Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nadir
Tio berjalan.
Itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkan apa yang ia lakukan. Bukan berjalan dalam arti normal—karena berjalan normal membutuhkan dua kaki yang berfungsi. Ini lebih seperti merangkak sambil berdiri, melompat dengan satu kaki, jatuh, bangkit, jatuh lagi. Sebuah tarian putus asa antara hidup dan mati.
Tongkat bambu pemberian Pak Giman kini menjadi satu-satunya miliknya. Ransel? Hilang entah di mana saat ia lari dari makhluk-makhluk itu.
Pisau? Hilang. Air? Hilang. Makanan? Hilang. Hanya tongkat ini yang setia menemani, menancap di tanah setiap kali ia hampir jatuh, menopang berat badan yang semakin hari semakin ringan.
Perutnya keroncongan keras. Bukan sekadar lapar biasa—ini adalah rongga kosong yang mengirim sinyal darurat ke seluruh tubuh. Ulu hatinya sakit, seperti ada yang melilit, meremas, memelintir organ-organ di dalamnya. Rasa sakit itu membuatnya meringis setiap beberapa langkah.
Tubuhnya... Tio tidak perlu bercermin untuk tahu bagaimana penampilannya sekarang. Ia bisa merasakannya. Tulang-tulangnya terasa di bawah kulit—iga-iga yang menonjol, tulang belakang yang seperti deretan batu kecil, pinggul yang tajam.
Tangannya, jika ia memandangnya, hanya tinggal kulit pembungkus tulang. Kakinya—ia tidak mau memandangnya.
Tapi ia tetap berjalan. Atau mencoba berjalan. Karena berhenti berarti mati.
Hutan di sekitarnya semakin asing. Tio sudah lama kehilangan jejak sungai—saat ia hampir jatuh di jurang air terjun, ia mengambil langkah menjauh melipir punggungan tebong yang semakin menjauhi sungai.
Yang jelas, sekarang ia tidak punya sumber air. Bibirnya pecah-pecah, lidahnya terasa seperti amplas, tenggorokannya kering seperti gurun.
Ia mencoba mengunyah daun-daunan untuk melembapkan mulut. Beberapa jenis daun ia kunyah, rasanya pahit, getir, tapi setidaknya mengeluarkan sedikit air liur. Risiko keracunan? Ia tidak peduli lagi. Lebih baik mati keracunan daripada mati kehausan.
Kaki kanan—ia akhirnya memandangnya. Bengkak besar, sebesar dua kali lipat ukuran normal. Warna ungu kehitaman di beberapa bagian, merah membara di bagian lain.
Luka infeksi di pergelangan kaki mengeluarkan cairan kuning kehijauan yang berbau busuk. Bekas gigitan tikus itu menambah lubang menganga di jaringan yang membusuk.
Tio menangis. Bukan karena sakit—meskipun sakitnya luar biasa—tapi karena putus asa. Melihat kakinya seperti itu, ia tahu, dalam hati kecilnya, bahwa ini tidak akan sembuh.
Infeksi sudah terlalu parah. Bahkan jika ia selamat, mungkin kakinya harus diamputasi. Itu pun jika ia selamat.
Dan ia mulai ragu akan selamat.
Tio duduk di bawah pohon, bersandar, memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya yang kotor, meninggalkan jejak bersih di kulit berdebu.
Ia menghitung hari. Sepuluh hari sejak ia jatuh? Atau lebih? Ia tidak tahu pasti. Mungkin sudah 13 hari, mungkin 14. Yang ia tahu, ini hari yang sangat panjang. Terlalu panjang.
13 hari, pikirnya. 13 hari di hutan ini. Dengan luka, tanpa makanan, tanpa air, tanpa harapan.
Ia ingat cerita-cerita survival yang pernah ia baca. Rata-rata orang bisa bertahan 3 minggu tanpa makanan, 3 hari tanpa air. Ia sudah melewati batas air—ia minum terakhir kemarin pagi, air sisa di botol yang ia temukan di saku celana. Itu pun hanya beberapa teguk.
3 hari tanpa air. Aku sudah lewat 1 hari. Mungkin besok atau lusa, aku akan pingsan dan tidak bangun lagi.
Ia menangis lebih keras. Tangis orang yang sudah pasrah, yang sudah menerima bahwa mungkin ini akhirnya.
"Bu... maafin Tio..." bisiknya lirih. "Tio belum bisa pulang. Tio... Tio mungkin enggak akan pulang."
Di tempat yang jauh, ratusan kilometer dari tempat Tio terbaring, di Desa Clekatakan, suasana mulai berubah.
Pak Giman duduk di teras pos pendakian, memandangi buku tamu yang kumal. Matanya berhenti pada satu baris: Tio Wirawan, Jakarta, 5 hari. Itu sudah 8 hari yang lalu. Sudah lewat 3 hari dari batas waktu yang ia perkirakan.
Ia menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia melihat nama pendaki yang tidak kembali tepat waktu. Beberapa muncul beberapa hari kemudian, dengan alasan tersesat atau cuaca buruk. Beberapa tidak pernah muncul sama sekali.
Tapi ada yang berbeda kali ini. Ia ingat pemuda itu—matanya yang tajam, senyumnya yang meremehkan saat ia memberi nasihat. "Saya paham risikonya, Pak. Saya sudah siap."
"Le, gunung ki urip. Ojo sok ngremehne."
Pak Giman mengambil ponsel jadulnya, menekan nomor yang sudah hafal di luar kepala.
"Mas Darmo? Ini Giman. Iya, dari basecamp Gunung Malang. Ada pendaki yang belum turun, sudah lewat tiga hari dari jadwal. Namanya Arya Wirawan, dari Jakarta. Iya, solo. Iya, saya sudah ingatkan, tapi... iya. Tolong koordinasi dengan teman-teman, kita mulai rencana penyisiran besok."
Dua jam kemudian, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp komunitas pecinta alam daerah Pemalang dan sekitarnya.
"INFO PENCARIAN: Telah dilaporkan pendaki atas nama Tio Wirawan (28) yang melakukan pendakian solo via jalur Gunung Malang, Gunung Slamet. Yang bersangkutan dijadwalkan turun 5 hari kemudian, namun hingga hari ke-8 belum kembali. Rencana penyisiran akan dilakukan besok pagi pukul 07.00 dari basecamp Gunung Malang. Bagi yang ingin bergabung, silakan konfirmasi. Bawa perlengkapan pribadi dan logistik masing-masing. Info lebih lanjut hubungi Pak Giman atau Mas Darmo."
Pesan itu dibaca oleh puluhan orang. Beberapa langsung merespons siap bergabung. Beberapa hanya membaca, berdoa dalam hati untuk keselamatan pendaki yang hilang.
Di rumahnya yang sederhana di kaki Gunung Slamet, Mas Darmo—ketua komunitas pendaki lokal—mulai menyusun rencana. Peta jalur pendakian dibentangkan di meja. Spidol warna-warna untuk menandai area yang akan disisir. Radio komunikasi diisi ulang baterainya. Perlengkapan SAR darurat disiapkan.
"Ini jalur yang dia daftarkan," kata Darmo pada istrinya, menunjuk peta. "Naik via Gunung Malang, rencana ke puncak, turun via jalur yang sama. Tapi kalau dia tersesat, bisa ke mana saja. Medannya luas."
"Semoga cepat ketemu, Mas," jawab istrinya lirih. "Semoga masih selamat."
Darmo mengangguk, tapi dalam hatinya ia tahu—semakin lama waktu berlalu, semakin kecil kemungkinan selamat. Apalagi dengan perlengkapan seadanya untuk 5 hari, yang sekarang sudah hari ke-8.
Le, kowe neng endi? (Nak, kamu di mana?) batinnya.
Di hutan, di bawah pohon yang tidak bernama, Tio masih duduk bersandar. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanya kehampaan.
Ia mencoba berdiri lagi. Gagal. Jatuh. Mencoba lagi. Gagal. Ia merangkak, menggunakan tangan dan satu kaki kiri, mendorong tubuhnya yang ringan di atas tanah. Satu sentakan, dua sentakan, tiga sentakan.
Lima meter. Sepuluh meter. Ia berhenti, kelelahan.
Kenapa aku masih berusaha? pikirnya. Untuk apa?
Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang menjawab. Suara ibunya. Suara yang dulu selalu ia dengar saat kecil, saat jatuh dari sepeda, saat menangis karena mainan rusak.
"Ojo nyerah, Le. Mesti iso." (Jangan menyerah, Nak. Pasti bisa.)
Tio menangis lagi. Tapi kali ini, ia terus merangkak.
Matahari mulai turun. Sore menjelang malam. Tio belum menemukan air. Belum menemukan makanan. Tubuhnya sudah di batas akhir.
Ia berhenti di bawah pohon lain—ia tidak tahu pohon apa. Yang penting ada tempat bersandar. Ia duduk, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar pasrah.
Ya Allah, jika ini memang waktuku, aku pasrah. Tapi jika Engkau masih memberi kesempatan... tolong. Aku ingin pulang. Aku ingin bertemu ibuku. Aku ingin minta maaf.
Di langit, bintang-bintang mulai muncul. Malam ke-14? Tio tidak peduli lagi.
Ia tertidur dalam kelelahan. Atau pingsan? Tidak tahu. Yang jelas, ia tidak sadar.
Di basecamp Gunung Malang, para relawan berkumpul. Tenda Pos dipasang. Logistik disusun. Rencana penyisiran dibagi: tim A menyusuri jalur utama, tim B menyisir jalur alternatif, tim C bersiaga di posko.
"Kita mulai besok subuh," kata Darmo di depan para relawan. "Doakan semoga kita cepat menemukannya. Dan doakan semoga dia masih selamat."
Semua mengangguk. Dalam hati masing-masing, mereka berdoa.
Sementara itu, di kegelapan hutan, Tio terbaring tidak sadar. Bayangan-bayangan mulai muncul, seperti biasa, mengelilinginya, menonton. Tapi malam ini, ada yang berbeda.
Dari antara bayangan-bayangan itu, satu sosok melangkah maju. Sosok yang lebih terang, lebih nyata. Kakek tua dengan caping bambu.
Ia berlutut di samping Tio, meletakkan tangan di dahinya. Tangannya hangat—hangat yang berbeda dari dinginnya bayangan.
"Durung jamanmu, Le. Isih ono dalan sing kudu kelakon." (Belum waktunya, Nak. Masih ada jalan yang harus ditempuh.)
Tio mengerang dalam tidurnya.
Kakek itu tersenyum. Lalu perlahan, ia menghilang.
Di kejauhan, di arah yang sama dengan mimpinya, cahaya-cahaya kecil mulai berkelap-kelip. Lampu-lampu desa. Samar, tapi ada.
Tapi Tio tidak melihatnya. Ia masih pingsan. Masih berjuang antara hidup dan mati.
Malam itu panjang. Dan besok, pencarian akan dimulai.