NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Iblis / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DewaC1nta

Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Keluarga Guan

 "Hua Gu," gumam Zhao Yun. mendengar nama itu disebut, ada kilatan aneh yang mendadak muncul di matanya. Sebuah gairah yang gelap. "Apa kalian punya dendam dengan orang-orang dari istana itu?"

 Guan Xian terdiam sejenak. Ia menatap tajam ke arah Zhao Yun. "Apa hubunganmu dengan orang-orang hina dari istana Hua Gu?"

 Zhao Yun tidak segera menjawab. Ia justru tertawa kecil.

 "Hubungan?" Zhao Yun mengulangi kata itu. "Aku tidak punya hubungan dengan manusia, melainkan aku sedang mencari seseorang yang bersembunyi di balik kekuasaan seorang raja yang kotor."

 Kalimat itu belum sempat mengendap di udara saat tiba-tiba, keheningan lembah pecah. Dari arah dalam lembah, terdengar suara langkah-langkah berat. Bukan hanya satu, tapi banyak. Langkah-langkah yang teratur, membawa wibawa yang menekan udara.

 "Siapa itu?!" ujar Zhao Yun. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah sekumpulan bayangan yang muncul dari balik kabut pohon persik.

 "Ayah!" seru Guan Xian. Suaranya adalah campuran antara rasa lega dan kecemasan yang mendalam.

 Sesosok pria bertubuh tegap dengan jubah berwarna biru tua muncul di barisan paling depan. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis tidak sedikit pun mengurangi kegagahannya. Di pinggangnya melingkar sabuk emas dengan ukiran indah yang bermahkota pedang menyilang, menandakan statusnya yang tinggi. Inilah Guan Haoran, pemimpin lembah Seribu bunga yang di segani.

 Di belakangnya, belasan pengawal berbaju pendekar berdiri dengan tangan memegang gagang pedang.

 "Anakku" ucap Guan Haoran kepada Guan Xian, namun matanya segera beralih.

 Ia menatap sosok di samping putrinya. Matanya yang tajam mendadak meredup, di gantikan oleh guncangan emosi yang tak tertahankan.

 "Ka-kau Su Ying?" katanya terbata.

 Perlahan, Guan Haoran melangkah mendekat. Langkahnya yang tadi berat kini terasa gemetar. Tatapannya penuh keharuan yang menyakitkan. "Sudah lama sekali...sejak kepergian ayahmu..."

 Su Ying terdiam. Ia merasakan hatinya seperti tertusuk ribuan jarum saat nama ayahnya di sebut.

 Guan Haoran menarik nafas panjang, mencoba menguasai kembali gejolak di dadanya. Ia menoleh sekilas ke arah Guan Xian lalu kembali pada Su Ying.

 "Baiklah, kau sudah selamat sampai di sini," ucapnya dengan nada yang lebih tenang namun tegas. "Selanjutnya, kita lanjutkan pembicaraan di kediamanku. Ada hal-hal yang perlu kau tahu tentang mendiang ayahmu."

 Guan Haoran berbalik, memberi isyarat kepada para muridnya untuk memberi jalan.

 Namun, langkahnya mendadak terhenti. Ia menoleh ke arah Zhao Yun. Seolah baru saja menyadari ada hawa keberadaan yang begitu asing dan dingin di dekatnya. Tapi...siapa orang ini?" tanya Guan Haoran dengan nada pelan, matanya menyipit penuh selidik.

 Su Ying maju selangkah, mencoba memecah ketegangan. "Paman, dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawaku, bolehkah dia ikut bersama kami?"

 "Pahlawan?" ucap Guan Haoran pelan. Ia menatap Zhao Yun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meskipun Zhao Yun tampak tenang, Guan Haoran bisa merasakan tenaga dalam yang tak biasa. "Tentu saja. Di dunia ini, kebaikan adalah hutang budi yang paling berat untuk di balas. Silahkan, pendekar."

 Zhao Yun tidak membalas penghormatan itu. Ia tidak menjura, tidak pula mengangguk. Ia hanya melangkah maju, melewati barisan murid keluarga Guan yang menatapnya dengan perasaan campur aduk antara kagum dan benci pada keangkuhannya.

 Begitupula dengan Guan Xian. Raut wajahnya memancarkan kekesalan yang mendalam. Baginya, sikap Zhao Yun bukan sekedar tidak sopan, melainkan sebuah penghinaan yang disengaja. Namun, di balik kemarahannya, ada sesuatu yang lebih mengganggu: fakta bahwa pria ini sama sekali tidak peduli pada apapun yang dipikirkan orang lain tentangnya.

 Mereka berjalan menyusuri setapak yang melingkari tebing curam. Di bawah sana, kabut tipis tampak seperti lautan putih yang Tak bertepi. Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah gapura megah dengan lambang dua pedang yang menyilang. Itu adalah tanda perguruan ini.

 Begitu melewati gapura, suasana berubah. kediaman keluarga Guan terbentang luas, di kelilingi oleh suara dentingan logam yang saling beradu. Puluhan murid tampak sedang berlatih keahlian pedang. Gerakan mereka serempak, bertenaga dan penuh disiplin.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!