Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Danu langsung berbalik memunggungi Lila, imannya hanya setebal tisu yang di belah tujuh.
"Mas..."
"Hmmm...."
Lila sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Danu. Dia memegang bahu Danu, membuat jantung Danu berdesir.
"Lila malam ini juga lihat ular" ucapnya manja.
"Mana ada ular di tempat seperti ini Lila"
"Ada mas, tapi ularnya ngumpet, tadi Lila lihat ularnya meronta-ronta minta di keluar"
Danu kembali berbalik, kini keduanya saling berhadapan, wajah mereka begitu dekat.
"Mana? Kenapa kamu tidak takut?" Tanya Danu begitu kesal.
"Mana mungkin Lila takut, Lila justru penasaran mau lihat seberapa panjang ular itu"
Lila tersenyum sambil menunjuk tubuh bagian bawahnya, Lila juga melirik apa yang dia tunjuk.
Mata Danu membulat sempurna, dia melempar bantal yang dia pakai ke arah Lila, Selimut yang tadinya enggan dia pakai karena suasana di kamar ini begitu panas, kini di tarik Danu untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Cukup Lil. Tidur! Jangan goda mas lagi"
Lila tertawa terbahak-bahak, dia berhasil membuat wajah Mas Danu merona lagi.
"Good night mas, I Love you" Bisik Lila di telinga Danu yang tertutup selimut.
Lila pun tidur sambil memeluk Danu yang terbungkus selimut seperti kepompong.
Keesokan harinya
Tepat jam enam pagi, Lila dan Danu check out dari hotel itu, mereka pulang naik taxi online.
Pagi ini Danu kembali menjauhi Lila, namun Lila tidak ambil pusing, toh dia sudah bisa menebak isi hati mas Danu. Mas Danu hanya gengsi punya istri jauh lebih muda seperti dirinya.
Lila sudah bertekad akan selalu menempel pada Danu sampai Danu mau menjadikan dia istri.
"Jangan dekat-dekat Lila!" Bisik Danu yang merasa tidak nyaman. Lila terus menggandeng tangannya, meski dia sudah bersikap jutek sejak pagi.
Lila kekeh tidak mau melepas pelukannya. Dia justru cosplay jadi istri Danu, dan menanyakan apa yang di ingin kan Danu di pagi hari ini.
"Mas Danu mau sarapan apa? Nanti Lila masakin ya?"
"Tidak usah, Mas bisa beli"
"Masakan luar kurang sehat mas, lebih baik makan masakan sendiri, nanti Lila masakin sayur asem kesukaan mas Danu, mau?"
"Terserah kamu"
Lila tersenyum dia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Danu. Dia merasa sekarang sudah menjadi istri Danu. Semalam mereka tidur bersama dan setelah ini, mereka akan makan bersama juga. Benar-benar hayalan yang selalu Lila impikan sejak dulu.
Sampai di rumah, Lila langsung mengikuti Danu ke rumahnya. Kemarin sebelum berangkat ke acara Ulang Tahun putri pak Rektor, dia sudah pesan sayur dan ikan di tukang sayur langganan nya. Pak Yuda juga sudah dia kirimi pesan untuk membayar belanjaan itu. Nanti uangnya minta ganti mas Danu.Lila tinggal eksekusi saja.
Sampai di depan pintu, Lila masih melingkarkan tangannya ke lengan Danu. Begitu membukanya, Lila dan Danu ayok melihat Bu Marni sudah ada di dalam rumah. Bu marni bahkan membawa kemoceng di tangannya.
"Dari mana saja kalian semalam Danu!" Teriak Bu Marni sambil mengarahkan kemoceng itu ke arah Danu. Danu sontak langsung berlari menghindar. Lila sampai diam di tempat seperti patung.
Kenapa Ibu Marni sudah sampai di sini saja? Dia kan belum bilang kalau Danu setuju.
"Mau kemana kamu Danu! Kamu sudah dewasa, bawa anak gadis menginap apa itu baik ha!"
"Bu, ibu salah paham"
Danu terus menghindari kejaran Bu Marni.
"Salah faham? Kata Yuda kamu pulang duluan dari acara ulang tahun itu dengan Lila, tapi pagi baru sampai, memang ibu percaya? kalau udah kebelet ya nikah nak! Jangan bawa anak orang bermalam seenaknya, kalau Pak Angga sampai tahu bagaimana? Mau di taruh di mana muka ibu!"
"Bu...Danu bisa jelaskan! jangan kejar Danu"
Danu akhirnya memilih bersembunyi di belakang tubuh Lila. Bu Marni sampai menengok ke kanan dan kiri, namun tidak berhasil mendapatkan putranya.
"Ibu sudah"
Lila memeluk Bu Marni begitu erat, dia kangen sekali dengan bu Marni, terakhir mereka bertemu saat kematian nenek Ratmi.
Bu Marni ibunda Danu seketika berhenti membalas pelukan Lila.
"Lila makin cantik aja, sudah besar juga, kamu tuh rugi kalau nikah sama Danu"
Lila tertawa, dia melirik Danu yang tengah kesal karena Ibunya sendiri menjelekkan dirinya di depan Lila.
"Siapa yang mau menikah dengan dia Bu? Masih bocil begitu" Ujar Danu.
"Kata Lila kalian mau nikah, Ibu seneng banget. Meski Ibu kasihan juga sama Lila. Anak gadis seperti Lila ini harusnya punya suami yang lebih muda dan lebih tampan dari kamu Dan"
"Jangan percaya Bu, Lila suka menghayal. Kami tidak punya hubungan apapun" Elak Danu.
Lila jadi merasa sedih, padahal dia sudah seeffort ini agar mereka segera di nikahkan.
"Tidak punya hubungan kamu bilang? Terus kenapa kamu ngajak Lila bermalam di hotel?"
"Semalam mobil Danu mogok Bu, Kami hanya mencari tempat istirahat saja"
"Eleh kan bisa pesan taxi online? Ngapain sampai nginap di hotel?"
"Bu kami cuma istirahat, kami tidak ada hubungan apa-apa, Danu sudah anggap Lila adek Danu, mana mungkin Danu nikah sama dia? Semalam kami hanya tidur, dia juga sedang halangan. Danu nggak ngapa-ngapain Lila Bu, jadi jangan minta Danu nikah sama Lila!"
Danu ingin ke ke kamarnya, namun Bu Marni mencekal lengan Danu, dia menatap putranya lekat-lekat.
"Pembohong"
"Danu tidak berbohong Bu"
"Kamu bilang Lila hanya kamu anggap sebagai adik kan? Lalu apa ini"
Bu Marni sedikit menurunkan baju Lila, Lila begitu terkejut melihat begitu banyak tanda merah di leher dan dadanya.
Lila pun menatap Danu tidak percaya, kapan Mas Danu memberi banyak tanda ini? Kenapa dia tidak sadar? Apa saat dia tertidur semalam.
"Bukan Danu!"
Danu bergegas ke dalam, dia tidak mau di interogasi lagi, semalam dia memang khilaf saat Lila bilang penasaran dengan ularnya. Danu tidak bisa tidur, dia terus menatap wajah damai Lila yang tengah tertidur pulas. Awalnya Danu hanya menatap saja, tapi semakin lama, Danu penasaran dan tak tahan. Dia mencium Lila hingga memberikan banyak bekas di tubuhnya. Danu kira aksinya tidak akan ketahuan,karena dia memberi tanda di bagian tubuh yang tertutup baju. Tapi ternyata ibunya menyadari hal itu.
Begitu Danu masuk ke kamar, Bu Marni gantian mengintrogasi Lila.
"Itu beneran bukan ulah Danu nak?" Tanya Bu Marni.
Lila jadi bingung, dia saja tidak tahu kalau ada tanda merah ini di tubuhnya, tapi dia yakin sekali pasti ini ulah mas Danu, semalam kan dia cuma bersama Mas Danu. Dia tidak bersama lelaki lain lagi.
Lila baru saja ingin bilang Iya, namun sebuah suara membuatnya tidak jadi bicara.
"Itu ulah saya Bu"
Ucap Ryan yang datang dengan sebuah paper bag di tangannya.