NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas

Pintu sudah tertutup, langkah Aveline menghilang di koridor, dan ruangan kembali sunyi. Sedangkan William sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

Tangannya masih berada di atas meja, jari-jarinya diam di atas berkas yang tadi sempat ia buka. Ia tidak langsung membaca. Tatapannya tertahan beberapa detik pada pintu yang baru saja ditutup.

Aveline.

Cara wanita itu berbicara ataupun mengambil alih arah tanpa ragu, semua tampak berbeda dari seorang Aveline yang ia tahu. Meskipun perlu diakui, William tidak begitu memperhatikan setelah meninggalkannya dengan sikap tak acuh pada malam pernikahan itu.

William akhirnya menarik napas pendek, lalu duduk kembali. Namun matanya tidak langsung bergerak mengikuti tulisan. Seolah enggan untuk melihatnya, dan sekarang justru pikirannya mulai berkelana secara liar.

Beberapa menit berlalu tanpa perubahan. Di luar, suara langkah prajurit terdengar sesekali, tampak teratur dan tidak terburu-buru. Barak tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada tanda kekacauan ataupun perintah tambahan yang dikeluarkan.

Pada akhirnya ... dia memilih untuk menutup berkas itu.

Keputusan sudah diberikan dan tim kecil sudah bergerak. Kini yang tersisa … hanyalah menunggu.

Sedangkan Aveline tidak langsung keluar dari area barak setelah meninggalkan ruang kerja William. Ia berjalan tanpa arah yang jelas, melewati koridor panjang yang mulai terasa lebih lengang dibanding sebelumnya. Aktivitas masih ada, tetapi ritmenya berubah. Prajurit yang berpapasan hanya memberi hormat singkat, tanpa ada yang berani menatap terlalu lama.

Langkah Aveline akhirnya melambat di ujung bangunan, dekat dengan area terbuka yang mengarah ke halaman dalam. Udara di luar lebih dingin, bersamaan bau besi dan tanah yang samar. Ia berhenti di sana, bukan seolah-olah ingin menikmati pemandangan, akan tetapi lebih seperti memberi jeda pada pikirannya sendiri.

Matanya menelusuri area sekitar apapun yang dengan mudah tertangkap pandangannya. Namun, konsentrasi itu sedikit terganggu karena suara langkah kaki yang ia yakini satu arah dengannya.

Aveline tidak menoleh secara langsung. Gadis itu hanya menggeser pandangannya sedikit ke samping, memastikan bayangan orang tersebut masuk ke sudut penglihatannya sebelum akhirnya berbalik.

Mayor Darius Veyne.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari Aveline, tidak terlalu dekat, dan tidak juga menjaga jarak berlebihan. Sikapnya tegak seperti biasa khas seorang perwira, sementara tangannya berada di belakang punggung. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan apa-apa yang bisa langsung dibaca.

“Lady Aveline.”

Sapaan itu keluar datar. Bukan keramahan ataupun nada dingin. Lebih tepatnya suara yang hanya cukup untuk membuka sebuah percakapan.

Aveline mengangkat salah satu alisnya, tipis. “Mayor.”

Tidak ada basa-basi berlebihan. Ia sama sekali tidak berpikir untuk mendekat ataupun menjauh. Hanya berdiri di tempatnya, menunggu apa yang ingin disampaikan pria itu.

Darius mengalihkan pandangannya sekilas ke arah halaman sebelum kembali menatap Aveline. “Jarang melihat Tuan Kolonel membawa seorang wanita ke mari. Apalagi, Anda adalah istri Tuan,” ujar Darius.

Aveline tersenyum tipis, tapi tidak menjawab langsung. Ia menoleh kembali ke arah luar, seolah lebih tertarik pada suasana dibanding percakapan yang baru saja dimulai.

“Barak juga tidak terlalu sering menerima tamu sepertiku, bukan?” balasnya ringan.

Darius tersenyum kecil. Ia hanya mengangguk, seolah mengakui hal yang sama tanpa perlu memperpanjang.

Suasana seakan terasa hening dengan udara yang perlahan terasa cukup mencekam.

“Ada yang menarik perhatian Anda?” tanya Darius kemudian, masih dengan nada yang sama, tidak berubah.

Aveline meliriknya sekilas. “Banyak.”

Jawaban itu terlalu blak-blakkan, tetapi tidak salah.

Darius mengamati wajahnya beberapa detik lebih lama. “Termasuk jalur suplai?”

Pertanyaan itu datang begitu saja, tanpa peringatan.

Aveline tetap menatap lurus ke depan beberapa detik, lalu menghela napas pendek, seolah sedang mempertimbangkan apakah pertanyaan itu layak dijawab atau tidak.

“Sepertinya itu topik yang cukup sensitif untuk dibicarakan di luar ruang rapat,” katanya dengan nada suaranya tetap santai.

Darius tidak tersenyum. “Anda tampak tidak terlalu mempermasalahkannya tadi.”

Aveline mengangkat bahu sedikit. “Karena saat itu semua orang berpura-pura tidak melihat.” Kalimatnya ringan. Hampir seperti candaan.

Namun tidak ada yang terasa lucu. Darius tetap diam. Tatapannya tidak berubah, tapi jelas ia tidak melewatkan satu katapun.

“Pengamatan seperti itu … tidak umum,” ucapnya kemudian.

Bukan tuduhan. Hanya saja, masalah di barak militer memang bukan keahlian seorang wanita.

Aveline akhirnya menoleh kali ini. Mata almondnya menatap lekat pada manik coklat gelap dihadapannya, bukan tatapan menantang.

“Belum tentu,” jawabnya. “Kalau seseorang terbiasa melihat hal yang sama berulang kali.”

Pria itu tidak langsung merespons. Ia justru menggeser sedikit posisinya, langkah kecil yang tidak signifikan, tapi cukup untuk mengubah sudut pandangnya terhadap Aveline.

“Dan Anda terbiasa? Apakah Lady pernah mempelajari hal-hal tentang militer selama ini?” tanyanya. Suaranya masih sama, datar dan stabil.

Aveline tersenyum tipis. “Tidak juga. Tetapi aku pernah belajar sesuatu yang lebih dari kata militer.”

Tidak ada penekanan pada kata terakhir, tapi kalimat itu cukup untuk menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya.

Hening di antara keduanya tampak semakin nyata. Darius kemudian mengangguk kecil, seperti seseorang yang baru saja mencatat sesuatu dalam pikirannya sendiri.

“Kalau begitu, Lady adalah wanita pertama yang begitu paham tentang kasus tadi. Saya benar-benar terpukau melihatnya,” katanya.

Aveline sama sekali tidak merspon, ia justru mengalihkan pandangannya kembali ke halaman, seolah percakapan itu layak untuk dipertahankan lebih lama, hingga ruang kosong di antara mereka semakin longgar.

Darius akhirnya memilih mundur setengah langkah, tanpa terlihat terburu-buru.

“Tetapi ... barak bukan tempat yang aman untuk berjalan tanpa tujuan,” ucapnya, tanpa ekpresi. Entah sebagai peringatan ataupun pengingat.

Aveline tidak berniat untuk menoleh sama sekali “Aku tidak berjalan tanpa tujuan.”

Pria itu tidak membalas, ia hanya memberi anggukan kecil, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang sama tenangnya saat ia datang.

Punggungnya menghilang perlahan disertai suara sepatu bot yang terdengar mulai menjauh.

Aveline tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak ataupun berniat kembali ke ruang kerja William.

Netranya terus memandang ke arah halaman beberapa saat lebih lama, sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan langkahnya ke arah berlawanan, seolah percakapan tadi tidak meninggalkan apa pun.

Namun langkahnya kali ini sedikit lebih pelan. Bahkan, di dunia antah berantah yang tidak diketahuinya, bagi seorang Soren tak ada seorangpun yang layak untuk dipercayai setelah mengingat pengkhianatan Vera beberapa waktu lalu di tepi jurang.

~oo0oo~

Sore di barak militer terasa lebih berat dari biasanya. Cahaya matahari yang menurun mulai masuk dari jendela tinggi, sehingga menciptakan pecahan cahaya memanjang di lantai batu dengan warna keemasan yang mulai redup.

Aktivitas belum sepenuhnya berhenti, tetapi suasana sudah tidak sepadat siang tadi. Perintah-perintah terdengar lebih jarang, digantikan oleh langkah kaki yang lebih pelan dan suara peralatan yang ditata kembali.

Sementara William masih berada di dalam ruang kerjanya sejak beberapa waktu lalu. Ia sama sekali tidak mengubah posisinya sejak terakhir kali. Tetap duduk, namun tubuhnya tidak benar-benar bersandar. Satu siku bertumpu di meja, jari-jarinya menyentuh pelipis seolah sedang menahan sesuatu yang belum ingin ia keluarkan.

Pintu terbuka tanpa ketukan, Aveline masuk setelah gadis itu keluar beberapa jam yang lalu.

Tidak ada aba-aba ataupun suara langkah yang berlebihan. Selanjutnya gadis itu tidak mengambil kursi.

Ia justru berhenti di sisi meja, lalu menurunkan tubuhnya sedikit, duduk di tepi meja itu sendiri, bukan di kursi yang tersedia, seolah memang engaja memilih posisi yang tidak seharusnya.

William tidak menegur. Netranya hanya melirik sekilas, lalu kembali diam.

Aveline tidak bicara. Tangannya mengambil sebuah kertas kosong dari meja, memutarnya perlahan di ujung jari karena dia tidak benar-benar sedang membaca, melainkan hanya mengisi waktu dengan sesuatu yang tidak penting.

Beberapa detik berlaku tanpa sepatah katapun. Hingga tanpa diduga, pintu didorong dengan cepat disertai langkah berat terdengar jelas di lantai batu.

“Laporan dari lokasi konvoi, Tuan Kolonel.”

Kapten Roland masuk tanpa menunggu izin kedua. Seragamnya tidak lagi rapi seperti di ruang rapat. Bagian bawah mantelnya berdebu, dan ada noda tipis di sisi lengan. Ia jelas baru kembali dari lapangan.

Kapten Roland berhenti di depan meja, memberi hormat singkat.

William menoleh. “Laporkan.”

Roland menurunkan tangannya.

“Konvoi ditemukan di jalur utama, tidak jauh dari titik terakhir.” Suaranya stabil. “Kendaraan dalam kondisi utuh. Tidak ada kerusakan besar.”

Aveline menahan kertas di tangannya, tapi tidak mengangkat kepala.

Sementara Roland melanjutkan laporan.

“Muatan tidak berada di tempatnya.”

“Dan peti sudah terbuka dalam keadaan tanpa kerusakan kasar.” Ia berhenti sebentar. “Seperti dibuka menggunakan akses yang sesuai.”

William tetap diam mendengarkan.

“Bagaimana dengan jejak pertempuran?” tanyanya.

“Tidak signifikan.” Roland menjawab. “Tidak ada bentrokan besar ataupun jejak ledakan. Area terlihat bersih.”

Aveline melipat kertas itu perlahan, tanpa suara.

Roland tidak langsung berhenti setelah menyampaikan kondisi konvoi. Ia menarik napas pendek, seolah memastikan kalimat berikutnya jelas.

“Leren telah ditemukan.” Ia berhenti sepersekian detik. Gerakan tangan Aveline berhenti.

“Dia masih hidup,” lanjut Roland. “Tapi tidak sadarkan diri akibat lukanya cukup berat. Saat ini di ruang medis, belum bisa dimintai keterangan.”

William tidak berubah ekspresi, tapi fokusnya jelas semakin tajam.

“Muatan?” ulangnya.

Roland mengangguk. “Tidak ditemukan di lokasi. Tidak ada tanda dipindahkan secara paksa. Kemungkinan … dibuang atau hilang tenggelam saat proses berlangsung.”

Ruangan tiba-tiba terasa begitu sunyi. Penjelasan itu terdengar masuk akal jika dilihat sekilas.

Aveline mengangkat sedikit kepalanya.

“Dibuang?” ulangnya pelan.

Roland melirik ke arahnya. “Itu kemungkinan paling dekat.”

Aveline tidak langsung menjawab. Ia menjatuhkan kertas yang tadi dipegangnya ke meja, membiarkannya tergeletak begitu saja.

“Dengan kondisi seperti itu, orang yang melakukannya tidak akan panik,” katanya pelan. Sementara William tetap berdiri di tempatnya, menatap Roland beberapa detik.

“Jalur pengamanan?”

“Tidak ditembus dari luar.” Roland menjawab cepat. “Rute tetap. Tidak ada tanda infiltrasi kasar.”

William mengangguk kecil.

“Amankan lokasi. Jangan ada perubahan sebelum tim inspeksi masuk.”

“Baik, Tuan Kolonel.”

“Perketat pengawasan di ruang medis.” tambah William. “Tidak ada akses tanpa izin.”

“Siap.”

Roland memberi hormat, lalu berbalik dan keluar. Pintu tertutup kembali.

Suasana sore itu mulai bergeser menjadi lebih gelap. Aveline tidak langsung bicara. Ia tetap duduk di tepi meja, satu tangannya bertumpu di belakang yang menopang tubuhnya.

“Konvoi ditemukan. Muatan tidak ada. Tidak ada kerusakan besar.” Ia menyebutnya satu per satu, seperti merangkum laporan yang baru saja mereka dengar.

Gadis itu berhenti sejenak.

“Dan tawanan kabur di waktu yang hampir bersamaan.” Aveline menoleh sedikit ke arah William.

“Kalau ini kebetulan, berarti terlalu banyak hal yang terjadi di waktu yang sama.”

William hanya menatap Aveline dari tempatnya duduk, seolah kalimat itu bukan sekadar dugaan, melainkan sesuatu yang sengaja diletakkan di atas meja untuk ia periksa.

Beberapa saat kemudian, ia menutup berkas di depannya.

Gerakan itu pelan, tetapi cukup jelas untuk membuat Aveline tahu bahwa perhatiannya kini sepenuhnya berpindah.

“Jika terlalu banyak hal terjadi di waktu yang sama ...,” ucap William rendah rendah. “Berarti ada satu orang yang mengatur waktunya.”

Aveline menatapnya tanpa mengubah posisi. “Atau lebih dari satu.”

William tidak membantah. Matanya tetap tenang, tetapi ketenangan itu justru terasa lebih menekan daripada amarah. “Kau terdengar seperti terbiasa memikirkan kemungkinan semacam itu.”

Sudut bibir Aveline bergerak tipis. “Dan kau terdengar seperti terganggu karena aku bisa memikirkannya.”

Hening.

Di luar, suara langkah prajurit lewat di koridor, lalu menghilang. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang mengetuk. Sehingga bisa dipastikan hanya mereka berdua di dalam ruangan yang semakin gelap oleh sisa cahaya sore.

William akhirnya berdiri dari kursinya. Ia tidak berjalan cepat, tetapi setiap langkahnya terasa sengaja. Aveline tidak turun dari tepi meja. Ia tetap duduk di sana, menatap pria itu mendekat tanpa menunjukkan niat untuk menjauh.

Hingga pria itu tepat berhenti di depannya.

Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat suasana berubah. Aveline bisa melihat garis lelah yang samar di wajahnya, meskipun sikapnya tetap terkendali seperti biasa.

“Aveline yang aku tahu tidak pernah berbicara seperti ini,” katanya.

Aveline menatap balik. “Mungkin karena Aveline yang kau tahu tidak pernah kau dengarkan.”

Kalimat itu jatuh tepat di antara mereka. Tidak keras dan terlalu panjang. Tapi cukup untuk membuat William diam beberapa detik.

Tatapannya menajam sedikit, bukan karena marah, melainkan karena kalimat itu tidak sepenuhnya bisa ia bantah. Pernikahan mereka memang tidak pernah dimulai sebagai sesuatu yang wajar. Ia menikahinya karena keadaan, lalu meninggalkannya seperti urusan yang sudah selesai ditandatangani.

Aveline menurunkan pandangannya sebentar ke kertas kosong yang tadi ia jatuhkan di meja, lalu kembali melihat William. “Tenang saja. Aku tidak sedang menuntut apapun darimu.”

“Lalu kenapa kau kembali ke ruangan ini?”

Aveline tersenyum kecil. “Karena ruangan ini tempat paling menarik di barak.”

“Bukan jawaban.”

“Memang bukan.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Tapi kau tetap mendengarnya.”

William menatapnya lebih lama. “Itu artinya kau sedang bermain-main dengan batas kesabaranku.”

“Tidak,” jawab Aveline ringan. “Aku hanya ingin tahu batasnya di mana.”

Udara di antara mereka terasa semakin berat. William mengangkat tangan, lalu berhenti tepat sebelum menyentuh dagunya. Gerakan itu tertahan, seolah ia sendiri sadar bahwa satu sentuhan kecil saja bisa mengubah bentuk percakapan ini menjadi sesuatu yang lain.

Aveline tetap berdiam diri dengan mata ambernya yang menatap pada William.

“Jangan menguji sesuatu yang belum kau pahami,” ucap William pelan.

Aveline mendekatkan wajahnya sedikit, cukup untuk membuat suaranya terdengar lebih rendah. “Kalau begitu, jangan berdiri sedekat ini dengan sesuatu yang belum kau percaya.”

Untuk pertama kalinya, rahang William mengeras tipis. Namun ia tetap tidak mundur. Hingga beberapa detik kemudian, ia menurunkan tangannya dan berbalik ke meja, seolah memilih menghentikan percakapan sebelum arahnya menjadi terlalu berbahaya. “Mulai malam ini, kau tetap berada dalam pengawasanku.”

Aveline turun dari tepi meja dengan tenang. “Perintah atau perhatian?”

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!