NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19. aku ini laki-laki normal.

"Aku ini laki-laki normal, Maya. Ingat, kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah calon suami kamu. Dan aku bisa saja bersikap seperti seorang suami jika aku mau, termasuk mencium mu seperti tadi."

Mata mereka saling menatap lama, dan Maya tidak tahan hingga akhirnya ia memilih untuk memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Maya melepas kontak mata dengan Chris dan menarik tangannya yang digenggam erat oleh lelaki itu.

"Terserah!"

"Ingat. Kalau sampai mobil ini jalan, lo bakalan berurusan sama gue. Gue udah catet nomor mobil taksi ini! Gue bakal cari lo dan bunuh lo, kalo sampai lo nggak denger omongan gue!" ancam Chris kepada si supir.

"I- iya, Mas."

Chris kembali menatap Maya sebentar, tapi kali ini lebih memilih diam sebelum berbalik dan berjalan cepat kembali ke warung. Ia masih sempat berteriak pada ibu penjual, “Bu, bungkus aja makanannya! Yang dua tadi!”

Sementara Maya di dalam taksi duduk membeku, jantungnya berdebar keras antara kesal, takut, dan bingung. Sopir muda itu hanya bisa melirik ke arah spion tengah, dan hanya bisa menunggu.

Maya melihat dari kaca spion. Chris berkata sesuatu kepada si pemilik warung makan sederhana itu, lalu sebuah bungkusan makanan diserahkan kepada Chris. Dan pria itu kembali berjalan ke arah mobil.

"Geser, May!" pinta Chris.

Maya bergeming dan masih tidak mau pindah.

"Oke, aku udah kasih peringatan sama kamu."

Chris kemudian memaksa masuk ke mobil, dan saat itu juga Maya langsung menggeser posisi tempat duduknya. "Ish! Tu- tunggu sebentar.."

"Jalan!" Chris memberikan perintahnya.

"Mau diantar ke mana, Mas?" tanya supir taksi itu agak takut kepada Chris.

"Jalan melati, kraton barat," jawab Chris singkat.

"Ehm.. jalan melati kan luas, Mas."

Chris menatap supir muda itu yang ia anggap sangat cerewet dengan wajah kesal. "Perumahan Indah Tegallega."

"Oh itu. Siap, Mas." Si supir sempat tertawa, kemudian terdiam karena suasana yang terlihat tegang atas keterdiaman dua penumpang yang menurutnya aneh itu.

Suasana di dalam taksi mendadak senyap. Tak ada suara selain deru pendingin udara yang nyaris tak terdengar. Maya bersandar lemah di jok, matanya menatap kosong ke depan. Bagi Maya sendiri, suasana yang tiba-tiba hening menjadi situasi yang paling ia benci. Ya, Maya benci itu. Bisa jadi itu karena selama ini Maya memang tidak pernah berkonflik dengan orang lain.

Hening seperti ini biasanya menenangkan baginya, Maya memang bukan tipe yang suka keramaian atau terlalu banyak bicara. Ia lebih suka menyendiri, menyibukkan diri dengan buku atau pikirannya sendiri, dan mencoba membatasi diri dalam bersosialisasi. Ia merasa nyaman dengan sedikit sahabat di sampingnya. Sedikit, tetapi selalu ada ketika Maya membutuhkannya.

Namun entah kenapa, keheningan kali ini terasa sesak. Seolah-olah suara hatinya sendiri terlalu gaduh untuk diabaikan. Wajah Chris terus terbayang, sorot matanya saat menahannya naik taksi, nada suaranya yang penuh emosi, dan ancamannya pada si sopir.

Maya menghela napas panjang. Kenapa aku jadi kayak gini? pikirnya. Bersama Chris, semuanya berbeda. Emosinya jadi gampang meledak, pertahanan dirinya seolah tak berfungsi, dan... diam-diam, ia membenci betapa Chris bisa mengacak-acak ketenangannya.

Sejak kedatangan Chris, semuanya menjadi berubah. Chris yang notabene adalah senior Teguh, sepupunya. Tidak sengaja bermain ke rumah Maya saat Teguh tinggal di sana untuk sementara waktu. Sejak itulah, Chris mulai mendekatinya dan sekarang adalah puncaknya.

Maya mencuri pandang ke arah Chris. Laki-laki itu terus menginstruksikan alamat rumah Maya dengan raut wajah memerah kesal, karena sang supir terlihat begitu bolot untuknya.

"Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga, Mas," ucap sang supir muda itu bahagia.

Chris mendengus, lalu segera membuka pintu saat mobil telah berhenti di depan sebuah rumah berpagar besi berwarna hitam. Chris membuka pintu mobil untuk Maya. Namun gadis itu tidak mau keluar.

Maya tetap duduk diam, tubuhnya menegang, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Ia hanya menatap rumahnya dengan tatapan penuh cemas.

"Katanya mau pulang. Sekarang kamu sudah sampai rumah."

“Aku nggak bisa,” bisik Maya.

Chris membungkuk sedikit, menatapnya dari luar. “Kenapa?”

Maya menggigit bibir bawahnya. Lalu mengangkat wajahnya menatap Chris cemas. “Kalau kak Lia tahu aku nggak pulang semalam dan menginap di rumah cowok, dia bisa ngamuk. Dia bisa-bisa ngusir aku dari rumah. Gimana, nih?"

Chris tersenyum. "Kalau kamu diusir, gampang. Tinggal sama aku aja. Aku akan dengan senang hati menerima mu," ujarnya sambil mencoba melontarkan candaan tipis, berharap bisa meredakan ketegangan.

Maya kembali merasa kesal. Ini semua ulah Chris!

"Ish! Aku nggak bercanda! Kamu harusnya tanggung jawab!!" Maya sekali lagi memberikan pukulan nya kepada Chris.

Chris menarik napas panjang, lalu mengusap pelan rambutnya yang acak-acakan. “Iya.. iya.. bercanda Honey. Kita bisa jelasin, aku yang akan tanggung jawab.”

Maya hanya meliriknya sejenak, lalu menunduk. Tidak menjawab.

Chris mengembuskan napas panjang, lalu berkata lebih lembut, “Aku bakal temenin kamu masuk. Kalau kakak kamu marah, aku yang jelasin."

Dan untuk beberapa detik, Maya terlihat bimbang… tapi matanya tetap menatap lurus ke arah pintu rumah yang terasa begitu jauh dan menakutkan.

"Kalau kamu belum siap masuk, kita kembali ke kosan ku saja. Bagaimana?" ujar Chris kembali menggoda Maya.

"Ish! Nggak mau!"

Saat mereka masih bersitegang di depan pagar rumah Maya, suara langkah cepat terdengar dari arah teras. Chris dan Maya sama-sama menoleh, dan seketika tubuh Maya menegang saat melihat sosok kakak perempuannya muncul di ambang pintu, masih mengenakan baju tidur dengan wajah penuh amarah dan kantung mata yang menunjukkan kurang tidur.

"Kak Lia..." gumam Maya lirih.

Lia melangkah cepat menuruni anak tangga, sorot matanya langsung tertuju pada Maya, lalu pada Chris yang berdiri kaku di sebelah adiknya.

“Kamu ke mana aja semalam, Maya?” Suaranya datar, tapi dingin seperti angin dini hari yang menusuk kulit. “Nggak bisa kasih kabar? Apa sekarang kamu udah nggak punya keluarga jadi nggak perlu izin segala?”

Maya menelan ludah, bibirnya bergetar. Chris refleks berdiri di depan Maya, berniat melindungi, tapi Lia langsung mengangkat tangannya.

“Kamu minggir dulu. Saya ngomong sama adik saya, bukan sama kamu,” katanya tajam, menatap Chris dengan penuh kecurigaan.

Chris menatap Maya sebentar, seolah meminta izin, tapi Maya hanya menunduk. Tak berani berkata apa pun.

"Kenapa baru pulang? Ngapain aja kamu sampai pulang pagi di antar cowok?!"

“Saya yang bawa Maya. Dia... dia nginep di kosan saya. Tapi nggak seperti yang Mbak pikir. Kami nggak ngapa-ngapain,” ujar Chris akhirnya, berusaha terdengar tenang.

Lia hanya menatapnya dengan sorot dingin sebelum beralih lagi pada adiknya. “Masuk. Sekarang.”

"Tapi.." Maya masih saja memandangi Chris.

"Masuk!"

Dan kali ini, Maya tak punya pilihan selain menurut. Ia berjalan perlahan melewati gerbang, sementara Chris masih berdiri di luar, hanya bisa menatap punggung Maya yang terasa semakin jauh darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!