Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Latihan yang Sulit
"Pelajaran hari ini telah selesai, sampai jumpa esok hari!!" suara dari speaker sekolah.
Saat mendengar suara itu, aku langsung bergegas mengemasi seluruh buku pelajaranku. Setelah selesai mengemas, aku lalu pergi keluar kelas untuk pulang ke rumah.
"Van, mau pulang bereng sama aku nggak?!" tanya Nadia dengan ekspresi yang lucu.
Aku menatapnya sebentar, lalu menjawab pertanyaannya dengan lembut "Emm... Nggak usah ya," jawabku pelan.
Nadia langsung cemberut, lalu dia berdiri. Dengan spontan, dia menghentak meja dengan tangannya yang lembut dengan sekuat tenaga.
"Plak!!" suara meja.
Aku kaget, tapi tiba-tiba Nadia kembali duduk. Memegangi tangannya, lalu dia menangis karena terlalu kencang saat menghentakkan meja.
Nadia menangis dengan kencang. Tanpa pikir panjang, aku lalu mendekati Nadia, memegangi tangannya yang terluka.
"Maaf yaa, karena aku kamu jadi kesakitan!!" seruku pelan, walaupun aku tidak membuat kesalahan apapun.
"I-iyaa," jawab Nadia sambil menangis.
"Yaudah, Nad. Aku pulang dulu, kamu jangan nangis di sini!" seruku sebelum pergi meninggalkan Nadia.
"Emm... Kenapa?!" tanya Nadia dengan polos.
"Malu," jawab singkatku.
Nadia langsung menghapus air matanya. Sementara itu, aku langsung pergi ke luar untuk pulang.
Aku berjalan pulang sendirian, sepi, hening, dan damai. Matahari masih berada di udara, awan masih bergerak, dan aku berjalan sambil memikirkan sesuatu "Huh" menghela napas.
"Tadi, Nadia. Dia, lucu banget... Imut, cantik, konyol, dan polos. Semoga aja dia berjodoh denganku," khayalku.
Aku terus berjalan, setibanya di rumah "Ibu, aku pulang!!" seruku sebelum masuk ke dalam rumah.
"Iya," sahut ibu dari dalam rumah.
Aku lalu masuk, mengganti baju, lalu bergegas pergi untuk latihan pertamaku sebelum ke semi-final.
"Ibu, aku keluar dulu!!" seruku sebelum pergi.
"Iya," sahut ibu.
Aku berangkat menuju lapangan, sepertinya mereka semua sudah berada di sana. Sembari berjalan, aku memikirkan tentang laga amal yang direncanakan oleh Pak Wahyu di akhir bulan ini melawan Persebaya Surabaya B alias Persebaya Surabaya Junior "Laga amal, laga yang akan menguji seberapa hebatnya diriku. Dan juga, semi-final turnamen... Jika, kami lolos ke final lalu menang... Kami akan langsung masuk ke akademi Persebaya Surabaya," gumamku sembari berjalan.
Aki terus berjalan di bawah matahari, panas. Setibanya di lapangan, aku langsung dipanggil Pak Slamet.
"Van, kesini dulu!!" ucap Pak Slamet.
"Siap, Pak!!" seruku.
Aku lalu mendekat ke Pak Slamet. Di lapangan, ada teman-temanku yang sudah mulai latihan.
"Ada apa, Pak?!" tanyaku.
"Woi, oper!!" teriak Kak Reno.
"Jadi, kamu hari ini akan dilatih oleh Pak Slamet. Untuk membuat tendanganmu semakin akurat, keras, dan juga terarah. Karena bapak lihat di laga kemarin, tendanganmu itu cukup bagus, tapi masih perlu di tingkatkan. Apa kamu siap, Van?! penjelasan Pak Slamet.
"Pasti siap, Pak!!" jawabku.
"Egy!!" panggil Pak Slamet.
"Iya!!" sahut kak Egy.
"Lempar kan bola yang ada di dekatmu!!" teriak Pak Slamet.
"Iya!!" sahut Pak Slamet.
Bola lalu ditendang Kak Egy. Bola itu langsung ditangkap oleh Pak Slamet "Oke, ayo kita mulai, Ivan!!" seru Pak Slamet.
Pak Slamet lalu meletakkan bola tepat di hadapanku, lalu ia mengambil sebuah tong seperti tong sampah "Dengar, kamu tendang bolanya sampai masuk ke dalam tong itu. Paham!!" seru Pak Slamet.
"Emang bisa ya?!" celetuk Kak Egy.
"Pasti nggak!!" sahut Kak Alfian.
"Semangat, Van!!" seru Andika.
"Iya," sahut Azzam.
"Huh..." aku menghela napas.
"Ini... Ini... Ini latihan ala Mesut Ozil, atau Ricardo Kakà. Tapi, aku harus bisa!!' batinku.
Aku lalu mulai mengambil ancang-ancang. Dan, dengan sekuat tenaga aku berlari lalu menendang bola itu.
"Dus!!" suaraku menendang bola.
Apa bola itu akan masuk, atau akan meleset?!
Bersambung...