menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 : bangkit lah sentinel, penjaga abadi
Setelah melewati gerbang yang dijaga oleh Ourobort dan dua perajurit bayangan, Raja Xavier melangkah masuk ke dalam area halaman istana utama.
Napanya tercekat melihat pemandangan di hadapannya.
Ini bukan sekadar halaman biasa. Luasnya bagaikan sebuah lapangan terbuka yang megah, dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam tinggi yang menjulang menembus langit malam. Di sini, keheningan terasa begitu pekat dan sakral.
Namun, yang membuat Xavier berhenti sejenak adalah pemandangan di sepanjang sisi jalan.
Berderet rapi dari gerbang masuk hingga ke tangga utama istana, berdiri ribuan sosok prajurit. Mereka berdiri tegak memegang senjata, namun tubuh mereka tampak seperti terbuat dari es atau batu yang membeku. Mata mereka kosong, dan napas mereka tidak terlihat. Mereka seolah-olah sedang... tertidur dalam keadaan berdiri.
Mereka adalah pasukan tidur abadi, kekuatan tersembunyi Elara yang hanya akan bangun jika dunia sedang dalam bahaya besar. Aura mereka kuat, namun saat ini mereka diam bagaikan patung.
"Menakjubkan..." bisik Xavier pelan, berjalan hati-hati di antara barisan prajurit tidur itu, takut jika suaranya terlalu keras bisa membangunkan mereka. "Jadi ini adalah kekuatan sesungguhnya yang dia simpan..."
Xavier terus melangkah maju. Tangga menuju pintu utama istana sudah di depan mata. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, dia akan sampai di tujuan.
⚠️ BUMMM!!! GEMURUH!!!
Tiba-tiba...
ROAAAAAAAAR!!!!
Suara auman yang begitu dahsyat dan memekakkan telinga mengguncang seluruh isi istana. Getarannya begitu kuat hingga membuat batu-batu di lantai bergetar dan debu berjatuhan dari langit-langit.
Xavier segera menutupi telinganya dan memantapkan kakinya agar tidak terjatuh.
Di atas menara tertinggi yang tadi terlihat kosong karena Sentinel sedang tidur... kini sosok raksasa itu bergerak!
KRAK... KRUK...
Suara patahan batu terdengar keras saat Naga Raksasa itu menggerakkan tubuhnya yang besar. Sisik-sisinya yang terbuat dari batu obsidian hitam bergesekan menciptakan percikan api.
Dengan gerakan lambat namun penuh wibawa yang mematikan, Sentinel mengangkat kepala besarnya. Matanya yang tadinya gelap pekat kini menyala merah menyala, sangat terang dan menakutkan.
WUSSSSHHH!!!
Sentinel mengepakkan sayap batu yang lebarnya meliputi hampir separuh istana. Angin kencang yang ditimbulkannya membuat jubah Xavier berkibar hebat, hampir membuatnya terlempar mundur.
Naga raksasa itu melingkar turun dari menara, tubuhnya yang panjang mengelilingi seluruh bangunan istana seperti ular dunia, hingga akhirnya kepala besarnya turun perlahan... dan berhenti tepat di hadapan Xavier.
Hidung besar Sentinel hanya berjarak beberapa meter dari wajah sang Raja. Aura yang dipancarkannya bukan sekadar kuat, tapi sangat kejam, dingin, dan mematikan. Ini adalah aura pembunuh sejati yang telah membunuh ribuan musuh sepanjang masa.
🐉 Si Penjaga Setia
Sentinel menatap Xavier dengan mata merah menyala itu. Tatapannya tajam, penuh kebencian dan kewaspadaan ekstrem. Mulutnya terbuka sedikit, memperlihatkan taring-taring tajam sebesar pedang raksasa, dan asap hitam panas mengepul keluar dari rongga hidungnya.
"MANUSIA BODOH!!!"
Suaranya bukan suara, melainkan gemuruh yang langsung terdengar di dalam kepala, berat dan mengintimidasi.
"BERANINYA KAU MELANGKAHKAN KAKI KOTORMU KE DALAM WILAYAH SUCI INI?! APA YANG KAU CARI?! APA KAU INGIN MATI SEKARANG JUGA?!"
Setiap kata yang diucapkan Sentinel membuat udara di sekitar Xavier terasa menekan, seolah-olah gravitasi berubah menjadi sepuluh kali lipat beratnya.
Sentinel adalah legenda hidup. Dia muncul saat Elara lahir, dan dia bersumpah akan menjadi tameng terkuat untuk melindungi tuannya dari segala bahaya. Baginya, siapa pun yang mendekati Elara selain dirinya dan pasukan setianya adalah MUSUH.
"AKU SENTINEL!!!" gertak naga itu, tubuhnya membesar seolah ingin menelan Xavier utuh-utuh. "PENJAGA YANG TIDAK PERNAH TIDUR! MATA YANG TIDAK PERNAH BERKEDIP! JELASKAN SEBELUM AKU HANCURKANMU JADI DEBU HALUS!"
Xavier berdiri tegak. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang wajar menghadapi monster sebesar itu, ia tidak mundur. Ia tidak menundukkan kepala karena takut, melainkan menatap mata merah besar itu dengan tenang.
"Aku tidak datang untuk menyakiti," ucap Xavier lantang, suaranya tetap tenang meski angin bertiup kencang. "Aku datang karena aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin melihatnya."
"BOHONG!!!" teriak Sentinel, asap hitam makin banyak keluar. "SEMUA ORANG YANG DATANG SELALU BERKATA DEMIKIAN! TAPI NYATANYA MEREKA INGIN MENGAMBIL KEKUATAN TUANKU! MEREKA INGIN MEMBUNUHNYA! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ORANG SEPERTIMU MENDEKATINYA!"
Sentinel mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, siap menyemburkan api hitam penghancur untuk melenyapkan Xavier dari permukaan bumi.
🛡️ Kekuatan Hati
"TUNGGU!" seru Xavier cepat.
Ia tidak mengeluarkan senjata. Ia justru membuka kedua tangannya lebar-lebar, menunjukkan ketulusannya.
"Aku tahu dia kesepian! Aku tahu dia terluka! Aku tahu dia memikul segalanya sendirian!" teriak Xavier menembus angin kencang. "Aku tidak menginginkan kristalnya! Aku tidak menginginkan kekayaannya! Aku hanya ingin menjadi teman bagi orang yang selama ini hanya dijauhi dan ditakuti!"
"Aku mencintainya, Sentinel! Aku mencintai Ratu Elara lebih dari apapun!"
Kalimat itu meledak keluar. Penuh keyakinan. Penuh cinta.
Sentinel yang siap menyerang tiba-tiba membeku.
Api hitam di mulutnya lenyap seketika. Matanya yang merah menyala sedikit berkedip. Aura kejam yang tadi menekan Xavier perlahan mulai mereda, digantikan oleh kebingungan.
Naga raksasa itu menundukkan wajahnya kembali, mendekati Xavier. Ia mengendus-endus aura sang Raja dengan sangat hati-hati. Ia mencari kebohongan, mencari keserakahan, mencari ketakutan...
Tapi yang ia temukan hanyalah cahaya yang murni, hangat, dan cinta yang begitu besar hingga mampu menembus dinginya kegelapan istana ini.
"Kau... benar-benar gila..." gumam Sentinel pelan, suaranya tidak lagi menggebu-gebu. "Tidak ada yang pernah berani bilang mencintai Tuanku dengan berani seperti itu... Semua orang gemetar ketakutan..."
Sentinel menghela napas panjang, angin panasnya menerbangkan rambut Xavier.
"Aku sudah melindunginya selama ribuan tahun dari pedang dan sihir... Tapi mungkin... kali ini dia butuh perlindungan yang berbeda. Mungkin dia butuh seseorang yang bisa menghangatkan hatinya yang beku."
Naga batu itu menatap Xavier lekat-lekat, seolah menilai keseriusan pria itu sampai ke dalam jiwa.
"Jika kau berbohong... jika kau menyakiti satu helai rambut pun darinya... Aku akan menghancurkanmu sampai ke kehidupanmu yang berikutnya. Mengerti?"
Xavier tersenyum lega dan mengangguk tegas. "Aku mengerti. Dan aku janji."
Akhirnya...
Sentinel perlahan menggerakkan tubuh besarnya ke samping, membuka jalan yang lebar menuju pintu utama istana yang megah dan terbuka lebar.
"Masuklah, Cahaya Kecil..." bisik Sentinel. "Dia ada di sana. Di singgasana hitamnya. Menunggumu..."
Bersambung...