NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai Menerima Takdir

​Sementara konspirasi dan salah paham besar sedang digodok di markas musuh, atmosfer di Mansion Moretti justru berbanding terbalik. Selama beberapa hari terakhir ini, Sonya Munic bisa menikmati hidupnya dengan cukup tenang dan damai. Batara Moretti, suaminya yang kaku dan menakutkan itu, tidak lagi mengganggunya atau menuntut kehadirannya di kamar tidur utama karena pria itu sedang disibukkan oleh urusan-urusan mendesak perluasan wilayah aliansi bisnis The Inferno yang sempat diganggu oleh kubu Scattershot.

​Sore itu, cuaca di Wilayah Maldav terasa sangat sejuk dengan embusan angin yang membawa aroma tanah basah setelah hujan ringan. Sonya tengah duduk santai di atas bangku taman yang terbuat dari batu marmer putih, tepat di pinggir kolam ikan koi besar yang terletak di area taman dalam mansion. Dengan mengenakan gaun terusan kasual berwarna putih gading, wajah Sonya terlihat jauh lebih segar dan berisi dibandingkan beberapa hari yang lalu. Memar-memar di tubuhnya pun perlahan mulai memudar berkat perawatan obat-obatan terbaik yang selalu disediakan oleh Ibu Yooka atas perintah tersembunyi Batara.

​Sonya tersenyum tipis, jemari lentiknya mengambil segenggam pakan ikan dari wadah kecil di sampingnya, lalu menaburkannya ke dalam air kolam yang jernih. Seketika itu juga, belasan ekor ikan koi berukuran besar dengan corak warna merah, jingga, dan emas langsung berenang berebutan ke permukaan, menciptakan kecipak air yang menenangkan.

​Bruk...

​Tanpa ada suara langkah kaki yang terdengar sebelumnya, tiba-tiba seluruh tubuh Sonya menegang kaku seperti tersengat aliran listrik. Sebuah rasa familier yang sarat akan dominasi pekat mendadak melingkupi sekelilingnya dari arah belakang. Belum sempat Sonya membalikkan kepalanya untuk melihat, sepasang lengan kekar yang dipenuhi otot solid dan aroma maskulin yang khas bercampur tembakau mahal langsung melingkar dengan sangat erat di sekeliling pinggang rampingnya, menarik punggung mungilnya hingga menempel tanpa jarak pada dada bidang yang kokoh di belakangnya.

​Sebuah embusan napas yang cukup kuat dan hangat menerpa kulit ceruk lehernya yang sensitif, membuat bulu kuduk Sonya berdiri seketika karena sensasi yang mendebarkan.

​"Kamu sangat wangi," ucap Batara dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan berat, sarat akan kelelahan setelah berhari-hari mengurus bisnis berdarah namun dipenuhi oleh gairah yang tertahan.

​Tanpa meminta izin atau memberikan peringatan terlebih dahulu, bibir tipis Batara yang biasanya mengeluarkan perintah kematian kini begitu lancang menempel dan menyusuri kulit leher jenjang milik Sonya, memberikan beberapa kecupan dalam yang menghisap lembut, membuat Sonya melepaskan sisa pakan ikan di tangannya ke dalam kolam karena terkejut.

​"Tu-Tuan... hentikan..." cicit Sonya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, kedua tangannya bergerak refleks memegang lengan kekar Batara yang mengunci pinggangnya. "Itu... ge-geli, Tuan... saya mohon..."

​"Diam!"

​Satu kata bentakan halus yang bernada rendah dan dingin keluar dari mulut Batara, seketika membungkam seluruh sisa kalimat penolakan dari Sonya. Wanita itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tubuhnya pasrah dan tidak lagi berani mengeluarkan suara sepatah kata pun. Dia hanya bisa diam menahan debaran jantungnya yang kian menggila saat Batara mulai asyik mengeksplorasi leher dan bahunya, meninggalkan tanda kepemilikan baru yang kemerahan di sana.

​"Aahh..."

​Sebuah lenguhan kecil tanpa sengaja lolos dari bibir Sonya ketika Batara dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga membalikkan tubuh mungilnya. Dalam hitungan detik, Batara menarik pinggul Sonya dan mendudukkannya secara paksa di atas paha kanannya yang keras, membuat mereka kini duduk saling berhadapan di atas bangku batu marmer tersebut.

​Tanpa membuang banyak kesempatan atau memberikan waktu bagi Sonya untuk menghirup oksigen, Batara langsung memajukan wajah tampannya yang berahang tegas. Tangan besarnya mencengkeram bagian belakang kepala Sonya dengan jemari yang menyelinap di antara rambut panjangnya, lalu sedetik kemudian dia langsung melumat bibir ranum Sonya yang kemerahan dan selalu mengeluarkan aroma manis buah peach.

​Ciuman itu awalnya terasa kasar dan menuntut, mencerminkan watak kaku dan kejam sang penguasa mafia. Namun lambat laun, gerakan bibir Batara berubah menjadi lebih dalam dan menghanyutkan. Sonya yang kini sudah mulai terbiasa dengan sentuhan suaminya, tidak lagi memberontak atau menangis ketakutan seperti awal-awal pernikahan mereka. Meskipun dia masih belum memiliki keberanian atau keahlian untuk membalas setiap lumatan dalam yang Batara berikan, namun kepasrahan dan cara Sonya yang mencengkeram kemeja hitam Batara dengan erat seolah menjadi bahan bakar yang memuaskan ego dominan pria itu.

​Setelah beberapa menit ciuman yang memabukkan itu berlangsung di bawah saksi bisu kecipak ikan koi di kolam, Batara akhirnya menarik wajahnya kembali sejauh beberapa senti. Napas mereka berdua tampak memburu pendek, saling berkejaran di udara sore yang sejuk.

​"Manis," ucap Batara pendek dengan suara yang parau.

​Ibu jarinya yang kasar dan dipenuhi kapalan bekas senjata bergerak perlahan mengusap permukaan bibir Sonya yang kini tampak basah, bengkak, dan kemerahan akibat perbuatannya. Menatap wajah Sonya yang kini sudah memerah sempurna menyembunyikan rasa malu, seulas kilatan kepuasan yang pekat melintas di mata hitam Batara yang sedingin es.

​Tanpa mengeluarkan kata-kata penjelasan lagi, Batara mendadak menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah ketiak dan lutut Sonya. Dengan satu gerakan yang sangat mudah dan bertenaga, dia mengangkat tubuh mungil istrinya itu ke dalam gendongan ala bridal style, membuat Sonya tersentak kaget dan secara otomatis mengalungkan kedua lengannya di sekeliling leher kokoh Batara agar tidak terjatuh.

​"T-Tuan... kita mau kemana?" tanya Sonya dengan suara yang sangat cicit, menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Batara.

​Batara terus melangkah menaiki tangga marmer menuju lantai atas, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi sedikit pun di wajah tampannya yang kaku. "Temani aku mandi!" jawab Batara dengan nada suara yang datar namun mengandung perintah absolut yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.

​Pintu ganda kamar tidur utama tertutup rapat dengan suara klik yang tegas saat Batara menendangnya menggunakan tumit sepatunya. Pria itu membawa Sonya langsung masuk ke dalam area kamar mandi mewah yang luasnya hampir menyamai ukuran sebuah apartemen tipe studio. Desain interior yang didominasi oleh batu granit hitam dan marmer abu-abu pekat memberikan kesan yang dingin, maskulin, namun sangat elegan.

​Batara menurunkan tubuh Sonya dengan sangat hati-hati, mendudukkannya di atas permukaan meja marmer wastafel yang bersih, persis seperti posisi beberapa hari yang lalu saat dia membersihkan tubuh istrinya setelah insiden penyiksaan.

​"Tatap aku," perintah Batara pendek sambil tangannya bergerak membuka satu per satu kancing kemeja hitam yang dikenakannya dengan gerakan yang santai namun penuh pesona intimidasi.

​Sonya menelan salivanya yang terasa getir, menuruti perintah itu dengan mata yang bergetar menatap proses terbukanya pakaian atas suaminya. Ketika kemeja itu terlepas sepenuhnya dan dicampakkan ke lantai, tubuh bagian atas Batara yang dipenuhi guratan otot simetris yang solid, bahu yang lebar, serta beberapa bekas luka tembak dan sayatan pisau di sekitar dadanya kini terpampang nyata di depan mata Sonya. Hawa panas mendadak kembali menyerang wajah Sonya, membuat pipinya kembali merona semerah tomat.

​Batara melangkah mendekati area bathtub berukuran raksasa yang terletak di tengah ruangan, memutar keran otomatis untuk mengisi air hangat ke dalamnya, lalu menambahkan beberapa tetes minyak esensial beraroma kayu cendana yang menenangkan. Sambil menunggu air penuh, Batara kembali berjalan mendekati Sonya yang masih duduk mematung dengan meremas ujung gaun putihnya di atas meja wastafel.

​"Lepaskan pakaianmu," ucap Batara datar, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Sonya yang sayu.

​Sonya tersentak, seluruh tubuhnya mendadak bergetar pelan karena rasa malu yang kembali mendera dadanya. "T-Tuan... bisakah saya... saya mandi sendiri setelah Anda selesai? Di sini... sangat terbuka..."

​Batara tidak menjawab menggunakan kata-kata. Watak kakunya membuatnya langsung bertindak jika mendengarkan penolakan yang dianggapnya membuang-buang waktu. Langkah kakinya maju satu tindak, mempersempit jarak hingga dada bidangnya yang telanjang hampir bersentuhan dengan lutut Sonya. Tangan besar Batara bergerak maju, memegang ritsleting di bagian belakang gaun putih Sonya dan menariknya turun dengan satu sentakan yang halus namun tegas.

​"Ah..." Sonya memejamkan mata erat-erat, tidak berani meronta karena tahu itu akan sia-sia di depan kekuatan suaminya. Dia hanya bisa pasrah saat Batara dengan telaten melonggarkan gaun itu dari bahunya, menurunkannya melewati pinggang, hingga menyisakan dirinya dalam kondisi tanpa helai pakaian di depan pria itu.

​Batara menatap tubuh mungil istrinya tanpa ada kilatan nafsu yang kotor atau menjijikkan di matanya, pandangannya murni merupakan pandangan seorang pemilik yang sedang mengagumi barang berharganya yang paling berharga. Dia melihat bagaimana beberapa bekas memar keunguan di kulit putih Sonya kini sudah mulai memudar, menyisakan kehalusan kulit yang alami.

​Tanpa suara, Batara kembali mengangkat tubuh polos Sonya ke dalam pelukannya, melangkah mendekati bathtub yang kini air hangatnya sudah terisi penuh dan mengeluarkan uap tipis yang harum. Batara melangkah masuk ke dalam bak mandi besar itu tanpa melepaskan celana panjangnya terlebih dahulu, membawa tubuh Sonya ikut masuk dan mendudukkannya di dalam air hangat bersamanya.

​Byurr...

​Sensasi hangat air yang bercampur minyak esensial langsung membungkus tubuh polos Sonya, seketika merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang karena gugup sejak tadi. Batara duduk di belakangnya, menyandarkan punggung kokohnya pada dinding bathtub, sementara tubuh mungil Sonya disandarkannya dengan nyaman pada dada bidangnya yang hangat. Kedua lengan kekar Batara melingkar di sekeliling perut Sonya, menguncinya di dalam pelukan yang protektif di bawah permukaan air yang dipenuhi busa lembut.

​"T-Tuan... celana Anda menjadi basah semua..." bisik Sonya pelan, menatap kain celana hitam Batara yang kini melekat ketat di kaki pria itu di dalam air.

​"Tidak peduli," jawab Batara singkat, memejamkan matanya sejenak untuk menikmati ketenangan yang jarang dia rasakan di tengah-tengah perang perebutan kekuasaan mafia yang melelahkan otaknya selama beberapa hari ini.

​Batara membuka matanya kembali, mengambil sebuah spons mandi yang lembut yang sudah dipenuhi sabun cair beraroma manis. Dengan gerakan tangan yang sangat kaku namun dilakukan dengan ritme yang sangat detail dan lembut, Batara mulai mengusap bahu Sonya, membersihkan lengan lentiknya, lalu beralih menggosok punggung istrinya dengan ketelatenan seorang pengawal pribadi yang sedang menjaga harta karun mahkota klan.

​"Apakah masih sakit?" tanya Batara tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat rendah, berbisik tepat di samping telinga Sonya.

​Sonya tahu apa yang dimaksud oleh suaminya, pria itu sedang menanyakan tentang bekas-bekas luka memar akibat siksaan Talitha tempo hari. Sonya menggelengkan kepalanya pelan, bersandar lebih dalam pada dada Batara. "Sudah tidak terlalu sakit, Tuan... Ibu Yooka memberikan obat yang sangat baik untukku."

​"Bagus," ucap Batara pendek. "Jika masih ada yang berani membuat kulitmu terluka atau mengeluarkan darah lagi... beri tahu aku. Aku akan memastikan orang itu kehilangan seluruh bagian tubuhnya yang menyentuhmu."

​Ancaman kejam yang diucapkan dengan nada suara datar tanpa emosi itu justru membuat hati Sonya berdesir aneh. Di dunia luar, Batara Moretti mungkin adalah sosok iblis penumpas darah yang paling ditakuti oleh seluruh aliansi mafia, namun di dalam bak mandi ini, di balik watak kakunya yang irit bicara, pria itu sedang memberikan seluruh perhatian detail dan perlindungan mutlak yang membuat Sonya merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita.

​"Terima kasih... Tuan Batara," ucap Sonya tulus, air mata haru hampir menetes dari sudut matanya namun segera dia usap dengan air mandi. Untuk pertama kalinya, dia menyebut nama lengkap suaminya tanpa rasa takut yang berlebihan.

​Batara tidak membalas ucapan terima kasih itu dengan kata-kata. Dia hanya mengetatkan pelukan lengannya di pinggang Sonya di bawah air, menempelkan dagunya di atas bahu mungil istrinya, membiarkan kehangatan air dan aroma tubuh mereka menyatu di dalam keheningan sore yang mulai menggelap di luar jendela, mengunci takdir mereka berdua di dalam lingkaran tak berujung dunia kegelapan klan Moretti.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!