NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling menggagumi

 Bola mata keduanya melebar, kala saling memandang dalam kekaguman satu sama lain.

 "Ternyata Abi benar-benar pria yang aku impikan." Bathin Hanum saat menatap Abi, dalam posisi tubuh berada di atas Abi.

  "Cantik sekali, aku rasa aku laki-laki yang paling beruntung karena memiliki nya." Bathin Abi yang masih menahan kedua tangan Hanum.

   Kemudian tawa kecil keluar dari bibir mereka, diikuti dengan senyum malu. Hanum kembali duduk membelakangi Abi, di tepi tempat tidurnya.

  "Jadi, sudah dimaafkan?" tanya Abi lagi, sambil merubah posisinya.

  Hanum hanya mengangguk, menyembunyikan wajahnya yang kini terasa hangat.

  Kemudian Abi memeluknya dari belakang, "makasih ya, sayang...." Ucap Abi dengan begitu jelas, di dekat telinga Hanum.

   Kini wajahnya bak kepiting rebus, mulutnya terkunci rapat, dan hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.

   Abi menghela napas lega, "kamu tahu, Num? Hati aku rasanya sakit....banget, pas tahu kamu lagi nangis. Jangan gitu lagi, ya? Kalau aku salah, kamu langsung tegur aja, bila perlu kamu marahi aku, tapi jangan nangis."

  "Kamu tahu, Bi? Sebenarnya aku marahnya sama diri aku sendiri, bukan sama kamu."

  "Kok bisa? Kan aku yang salah?"

  "Aku marah sama diri aku sendiri, karena aku nggak bisa menahan diri buat nggak percaya sama kamu."

  "Bukan nggak percaya, lebih tepatnya kamu cemburu." Kata Abi yang membuat Hanum menyingkirkan tangan yang sedang melingkar di tubuhnya itu.

 "Bukan cemburu, Abi.... Tapi kecewa, karena kamu nggak mau jujur sama aku. Kejujuran itu nyawa dari hubungan suami istri. Tanpa kejujuran, kamu bagai berlayar tanpa kompas, akan tersesat dalam kabut kebohongan."

  "Ih, kok ngeri juga ya, kedengarannya?" jawab Abi.

  "Makanya jawab jujur, ada perlu apa kamu sama Nesa, sampai balas-balasan chat segala?"

  "Sebenarnya, Nesa baru mulai kerja di kantor aku."

  "Satu tim?" tanya Hanum yang dijawab anggukan oleh Abi. "Oh, jadi bakal sering bareng?"

  Abi mengangguk lagi, kemudian ponselnya berdering.

  "Siapa yang telepon?" tanya Hanum, penasaran.

  Abi melihat layar ponselnya, "ibu." Katanya, lalu menggeser simbol hijau.

  "Kamu di mana, Bi?" tanya ibunya dari ujung telepon.

  "Masih di rumah Hanum, ibu."

  "Ibu cuma mau kasih tau kalau di rumah ada Nesa. Ibu bingung, soalnya dia nggak pulang-pulang. Sepertinya dia mau nunggu kamu pulang, Bi."

  Abi melirik wajah istrinya yang kini tampak berubah, "ya ibu cari alasan aja, mau ke rumah tetangga, atau belanja gitu, biar dia pulang." Saran Abi.

  "Iya, Bi. Ibu nggak kepikiran, ya udah, ibu tutup dulu ya." Kata bu Elis sebelum mengakhiri panggilan.

  Matanya menyipit saat menatap Abi, bibirnya tampak membentuk garis lurus yang tegang.

  Abi jadi bingung ingin menjelasakan.

  * *

  Sesuai saran Abi, bu Elis akan mencari alasan yang tepat untuk membuat Nesa pergi dari rumahnya.

  "Nesa, ibu baru ingat kalau ibu harus ke supermarket, ada banyak kebutuhan rumah yang hampir habis." Alasan bu Elis.

  "Lho, ibu sudah punya menantu masih repot-repot belanja sendiri?" tanya Nesa yang membuat bu Elis harus mencari alasan yang lain.

  "Hanum cukup sibuk dengan aktifitasnya, ibu nggak mau melimpahkan semua tugas rumah sama dia." Kata bu Elis yang dijawab anggukan kepala oleh Nesa.

    "Kalau begitu biar aku bantu ya, ibu?"

  "Nggak usah Nesa, nanti pulangnya kemalaman kamu kan ada suami yang harus diurus."

   Nesa tersenyum, "Abi belum cerita ya, bu?"

    Bu Elis menggelengkan kepalanya, "belum, cerita apa ya? Ibu nggak paham maksudnya."

  "Aku cerai sama Davin." Kata Nesa yang mengejutkan bu Elis.

  "Cerai? Memangnya kenapa, maksud ibu kenapa bisa cerai? Kan kalian baru berumah tangga?"

  Sejenak Nesa terdiam, menghela napas, lalu berkata... "Kita tidak memiliki kecocokan," katanya.

  "Tidak memiliki kecocokan, tapi menikah?"

  Nesa mengangguk, "aku mau menikah sama Davin karena paksaan ayah. Aku yakin, Abi menikah sama wanita itu pun—"

  "Hanum, namanya Hanum!" bu Elis menegaskan.

  "Iya, maaf aku lupa. Aku yakin Abi menikahi Hanum cuma buat pelarian, aku yakin Abi masih mau sama aku," kata Nesa yang membuat bu Elis mengkerutkan dahinya.

  "Nesa...."

  "Ibu, tolong bantu aku buat kembali sama Abi." Nesa memohon sambil mengenggam tangan bu Elis.

  "Nesa, pernikahan bukan buat mainan. Bukan hanya karena menyangkut tentang dua keluarga, tapi juga janji yang sudah kalian buat di hadapan Tuhan." Tutur bu Elis.

 "Aku tahu, ibu. Aku akui, aku buat kesalahan besar dengan menuruti apa kata ayah. Aku sangat mencintai Abi, dan juga ibu, ibu tahu itu kan?"

  "Iya, ibu tahu. Tapi kamu juga harus tahu, ibu tidak akan membantu kamu untuk kembali sama Abi. Abi sudah menikah, istrinya sangat baik, dan ibu merasa sangat yakin mereka bisa saling menjaga hubungan yang sudah mereka bina."

  "Lalu gimana sama aku, ibu? Aku tulus menyayangi Abi dan juga ibu. Aku masih menjaga kehormatanku demi anak ibu, aku sampai diusir dari rumah sama ayah, semua itu cuma demi Abi. Tolong beri aku kesempatan buat memperbaiki hubungan kita, ibu!" Kekeh Nesa yang langsung mendapat penolakan dari bu Elis.

  Bu Elis berdiri cepat dari duduknya, "tarik kembali kata-kata kamu! Sebab sebesar apapun keinginan kamu, ibu tidak akan menerimanya jika harus mengorbankan hubungan yang sudah ada!" tegas bu Elis.

* *

Setelah tahu bahwa Nesa sedang berada di rumah, Hanum tergesa-gesa mengajak Abi pulang.

"Ayah, ibu, kita pamit dulu ya, ada urusan penting!" Kata Hanum sambil mencium tangan ayah dan ibunya.

Mereka terlihat heran dengan sikap Hanum, tetapi Hanum tidak memberi mereka kesempatan untuk bertanya. Dia berjalan mendahului Abi, setelah menyambar kunci mobil Abi yang tergeletak di atas meja. Hanum seolah tidak ingin melewatkan waktu satu detikpun berada di sana, dia merasa harus tahu maksud dari kedatangan Nesa.

"Ada apa, Bi?" Tanya pak Haris, penasaran.

"Nggak tahu, ayah. Kita pulang dulu." Jawab Abi yang juga bingung dengan sikap Hanum.

"Ya sudah, kalau begitu sampai ketemu di pernikahan Nadia ya, Bi!" Kata pak Haris yang dijawab anggukan oleh Abi.

Hanum menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi yang membakar hatinya. Ia memutar kunci mobil dan menghidupkan mesinnya, kemudian masuk melalui pintu samping tanpa menunggu Abi yang membukakannya.

"Ayo, cepat!" Kata Hanum dengan suara tenang, yang membuat Abi semakin bingung.

Abi duduk, kemudian memandang Hanum dengan rasa curiga, tetapi Hanum hanya tersenyum tipis, "aku cuma mau cepat pulang." Imbuhnya.

Abi hanya mengangguk patuh, kemudian melajukan mobilnya pelan.

"Pelan banget, jalannya kayak siput." Gumam Hanum.

"Kamu kenapa sih?" tanya Abi, santai.

"Nggak apa-apa, biasa aja." Jawabnya, datar.

"Yakin?" tanya Abi dengan kalimat sedikit mengoda.

"Yakin!"

Abi mengukir senyum, kemudian memegang rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. "Kayaknya ada yang lagi cemburu," gumamnya pelan.

Hanum dapat menangkap lirihnya suara Abi, ujung matanya seketika mengarah ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Ia mencoba rapat-rapat menutupi perasaan yang bergolak di dalam hati.

Abi pun tampak memberi sedikit lirikan, yang membuat Hanum mengalihkan pandangannya, lalu keduanya kembali fokus pada jalan yang berada di depannya.

Hanum tahu, bahwa dia tidak bisa mengakui rasa cemburu itu, mungkin tidak sekarang!

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!