NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Dikte Sang Ibu dan Cinta yang Cacat

​Malam beringsut semakin larut, namun kediaman Adiwangsa tidak pernah benar-benar menjanjikan ketenangan bagi penghuninya. Ketika sedan hitam Adrian membelah keheningan pelataran dan berhenti di depan teras, rumah itu tampak sunyi bagai sebuah mausoleum megah yang kehilangan jiwanya. Adrian melangkah masuk dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Setelah seharian penuh diperas oleh ketegangan di kantor—menandatangani kesepakatan berisiko dengan memberikan jaminan proyek tambang pulau seberang kepada papa Valerie demi 30% saham—kepala Adrian rasanya mau pecah.

​Ia melangkah menuju ruang tengah, bermaksud mencari Aruna. Entah mengapa, di tengah impitan stres korporasi yang mencekiknya, ada dorongan aneh di dalam hatinya untuk melihat wajah tenang istrinya. Pria itu meniti tangga, menuju kamar utama, namun ruangan itu kosong melompong. Tidak ada aroma familier Aruna, tidak ada sisir di atas meja rias, dan lemari pakaian telah terbuka dengan separuh isinya lenyap.

​Dengan jantung yang mendadak berdegup kencang oleh gelombang paranoia yang baru, Adrian bergegas turun kembali ke lantai bawah. Ia menemukan ibunya, Nyonya Widya, sedang duduk di meja makan sambil menyesap teh hangat dengan wajah yang masih ditekuk masam.

​"Bu... di mana Aruna? Kenapa kamarnya kosong? Kemana dia?" tanya Adrian beruntun, suaranya bergetar menahan cemas.

​Widya mengangkat wajahnya, mendengus pelan sebelum menjawab dengan nada acuh tak acuh. "Dia sudah pergi."

​"Apa?!" Mata Adrian membelalak, langkahnya maju satu langkah. "Ibu mengusir dia dari rumah ini?!"

​Mendengar tuduhan putranya, Widya langsung meletakkan cangkir tehnya dengan sentakan keras hingga cairannya memercik ke atas meja. "Tidak! Sembarangan sekali kamu kalau bicara! Kamu menuduh Ibu yang bukan-bukan? Dia sendiri yang mengemas barang-barangnya siang tadi dan angkat kaki dari sini!"

​"Bukan begitu, Bu... Adrian bukan bermaksud menuduh Ibu," elak Adrian, suaranya mendadak melunak, berganti menjadi nada panik yang kentara. Ia menjatuhkan diri di kursi seberang ibunya, meremas rambutnya yang kusut. "Aku takut... aku takut kepergiannya yang mendadak ini dijadikan alasan oleh pengacaranya untuk menuntut pemeriksaan menyeluruh terhadap keuangan dan legalitas PT Adiwangsa Logistik. Kan Ibu sendiri tahu, Aruna itu sebenarnya masih punya hak yang sangat besar di perusahaan kita."

​Kening Widya berkerut dalam. Ia menatap putranya dengan pandangan tidak mengerti, campur aduk dengan rasa tersinggung. "Punya hak? Maksudmu apa, Adrian? Jangan membuat Ibu jantungan. Bukankah perusahaan logistik itu adalah hadiah murni dari almarhum ayahnya, Pak Arif, berkat dedikasi dan kerja kerasmu selama bertahun-tahun membantu beliau?"

​Adrian menghela napas panjang, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Bukan, Bu... Ibu salah paham selama ini. Perusahaan itu dulu diserahkan kepadaku bukan sebagai hadiah dedikasi kerja. Itu adalah hadiah pernikahan."

​Widya terhenyak di kursinya, mulutnya sedikit terbuka. "Hadiah... pernikahan?"

​"Iya, Bu," tutur Adrian, suaranya merendah penuh beban rahasia lama yang akhirnya terpaksa ia bongkar. "Kalau hadiah atas dedikasi kerjaku, bentuknya adalah kenaikan jabatan menjadi Direktur Utama dengan gaji dan bonus besar saat Pak Arif masih hidup. Tapi, kepemilikan mutlak dan pengalihan seluruh aset Adiwangsa Logistik menjadi atas nama keluargaku... itu adalah mahar pengikat karena aku menikahi putrinya, Aruna."

​Selama lima tahun ini, Widya selalu mengira bahwa anaknya adalah pahlawan tunggal yang mendapatkan segalanya murni karena otak jeniusnya, sehingga ia merasa berhak menginjak-injak Aruna seperti pelayan gratis. Mengetahui fakta bahwa fondasi kekayaan mereka ternyata berakar dari draf perjanjian pernikahan dengan "si dekil", Widya mendadak merasa bumi yang dipijaknya sedikit bergoyang.

​"Tapi... tapi perusahaan itu sekarang sudah sepenuhnya atas nama kamu, kan, Adrian? Legalitasnya mutlak milikmu?" tanya Widya, suaranya mulai digerogoti ketakutan.

​"Benar, Bu. Secara hitam di atas putih, semua berkas korporasi sudah atas namaku," jawab Adrian, matanya menatap kosong ke permukaan meja. "Namun... semua itu ada syaratnya. Di dalam draf legalitas lama, Pak Arif memasang klausul bahwa aku tidak boleh mengecewakan atau menyakiti Aruna, kecuali jika Aruna sendiri yang memutuskan untuk pergi meninggalkan pernikahan ini atas keinginannya sendiri, tanpa ada kesalahan atau kekerasan dari pihakku."

​Wajah Widya seketika berubah pucat pasi, mengingat bagaimana tangannya hampir saja melayang menampar Aruna siang tadi, dan bagaimana dia telah menghina menantunya itu selama bertahun-tahun. "Celaka... Adrian, ini bisa jadi bumerang. Bagaimana kalau nanti kita ini dituntut oleh dia di pengadilan untuk mengembalikan perusahaan ini? Kamu kan tahu sendiri... bagaimana perlakuan kita padanya selama ini di rumah ini?"

​Melihat ibunya mulai panik, insting manipulatif Adrian kembali mengambil alih. Ia menegakkan punggungnya, mencoba memberikan ketenangan palsu. "Ibu tenang saja. Surat wasiat asli dan draf perjanjian bersyarat peninggalan Pak Arif itu... semuanya sudah aku simpan di draf tempat rahasia yang sangat aman. Aruna sama sekali tidak tahu di mana aku menyembunyikannya. Dia tidak punya bukti fisik untuk menggugat syarat itu."

​Widya menghela napas lega, menepuk dadanya yang naik turun. "Oh... untung saja kamu cerdik, Adrian. Ibu sempat ketakutan setengah mati tadi."

​"Sekarang yang terpenting, dia kemana, Bu? Di mana dia sekarang?" tanya Adrian lagi, rasa penasarannya kembali mencuat.

​"Katanya dia mau cari rumah kontrakan sederhana. Mau belajar hidup mandiri," jawab Widya, nadanya kembali berubah sinis.

​"Kontrakan?" Adrian mengernyitkan dahi, merasa heran. "Dia punya uang dari mana untuk menyewa tempat di Jakarta?"

​"Nah, itu dia! Katanya kontrakan itu punya salah satu teman baiknya. Dia bilang akan membayarnya nanti setelah urusan pembagian harta gono-gini denganmu beres di pengadilan," Widya mencondongkan tubuhnya, menatap Adrian dengan mata menyipit penuh selidik. "Adrian... jawab Ibu, apa kamu berniat memberikan harta gono-gini yang besar kepadanya?"

​Adrian terdiam sejenak, ada perang batin yang melankolis berkecamuk di dalam dadanya. "Iya, Bu... mungkin aku akan memberikan sebagian kecil. Kasihan dia..."

​"Alah! Kamu ini bagaimana, sih?!" potong Widya ketus, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka yang luar biasa. "Sok-sokan merasa kasihan segala! Bukankah kemarin-kemarin kamu sendiri yang menggebu-gebu ingin cepat-cepat pisah dengannya agar bisa menikah resmi dengan Valerie? Kenapa sekarang mendadak jadi lembek begini?"

​Adrian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap langit-langit ruang makan dengan tatapan yang sarat akan dilema penyesalan. "Sebenarnya... kalau boleh jujur dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak pernah benar-benar ingin berpisah dengannya, Bu. Aku... aku masih mencintainya. Aku masih mencintai Aruna."

​Widya terbelalak, merasa muak dengan draf sentimental putranya. "Kalau kamu masih mencintainya, lalu kenapa kamu selingkuh dengan Valerie di belakangnya, hah?! Kenapa kamu membawa wanita lain ke dalam hidupmu?!"

​Adrian mendadak menegakkan tubuhnya, menatap ibunya dengan tatapan mata yang tajam, penuh dengan draf tuntutan balik yang selama ini ia pendam sendiri. "Kan Ibu sendiri yang setiap hari menekanku! Ibu yang menuntut aku tanpa henti supaya aku segera punya anak, punya penerus darah daging Adiwangsa asli! Ibu yang selalu bilang kalau Aruna itu cacat, kalau Aruna itu wanita mandul yang tidak berguna untuk masa depan keluarga kita!"

​"Tapi... tapi bukan berarti kamu juga harus menyiksanya secara mental dan membiarkan Valerie menginjak-injaknya di rumah ini, kan?!" bantah Widya, mencoba mencuci tangannya dari draf rasa bersalah.

​"Bu! Semua itu terjadi karena Aruna tidak pernah mau mengerti posisiku!" bentak Adrian, suaranya meninggi, meluapkan seluruh draf frustrasinya. "Aku tertekan di luar sana! Masalah operasional perusahaan yang digoyang kompetitor, masalah tuntutan Ibu yang ingin segera menimang cucu... belum lagi di rumah, Aruna sering sekali mengeluh tentang hal-hal kecil tanpa pernah mau duduk dan mendengar bagaimana keluh kesahku sebagai kepala keluarga! Aku butuh pelarian, Bu!"

​Widya terdiam, sedikit terkejut melihat ledakan emosi putranya. "Lalu... lalu jika kamu masih cinta pada Aruna, mengapa kamu sampai memutuskan untuk menikahi Valerie nanti?"

​Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba merasionalkan kelicikannya sendiri. "Valerie itu wanita yang pintar dalam urusan bisnis, Bu. Dia berkelas, pergaulannya luas, dan ayahnya memiliki perusahaan besar dengan likuiditas dana segar yang melimpah. Aku ingin Adiwangsa Logistik ini maju lebih pesat lagi, melompat ke level yang lebih tinggi. Aruna... Aruna sudah tidak bisa diandalkan lagi untuk draf masa depanku. Paman Aldo yang sekaya itu saja tidak bisa dia bujuk untuk membantu proyek kita kemarin. Dia sudah tidak punya nilai jual bagi karierku."

​Widya menggeleng-gelengkan kepalanya, menyilangkan tangan di dada dengan sikap dingin. "Terserah kamulah, Adrian. Ibu tidak mau ikut campur urusan carut-marut investasimu itu. Tapi ingat satu pesan Ibu: awas kalau sampai kamu mau dikendalikan dan disetir oleh perempuan di luar sana. Jangan jadi pria lemah!"

​Mendengar kalimat terakhir ibunya, sebuah senyuman getir yang sarat akan ironi terukir di wajah Adrian. Ia menatap ibunya lurus-lurus, dengan tatapan yang penuh akan draf gugatan melankolis.

​"Bukankah... bukankah selama hidupku ini, aku memang selalu dikendalikan oleh perempuan, Bu?" tanya Adrian, suaranya berbisik lirih namun terdengar begitu menusuk udara malam.

​Widya tersentak, keningnya berkerut tajam. "Siapa? Maksudmu si Valerie? Wanita itu sudah mulai berani mengendalikanmu di kantor?!"

​"Bukan... bukan dia," jawab Adrian, menggelengkan kepalanya lambat.

​"Lalu perempuan mana lagi yang berani mendikte hidup anakku?!" tuntut Widya penasaran.

​Adrian menatap wajah ibunya yang dipenuhi garis-garis keriput keangkuhan, lalu menghela napas pendek. "Perempuan yang saat ini sedang duduk tepat di depanku. Ibu. Ya, kamu, Bu... Kamu kan orangnya yang selama ini selalu menuntut dan memaksa agar aku menuruti semua kemauanmu, semua draf standarmu tentang bagaimana aku harus menjalani pernikahan dan bisnisku? Aku tidak pernah benar-benar memiliki draf pilihanku sendiri."

​Wajah Widya memerah padam, merasa otoritasnya sebagai orang tua digugat. "Ya wajar dong, Adrian! Ibu melakukan semua itu karena Ibu adalah orang tuamu, wanita yang melahirkanmu ke dunia ini! Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu!"

​"Ya sudah, Bu... tidak usah diperpanjang. Tidak ada gunanya kita berdebat malam-malam begini," potong Adrian cepat, menyadari bahwa draf perdebatan dengan ibunya hanya akan menambah beban di kepalanya yang sudah pening.

​Adrian berdiri dari kursinya, membetulkan letak jam tangannya dengan draf gerakan yang gelisah. "Apa... apa besok Aruna akan datang ke pengadilan untuk sidang putusan?"

​Widya mendengus, memalingkan wajahnya ke arah lain. "Dia bilang... dia menyuruhmu untuk langsung menunggunya di pengadilan besok pagi. Dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini."

​Adrian tidak menjawab. Ia berbalik, melangkah meninggalkan ruang makan menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang terasa begitu sepi. Di setiap sudut koridor rumah mewah itu, ia seolah bisa melihat bayangan Aruna yang dulu selalu menyambutnya dengan draf senyuman tulus, senyuman yang kini telah sepenuhnya ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

​Maafkan aku, Aruna... batin Adrian, sebuah draf penyesalan egois menggantung di lubuk hatinya yang paling dalam saat ia menatap ranjang kosong kamar utama. Sebenarnya... aku memang masih sangat mencintaimu. Namun, kamu yang tidak pernah bisa mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan dari sebuah pernikahan. Lagipula... draf takdir kita sudah rusak, Aruna. Kamu wanita yang mandul, dan aku tidak bisa mempertaruhkan nama besar keluarga Adiwangsa hanya untuk hidup bersama wanita cacat reproduksi sepertimu.

​Adrian memejamkan matanya, mengunci diri di dalam kamarnya, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, draf takdir yang sesungguhnya telah bersiap di tangan pengacara Aruna. Esok hari di meja hijau, seluruh draf kebohongan medis, kelicikan saham, dan surat wasiat rahasia yang ia banggakan akan dibuka di bawah sorot lampu keadilan, siap merubuhkan seluruh keangkuhan keluarga Adiwangsa hingga berkeping-keping.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!