evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evelyn sadar
Sore hari mulai menyelimuti mansion keluarga Alberto. Cahaya matahari yang sejak tadi terang perlahan berubah keemasan, masuk menembus tirai tipis kamar Evelyn dan menciptakan bayangan lembut di lantai marmer.
Di atas ranjang yang sederhana itu, jemari Evelyn bergerak pelan. Kelopak matanya perlahan terbuka.
Pandangan gadis itu tampak kosong beberapa detik, berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Kepalanya masih terasa berat, namun rasa pusingnya tidak separah sebelumnya.
Evelyn menatap langit-langit kamarnya cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke sekeliling.
Kamarnya. Ia langsung sadar dirinya pasti sempat pingsan. Tatapannya kemudian berpindah ke jam dinding di dekat meja baca. Pukul lima sore. Mata Evelyn sedikit melebar.
“sudah Jam lima…?” gumamnya pelan.
Ia langsung mencoba bangkit meski tubuhnya masih terasa lemas. Tangannya menopang kepala yang sedikit berdenyut.
“Aku pingsan selama itu?” bisiknya panik kecil.
Lalu sebuah nama langsung muncul di pikirannya. Cristian.
“Astaga… bagaimana dengan Cristian?”
Evelyn segera menurunkan kaki dari ranjang. Tubuhnya masih lemah hingga langkahnya sedikit goyah, namun ia tetap memaksa berjalan menuju pintu kamar. Tangannya memegang gagang pintu lalu membukanya perlahan. Dan di saat yang sama—
Kelly datang dari arah lorong membawa nampan kecil berisi obat dan segelas air hangat.
“Nona Evelyn!”
Wajah Kelly langsung berubah lega melihat Evelyn sudah sadar. “Syukurlah Anda sudah siuman,” katanya cepat sambil mendekat.
Evelyn mengangguk pelan. “Aku tidak apa-apa,” ucapnya lirih meski wajahnya masih pucat.
Kelly langsung memperhatikan kondisi nona mudanya dengan khawatir. “Nona seharusnya masih istirahat. Kenapa malah keluar kamar?”
Namun Evelyn justru melihat ke sekitar lorong, seolah mencari seseorang. “Cristian Ada di mana?”
Kelly sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Tuan Cristian?”
“Iya,” jawab Evelyn cepat. “Dia tadi yang membawaku pulang bukan?”
Kelly mengangguk. “Benar.”
“Apa Dia masih di rumah ini?”
“Masih, Nona.”
Entah kenapa, Evelyn terlihat sedikit lega mendengar jawaban itu. Jemarinya yang tadi mencengkeram pintu perlahan mengendur.
Kelly menyadari perubahan kecil di wajah Evelyn dan langsung menatapnya curiga samar. “Nona… jangan bilang Anda mengkhawatirkan Tuan Cristian?”
Evelyn langsung tersadar lalu memalingkan wajahnya cepat.
“B-bukan begitu,” bantahnya pelan. “Aku hanya tidak enak karena merepotkannya.”
Namun wajahnya yang tampak gugup membuat alasan itu terdengar kurang meyakinkan. Evelyn kembali masuk ke dalam kamar setelah memastikan dirinya mampu berdiri dengan baik. Langkahnya pelan menuju ranjang sebelum akhirnya duduk di tepi kasur lembut itu.
Kelly ikut masuk sambil membawa nampan kecil.
“Minum obatnya dulu, Nona,” ucapnya lembut.
Evelyn mengangguk patuh. Ia mengambil obat dan segelas air hangat lalu meminumnya perlahan. Wajahnya masih pucat, namun setidaknya kesadarannya sudah kembali penuh.
Kelly berdiri di dekat ranjang sambil memperhatikan kondisi Evelyn dengan cemas.
Beberapa detik kamar itu hening. Sampai akhirnya Evelyn membuka suara pelan, “Kelly… Cristian tidak berbuat hal yang mencurigakan, kan?”
Kelly tampak bingung mendengar pertanyaan itu. “Mencurigakan bagaimana, Nona?”
Evelyn sedikit menunduk, seolah berpikir bagaimana menjelaskan kegelisahannya. “Entahlah… sesuatu yang aneh mungkin.”
Kelly mengingat-ingat sebentar lalu menggeleng. “Sepertinya normal-normal saja,” jawabnya jujur. “Anak-anak di dapur bilang dia bahkan sempat membantu Pak Marno di taman dan makan di dapur bersama para pelayan.”
Evelyn langsung menghembuskan napas lega tanpa sadar. “Syukurlah…”
Kelly semakin heran melihat reaksi nona mudanya. Biasanya Evelyn tidak pernah terlalu memperhatikan orang baru di rumah ini, apalagi seorang sopir. Namun sekarang justru terlihat sangat peduli pada gerak-gerik Cristian.
Sementara itu, Evelyn menundukkan pandangannya ke selimut yang menutupi kakinya. Pikirannya terasa kacau. Ia sangat khawatir Cristian mulai melakukan sesuatu yang buruk tanpa sepengetahuannya. Karena seharusnya…
Cristian bukan menjadi sopirnya. Di kehidupan sebelumnya, pria itu ditakdirkan bekerja untuk Lauren. Dan dari situlah semua tragedi dimulai. Evelyn masih mengingat dengan jelas bagaimana Cristian perlahan menghancurkan keluarga Alberto dari dalam. Dendamnya pada Alberto berubah menjadi bencana besar yang menyeret semua orang.
Namun sekarang takdirnya berubah. Cristian justru datang menjadi sopir pribadinya. Perubahan kecil seperti ini seharusnya tidak terjadi. Dan jika alur hidup mulai berubah…
Bukankah jalan ceritanya juga akan berubah?
Jemari Evelyn perlahan mencengkeram selimut di pangkuannya. Ia tidak tahu apakah perubahan ini akan membawa keselamatan…Atau justru kehancuran yang lebih cepat.
“Apa perlu saya telepon Tuan Cristian agar datang ke sini?”. Kelly bertanya hati-hati saat melihat Evelyn terus terlihat gelisah sejak tadi.
Evelyn yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang langsung mengangkat wajah. “Kamu punya nomornya?”
“Tentu.” Kelly mengangguk kecil. “Dia sempat berpesan, kalau Nona membutuhkan sesuatu bisa memanggilnya kapan saja.”
Evelyn terdiam sejenak. Tatapannya turun, pikirannya kembali dipenuhi kegelisahan. Kalau Cristian berada jauh darinya, ia tidak akan tahu pria itu sedang melakukan apa. Akan lebih aman jika Cristian tetap berada dalam pengawasannya. Setidaknya… ia bisa mencegah sesuatu sebelum terlambat.
“Baik,” ucap Evelyn akhirnya. “Suruh dia datang.”
Kelly segera mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Cristian.
Tak butuh waktu lama. Hanya sekitar lima menit kemudian, terdengar ketukan pelan dari luar kamar.
Tok tok tok.
“Nona, ini Cristian.”
Suara pria itu terdengar jelas dari balik pintu. Saat itu Evelyn baru saja berdiri dari ranjang, dibantu Kelly menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan setelah tidur berjam-jam.
“Diam di sana,” ucap Evelyn dari dalam kamar. “Tunggu aku sampai keluar.”
“Baik, Nona.” Cristian langsung berdiri tenang di depan pintu tanpa banyak tanya.
Kelly membantu Evelyn berjalan perlahan menuju kamar mandi. Tubuh gadis itu masih sedikit lemas, meski demamnya mulai turun.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Evelyn menatap bayangannya sendiri di cermin. Wajahnya masih pucat. Namun yang lebih membuatnya lelah adalah pikirannya sendiri.Ia belum benar-benar percaya pada Cristian.
Di kehidupan sebelumnya, pria itu adalah awal dari kehancuran keluarga Alberto. Meski sekarang Evelyn jauh lebih kuat, namun rasa takut masih saja mengganggu pikirannya. Takut pria itu melakukan sesuatu yang tak bisa dihentikan. Air hangat mulai mengalir memenuhi bathtub sementara Kelly membantu menyiapkan pakaian bersih.
Di sisi lain, Cristian masih berdiri di depan kamar dengan tangan di saku celana. Beberapa pelayan yang lewat sesekali melirik penasaran padanya.
Namun pikiran Cristian saat ini justru tertuju pada satu hal— Kenapa Evelyn memanggilnya secepat itu? Dan kenapa sejak awal, gadis itu seperti selalu memperhatikannya?