NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Selimut di Tengah Malam

Suasana di dalam kamar utama milik Renard Wijaya terasa sangat berbeda dari ruangan lain di mansion itu. Kamar ini didominasi oleh warna abu-abu gelap, hitam, dan putih pualam, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang minimalis, rapi, dan dingin.

Arumi berbaring miring di atas sofa beludru panjang yang terletak tepat di bawah jendela kaca besar, memeluk bantal kecil dengan erat.

Meskipun sofa ini dilapisi bahan premium yang sangat mahal, ukurannya tetap saja tidak bisa menandingi kenyamanan sebuah ranjang. Ditambah lagi, Renard tampaknya memiliki kebiasaan tidur di dalam ruangan yang suhunya menyerupai kutub utara.

Pendingin ruangan di kamar ini diatur sangat rendah, membuat Arumi yang hanya mengenakan piyama katun tipis mulai menggigil kaku setelah dua jam memejamkan mata.

Dari arah ranjang king-size yang berjarak beberapa meter di seberangnya, terdengar deru napas teratur dari Renard. Pria itu tampak sudah tertidur pulas, bersembunyi di balik selimut tebalnya.

Arumi mengembuskan napas panjang, merapatkan kardigan rajutnya yang tidak seberapa, dan berusaha mengabaikan rasa dingin yang mulai menusuk tulang-tulangnya. Ia terlalu sungkan untuk membangunkan sang raksasa bisnis hanya demi meminta remote AC.

Klek.

Suara gesekan halus selimut di seberang ruangan membuat Arumi yang setengah mengantuk membuka matanya sedikit. Di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang, ia melihat siluet tegap Renard bangkit dari ranjang. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, lalu menatap ke arah sofa tempat Arumi meringkuk seperti bola.

Renard berdiri, melangkah perlahan tanpa menimbulkan suara. Ia berjalan menuju lemari besar di sudut kamar, mengeluarkan selembar duvet tebal berbahan bulu angsa berwarna abu-abu gelap. Dengan langkah kaki yang sengaja dihentak kaku—seolah ingin menegaskan bahwa ia sedang terganggu—Renard mendekati sofa Arumi.

Wusss.

Arumi merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa tebal dan berat mendadak menyelimuti seluruh tubuhnya hingga sebatas leher. Aroma maskulin khas kayu cendana dan mint yang biasa melekat pada tubuh Renard langsung menyeruak, memenuhi indra penciumannya.

"T-Tuan Renard?" bisik Arumi pelan, membuka matanya sempurna karena terkejut.

Renard tersentak kecil, tidak menyangka bahwa wanita di hadapannya ini sebenarnya belum tertidur. Wajahnya seketika menegang kaku, dan di bawah cahaya temaram, Arumi bisa bersumpah ia melihat rona merah muda kembali menjalar cepat di kedua daun telinga suaminya.

"Jangan percaya diri, Arumi," desis Renard dengan suara baritonnya yang rendah dan ketus, berusaha keras mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Aku memberikan selimut ini bukan karena aku peduli padamu. Suara gigimu yang gemertak karena kedinginan itu sangat berisik dan mengganggu waktu tidurku. Lagipula, jika besok pagi ibuku melihatmu bersin-bersin dan jatuh sakit, dia akan menuduhku menyiksa istriku. Itu akan sangat merusak reputasiku sebagai anak yang berbakti."

Arumi menahan senyumnya kuat-kuat di balik lipatan selimut tebal itu. Alasan "reputasi" dan "citra" lagi-lagi keluar seperti mantra ajaib dari bibir pria arogan ini.

"Baiklah... Terima kasih atas perlindungan reputasinya, Tuan Muda," jawab Arumi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengedipkan matanya jenaka.

Renard mendengus kasar, memalingkan wajahnya egois sebelum berbalik cepat dan melangkah kembali ke ranjangnya dengan langkah besar yang tergesa-gesa.

Keesokan paginya, aroma harum dari nasi goreng bumbu tradisional dan kopi hitam yang pekat menyambut Arumi saat ia menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana, Mama Sofia sudah duduk dengan anggun, mengenakan pakaian rumah santai namun tetap terlihat berkelas. Beliau sedang asyik menyuapi si Oyen dengan saset makanan basah yang dibeli Arumi kemarin.

"Selamat pagi, menantuku yang cantik," sapa Mama Sofia dengan binar mata yang cerah begitu melihat Arumi. "Bagaimana tidurmu semalam? Kamar Renard tidak terlalu dingin, kan? Anak itu dari dulu hobi sekali menyalakan AC seperti sedang tinggal di Swiss."

Sebelum Arumi sempat menjawab, Renard muncul dari arah belakang dengan setelan jas kerja lengkapnya yang sempurna. Ia langsung mengambil tempat duduk di ujung meja, memasang wajah datar andalannya.

"Pagi, Mama," ucap Renard kaku.

Mama Sofia melirik putranya, lalu beralih menatap Arumi dengan senyuman penuh arti yang membuat bulu kuduk Renard mendadak meremang.

"Renard, Mama perhatikan... pagi ini Arumi tampak agak lelah, tapi wajahnya sangat berseri-seri. Dan selimut bulu angsa kesayanganmu yang biasanya tidak boleh disentuh siapa pun di rumah ini, tadi Mama lihat tergeletak di atas sofa kamarmu," goda Mama Sofia dengan nada jenaka yang kental. "Wah, tampaknya pengantin baru Mama ini punya malam yang sangat hangat, ya?"

Uhuk! Uhuk!

Renard yang baru saja menyesap kopi hitamnya langsung tersedak hebat hingga wajahnya memerah sempurna dari leher hingga ke pelipis. Ia buru-buru mengambil tisu dan menyeka bibirnya dengan gerakan panik yang sangat jarang terlihat dari seorang CEO Wijaya Group.

"Mama! Jangan bicara sembarangan di depan meja makan!" tegur Renard dengan suara yang meninggi akibat menahan rasa malu yang luar biasa, sementara matanya melirik tajam ke arah Arumi, memberi kode keras agar istrinya tidak ikut menambahkan minyak ke dalam api godaan ibunya.

Arumi justru tertawa renyah, menikmati pemandangan langka di mana sang miliarder kejam tidak berkutik sama sekali di bawah kendali ibunya. "Iya, Mama. Semalam Tuan Renard... sangat menjaga saya dengan baik. Beliau memastikan saya tidak kekurangan kehangatan di kamarnya."

Renard mengepalkan tangannya di bawah meja makan, giginya gemertak menahan malu yang sudah berada di ambang batas. "Makan sarapanmu, Arumi! Dan tutup mulut manis tidak bergunamu itu!" ancam Renard rendah, memalingkan wajahnya egois ke arah luar jendela demi menyembunyikan senyuman tipis yang tanpa sadar hampir terukir di sudut bibirnya melihat tawa lepas sang istri pagi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!