Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi ini suasana kamar Melina amat sibuk, karena jam delapan pagi akan diadakan zoom meeting atau kelas online.
Gadis ini bangun pagi jam 5 subuh seperti biasa, hanya untuk membantu mertuanya membuat kue----gadis adalah sematan yang pas untuk Melina.
Sang suami belum pernah menyentuhnya selama mereka menikah, secara otomatis Melina masih layak disebut gadis.
Pagi ini Adisti menerima saran menantunya untuk menjual kue atau membuka toko kue secara online.
Mereka sudah membicarakannya kemarin sambil merajut, setelah topik mengenai cucu perdana.
Melina yang tahu dulu Adisti adalah seorang chef sebelum menikah dengan suaminya----mendiang Alfa Ganendra.
"Kenapa mama nggak jualan kue aja, pertama ke ibu-ibu komplek ini dulu dijualnya. Nanti aku bikin toko lewat grabfood atau gofood."
Saran menantunya membuat Adisti senang, hari ini ada dua pesanan dari online dan Adisti sedang menjual kue untuk ibu-ibu komplek sini, dan mencoba membuka toko kue.
Semua atas saran Melina, akhirnya setelah sekian lama Adisti bisa menyalurkan hobinya kembali.
Setelah membantu mertuanya membuat kue, Melina memutuskan ke lantai atas untuk menuju kamar demi mempersiapkan pembelajaran mata kuliah online----Bahasa Inggris.
Pagi ini Melina mengenakan celana pendek santai dan atasan lengan pendek berwarna violet yang nyaman.
Rambutnya dibiarkan tergerai rapi agar tampak sopan di depan kamera.
Sebelum kelas dimulai, Adisti----ibu mertuanya mengetuk pintu.
Tok...Tok...Tok.
"Mel...," panggil Adisti.
Melina sudah menyalakan laptop tapi kamera dimatikan.
"Iya Mah, ada apa?" sahut Melina menoleh ke arah pintu.
"Mama mau antar kue ke rumah Bu Anita dulu ya, rumahnya di ujung komplek," pamit Adisti dengan nada tenang.
Adisti tampak tampil cantik dengan gaun hariannya, hari ini rambutnya di cepol----tak seperti kemarin yang rambutnya di gerai.
"Ok siap Mah, nanti Mas Ishan pulang, biar Mel yang urus deh," jawab Melina sambil tersenyum.
"Ok makasih ya Nak," kata Adisti menutup pintu kamar dengan pelan.
Adisti menutup pintu dan ke lantai bawah, memberikan privasi kepada menantunya untuk belajar.
Melina menoleh kembali ke hadapan laptopnya, dan bergabung dalam ruangan tunggu zoom.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.
Ceklek.
Ishan masuk tanpa mengetuk pintu dengan langkah yang berat.
Deg.
Seketika degup jantung Melina berdetak cepat, dirinya takut jika Ishan akan kembali memukulnya.
Ishan yang sudah mandi di apartemen Livia, mengenakan kaos polo berwarna coklat dan celana hitam.
Wajahnya tampak segar namun berubah kesal, karena laporan dari detektif yang di kirim untuk memantau istrinya.
Melina menghela napas, dan tak terlalu menanggapi dengan tetap membelakanginya.
Hatinya masih trauma akibat pemukulan tempo hari karena menyentuh kemeja Ishan untuk di cuci.
Tamparan itu masih terasa dan terngiang-ngiang di pikirannya, selain pipinya yang memerah karena tamparan itu, hati Melina juga sakit.
Hanya karena kemeja Ishan masih ada aroma parfum Livia, saat itu pukulan Ishan begitu keras hingga Melina terkelungkup di atas ranjang.
Sejak saat itu, Melina bersumpah tidak akan menyentuh barang-barang suaminya jika tak di minta.
Kelas bahasa Inggris di mulai.
Melina berusaha fokus meski di belakang Ishan menatapnya tajam dari sudut ruangan.
Ishan duduk di sudut ruangan dengan kedua tangan terlipat.
"Pak, izin bertanya," ucap Melina menyalakan mikrofon laptopnya.
"Iya Melina Khairunisa, silakan," sahut sang dosen dari balik layar.
"Pak, izin bertanya. Nanti tugasnya ini kita buat rangkuman bahasa Inggris mengenai perekonomian era Renaissance ya? Dan apa dampaknya bagi masa sekarang?" tanya Melina dengan bahasa Inggris yang cukup lancar.
"Yap, tepat sekali, Mel," jawab sang dosen bangga.
"Apa sertakan juga sumbernya?" tanya Melina.
"Jika kalian mau bisa sertakan itu tambah bagus," ucap sang dosen.
"Yah jangan lupa absen, cukup disini saja kelasnya. Assalamualaikum dan selamat pagi," kata sang dosen.
"Wallaikumsallam," ujar para mahasiswa menyalakan microphone termasuk Melina.
Melina menghela napas dan segera mematikan laptopnya, menoleh ke belakang demi menanyakan apa yang diinginkan suaminya.
"Mas Ishan...," kata Melina lirih menelan salivanya.
Ishan segera berdiri dengan tatapan mata yang tajam, kedua tangannya mengepal.
Dari tadi Ishan menahan diri untuk tidak meledak amarahnya di depan kamera laptop Melina, karena hal itu dapat membuatnya karirnya hancur.
Jika teman-teman Melina tahu dirinya tengah melakukan KDRT.
Mata Melina menatap heran suaminya, dan mengerutkan keningnya.
Pikirannya sudah di racuni oleh video dan foto orang suruhannya, yang memperlihatkan keakraban Melina dan Alvaro.
"Mas, ada apa?" tanya Melina.
Melina menatap Ishan yang menatapnya tajam, hal yang membuat Melina heran----apa dirinya melakukan kesalahan lagi.
"Mas, selama kamu nggak di rumah aku tidur di sofa."
"Dan aku juga nggak pernah sentuh barang kamu," lanjut Melina.
Tiba-tiba Ihsan menarik rambut Melina dengan kasar, rambutnya dari belakang di jambak kuat.
"Aduh! Mas, sakit!" jerit Melina spontan.
Ishan menjambak rambut Melina yang tergerai, sangat kuat seolah kulit kepala Melina mau terlepas.
Pria itu menarik kepala Melina ke belakang, hingga gadis malang itu terpaksa mendongak menatap wajah suaminya yang merah padam.
"Mas! sakit! Kamu kenapa sih?!" jerit Melina yang memegang rambutnya.
"Pintar ya kamu? di depan dosen berlagak cerdas! Di depan mama saya berlagak polos dan baik hati! Tapi di kampus kamu wanita binal!" desis Ishan tepat di depan wajah istrinya.
Melina meringis kesakitan tangannya memegang tangan suaminya yang mencengkram kuat setengah rambutnya.
"Mas...lepasin dulu," rintih Melina sambil memegang tangan Ishan.
Mata Melina panas mengeluarkan air mata, tangannya berusaha melonggarkan tarikan rambutnya.
"Ada apa Mas? apa maksudnya? aku sama Alvaro nggak ada hubungan apapun!" bela Melina.
Ishan hanya berdecih.
"Nggak ada hubungan apapun kenapa mesra begitu!" bentaknya.
"Mesra? kamu aja ama Mbak Livia masih ada hubungan!" ucap Melina dengan suara meninggi.
"Ohh, kamu butuh kepuasan?" tanya Ihsan wajahnya mendekat ke wajah Melina.
"Mas--Mas mau ngapain?" tanya Melina dengan suara bergetar ketakutan.
Melina dengan kasar rambutnya di tarik dan Ihsan lempar tubuh itu ke atas ranjang, Melina ketakutan wajahnya pucat.
Seolah ingin di nodai, padahal Ihsan adalah suaminya.
Ishan sudah membuka kaos polo dan menyisakan tubuhnya yang atletis.
Melina memejamkan matanya dengan pasrah.
"Ya allah tolong hamba, engkau memberikan Ihsan sebagai imam untuk hamba. Tolong ya allah untuk melakukan ibadah ini bantulah hambamu yang lemah ini."
*
*
*
*
*
*
*
*
*