NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Malam itu terasa lebih tenang dari biasanya. Setelah menunggu cukup lama, Kirana akhirnya terlelap di tempat tidurnya, memeluk dua anak kucing kesayangannya, Yeti dan Loly. Napasnya teratur, wajah kecilnya terlihat damai, seolah dunia tak pernah menyentuhnya dengan masalah.

Erlan berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan setiap kali melihat putrinya tertidur. Perlahan ia mendekat, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kirana, lalu mengecup keningnya dengan lembut.

“Tidurlah yang nyenyak,” gumamnya pelan.

Setelah memastikan Kirana benar-benar terlelap, Erlan bangkit dan keluar dari kamar. Ia menutup pintu perlahan, seolah takut suara kecil saja bisa membangunkan anak itu.

Di kamar sebelah, lampu masih menyala.

Linda terlihat sibuk merapikan pakaian. Beberapa baju dilipat dengan rapi, lalu dimasukkan ke dalam lemari yang kini menjadi milik mereka berdua. Sebuah kenyataan yang masih terasa baru—mereka sekarang resmi sebagai suami istri.

Walaupun sebenarnya, berbagi kamar bukan hal asing bagi mereka. Bahkan berbagi ranjang pun sudah pernah terjadi jauh sebelum status itu berubah. Namun tetap saja, ada perasaan berbeda yang sulit dijelaskan.

Erlan masuk ke dalam kamar tanpa suara. Ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan Linda yang masih fokus dengan pekerjaannya.

Linda menoleh, sedikit terkejut.

“Kirana sudah tidur?” tanyanya.

Erlan mengangguk pelan.

“Baru saja. Sepertinya kelelahan setelah bermain dengan kucingnya.”

Linda tersenyum kecil, lalu kembali melipat pakaian.

“Dia memang tidak pernah kehabisan energi kalau sudah bersama kucing.”

Ucapan itu seolah memancing kenangan lama.

Linda berhenti sejenak, tangannya menggenggam sehelai pakaian tanpa melanjutkan lipatan.

“Aku jadi ingat waktu dia masih dua tahun,” katanya pelan.

Erlan meliriknya, tertarik.

“Apa yang terjadi?”

Linda menghela napas ringan, lalu tersenyum tipis, campuran antara lucu dan khawatir.

“Dia dulu juga sangat suka kucing. Setiap lihat kucing tetangga di rumah susun, pasti langsung dikejar.”

Erlan terkekeh kecil.

“Kedengarannya seperti dia.”

“Iya,” jawab Linda. “Tapi waktu itu… dia belum mengerti bagaimana memperlakukan kucing.”

Ia berhenti sejenak, seolah memastikan ingatannya masih jelas.

“Suatu hari, dia memeluk kucing itu terlalu kencang. Kucingnya merasa terganggu… dan akhirnya mencakar lengannya.”

Erlan mengernyit.

“Luka?”

“Lumayan,” jawab Linda. “Tidak dalam, tapi cukup membuatnya menangis keras.”

Suasana menjadi sedikit hening.

Linda melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Aku bingung waktu itu. Bagaimana menjelaskan pada anak dua tahun tentang cara memperlakukan makhluk lain dengan baik?”

Erlan menatapnya tanpa berkata-kata.

“Akhirnya,” lanjut Linda, “setiap kali dia dekat dengan kucing, aku selalu mengawasinya. Tidak pernah berani melepasnya sendirian.”

Erlan tersenyum tipis.

“Sekarang dia malah seperti ahli kucing kecil.”

Linda tertawa pelan.

“Mungkin karena dia belajar dari pengalaman.”

Erlan menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, masih memandang Linda.

“Aku masih heran,” katanya kemudian, “bagaimana dia bisa seaktif itu.”

Linda menoleh, matanya sedikit menyipit, seolah sudah menebak arah pembicaraan.

“Kenapa? Kamu merasa tidak seperti itu?”

Erlan mengangkat bahu.

“Aku tidak ingat pernah seaktif itu.”

Linda tersenyum, kali ini lebih lebar.

“Itu karena kamu menahan diri.”

Erlan terdiam.

“Kamu punya rasa ingin tahu yang besar,” lanjut Linda. “Tapi kamu tidak menunjukkannya.”

Erlan menunduk sedikit, seolah mengingat sesuatu yang lama ia simpan.

“Orang tuaku tidak suka aku terlalu banyak bertanya,” katanya pelan. “Katanya merepotkan.”

Linda menatapnya dengan lembut.

“Padahal justru itu yang membuatmu berbeda.”

Erlan tidak langsung menjawab.

Linda melanjutkan, suaranya kini lebih ringan.

“Itu juga yang membuatmu mendekatiku dulu.”

Erlan mengangkat alis.

“Benarkah?”

Linda tertawa kecil.

“Kamu lupa?”

Ia menutup lemari, lalu berbalik menghadap Erlan sepenuhnya.

“Kamu bertanya ke banyak junior di kampus… hanya untuk mencari tahu tentang aku.”

Erlan tersenyum samar.

“Aku hanya memastikan.”

“Memastikan apa?” tanya Linda, sedikit menggoda.

“Memastikan aku tidak salah memilih orang,” jawab Erlan tenang.

Linda menggeleng pelan, senyum masih tergambar di wajahnya.

“Kamu bahkan menawarkan sesuatu yang aneh saat pertama kali bicara serius denganku.”

Erlan tampak tidak menyangkal.

“Aku ingat.”

“Kamu menawariku jadi pembantu di apartemenmu,” kata Linda, menahan tawa. “Sebagai gantinya, aku dapat tempat tinggal dan uang bulanan.”

Erlan menatapnya datar.

“Itu solusi yang logis saat itu.”

“Logis menurutmu,” sahut Linda cepat. “Tidak menurutku.”

“Lalu kenapa kamu menerimanya?” tanya Erlan.

Linda terdiam sejenak. Senyumnya perlahan memudar, digantikan ekspresi yang lebih jujur.

“Aku tidak punya pilihan lain,” jawabnya pelan.

Erlan memperhatikan wajahnya dengan serius.

“Aku diusir dari kost,” lanjut Linda. “Dipecat dari toko tempatku bekerja… dan tidak punya siapa-siapa.”

Ruangan terasa lebih sunyi.

“Kesempatan itu… meskipun aneh, tetap lebih baik daripada tidak punya tempat tinggal,” tambahnya.

Erlan menarik napas perlahan.

“Dan kamu tidak takut?”

Linda tersenyum tipis.

“Tentu saja takut.”

Ia menatap Erlan lurus-lurus.

“Tinggal berdua dengan seorang pria… yang juga senior di kampus.”

Erlan terkekeh kecil.

“Aku tidak terlihat berbahaya.”

“Kamu terlihat dingin,” koreksi Linda.

Erlan tidak membantah.

Linda melanjutkan, nada suaranya kini lebih hangat.

“Tapi seiring waktu… aku mulai mengenalmu.”

Erlan menatapnya tanpa berkedip.

“Kamu memang dingin di luar,” kata Linda, “tapi sebenarnya tidak seburuk itu.”

“Tidak seburuk itu?” ulang Erlan, sedikit mengangkat alis.

Linda tersenyum.

“Bahkan… cukup menyenangkan.”

Erlan tertawa pelan.

“Hidupku waktu itu sangat membosankan,” katanya kemudian. “Semua terasa datar.”

Ia menatap Linda dengan lebih dalam.

“Lalu kamu datang… dan mengubahnya.”

Linda sedikit menunduk, menahan perasaan yang tiba-tiba muncul.

“Aku hanya mencoba bertahan hidup,” katanya pelan.

“Tapi kamu melakukan lebih dari itu,” balas Erlan.

Hening sejenak.

Erlan kemudian bertanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.

“Kenapa kamu menerima cintaku?”

Linda tidak langsung menjawab.

Ia menarik napas pelan, lalu tersenyum tipis.

“Awalnya?”

Erlan mengangguk.

“Aku takut diusir kalau menolak,” jawab Linda jujur.

Erlan menatapnya tanpa ekspresi selama beberapa detik… lalu menghela napas pendek.

“Jujur sekali,” katanya.

Linda tertawa kecil.

“Kamu yang tanya.”

“Tapi itu hanya awalnya,” lanjut Linda, suaranya berubah lebih hangat. “Seiring waktu… aku mulai melihat sisi lain darimu.”

Erlan diam, mendengarkan.

“Kamu berubah,” kata Linda. “Dari seseorang yang dingin… menjadi seseorang yang hangat.”

Erlan menatapnya, sedikit terkejut.

“Aku merasakan perhatianmu,” lanjut Linda. “Dan tanpa sadar… aku mulai menyukaimu.”

Suasana menjadi lebih tenang, lebih dalam.

“Lalu… perasaan itu berubah menjadi cinta,” tambahnya pelan.

Erlan tersenyum tipis.

“Tapi,” lanjut Linda tiba-tiba, membuat Erlan sedikit mengernyit, “ada satu hal yang membuatku kesal.”

Erlan mengangkat alis.

“Apa itu?”

Linda menatapnya tajam, meskipun masih ada senyum di sudut bibirnya.

“Kamu tidak pernah menahan diri.”

Erlan tampak tidak sepenuhnya mengerti.

“Maksudmu?”

“Kamu terlalu cepat mendekat,” jawab Linda. “Terlalu percaya diri… terlalu berani.”

Erlan langsung membela diri.

“Kamu tidak menolak.”

Linda terdiam.

Itu benar.

“Aku…” Linda menunduk, wajahnya sedikit memerah. “Aku juga terbawa suasana.”

Erlan menatapnya dengan tatapan lembut.

“Kamu merayuku,” lanjut Linda pelan. “Dan aku… tidak melawan.”

Erlan tersenyum kecil, kali ini tanpa nada menggoda.

“Aku hanya mengikuti perasaan,” katanya.

Linda mengangkat wajahnya, menatap Erlan.

“Aku juga.”

Hening kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini terasa hangat.

“Aku menyerahkan semuanya padamu,” lanjut Linda dengan suara lirih. “Karena aku percaya.”

Erlan tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengulurkan tangan, menggenggam tangan Linda dengan lembut.

Genggaman itu sederhana, tapi penuh makna.

Tidak ada lagi keraguan di antara mereka.

Di luar, malam terus berjalan. Angin berhembus pelan, membawa ketenangan yang jarang mereka rasakan.

Dan di dalam kamar itu, dua orang yang dulunya asing kini duduk berdampingan, berbagi cerita, kenangan, dan perasaan yang telah tumbuh perlahan.

Sebuah perjalanan yang tidak sempurna.

Namun cukup untuk membuat mereka bertahan.

Bersama.

1
Lisa
👍 Sukses y utk perusahaaan barunya Erlan..dengan direktur² yg dpt dipercaya pasti usahanya makin maju 👍
Lisa: Wah jgn sampai deh..
total 2 replies
Lisa
👍👍 Salut sama Erlan..setelah melewati berbagai tekanan akhirnya dia dpt mendirikan perusahaannya sendiri..moga makin sukses & bahagia y utk Erlan sekeluarga
onimaru rascall: ya dan punya cukup uang untuk membeli donat untuk Kirana
total 1 replies
Nessa
papa erlan cosplay jadi nyamuk wkwk🤣
onimaru rascall: di pukul boleh 🤔🤔🤔
total 1 replies
Nessa
🥰🥰🥰🥰
onimaru rascall: asisten tersiksa
total 1 replies
Nessa
cieeee papa dan mama kirana nostalgia 🤭😁
onimaru rascall: nostalgia yang tidak baik
total 1 replies
Nessa
kirana anak yang sangat aktif, gemesnaaa 🥰🥰
onimaru rascall: gemesan author 😭😭😭
total 1 replies
Nessa
🥰🥰🥰🥰
onimaru rascall: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Lisa
Semangat y utk Erlan dkk utk perusahaan barunya..
onimaru rascall: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Lisa
Kita tunggu kelanjutan ceritanya y Kak
Lisa: Oke Kak 👍👍
total 2 replies
Lisa
Kirana bahagia banget punya teman baru makanya g terasa ngantuk
onimaru rascall: anak-anak memang gitu dapat mainan baru lupa tidur
total 1 replies
Lisa
Wah kucingnya mahal bangettt..
onimaru rascall: Untung bapaknya mampu
total 1 replies
Lisa
Happy wedding y Linda & Erlan..bahagia & langgeng yaa..🙏
Lisa
Semangat y utk nikahannya Linda & Erlan..acaranya berjln lancar..
onimaru rascall: amin... semoga di jauhkan dari mertua kejam
total 1 replies
Lisa
👍 benar Linda..kmu harus tegas terhadap ayahnya Erlan..
onimaru rascall: 👍👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Lisa
Erlan benar² berani..dia melepaskan jabatan di perusahaan ayahnya..
onimaru rascall: ya sebagai putra tertua pasti banyak tekanannya
total 1 replies
Lisa
Senang banget baca ceritanya
onimaru rascall: makasih kak dukungannya
total 1 replies
Lisa
Kirana lucu banget..makin bahagia karena ayahnya selalu di dekatnya.
onimaru rascall: nanti juga rebutan ama mamanya
total 1 replies
Lisa
Linda keliatannya ingin membuka usaha juga di rmhnya
onimaru rascall: 🤔🤔🤔 kayaknya menarik
total 1 replies
Lisa
Puji Tuhan..Linda mau menikah dgn Erlan..
onimaru rascall: semoga langgeng 👍👍👍👍
total 1 replies
Lisa
Good job Erlan..Linda mulai membuka hatinya utk Erlan..
onimaru rascall: biasa rayuan laki-laki selalu efektif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!