya."

Namun, alih-alih bersikap tegap atau memberi hormat, Kenzie yang berdiri di tengah kerumunan calon murid justru tampak sangat abai. Ia tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang tiada tara: sibuk mengorek lubang telinganya menggunakan jari kelingking, sama sekali tidak peduli dengan situasi kacau dan tegang yang baru saja ia ciptakan.

"LANCANG SEKALI KAMU!!" teriak seorang Guru Agung lain yang terkenal kolot dan disiplin. "Bocah ini benar-benar kurang ajar dan tidak memiliki tata krama di hadapan Wakil Dekan!"

Wakil Dekan kembali memberikan lirikan sinis yang sarat akan tekanan mental, membuat guru kolot itu terpaksa menelan kembali kata-katanya.

Di sisi lain, Helena yang terus mengamati situasi dari kursinya tidak bisa menahan senyum tipis di dalam batinnya. *Bocah berambut perak ini sungguh menyebalkan... tapi aku harus mengakui, aku menyukai nyalinya yang besar.*

"Ahh..." Kenzie tersentak sadar, seolah baru saja kembali dari dimensi lain setelah berhasil mengeluarkan kotoran kupingnya. "Tolong maafkan aku karena sedikit sibuk dengan urusan pentingku tadi," ucap Kenzie santai tanpa dosa, merujuk pada aktivitas mengorek telinga yang sama sekali tidak penting itu.

Kenzie kemudian berdeham, menegakkan tubuhnya, dan berkata dengan nada super tegas, "Aku hanya ingin membagikan ide hebatku. Di mana aku, dan bocah berambut merah di sebelahku ini, akan MENANTANG SELURUH PESERTA UJIAN HARI INI SEKALIGUS!"

*DEGG!*

Suasana lapangan mendadak hening seketika sebelum akhirnya meledak oleh kepanikan.

"Kami berdua akan melawan seluruh peserta yang ada di atas arena ini! Jika kami berdua berhasil bertahan hingga akhir dan semua peserta ujian lainnya tumbang, maka kami berdua harus langsung diloloskan dari ujian masuk Akademi Gunung Langit ini tanpa perlu mengikuti tes formal berikutnya yang bertele-tele! Bagaimana, Pak Guru? Apakah Anda mau mempertimbangkannya dan menerima masukanku ini?" ujar Kenzie menyeringai lebar.

Mendengar hal itu, dua bola mata hijau milik Ryujin semakin berbinar-binar menatap Kenzie, seolah-olah ia baru saja melihat sesosok pahlawan besar yang turun dari langit. "Luar biasa! Mulai sekarang, aku akan memanggilmu sebagai Kakak! Bagaimana menurutmu, Sobat?!" ucap Ryujin berapi-api sembari merangkul pundak Kenzie.

"Terserahmu saja, asalkan kamu bahagia, itu sudah lebih dari cukup untukku," balas Kenzie dengan wajah yang dipenuhi rasa bangga pada diri sendiri.

Mendengar usulan yang super tidak masuk akal tersebut, seluruh calon murid di lapangan langsung tersulut emosinya. Suasana mendadak riuh oleh makian dan teriakan kemarahan. Mereka merasa sangat diremehkan dan dihina oleh ucapan Kenzie yang menganggap ratusan calon pendekar di sana seolah hanya butiran debu tak berharga.

Di sudut barisan depan, para calon murid unggulan yang memiliki bakat yang luar biasa dan jenius dari keluarga terpandang, mulai menunjukkan reaksi keras.

Seorang gadis cantik berambut putih bersih bernama Snowy yang sengaja menyembunyikan identitas aslinya, ia hanya melirik Kenzie dengan tatapan matanya yang sedingin es, mendengus pelan penuh penghinaan.

Di sebelahnya, **Shang Chen**, seorang pendekar dengan pedang besar di punggungnya, langsung menggenggam hulu pedangnya dengan urat-urat tangan yang menegang karena merasa harga dirinya sebagai kultivator berbakat diinjak-injak.

Sementara itu, **Hyugul Taeju**, pemuda bertubuh kekar dengan aura fisik yang intimidatif, langsung melotot tajam sembari meretakkan buku-buku jarinya. Ada pula **Cordro**, pemuda taktis yang tenang, **Arthur Vance**, seorang bangsawan sombong berwajah rupawan, serta **Kenjiro Sato**, pendekar sunyi yang terus mengamati Kenzie dari balik bayangan barisan. Mereka semua menyilangkan dada, memandang Kenzie dan Ryujin dengan tatapan membunuh.

Melihat gejolak yang menarik tersebut, Wakil Dekan di atas tribun justru mulai tersenyum tipis sembari mengelus-elus janggut putih panjangnya. "Hahaha... Menarik. Sungguh sebuah keberanian yang sudah lama tidak aku lihat di akademi ini. Baiklah, aku setuju dengan usulan gilamu itu!"

Wakil Dekan kemudian menegakkan tubuhnya dan menambahkan aturan tambahan dengan suara bertenaga dalam yang menggelegar, "Namun ingat! Jika kalian berdua menyerah atau kaki kalian keluar dari batas arena, artinya kalian langsung dihitung kalah dan akan menerima hukuman berat dariku nanti! Dan bagi seluruh calon murid lain, dengarkan ini: SIAPA PUN DI ANTARA KALIAN YANG MAMPU MENUMBANGKAN KEDUA BOCAH INI DI ATAS ARENA, MAKA DIA JUGA AKAN LANGSUNG DINYATAKAN LOLOS SECARA OTOMATIS!"

Mendengar pengumuman dari Wakil Dekan, sorak-sorai kemarahan para peserta berubah menjadi seringai haus darah. Namun, bagi para calon murid unggulan seperti Snowy, Shang Chen, Hyugul Taeju, Cordro, Arthur, dan Kenjiro, mereka sama sekali tidak tertarik dengan jalan pintas konyol seperti itu.

Mereka adalah para genius yang memiliki harga diri tinggi; mereka lebih memilih untuk lulus menggunakan jalur ujian formal yang sah daripada harus mengeroyok dua orang bodoh di atas panggung.

Alhasil, para murid unggulan ini memilih mundur dari barisan arena, membiarkan ratusan peserta kelas menengah ke bawah yang bergerak maju untuk mengeroyok Kenzie dan Ryujin.

Bukannya takut atas ancaman hukuman dari Wakil Dekan ataupun ratusan musuh yang mulai mengepung, Ryujin justru melompat kegirangan dengan semangat bertarung yang berkobar bagai api. "Hehehe! Terima kasih banyak atas kebaikan dan kemurahan hatinya, Pak Guru!" seru Ryujin dengan wajah polos tanpa beban.

Helena yang menyaksikan kepolosan Ryujin hanya bisa menggelengkan kepala dari atas tribun kursi agungnya. *Satu lagi orang bodoh yang sama sekali tidak mengerti dengan situasi darurat yang sedang menimpanya,* gumam Helena di dalam benak.

Kenzie diam-diam melirik Ryujin sembari menyembunyikan senyum iseng dan liciknya. Bagaimana tidak senang? Rencana jahil Kenzie berjalan dengan sangat sempurna! Alasan utama Kenzie mengusulkan tantangan gila ini sebenarnya adalah murni untuk menjahili Ryujin dan menjebaknya ke dalam situasi kacau yang merepotkan.

Kenzie masih sangat dendam atas kejadian semalam. Saat mereka makan daging banteng bertanduk baja dan meminum arak berdua, Kenzie baru saja menikmati beberapa suap dengan santai. Namun, Ryujin dengan sifat maruk dan rakusnya langsung melahap habis seluruh sisa daging dan menenggak habis arak dewa tersebut tanpa sisa, membuat Kenzie hanya kebagian tulang belulangnya saja.

Ditambah lagi, setelah perutnya kenyang, Ryujin langsung melosor pergi tidur begitu saja, memotong obrolan penting yang baru saja ingin Kenzie mulai. Jika saja semalam Kenzie tidak terlanjur mabuk berat, ia pasti sudah meremukkan tulang Ryujin saat itu juga. Maka dari itu, siang ini adalah waktu yang tepat untuk membalas dendam!

...----------------...

Singkat cerita, dengan dikawal oleh tatapan tidak percaya dari seluruh penjuru lapangan, Kenzie dan Ryujin akhirnya dipersilahkan naik ke atas panggung batu, arena yang sangat luas untuk memulai pertarungan maut mereka.

Di atas tribun penonton, Rava dan Liera hanya bisa terpaku dengan wajah yang mendadak terlihat "usang" dan lelah. Keduanya kompak menggelengkan kepala melihat kegilaan yang terjadi di atas panggung. Logika mereka benar-benar tidak bisa mencerna kejadian itu dengan jalan pikiran dua makhluk absurd tersebut.

Meski begitu, Rava di dalam hatinya sangat percaya dan mengakui bahwa Kenzie memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk meratakan arena ini sendirian.

Namun, untuk pria berambut merah acak-acakan di sebelah Kenzie itu... Rava masih sangat meragukannya.

*Mari kita saksikan bersama, kejutan konyol atau kehebatan apa yang akan ditunjukkan oleh kedua bocah sembrono itu,* gumam Master Helena di dalam hati, memfokuskan pandangan anggunnya ke tengah arena.

"BAIKLAH! KARENA WAKIL DEKAN TELAH MEMBERIKAN RESTU, MAKA PERTARUNGAN MASSAL... DIMULAI DARI SEKARANG!" teriak guru pengawas sembari memukul gong besar.

*TENGGG!!*

Begitu suara gong menggema, ratusan peserta ujian langsung mencabut senjata mereka dan mulai mengepung arena panggung dengan aura membunuh yang pekat.

Melihat gelombang manusia yang mulai bergerak maju, Kenzie melirik Ryujin sembari kembali memasukkan jari kelingkingnya ke dalam telinga, menikmati "indahnya surga" dari aktivitas mengorek kupingnya yang sempat tertunda.

"Hei, Ryujin. Apakah kamu mampu menghadapi kerumunan serangga itu sendirian? Jika kamu mampu, silakan hadapi mereka semua. Sementara aku... aku akan duduk bersantai sejenak di pojok panggung ini untuk menikmati angin pagi," ujar Kenzie memprovokasi dengan wajah super menyebalkan.

Bukannya merasa keberatan atau sadar kalau dirinya sedang dimanfaatkan, Ryujin justru menyanggupi tantangan itu dengan tawa yang menggelegar gembira.

Darahnya bergejolak panas, dan dengan penuh semangat ia mulai melangkah maju ke garda depan sembari melemparkan tatapan mengejek ke arah ratusan peserta yang mengepung mereka.

"Bwahaha! Kakak, tenang saja! Duduk manis dan perhatikan baik-baik bagaimana Tuan Ryujin yang tampan ini menghabisi mereka semua tanpa sisa!" seru Ryujin dengan rasa percaya diri yang melompati langit.

Ia kemudian menunjuk ke arah ratusan musuh di depannya sembari berteriak lantang, "AYO MAJU KALIAN SEMUA SEKALIGUS, DASAR KEROCO-KEROCO TIDAK BERGUNA!!"

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!