NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: DETIK-DETIK AKUISISI TERBUKA

Bab 22: Detik-Detik Akuisisi Terbuka

Di luar Grand Ballroom Hotel Mulia, di mana kemewahan masih dipentaskan dengan angkuh, area parkir bawah tanah menyajikan suasana yang jauh berbeda—dingin, sunyi, dan penuh dengan tensi yang tersembunyi. Sebuah van hitam berukuran besar terparkir di pojok yang paling tersembunyi, terlindung dari jangkauan kamera CCTV hotel oleh alat pengacak sinyal yang dirakit khusus oleh tim IT Pecunia Corp.

Di dalamnya, Julian Prakasa duduk dengan tegak di kursi kulit, dikelilingi oleh jajaran monitor yang menampilkan data finansial dalam bentuk grafik yang terus bergerak. Di hadapannya, seorang notaris senior dari firma hukum terkemuka Jakarta duduk dengan tangan gemetar. Notaris itu berkeringat dingin, matanya berulang kali melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 22:15 WIB. Tepat di detik ini, sistem pertahanan siber Elrod Corp sedang berada dalam titik terlemahnya karena serangan DDoS dan manipulasi data yang dipicu oleh Valerie dari dalam ballroom.

"Apakah kita benar-benar akan melakukannya, Pak Julian?" tanya notaris itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia memegang dokumen tebal bersampul kulit hitam. "Ini adalah pembelian properti terbesar tahun ini. Gedung Griya Cakrawala... ini adalah simbol kejayaan Elrod Corp di SCBD. Jika ini berpindah tangan, dampaknya akan mengguncang lantai bursa besok pagi."

Julian tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada grafik harga saham Elrod Corp yang sedang terjun bebas di monitor sebelah kiri. Angka-angka merah berkedip kencang, menunjukkan volume penjualan yang gila-gilaan—sebuah tanda bahwa perintah jual massal Valerie telah berhasil memicu kepanikan di kalangan investor institusional.

"Justru itu tujuannya," jawab Julian dingin. "Bapak tidak dibayar untuk menanyakan dampak. Bapak dibayar untuk memastikan setiap klausul dalam draf akuisisi ini sah secara hukum. Dana dari Pecunia Corp sudah siap di rekening penampung. Begitu Bapak menandatangani lembar otorisasi ini, kepemilikan mutlak atas Gedung Griya Cakrawala akan beralih ke tangan klien kami secara permanen, tanpa bisa dibatalkan."

Notaris itu menelan ludah. Ia tahu bahwa di balik nama Pecunia Corp, tersimpan dana likuiditas luar negeri yang jumlahnya melampaui cadangan kas Elrod Corp. Ini bukan sekadar transaksi bisnis; ini adalah sebuah eksekusi. Julian menyerahkan sebuah tablet canggih yang terhubung langsung ke server sistem registrasi tanah nasional.

"Tekan tombol itu," perintah Julian. "Selesaikan apa yang telah dimulai."

Dengan satu sentuhan tangan yang ragu-ragu, notaris itu menekan tombol verifikasi digital. Di layar monitor Julian, sebuah jendela pop-up muncul dengan tulisan berwarna hijau emas: TRANSAKSI SUKSES: GIRIYA CAKRAWALA TELAH TERAKUISISI.

Pada detik itu juga, Julian melepaskan napas lega. Ia meraih ponselnya dan mengirimkan satu pesan singkat kepada Valerie: “Gedung itu sudah menjadi milik kita. Elrod tidak lagi memiliki aset jaminan. Mereka benar-benar telanjang sekarang.”

Kembali ke dalam Grand Ballroom, suasana pesta yang tadinya hangat kini berubah mencekam. Layar raksasa yang seharusnya menampilkan profil Alethea Elrod dalam balutan gaun mewah, kini berubah menjadi papan informasi bursa yang menampilkan grafik kehancuran finansial. Para tamu tidak lagi berdansa. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, wajah mereka pucat pasi sambil menatap ponsel masing-masing. Beberapa investor besar, yang tadi dengan bangga memuji Gilbert, kini terlihat sedang menelepon staf mereka dengan teriakan panik.

Gilbert Elrod berdiri di atas panggung, tangannya memegang mikrofon yang suaranya mulai terdengar tidak stabil akibat sistem audio yang terganggu. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya di depan ratusan tamu elit.

"Hadirin sekalian! Mohon tenang! Ini hanyalah gangguan teknis! Saham kita akan segera pulih setelah pengumuman kontrak kerjasama yang saya janjikan tadi!" teriak Gilbert, namun suaranya terdengar putus asa.

Alethea, yang berdiri tak jauh dari panggung, merasa lututnya lemas. Ia melihat teman-temannya perlahan-lahan menjauh darinya, seolah-olah kemiskinan dan kegagalan adalah penyakit menular yang bisa hinggap ke diri mereka jika mereka berdiri terlalu dekat. Victoria mencoba meraih tangan suaminya, namun tatapan para investor yang menghunus tajam ke arah mereka membuat Victoria sadar bahwa mereka telah kalah.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Valerie berdiri di pojok ruangan. Sweter biru tuanya yang lusuh tampak sangat mencolok di antara jas-jas mahal. Ia tidak lagi peduli pada hinaan yang mereka lontarkan sepuluh menit yang lalu. Matanya menatap tajam ke arah layar ponselnya, membaca pesan dari Julian.

Selesai, batinnya.

Valerie tahu bahwa dengan hilangnya Griya Cakrawala, Gilbert tidak akan memiliki lagi aset untuk menjamin utang-utang banknya. Margin call akan segera datang. Seluruh fasilitas kredit Elrod Corp akan ditarik. Dalam hitungan jam, perusahaan itu akan dinyatakan default atau gagal bayar.

Ia kemudian berjalan perlahan menuju tengah ruangan. Setiap langkahnya terasa berat namun pasti. Ia melewati kerumunan tamu yang tidak lagi mengenali martabatnya. Mereka memandang Valerie dengan tatapan bingung—gadis berpakaian lusuh yang kini berjalan dengan aura seorang penguasa.

Gilbert Elrod melihat Valerie mendekat. Ia mengira gadis itu datang untuk meminta belas kasihan atau mungkin untuk kabur dari kekacauan ini.

"Valerie! Apa yang kamu lakukan di sana?! Pergi ke belakang!" teriak Gilbert dengan emosi yang meledak-ledak. "Ini semua karena kesialan yang kamu bawa! Kamu pasti yang menyabotase sistem kami, kan?!"

Valerie berhenti tepat di depan panggung. Ia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Ia menatap mata Gilbert, pria yang selama ini menganggapnya sebagai debu di bawah kakinya.

"Papa," ucap Valerie dengan nada yang tenang namun terdengar jelas di tengah kesunyian yang mencekam. "Dunia Papa tidak sedang disabotase. Dunia Papa sedang runtuh karena memang tidak pernah memiliki fondasi yang kuat."

"Apa maksudmu, bocah tidak tahu diri?!" Gilbert mencoba turun dari panggung untuk mencengkeram lengan Valerie, namun langkahnya terhenti saat ponselnya sendiri bergetar hebat di saku jasnya.

Panggilan masuk dari kantor pusat. Tanpa ia sadari, ia menekan tombol speaker saat mencoba menjawab.

"Tuan Gilbert! Tuan! Tolong! Gedung Griya Cakrawala... gedung kita... notaris baru saja melaporkan bahwa kepemilikan gedung telah beralih ke tangan Pecunia Corp. Mereka sudah mengambil alih seluruh akses operasional! Bank-bank utama juga baru saja mengirimkan peringatan bahwa mereka menarik seluruh fasilitas kredit kita karena tidak ada lagi jaminan aset!"

Suara sekretarisnya di ujung telepon terdengar pecah oleh kepanikan yang luar biasa.

Keheningan total menyelimuti Grand Ballroom. Semua orang mendengar percakapan itu. Ratusan tamu elit Jakarta ternganga. Mereka tahu apa artinya itu. Tanpa Griya Cakrawala dan dengan penarikan fasilitas kredit, Elrod Corp hanyalah sebuah perusahaan cangkang yang menunggu waktu untuk dilikuidasi.

Gilbert berdiri mematung. Ponselnya jatuh ke lantai marmer dengan suara dentingan yang nyaring. Wajahnya perlahan kehilangan warna, berubah menjadi abu-abu. Dunianya yang megah, yang ia bangun dengan tipu daya dan keserakahan, telah hancur total di depan mata mereka semua.

Valerie masih berdiri di sana, menatap pria itu dengan tatapan yang dingin dan tak bergeming. Di balik sweter rajutnya, ia merasa sangat ringan. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan ketajaman pikiran dan ketepatan strategi yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Ia berbalik, tidak lagi tertarik melihat kehancuran pria yang pernah membuangnya. Ia melangkah keluar dari ballroom, melewati Victoria yang jatuh terduduk di lantai, dan Alethea yang menangis histeris di samping pilar mawar putih.

Malam itu, di tengah kehancuran sebuah dinasti, Valerie Vespera berjalan pergi dengan kepala tegak. Ia telah membuktikan bahwa di dunia ini, kekuatan yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang paling kaya atau paling berkuasa, melainkan siapa yang memegang kendali atas arus nasib itu sendiri.

Langkah kakinya meninggalkan jejak kemenangan di atas lantai marmer yang mahal. Di luar sana, angin malam Jakarta menyambutnya. Ia bukan lagi anak panti yang terbuang. Ia adalah pemilik kota.

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!