NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"A-Aden m-mau apa?" Galuh menahan dada Lingga yang semakin maju ke arahnya.

Lingga terkekeh kecil. Dengan gerakan cepat, dia menarik kedua pergelangan tangan Galuh dan menguncinya di atas kepala gadis itu.

"Aden, lepas!" Galuh tersentak, tanpa sadar refleks berteriak.

Namun teriakan itu tak digubris. Lingga tiba-tiba menarik Galuh dan membantingnya ke atas ranjang. "Aku ingin merasakan tubuhmu, Galuh Astamaya. Tubuh indahmu terlalu sayang jika hanya dilihat saja," desisnya sambil menindih Galuh.

Gadis itu memberontak, tapi berontakannya tidak berarti apa-apa, sebab kedua tangannya sudah lebih dulu diikat oleh Lingga menggunakan dasi yang diambil dari laci.

Kini, kedua tangan gadis itu sudah diikat di atas kepalanya sendiri.

"Aden ... tolong ... tolong lepaskan saya! Tolong jangan lakukan ini, Den." Galuh memohon dengan wajah memelas dan penuh air mata.

Tapi Lingga hanya bergeming. Menatapnya dengan tatapan seperti seekor singa yang kelaparan.

Detik selanjutnya, lelaki itu melepas kaosnya, lalu beralih melepas satu persatu kancing kemeja yang dipakai Galuh.

"Aden! Jang--" Jeritan itu tak sempat menggaung, karena Lingga keburu menyumpal mulut Galuh dengan sapu tangan yang ada di saku celananya.

Dan ketika perbuatan jahanam itu terjadi, Galuh hanya mampu menjerit di dalam hati.

Kakinya meronta, namun tak berarti apa-apa.

Tanpa belas kasihan, Lingga terus mengoyak harga dirinya.

"Cukup! Tolong berhenti! Ini sakit sekali. Aku mau pulang! Aku mau ke Ibu ..."

Pada akhirnya, Galuh terdiam. Membiarkan anak majikannya mengayun tubuhnya dengan bebas.

Saat gerakan itu semakin cepat, Galuh memejamkan matanya dengan erat ... dan erangan menjijikan itu mengudara dari bibir Lingga.

"Ahh ... Galuh ... kamu luar biasa." Lingga menggulirkan tubuh polosnya di samping Galuh yang seperti tak bernyawa. "Ternyata dugaanku tidak meleset, meskipun kamu gadis kampung dan hanya seorang babu ... tapi punyamu tak kalah nikmat dari gadis-gadis kota. Malah lebih hebat dan sangat menakjubkan. Aku jadi ingin lagi dan lagi," tutur Lingga dengan napas tersengal dan wajah yang banjir keringat. "Sekali lagi ya, Cantik," katanya sambil bangkit lagi dan kali ini, Lingga membuka sumpalan di mulut Galuh.

"Den ... jangan lagi," mohon Galuh dengan suara nyaris menghilang. Bibirnya bergetar hebat.

"Hm, tapi aku belum puas ..." Lingga kembali mengerjai tubuh Galuh, membuat gadis itu menjerit, namun hujan di luar tiba-tiba turun deras, menenggelamkan semua teriakan yang tak sempat lahir.

Entah berapa lama waktu berlalu.

Ketika Galuh membuka mata, langit di luar jendela sudah gelap. Kasur tempat ia terbaring terasa dingin dan lembap. Bajunya entah ke mana, tubuhnya pun terasa amat sakit.

Lingga sudah pergi, meninggalkan bau parfum yang samar dan rasa malu yang tak bisa dibersihkan air mana pun.

Galuh duduk perlahan, menatap sekeliling. Rumah itu sunyi seperti makam. Air matanya jatuh tanpa suara.

Malam itu, seluruh dunia Galuh hancur porak-poranda karena kekejaman Lingga Buana. "I-Ibu ... maafkan aku?" Dia melirih pilu.

Galuh menyeret langkahnya meninggalkan kamar itu setelah memasangkan kembali pakaiannya. Langkahnya terseok-seok, bagian intinya berdenyut sangat nyeri. Ia terus melangkah, menembus hujan yang mengguyur deras.

Sementara itu di rumahnya, Titin mondar-mandir di depan pintu, menunggu Galuh pulang dengan hati tak tenang. "Galih ... Tetehmu kenapa belum pulang juga ya?"

"Mungkin karena hujan, Teteh dilarang pulang sama Bu Lastri," jawab Galih sekenanya.

"Semoga saja seperti itu. Hati Ibu tidak enak sekali, Galih. Ibu khawatir sekali sama Tetehmu. Takut dia ken--" Derit pintu terbuka menghentikan perkataan Titin. Matanya lekas menyorot ke arah pintu yang mulai terkuak lebar.

"Ya Tuhan ... Galuh ...!" Titin tergopoh-gopoh menghampiri anak gadisnya yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. "Kenapa kamu hujan-hujanan begini, Nak?" Namun gadis itu hanya diam. Tak menjawab pertanyaan ibundanya. "Galih! Tolong ambilkan handuk dan kain sarung di kamar Tetehmu!" titahnya pada sang anak bungsu.

"Iya, Bu." Galih berlari masuk ke dalam kamar sang kakak, mengambil apa yang ibunya pinta.

"Ayo segera lepaskan bajumu, Neng

Nanti kamu masuk angin." Tangan Titin sudah bersiap untuk membuka kancing kemeja yang dipakai Galuh, tapi gadis itu segera menggeleng keras dan memaksakan suaranya keluar.

"Aku bisa sendiri, Bu. Aku ke belakang dulu." Galuh mengambil handuk dan sarung dari tangan ibunya, lalu kembali keluar dari rumah. Mengambil payung yang tergantung dan berjalan ke belakang rumahnya untuk pergi ke kamar mandi yang memang ada di luar.

Di dalam kamar mandi, Galuh menumpahkan segala rasa sakitnya. Ia tersedu sambil mengguyur tubuhnya dengan air. Seolah guyuran air hujan tadi tak cukup membersihkan sentuhan dan kecupan yang diberikan Lingga Buana.

Galuh terus menggosok-gosok tubuhnya dengan sabun. Mengguyurnya lagi sambil terus menguntai air mata.

Kejadian tadi berkelebatan lagi. Bagaimana Lingga menyentuh tubuhnya. Menyesap bagian sensitifnya, meremas dan menciuminya. Semua itu terus berputar-putar bagai kaset yang rusak.

Semua perkataan, desahan dan erangan lelaki jahanam itu terus terngiang di telinganya.

"Lingga jahanam ... Lingga setan. Kenapa kau tega sekali merampas harta paling berharga dalam hidupku? Apa salahku padamu ..." Galuh mencengkeram gayung dengan erat, lalu membantingnya ke dalam ember besar berisi air yang ada di hadapannya.

Di tengah emosi meledak itu, ia teringat pada kekasih hatinya, Safwan Haidar. Pada senyumnya dan juga ajakannya tadi sore.

"Besok sore ... setelah kamu pulang kerja dari rumah Pak Zainal ... aku ingin mengajakmu pergi ke pasar malam yang ada di desa sebelah ... kamu mau 'kan?"

"A Safwan ... ss-sepertinya ... aku tidak akan bisa memenuhi ajakanmu itu. Aku sudah kotor, A. Aku terlalu hina untuk lelaki saleh, terhormat dan berpendidikan sepertimu. Aku malu, A. Aku sudah tidak pantas lagi untuk dirimu."

Hubungan yang baru saja terjalin di antara dirinya dan juga Safwan, mustahil bisa Galuh lanjutkan.

Gadis itu merasa sudah tak punya apa pun untuk dipersembahkan kepada Safwan.

Satu-satunya harta berharga yang ia punya pun sudah direnggut paksa oleh Lingga Buana.

"A Safwan ... maafkan aku ..." Isakan Galuh kini berubah menjadi raungan. Antara sakit, kecewa, jijik, marah dan hancur bercampur menjadi satu dalam benaknya.

Galuh memukul-mukul dadanya yang semakin lama, semakin terasa sesak. "Aku kotor ... hina ... menjijikan dan sudah tak perawan. Bagaimana aku akan menjalani kehidupanku ke depannya? Bagaimana Tuhan?"

Raungan demi raungan keluar dari bibir Galuh yang mulai membiru dan kian bergetar. Dan dalam raungannya itu, Galuh membatin penuh emosi. "Aku akan menuntut keadilan! Tak akan kubiarkan lelaki kejam itu lolos dari jeratan hukum. Tunggu saja Lingga Buana. Luka yang kau torehkan ini sudah menyala dan akan membawamu ke penjara!"

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!