“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 18.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar. Liora mengerjapkan mata pelan. Ia masih mengantuk ketika merasakan sesuatu menindih pinggangnya, dan tanpa perlu melihat pun ia sudah tahu.
"Dewangga..."
Pria itu masih memeluknya erat sambil tertidur pulas. Salah satu kaki panjangnya kembali menindih kaki Liora, sementara wajahnya nyaris menempel di bahu perempuan itu.
Liora mengembuskan napas pelan. "Kalau begini terus, lama-lama aku yang kena saraf kejepit."
Ia mencoba mengangkat lengan Dewangga, tapi tak bisa bergerak sama sekali. Ia mencoba kembali, tetap tidak bergerak.
"Ini pelukan apa memborgol sih..." Liora akhirnya mencubit pelan pipi pria itu. "Dewangga... bangun."
"Hmm..."
"Dewangga."
"Hmmm..."
Liora mendekat ke telinga pria itu. "Es krim habis."
Mata Dewangga sontak terbuka lebar. "Hah?!"
Liora langsung menarik tubuhnya menjauh dan berhasil lolos dari pelukan itu.
"Hehehe... ternyata ampuh."
Dewangga duduk sambil mengucek mata. "Es krim mana?"
"Nggak ada."
Mata pria itu berkedip. "Liora bohong, ya?"
"Emang! Weleee..." Liora menjulurkan lidahnya sambil mengejek Dewangga.
"Bohong nggak boleh, tau!"
Dewangga cemberut beberapa detik. Namun begitu Liora mengusap pelan rambutnya, wajah pria itu langsung kembali cerah.
"Iya, makanya bangun."
"Siappp!"
Dewangga langsung meloncat turun dari ranjang, lalu berjalan mengikuti Liora menuju kamar mandi.
Liora mengambil sikat gigi baru untuk Dewangga, menuangkan pasta gigi lalu menyodorkannya pada pria itu.
"Nih, sikat gigi dulu."
"Oke." Dewangga mulai menyikat giginya dengan gerakan asal-asalan hingga busanya hampir mengenai wajah Liora.
"Eh, pelan-pelan! Bukan lagi nyuci motor ini!"
"Hehehe."
Setelah selesai, Liora mengambil handuk kecil dan mengelap wajahnya sendiri. Sementara Dewangga berdiri di depan cermin sambil mengusap dagunya.
"Liora."
"Hm?"
"Jenggot Dewangga tumbuh."
Liora menoleh sekilas. "Iya, nanti dicukur."
"Dicukur sekarang."
Liora menghela napas pasrah. "Baiklah."
Perempuan itu mengambil alat cukur elektrik yang memang sudah disiapkan pelayan di kamar mandi, dengan hati-hati ia mulai merapikan janggut tipis di dagu Dewangga.
"Jangan gerak-gerak."
"Oke..."
Anehnya, Dewangga benar-benar diam. Tatapannya justru terus memperhatikan wajah Liora dari jarak yang sangat dekat. Dalam hati, pria itu hampir tersenyum.
Ternyata dia serius sekali kalau sedang fokus.
Begitu Liora selesai, ia mematikan alat cukur. "Nah, sudah. Sekarang, jadi ganteng lagi!"
"Ganteng?"
"Iya."
Dewangga langsung tersenyum lebar. "Liora bilang Dewangga ganteng."
"Iya, iya."
Namun senyum pria itu tiba-tiba berubah jahil. Tanpa aba-aba, Dewangga mengangkat sebelah lengannya tinggi-tinggi.
"Liora."
"Apa lagi?"
"Ini juga."
Liora mengernyit, mencoba memahami. "Apanya?"
"Bulu."
Liora mengikuti arah telunjuk Dewangga, lalu... matanya membelalak.
"Ketiak?"
"Iya." Dewangga mengangguk polos. "Sekalian dicukur."
Liora langsung mundur satu langkah, wajahnya tampak ngeri. "Buat apa cukur bulu ketiak?!"
"Kan sama-sama bulu."
"Itu beda!"
"Bedanya apa?"
Liora membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Sementara Dewangga, masih mengangkat lengannya tinggi-tinggi.
"Ayo."
"Nggak!"
"Ayo..."
"Nggak mau!"
"Sedikit aja."
"Dewangga!"
Pria itu langsung cemberut. "Liora jahat."
"Bukan jahat, ya! Aku cuma nggak mau cukur bulu ketiak orang!"
"Kenapa?"
"Karena... karena..."
Liora mengacak rambutnya sendiri frustrasi, jika dibolehkan ingin sekali dia menjerit. "Pokoknya nggak!"
Dewangga memperhatikan wajah Liora yang sudah salah tingkah. Sudut bibirnya nyaris terangkat karena ingin tertawa, tetapi ia segera menahannya. Sesaat kemudian, ekspresinya kembali berubah polos, seolah tidak mengerti kenapa Liora bereaksi sebesar itu.
"Oh..." Pria itu perlahan menurunkan lengannya. "Nanti Codet aja."
"Iya! Suruh Codet!"
Mendengar jawaban itu, Dewangga langsung mengangguk patuh. "Oke."
Liora akhirnya mengembuskan napas lega, untung saja pria itu tidak memaksa lagi. Namun tanpa disadari, saat Liora sibuk mencuci wajah di wastafel, sudut bibir Dewangga terangkat tipis. Dalam hatinya, pria itu tertawa puas.
Lucu juga, ternyata... mengerjai istriku semenyenangkan ini.
Begitu Liora selesai mencuci muka, ia menoleh.
"Ayo turun."
"Siap!"
Dalam sekejap, Dewangga kembali memasang senyum polos khasnya, lalu berjalan di belakang Liora sambil memegang ujung baju wanita itu seperti biasanya. Pria itu berhasil menyembunyikan senyum puasnya. Aktingnya sebagai pria polos kembali berhasil mengelabui Liora.
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala