NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Jumat pagi, pukul 9.00. Langit di luar dinding kaca lantai eksekutif Baskara Group tampak kelabu, sewarna dengan atmosfer yang menyelimuti ruang rapat utama. Ruangan itu mendadak penuh oleh kehadiran seluruh anggota Dewan Komisaris dan jajaran direksi yang dipanggil melalui undangan darurat berkode merah. (Undangan yang hanya dikeluarkan jika perusahaan berada dalam status bahaya akut).

Pak Baskoro duduk di kursinya dengan raut wajah yang tenang, bahkan cenderung santai. Dia melirik jam dinding, lalu menatap Radit yang duduk di ujung meja dengan tatapan meremehkan. Di dalam benak Baskoro, pagi ini adalah hari di mana media nasional akan mulai menayangkan berita kehancuran reputasi keponakannya terkait skandal pertunangan palsu dan asal-usul Kirana.

"Raditya," Baskoro membuka suara, memecah kesunyian yang tegang. "Bisa kamu jelaskan mengapa kita semua dipanggil ke sini sepagi ini? Agenda apa yang begitu mendesak hingga mengganggu jadwal operasional seluruh divisi?".

Radit tidak langsung menjawab. Dia hanya duduk bersandar, jemarinya mengetuk meja mahoni dengan ritme yang konstan. Di sampingnya, Kirana berdiri tegak dengan tablet kerja yang terhubung langsung ke proyektor utama. Wajah Kirana sangat tenang, sama sekali tidak menyisakan sisa-sisa kepanikan dari teror dua hari lalu.

"Agenda pagi ini sangat sederhana, Pak Baskoro," jawab Radit, suaranya terdengar santai namun memiliki nada yang dingin. "Kita akan membahas tentang pembersihan hama di dalam struktur organisasi Baskara Group. Hama yang mencoba menggerogoti stabilitas saham kita dari dalam".

Baskoro tertawa meremehkan, lalu bersandar pada kursinya.

"Hama? Jangan bicara dengan perumpamaan yang konyol, Raditya. Bicara yang jelas".

Radit melirik Kirana, memberikan isyarat kecil dengan anggukan kepalanya. Sesuai dengan Aturan Baru Pasal 1, gerakan mereka begitu sinkron dan profesional.

"Sekretaris Kirana, silakan putar lampiran dokumen pertama" perintah Radit formal.

Kirana menyentuh layar tabletnya. Layar monitor besar di ujung ruangan seketika menyala, menampilkan sebuah file audio digital lengkap dengan transkrip teks yang mulai berjalan.

*"Tentu saja! Dialah yang mengambil foto draf kontrak sialan itu dari laci mejamu, Raditya. Dia yang mendatangi saya ke kampung, membiayai akomodasi saya ke Jakarta, dan menyuruh saya mengancam Kirana... Biar si tua bangka Baskoro itu menggunakan draf kontrak kalian besok, yang penting saya sudah aman di Singapura dengan uang ini."*

Suara Hendrawan Hartono yang jernih dan serak menggema dengan sangat keras di dalam ruang rapat yang kedap suara itu.

Dalam sekejap, ekspresi wajah Pak Baskoro berubah drastis. Sifat tenangnya runtuh, menyisakan pucat pasi yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya. Beberapa komisaris lain langsung saling berpandangan, kasak-kusuk ketakutan mulai memenuhi ruangan.

"A-apa-apaan ini?!" Baskoro bangkit berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang dengan kasar. "Ini rekayasa! Ini fitnah murahan yang dibuat untuk menjatuhkan nama baik saya!"

"Itu adalah rekaman suara Hendrawan Hartono, paman kandung dari Sekretaris Kirana, yang diambil kemarin sore di kawasan SCBD saat dia mencoba memeras saya sebesar lima miliar rupiah menggunakan aset perusahaan," sela Radit, suaranya kini naik satu oktav, menekan setiap kata dengan intimidasi yang mematikan. "Dan saat ini, Hendrawan sudah berada di dalam sel tahanan Polda Jaya. Dia sudah menandatangani berita acara pemeriksaan yang menyebutkan nama Anda, Pak Baskoro, sebagai otak di balik seluruh konspirasi ini".

Kirana kembali menggeser layar tabletnya, menampilkan salinan surat penahanan resmi dan foto dokumen draf kontrak yang sempat difoto oleh Baskoro di dalam ruangan Radit.

"Berdasarkan investigasi tim hukum dan bukti digital yang sah," Kirana membacakan laporan dengan suara yang jernih tanpa keraguan. "Pak Baskoro telah menyalahgunakan wewenang sebagai Komisaris Senior dengan memasuki ruangan Direktur Utama tanpa izin, mencuri informasi internal, dan bekerja sama dengan pihak luar untuk melakukan tindakan pemerasan serta sabotase korporasi yang berpotensi merugikan valuasi pasar Baskara Group hingga triliun rupiah"

Baskoro menatap Kirana dengan mata melotot penuh kebencian.

"Kamu... anak koruptor sialan! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu di depan saya! Rekam jejak ayahmu lebih busuk dari apa pun!".

Brak!

Radit menggebrak meja dengan keras, berdiri dari kursinya dengan aura kemarahan yang begitu pekat hingga membuat seluruh direksi di dalam ruangan tersentak mundur.

"Jaga mulut Anda, Pak Baskoro!" bentak Radit, matanya berkilat berbahaya, mengunci pergerakan pamannya. "Di dalam ruangan ini, Kirana Larasati adalah Sekretaris Utama yang dilindungi oleh hukum korporasi, dan dia adalah tunangan saya yang sah di mata keluarga besar Baskara. Siapa pun yang mencoba menyentuh atau menghina masa lalunya, artinya dia sedang menantang saya dan seluruh kekuatan finansial Baskara Holding".

Suasana mendadak hening senyap. Kirana melirik Radit dari samping, dadanya berdesir hebat mendengar bagaimana pria itu membelanya habis-habisan di depan forum tertinggi perusahaan. Batasan Aturan Baru Pasal 1 seolah meleleh oleh ketulusan yang keluar dari mulut Radit.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka dari luar. Dua orang petugas kepolisian berseragam penyidik masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Ibu Sofia Baskara yang berjalan di belakang mereka dengan keanggunan seorang penguasa bayangan.

"Baskoro," Sofia menyapa sepupunya itu dengan senyuman tipis yang sangat dingin. "Insting detektifku mungkin sudah pensiun, tapi untuk mencium bau pengkhianatan dari orang sepertimu, aku bahkan tidak perlu membuka mata. Polisi sudah menunggumu di bawah untuk urusan pencucian uang dan konspirasi kejahatanmu".

Baskoro lemas. Seluruh kekuasaan dan pengaruh yang dia banggakan selama puluhan tahun di Baskara Group runtuh dalam hitungan menit. Tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, dia membiarkan petugas kepolisian menggiringnya keluar dari ruang rapat melewati tatapan jijik dari rekan-rekan komisarisnya yang lain.

Setelah pintu tertutup kembali, Radit menarik napas dalam-dalam, merapikan kembali kancing jasnya, lalu menatap seluruh anggota dewan yang masih syok.

"Rapat koordinasi hari ini selesai. Kosongkan posisi Pak Baskoro dari struktur komisaris saat ini juga" ujar Radit tegas.

Satu per satu anggota direksi meninggalkan ruangan dengan terburu-buru, menyisakan Radit, Kirana, dan Ibu Sofia. Sofia berjalan mendekati Kirana, lalu menepuk bahu calon menantunya itu dengan lembut.

"Kamu aman sekarang, Kirana. Masa lalu tidak akan pernah bisa mengejarmu selama kamu berdiri di tempat yang benar" kata Sofia hangat, sebelum akhirnya melangkah keluar untuk memberikan ruang bagi keduanya.

Kini, hanya ada Radit dan Kirana di dalam ruangan besar itu. Kirana meletakkan tabletnya di meja, lalu melepaskan kacamatanya yang sedikit berembun. Bahunya yang tegang selama berhari-hari akhirnya mengendur sepenuhnya.

"Terima kasih, Radit," ucap Kirana tulus.

Radit berjalan mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga dia bisa mencium aroma familiar dari parfum Kirana. Pria itu tersenyum, binar usilnya yang sempat hilang kini kembali memenuhi matanya.

"Sama-sama, Pihak Kedua," ujar Radit lembut, tangannya terulur untuk merapikan sehelai rambut Kirana yang keluar dari tatanannya. "Sekarang baru jam sebelas siang, tapi berhubung hama utamanya sudah kita singkirkan... Menurutmu, apakah kita bisa melanggar Aturan Baru Pasal 1 hari ini dan pulang lebih cepat untuk makan bakso?".

Kirana tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang sangat jarang dia tunjukkan di dalam kantor.

"Untuk hari ini saja, Pak Radit... Saya rasa poin itu bisa kita maklumi".

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!