menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 : kembali ke rumah dan buku yang tersembunyi
Setelah berpamitan dengan Lunaris dan melangkah melewati gerbang perbatasan, Xavier membentangkan sayap cahayanya yang indah. Cahaya keemasan dari sayapnya menerangi langit yang mulai gelap, membuatnya terlihat seperti bintang yang bergerak di antara awan. Ia terbang dengan langkah yang ringan dan penuh semangat, hatinya dipenuhi perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—rasa harapan, rasa bahagia, dan rasa cinta yang tumbuh semakin kuat seiring waktu.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dibandingkan saat ia berangkat. Ia tidak lagi merasakan beratnya perjalanan, karena ada sesuatu yang selalu ia pikirkan, sesuatu yang selalu ada di dalam benaknya—Elara, dan semua yang telah mereka lalui bersama.
Ketika ia mulai mendekati wilayah kerajaannya, langit telah berubah menjadi malam yang indah, dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip dan bulan yang bersinar terang. Dari kejauhan, ia bisa melihat cahaya-cahaya yang menerangi seluruh kerajaan, menandakan bahwa semuanya tetap aman dan damai seperti yang ia tinggalkan.
Dan tepat di depan gerbang utama istana, terlihat sekelompok orang yang sedang berdiri menunggu. Itu adalah para perajurit, penasihat, dan para pemimpin kerajaan yang telah menunggu kehadirannya sejak matahari terbenam. Wajah mereka semula dipenuhi rasa cemas dan kekhawatiran, karena perjalanan yang ia tempuh adalah perjalanan yang penuh bahaya dan ketidakpastian.
Namun, begitu mereka melihat cahaya keemasan dan bentuk sayap yang mulai terlihat di langit, seluruh kekhawatiran itu seketika hilang digantikan oleh rasa lega dan sukacita. Mereka melambaikan tangan dan berteriak menyambut, suara mereka bergema di seluruh penjuru gerbang.
"Baginda! Raja kita sudah kembali!"
"Syukurlah, Baginda selamat dan kembali dengan selamat!"
Xavier menurunkan ketinggian terbangnya, dan perlahan mendarat dengan lembut di depan gerbang. Sayapnya perlahan menghilang, kembali bersatu dengan tubuhnya, dan ia berdiri tegak dengan senyum yang cerah di wajahnya.
Semua orang segera mendekatinya, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, namun di mata mereka terlihat jelas rasa gembira dan rasa sayang yang mendalam.
"Baginda..." ucap Penasi utama dengan suara yang masih bergetar karena rasa lega. "Kami sangat khawatir. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi, dan kami takut..."
"Tenanglah, sahabat-sahabatku," jawab Xavier dengan suara yang hangat dan menenangkan. "Lihatlah aku, aku baik-baik saja. Perjalananku berjalan dengan baik, dan aku kembali dalam keadaan sehat dan selamat."
"Dan... apakah apa yang Baginda harapkan tercapai?" tanya Jenderal perang dengan hati-hati.
Xavier tersenyum makin lebar, matanya berbinar-binar. "Ya. Segalanya berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan. Aku mendapatkan apa yang aku cari, dan sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya."
Mereka semua saling bertukar pandang, dan melihat kegembiraan yang tulus dari raja mereka, mereka pun ikut merasakan bahagia. Meskipun mereka tidak tahu secara rinci apa yang telah terjadi, mereka bisa melihat bahwa perjalanan ini telah membawa perubahan yang baik bagi raja mereka.
Setelah berbicara sebentar dan memberi perintah-perintah penting untuk urusan kerajaan, Xavier melangkah masuk ke dalam istana. Ia melewati lorong-lorong yang ia kenal dengan baik, merasakan kehangatan dan kenyamanan dari tempat yang menjadi rumahnya selama ini.
Sesampainya di kamarnya sendiri, ia segera membasuh diri dan membersihkan tubuhnya dari debu dan lelah perjalanan. Setelah merasa segar kembali, ia berbaring di atas kasurnya yang lembut dan nyaman, namun pikirannya masih tetap terbang kembali ke tempat yang baru saja ia tinggalkan. Ia teringat akan tatapan mata Elara, kata-katanya, air matanya, dan juga perubahan-perubahan indah yang terjadi di sekitarnya.
Saat ia sedang berbaring dan membiarkan pikirannya melayang, pandangannya jatuh ke rak buku yang ada di sudut ruangan. Di sana, ia melihat sebuah buku tebal yang selama ini ia abaikan, tersusun rapi di antara buku-buku lain yang telah ia baca. Ia ingat, buku ini adalah salah satu dari yang ia dapatkan bersama dengan buku-buku lainnya, namun karena ia terlalu sibuk mempelajari tentang sejarah dan sifat-sifat Elara, ia belum sempat membuka dan membacanya sama sekali.
Xavier bangkit dari posisi berbaring, berjalan mendekati rak buku itu, dan mengambil buku tebal itu. Buku itu terlihat sangat tua, sampulnya terbuat dari kulit yang keras dan berwarna cokelat tua, dan terukir di atasnya tulisan yang sudah mulai pudar, namun masih bisa dibaca dengan jelas:
"SELURUH PENGHUNI ASLI KERAJAAN KEGELAPAN: DARI YANG PALING KECIL HINGGA YANG PALING BESAR"
Hatinya berdebar kencang. Ia merasa seolah-olah buku ini sengaja menunggunya sampai ia kembali, sampai ia sudah melalui apa yang ia alami, baru kemudian ia menemukannya kembali.
Xavier kembali berbaring di tempat tidurnya, dan dengan hati-hati ia membuka sampul buku itu. Halaman-halaman di dalamnya terbuat dari kertas tebal yang masih terawat dengan baik, dan di dalamnya terisi tulisan tangan serta gambar-gambar yang digambar dengan sangat indah dan rinci.
Di halaman pertama, tertulis penjelasan: "Kerajaan Kegelapan bukanlah tempat yang kosong dan sunyi seperti yang dibayangkan banyak orang. Di sana hidup berbagai jenis makhluk hidup, yang semuanya telah ada sejak kerajaan itu didirikan, dan semuanya memiliki hubungan yang erat dengan sang penguasa mereka. Setiap makhluk memiliki peran dan sifat yang berbeda-beda, dan mereka semua adalah bagian dari kehidupan kerajaan itu."
Xavier membuka halaman demi halaman, dan matanya terbelalak melihat apa yang ada di dalamnya. Di sana tercatat dan digambarkan dengan jelas makhluk-makhluk yang telah ia temui: Aetheris si ular penjaga gerbang, Lunaris si ikan pari penjaga jembatan, Ourobort si elang penjaga pintu istana, kedua perajurit bayangan, Gargoyle naga kesayangan, dan juga Sentinel si naga legendaris yang menjaga istana.
Namun, bukan hanya mereka saja. Masih ada banyak makhluk lain yang belum ia temui—makhluk-makhluk kecil yang hidup di antara bunga-bunga, makhluk yang menjaga hutan dan sungai, makhluk yang membantu merawat bangunan dan taman, serta makhluk-makhluk besar yang tinggal di daerah-daerah terpencil di wilayah kerajaan itu.
Yang membuat Xavier semakin tertarik adalah keterangan yang tertulis tentang sifat dan kebiasaan mereka, serta hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Ia membaca bahwa makhluk-makhluk itu semua sangat setia dan mencintai Elara dengan sepenuh hati, dan mereka semua sangat peka terhadap keadaan hati dan perasaan sang Ratu. Keadaan alam dan kehidupan mereka selalu berubah mengikuti apa yang terjadi pada diri Elara.
Dan ada satu bagian yang membuat Xavier berhenti dan membacanya berulang kali: "Makhluk-makhluk ini adalah keluarga sejati bagi sang Ratu. Mereka telah ada bersamanya sejak awal, dan mereka yang selalu ada untuknya saat tidak ada orang lain yang mau mendekatinya. Jika seseorang ingin mendapatkan hati sang Ratu, maka ia juga harus mendapatkan hati dan kepercayaan dari makhluk-makhluk ini, karena merekalah yang paling mengenalnya dan paling memahami dirinya."
Xavier menutup buku itu perlahan, dan senyum yang penuh harapan tergambar di wajahnya. Ia menyadari bahwa buku ini adalah anugerah yang sangat berharga untuk dirinya. Dengan pengetahuan yang ada di dalamnya, ia bisa memahami lebih banyak lagi tentang dunia tempat Elara tinggal, tentang orang-orang yang ia sayangi, dan tentang cara-cara yang bisa ia lakukan untuk mendekatinya lebih jauh lagi.
Ia tahu, perjalanannya untuk memenangkan hati Elara masih panjang dan sulit. Tapi sekarang ia merasa ia memiliki bekal yang lebih banyak, ia memiliki pengetahuan yang bisa membantunya. Ia tidak akan berjalan dalam kegelapan lagi, karena ia sudah tahu langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
Xavier meletakkan buku itu di meja samping tempat tidurnya, di tempat yang mudah ia jangkau. Ia menatap langit-langit kamarnya, dan dalam hatinya ia berjanji pada dirinya sendiri, dan juga pada Elara: "Aku akan melakukan segalanya. Aku akan belajar, aku akan berusaha, dan aku akan membuktikan bahwa aku layak untukmu. Tunggulah aku, Elara. Aku akan segera kembali lagi."
Dengan pikiran dan hati yang penuh dengan rencana-rencana indah untuk masa depan, akhirnya Xavier pun tertidur. Dan dalam tidurnya, ia bermimpi tentang tempat yang indah, di mana terang dan gelap hidup berdampingan dengan damai, dan di mana ia dan orang yang ia cintai hidup bersama dalam kebahagiaan yang abadi.
Bersambung...