"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bantuin Kamu, Sa ...
*
*
*
"Assalamualaikum ..."
Seorang perempuan dengan beberapa paperbag di kedua tangan dan tas kerja di bahunya, tengah berdiri di ambang pintu yang baru saja Andreas buka.
Hijab modern berwarna netral membingkai wajahnya yang segar tanpa banyak sentuhan kosmetik. Terkesan rapi dan berwibawa, muncul alami dari caranya membawa diri.
"Wa'alaikumsalam, Gendis?"
Andreas mengulas senyum, menyambut kedatangan sahabat istrinya itu.
"Hai, An. Aku sengaja kemari. Mau jenguk Isa ... sama bayi kalian."
Gendis meremas pegangan paper bag ditangannya. Senyum tipis, terbit diwajahnya disertai sedikit kecanggungan.
Andreas menatapnya sesaat, kemudian membuka pintu lebih lebar. "Isa ada didalam, lagi sarapan sama Mama. Masuk Dis."
"Wah ... Aku ganggu nggak nih?'
Pandangan Gendis beralih ke ruangan tengah, memastikan kedatangannya tidak mengubah suasana yang sudah terbentuk didalam.
Andreas menggeleng pelan,
"Nggak lah, nggak ganggu." sudut bibirnya terangkat tipis, "Masuk aja Dis, jangan sungkan."
Andreas menggeser tubuhnya, memberi Gendis ruang untuk masuk.
"Duduk dulu Dis, aku panggilkan Isa ... sebentar ya ..."
Perempuan berkerudung cream itu mengangguk, langkah kakinya sudah menginjak ruang tamu. Sedang Andreas melangkah lebih dulu menuju ruang makan.
"Siapa An?" Dewi tak sabar untuk bertanya. Bahkan Andreas belum benar-benar sampai dimeja makan.
"Gendis..." Sahut Andreas, pada Dewi. Lalu mengalihkan pandangannya pada Isana.
"Sa ... Gendis nunggu didepan. Mau jenguk kamu sama Ghazi."
Isana menyelesaikan kunyahannya, menyesap gelas sekilas. Hati-hati ia berdiri. Luka jahitannya masih terasa nyeri.
Andreas mendekat, mencoba menawarkan bantuan dengan gesture ingin memapah bahu Isana. Namun Isana menolak dengan tangan terangkat di udara.
Andreas terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan. Ia tahu, Isana masih belum memaafkannya. Terlebih Isana masih mencurigainya.
Dewi memperhatikan sekilas, untuk kemudian mengalihkan pandangan di piring miliknya.
Langkah hati-hati Isana, sudah membawanya ke ruang tamu. Dimana Gendis sudah duduk di sofa dengan ponsel ditangannya.
"Dis ..."
Gendis mendongak, melepas pandangannya dari layar ponsel. Tatapannya berbinar, ketika bertemu dengan tatapan sahabat kentalnya sejak SMK.
"Isa ...!"
Seru Gendis, haru melihat sahabatnya kini sudah sah menjadi seorang Ibu.
Mereka saling menatap, detik yang terasa begitu panjang. Tak ada yang langsung bicara. Mata Isana tampak sembab dengan senyum yang dipaksakan, sementara Gendis berdiri mematung sambil menggenggam erat ponselnya.
Jarak yang memisahkan mereka hanya beberapa langkah, tetapi cukup bagi Gendis untuk melihat lelah yang selama ini disembunyikan sahabatnya itu. Hatinya mencelos. Isana yang dulu selalu terlihat kuat, kini tampak rapuh seolah sedang memikul beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
Isana langsung memeluk sahabatnya dengan erat. Gendis tertegun dalam dekapan itu. Seketika ia paham, kalau sahabatnya sedang mencari pegangan bukan sekedar melepas rindu.
"Isa ... Aku bawakan beberapa perlengkapan untuk Ghazi. Dan hadiah buat kamu. Karna berhasil menjadi seorang Ibu." Ucap Gendis, sembari mengelus punggung Isana.
Isana menyusut ujung matanya, perlahan melepas pelukan. "Kamu repot-repot banget sih."
"Nggak kok, lagi pula ... Aku udah lama nggak kasih kamu hadiah. Terakhir waktu kamu nikah sama Andreas, udah lama banget hampir dua tahunan kan?"
Gendis mencoba mencari-cari bahan, pembicaraan.
Tak lama, langkah kaki Dewi mendekat.
"Oh ... Ada Gendis, apa kabar Dis?"
Gendis menaruh ponselnya dimeja, lantas menghampiri Dewi dan menyalaminya dengan kesantunan.
"Alhamdulillah sehat, Tante sendiri gimana kabarnya?"
"Tante juga sehat, dan baik-baik aja. Sekarang malah nambah bahagia, karna sudah jadi Oma." Ujar Dewi, sambil terkekeh di ujung kalimatnya.
Gendis menyambutnya dengan tawa kecil yang sama. "Selamat ya Tante, sudah jadi Oma."
"Terimakasih Lo Dis, Oh iya... sekalian aja Tante undang kamu, buat hadir besok malam. Di acara syukuran dan aqiqahnya Ghazi. Kamu harus datang ya ..."
Ucapan Dewi, berdenging ditelinga Isana. Bagaimana bisa, bukankah belum ada keputusan bahwa dirinya setuju dengan acara tersebut? Kenapa Ibu mertuanya malah bicara seolah keputusannya tidak terlalu penting?
"Loh ... Ma. Tadi Isa belum bilang setuju, kalau acara di adakan besok malam."
Dewi melengos, menoleh pada Andreas yang berdiri di sampingnya.
"Dalam rumah tangga, yang menentukan itu suami. Dan Andreas sudah setuju dengan itu. Iya kan An?"
Nanar tatapan Isana pada Andreas. Berharap penjelasan dengan apa yang Dewi bicarakan.
"Iya, Isa ..." Ucap Andreas pelan, "Lagipula, Mas Kahfi kan sudah di Kuningan. Kalaupun Abah sama Ummi nggak bisa hadir, kan ada Mas Kahfi sebagai perwakilan keluarga kamu."
Ruangan yang tadinya hangat oleh sinar matahari yang menerobos masuk, kini terasa dingin bagi Isana. Betapa ia merasa dirinya sama sekali tidak dihargai dengan tidak dipedulikan pendapatnya. Terlebih Andreas yang menggampangkan ketidak hadiran kedua orang tuanya.
Gendis merasakan ketenggangan suasana itu, ia jadi tidak enak. Sebagai orang luar yang berdiri diantara keluarga yang sedang berselisih.
"Ya ... Sudah lah, Mama pulang dulu." Ujar Dewi, setelah menghela nafas. Lalu tatapannya beralih pada Gendis.
"Mampir Dis, ke rumah Tante." Tawarnya dengan senyuman ramah.
"Oh ... Iya, Tante ... Lain kali." Sambut Gendis dengan senyum dan anggukan kepala.
Dewi melirik Isana sekilas, kemudian melanjutkan langkah keluar tanpa menoleh lagi.
"Isa ... Aku antar Mama pulang dulu. Mau bicarakan persiapan acaranya sama Papa juga."
Ucap Andreas, sedikit ragu-ragu.
Isana tidak menjawab, ada banyak yang ingin ia katakan. Tapi ia telan, sudah begitu banyak kekecewaan yang ia dapat. Bicara pun percuma rasanya. Ia pun memilih diam, kemudian meluruhkan tubuh disofa.
Andreas menelan ludah, ia tahu Isana kecewa. Tapi tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti keinginan Ibunya.
"Aku tinggal dulu ya, Dis ... Permisi" ucapnya, menatap Gendis.
Gadis itu mengangguk, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain itu.
Andreas berlalu, menyisakan Isana yang duduk termangu.
Gendis, ikut duduk disebelah Isana. Tangannya terulur, merengkuh bahu sahabat yang ia sangat paham kalau keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Sa ... Berat banget ya?"
Isana mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk, satu tangan menekan dahinya seolah mencoba meredam sesak yang terus menghimpit dada.
"Andreas selingkuh, Dis ..."
"Ha?!" Gendis sontak menegakkan tubuh. Matanya membulat tak percaya.
"Sikap dinginnya selama ini, ...." Suara Isana pecah, "Ternyata hanya untuk menutupi kebohongan-kebohongan nya."
"Kamu yakin? Nggak mungkin Isa ... " Gendis menggeleng cepat, "Andreas sangat mencintai kamu. Aku ingat dulu, bagaimana dia memperjuangkan cinta kalian ... Bagaimana dia ..."
"Risa!" sela Isana, dan membuat Gendis terdiam.
"Nama perempuan itu Risa." lanjut Isana, dengan suara bergetar. "Aku yakin sekali, saat Andreas begitu panik ketika perempuan itu menyusul ke Serang. Dan mengaku sebagai rekan satu tim sama Andreas."
Gendis membulatkan mata, "Seriusan? Ke Serang? Kerumah Abah sama Ummi?"
Isana mengangguk,
"Aku yakin sekali," Air matanya mulai menggenang, "malam saat aku kontraksi melahirkan Ghazi, Andreas sedang bersama perempuan itu."
Gendis tercekat.
"Tunggu." Suaranya melemah. "Maksud kamu, pas kamu melahirkan Ghazi, dia nggak temani kamu? Kamu sendirian?"
Pertanyaan itu seperti membuka bendungan yang selama ini ditahan Isana. Air matanya jatuh satu per satu.
"Aku mencoba hubungi dia, malam itu." Isana menunduk, menatap jari jemarinya yang bergetar. "Tapi panggilanku ditolak, pesanku tidak dibaca. Sampai, paginya Andreas datang."
Dada Isana naik turun, menahan isak.
"Ia datang membawa aroma yang sama dengan aroma perempuan itu, saat dia menemuiku."
Gendis kehilangan kata-kata. Membiarkan Isana, melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tahu Dis," Isana tertawa getir. "Bahkan tubuhku belum sepenuhnya pulih dari kehabisan darah dan jahitan persalinan. Tapi aku harus menerima kenyataan kalau suamiku menghabiskan malam dengan perempuan lain."
Isana mengusap wajahnya kasar.
"Dan sekarang, Andreas bersikap seolah-olah tuduhanku tak beralasan. Dia selalu berkelit menutupi kebohongan. Bahkan bilang kalau sikap curigaku ini akan menjadi penyebab kehancuran rumah tangga."
Rahangnya mengeras.
"Sedang aku, mati-matian mencari cara untuk membongkar semuanya. Aku muak Dis, aku muak dibohongi oleh sikap manis yang ia ciptakan untuk menutup-nutupi."
Gendis terhenyak, tidak menyangka akan mendengar permasalahan berat sahabatnya. Dan baru kali ini, ia melihat Isana serapuh ini.
"Jadi," Gendis meraih tangan Isana, "Kamu mau mengumpulkan bukti-bukti kalau Andreas sudah berselingkuh?"
Isana mengangguk dalam-dalam.
"Aku harus temukan bukti-buktinya Dis, aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang yang membuatku menduga-duga sendiri. Aku ingin semuanya jelas. Apapun resikonya."
Ia menarik nafas dalam-dalam,
"Meskipun, rumah tangga ini taruhannya."
Gendis terdiam, kemudian melanjutkan dengan mantap. "Aku akan bantu kamu, Sa ..."
Isana mengangkat wajah.
"Kebetulan," lanjut Gendis, "Chef Althaf sedang menerima tawaran investasi dari kantor Andreas, untuk pengembangan resort mereka di kota Batu. Jadi, aku ikut bersama Chef Althaf untuk meninjau lokasinya, bersama tim dari perusahaan Andreas."
"Chef Althaf?"
"Iya," Gendis terkekeh pelan, "Kamu inget kan Chef Althaf. Kakak tingkat kita, waktu di SMK."
"Yang satu jurusan sama Mas Kahfi?"
"Betul, itu kamu inget." Ucap Gendis, tersenyum. "Sekarang, aku jadi personal asisten nya beliau. Aku juga kaget waktu pas pertama ketemu. Kayak nggak asing gitu wajahnya, setelah aku inget- inget ... baru deh. Ngeh ... Kalo dia kakak tingkat kita dulu."
Isana mengangguk pelan. Nama itu terasa samar di ingatannya, seperti potongan kenangan yang sudah terlalu lama tersimpan.
Gendis menggenggam tangan sahabatnya lebih erat.
"Aku bantu kamu cari kebenarannya, Sa."
Tangannya berpindah mengusap punggung Isana dengan lembut.
"Jadi untuk sekarang... kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian."
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍