Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rombongan mobil terus bergerak di tengah hujan. Edward dan anggota lain masih tertidur, sedangkan sopir fokus pada kendaraan dan situasi sekeliling.
Waktu terasa bergerak semakin cepat. Rombongan mobil mulai keluar dari kungkungan pepohonan, melaju di jalanan yang cukup lengang. Dari kejauhan terlihat gemerlap cahaya yang menunjukkan sebuah kota.
Rombongan mobil menepi di sebuah penginapan. Anggota lain mulai turun dari kendaraan di mana Edward adalah sosok terakhir yang keluar dari mobil.
Edward mengamati keadaan yang tampak sepi. Hanya beberapa kendaraan yang terparkir di dekat bangunan, dan hanya sedikit sekali mobil dan bus yang melintasi jalan.
Edward menoleh pada jam tangan sekilas. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, dan udara semakin dingin dari waktu ke waktu. Tercium aroma tanah dan masakan yang datang dari arah penginapan.
"Hanya ada delapan anggota yang ikut dalam rombongan ini dan empat orang anggota inti Osvaldo Tolliver yang menjadi pengawas." Edward mengikuti anggota yang berjalan menuju penginapan. "Sial! Kenapa aku harus terjebak dengan orang-orang sialan itu, terutama aku harus berada dalam jarak dekat bersama sampah bernama Greg itu."
Edward mengambil makanan, duduk cukup jauh dari anggota-anggota yang lain. Ia mendengkus kesal saat orang-orang itu meliriknya sambil tertawa-tawa. "Brengsek! Mereka pasti sedang membicarakanku."
Edward menikmati makanannya. Meski rasanya cukup hambar, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain sebab perutnya sangat lapar. Saat menoleh ke jendela, hujan kembali mengguyur deras, disusul oleh kilatan petir.
Edward menoleh pada empat anggota inti yang tengah berbincang di dekat pintu. Setelah membawa piring kotor ke wastafel, ia memilih pergi ke kamar untuk beristirahat.
Edward berbaring di ranjang, mengamati langit-langit ruangan sesaat. "Pekerjaanku hanya mencari beberapa batu di dalam gua. Pekerjaan yang sangat menyebalkan."
Edward tertidur tidak lama setelahnya. Tubuhnya berbalik beberapa kali. Di tengah hujan yang mengguyur deras, Greg dan yang lain sedang merencanakan sesuatu untuk mengerjainya.
Edward terbangun saat merasakan kesulitan bernapas. Begitu membuka mata sepenuhnya, ia melihat Greg dan yang lain sudah berada di kamarnya, memegangi tubuhnya.
"Dasar brengsek! Apa yang kalian lakukan?" Edward memberontak, menendang dan memukul orang-orang yang menahan tangan dan kakinya.
"Diamlah, sialan!" Greg memukul perut Edward dengan sangat kuat, kemudian menendang dengan bertubi-tubi. "Aku seharusnya melakukan hal ini padamu sejak lama. Kau harus tahu betapa kesalnya aku melihat wajahmu dan teman-temanmu selama ini!”
Edward terdorong hingga ambruk ke lantai, meringis kesakitan. Ia mundur beberapa langkah, menangkis serangan dari teman-teman Greg.
Greg tersenyum saat melihat pertarungan Edward dengan teman-temannya. Pria itu duduk di kursi, mulai menyalakan rokok, mengembuskan asap ke atas. "Lakukan dengan cepat. Aku ingin segera tidur dengan nyenyak ditemani dua wanita itu di kamarku."
"Bajingan!" Edward melompat sembari menendang wajah dua lawannya hingga terdorong mundur dan menubruk teman-temannya. Ia menendang dinding sembari melompat, melayangkan tendangan pada tiga orang yang akan maju.
Greg mendengkus kesal ketika melihat tiga temannya terbaring di lantai. "Aku sudah mengatakan lakukan dengan cepat. Kenapa kalian justru masih bermain-main?"
Edward mengeluarkan pisau dari balik punggung. Pria itu sontak terdiam saat teman-teman Greg mengarahkan pistol padanya.
"Apa maumu, bajingan?" tanya Edward sembari melihat keadaan. Ia bisa menghadiahi empat orang di depannya dengan pukulan dan tendangan, tetapi ia tidak akan lolos dari peluru-peluru mereka dengan mudah.
"Kau tentu sudah tahu jika aku tidak pernah menyukaimu dan orang-orangmu. Bagiku dan yang lain, kau dan mereka adalah benalu yang tidak pantas berada di pasukan Tuan Osvaldo." Greg berdiri dari kursi, melemparkan puntung rokok ke wajah Edward.
Edward segera menangkis rokok, menggertakkan gigi, mencari celah.
"Aku dan yang lain harus melewati masa-masa perjuangan sangat sulit hingga nyaris mengorbankan nyawa kami hanya agar bisa menjadi pasukan Tuan Osvaldo dan diikuti keberadaannya. Akan tetapi, kau dan orang-orangmu datang dengan mudah dan bersikap sombong pada kami."
Edward tersenyum. "Aku dan orang-orangku sangat berbeda dengan anggota rendahan seperti kalian. Kalian hanya budak dan kami adalah rekan Osvaldo Tolliver. Hal itu sudah menunjukkan ketidak setaraan kita."
Orang-orang di hadapan Edward tampak sangat jengkel, maju selangkah di mana pistol masih tertuju pada Edward.
Greg melayangkan tembakan pada Edward, tetapi Edward mampu menghindar ke samping. "Aku sengaja tidak menembakmu dengan tepat karena aku masih merasa kasihan padamu.”
"Apa kau berharap aku akan memohon ampun dan bersujud di depan kalian?" Edward tertawa. "Itu tidak akan mungkin. Kalaupun aku mati, teman-temanku akan mencari kalian dan menghabisi kalian."
Greg tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh teman-temannya. Ruangan seketika nyaring oleh tawa mereka. Edward seketika diam, mengepalkan tangan erat-erat.
Seorang anggota inti mengetuk pintu cukup keras. "Selesaikan masalah kalian dengan cepat! Kita masih memiliki pekerjaan siang nanti!"
Edward melirik sekilas. "Aku sudah menduga mereka sudah bekerja sama untuk menggangguku. Sialnya, aku tidak mungkin kabur dari tugas mengingat Edison, ayah, dan yang lain berada di kediaman Osvaldo Tolliver."
Edward menendang pistol di tangan salah satu lawan, menangkap pistol, berguling ke samping seraya menembakkan beberapa peluru. Beberapa lawan seketika terjatuh karena terkena tembakan. Saat akan menembak, Greg lebih dahulu menembak ke arahnya.
Edward berhasil menghindari tembakan dengan berguling ke ranjang. Ia berlari menuju balkon, tetapi ia dikejutkan dengan tembakan dari arah luar. "Sial!"
Edward ambruk di lantai untuk menghindari serangan. Ketika akan berdiri, sebuah tembakan mengenai betis kirinya. Ia sontak meringis kesakitan, berguling untuk menghindari serangan susulan.
"Hei, pelankan suara kalian! Kita tidak boleh membuat masalah di sini!" ujar anggota yang berada di luar. Ia kembali berbincang dengan teman-temannya.
Greg segera berlari menuju Edward, mendengkus kesal saat sebuah tembakan nyaris mengarah padanya. Ia melompat mundur ketika sebuah pisau melayang.
"Dasar brengsek!" Greg terkejut saat pisau mendarat di samping wajahnya.
Edward menembak seorang lawan yang berada di balkon hingga kaca jendela pecah. Ia menerobos masuk, menginjak lawan di lantai, lantas melompat ke bawah.
"Sial! Jangan biarkan sampah itu melarikan diri! Kita harus menghabisinya sekarang juga!" perintah Greg sembari berlari menuju balkon. Ia menembakkan peluru pada Edward yang berlari menuju mobil.
Greg melompat ke bawah, meringis saat kakinya terasa sakit. "Kejar dia!"
Rekan-rekan Greg segera berlari mengejar Edward, mundur saat tembakan berdatangan dari depan. Greg mendengkus kesal, melayangkan beberapa kali tembakan.
"Mereka tidak menyerah!" Edward berlari sembari menahan rasa sakit yang terus menjalar di betisnya. Ia beberapa kali nyaris terjatuh, melirik ke belakang sesaat. "Sialan! Mereka memang berniat menghabisiku, apalagi anggota inti sama sekali tidak memedulikanku sama sekali."
Edward terjatuh hingga ambruk di tanah, meringis kesakitan. Ia bergegas bangkit, setengah menyeret kaki kirinya. Saat keluar dari kungkungan pohon, sebuah peluru berhasil mendarat di bahu kanannya.
Edward mendadak oleng hingga akhirnya terjatuh ke jurang. Ia berusaha menggapai ranting, tetapi tangannya justru terkilir. Sebelum ia mendarat di tanah, sebuah batu membentur dahinya lebih dahulu.
Hal itu membuatnya melihat seluruh cuplikan kehidupannya.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍