Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Malam pertama pernikahan Ezra dan Azizah sama sekali tidak diwarnai dengan kehangatan. Kamar pengantin yang seharusnya penuh nuansa romantis, justru terasa dingin. Hanya dua lampu tidur yang dibiarkan menyala. Membiarkan sisanya tenggelam dalam keremangan.
Azizah memilih berbaring di sofa dan membatasi diri dari ranjang besar di tengah ruangan tempat Ezra masih terlelap. Bahkan di saat mereka sudah resmi menjadi suami istri, Azizah tetap memilih untuk mengenakan hijabnya. Ia merasa belum siap untuk memperlihatkan mahkotanya kepada pria yang bahkan belum benar-benar menerima kehadirannya. Hatinya masih dipenuhi keraguan. Ia merasa tidak yakin untuk membuka diri sepenuhnya di hadapan Ezra yang hatinya masih tertutup rapat untuknya.
Ia melirik ke arah ranjang, mengamati Ezra yang tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Azizah sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah suaminya memang memiliki kebiasaan tidur yang sangat panjang? Namun, ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran tidak penting itu.
Dengan perlahan, Azizah menarik selimutnya, dan mengeratkannya di tubuh demi menghalau hawa dingin yang menusuk. Ia memejamkan mata, berusaha mencari ketenangan di tengah situasi yang rumit itu. Jika saja bukan karena Amisha yang terus mengawasi kamar mereka, Azizah pasti sudah memilih untuk mencari kamar lain di villa itu agar bisa beristirahat dengan lebih leluasa.
Namun Azizah tidak tahu satu hal penting bahwa Ezra sebenarnya tidak benar-benar tidur. Saat Azizah sudah terlelap di atas sofa, pria itu membuka matanya perlahan. Tatapannya tertuju ke arah sofa yang menempel di dinding, memperhatikan sosok istrinya yang sudah memejamkan mata di sana.
Ezra kemudian duduk di ranjang. Ia menyingkirkan kelopak mawar yang menempel di pakaian pengantinnya yang belum sempat ia ganti. Dan dengan gerakan kasar, ia meraba-raba di bawah selimut untuk mencari ponselnya yang kondisi layarnya masih retak.
Begitu ponsel itu ditemukan, ia langsung membukanya. Cahaya layar yang cukup cerah seketika menerpa wajahnya yang kini mulai didera amarah yang tertahan. Ia memeriksa kotak pesan dengan harapan ada kabar dari Sienna, namun hasilnya nihil. Kontak pesan Sienna sama sekali tidak menunjukkan pembaruan. Wanita itu seolah menghilang begitu saja setelah berpamitan untuk urusan pemotretan di luar negeri beberapa waktu lalu.
Ezra meremas ponselnya dengan kuat, seolah ingin melampiaskan kekesalan yang membakar dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Ironis sekali nasibnya. Ia baru saja dipaksa menikahi wanita lain demi memenuhi keinginan ibunya, sementara wanita yang sungguh ia cintai justru pergi meninggalkannya tanpa kabar.
......................
Suara adzan subuh dari pengingat ponsel Azizah memecah kesunyian pagi. Azizah terbangun dan langsung terduduk. Pandangannya menyapu ranjang, namun ia mendapati kondisi di sana sudah kosong. Ia sempat celingak-celinguk mencari keberadaan Ezra, tetapi pria itu tidak ada di kamar.
Ceklek.
Pintu terbuka dan Ezra melangkah masuk dengan penampilan yang jauh lebih segar mengenakan kaus santai. Mereka sempat bertatapan sejenak, namun Ezra memutus kontak mata itu secara sepihak dan memilih untuk kembali naik ke ranjang. Ia berniat untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda karena perutnya yang keroncongan.
Sementara itu, Azizah langsung bangkit. Ia melipat selimut dan merapikan bantal yang ia gunakan semalaman di sofa. Setelah itu, ia membuka koper untuk memilah baju dan hijab yang akan dikenakan, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Ezra sama sekali tidak peduli, ia lebih memilih tetap berbaring sambil sibuk bermain ponsel.
Selesai mandi dan berwudhu, Azizah keluar dari kamar mandi dengan pakaian bersih. Ia meletakkan pakaian kotornya bersama baju pengantin miliknya dan Ezra yang tergeletak di keranjang. Azizah kemudian melirik Ezra dengan bingung. Karena tidak membawa buku catatan, ia mengambil ponselnya yang berada di sofa dan membuka aplikasi catatan. Setelah selesai mengetik, ia memberanikan diri mendekati ranjang dan menunjukkan layar ponselnya kepada Ezra.
‘Kau tidak salat Subuh? Jika memang kita menikah karena paksaan, tapi setidaknya lakukan tugasmu layaknya seorang imam yang memberi contoh bagi istrinya.’
Ezra berdecak keras setelah membaca tulisan itu. Ia mematikan ponselnya dengan kasar, lalu duduk dengan tatapan tajam menghujam Azizah.
“Untuk apa aku salat? Apa Allah akan mendengar doaku dan mewujudkan apa pun yang kumau?” tantang Ezra.
Astaghfirullahalazim, batin Azizah sambil mengelus dada. Ia benar-benar tidak menyangka akan dijodohkan dengan pria yang sedemikian kosong dalam urusan agama.
“Walaupun aku berdoa dan memohon, tetap saja aku harus menikahi wanita bisu sepertimu!” sentak Ezra penuh kebencian, “Allah sama sekali tidak mendengar apa pun yang kuminta, bahkan wanita yang kucintai pun sama sekali tidak bisa kunikahi!”
Azizah berusaha menahan sabar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia kembali mengetik di ponselnya.
‘Jadi selama ini kau tidak melakukan kewajibanmu lagi? Kapan kau terakhir kali beribadah atau... bahkan mengingat Allah?’
“Itu bukan urusanmu!” jawab Ezra setelah membaca tulisan itu. Ia kemudian berdiri dengan amarah yang meluap, “Berada di satu ruangan denganmu memang membuatku tersiksa! Minggir!”
Ezra melangkah lebar keluar kamar dengan kasar dan Azizah kembali mengelus dada sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Imamnya kini benar-benar telah kehilangan arah. Lalu, bagaimana mungkin rumah tangga ini bisa kokoh jika dinakhodai oleh seorang pria yang bahkan telah menutup hatinya dari Sang Pencipta?
Namun Azizah berusaha tetap tegar. Ia memilih untuk tidak larut dalam kesedihan atau rasa terabaikan. Dengan tenang, ia membentangkan sajadahnya dan melaksanakan salat Subuh dengan penuh kekhusyukan, seolah mencari perlindungan di tengah badai rumah tangga yang baru saja dimulai.
Setelah salam, ia tidak langsung bangkit. Ia kembali menengadahkan kedua tangannya untuk memanjatkan doa dengan hati yang tulus meski bibirnya tidak mampu mengucap kata.
‘Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan untuk menunjukkan jalan kebenaran bagi suami hamba yang sudah begitu jauh dari-Mu. Jika memang Ezra telah melupakan-Mu, maka izinkan hamba menjadi perantara untuk mengajarinya kembali mengenal-Mu. Berikan hamba kesabaran tanpa batas dan kekuatan untuk membimbingnya kembali ke jalan-Mu. Aamiin.’
......................
Cahaya matahari akhirnya semakin naik dan masuk melalui celah jendela villa dan menciptakan garis-garis halus di atas meja makan yang kini kembali ramai seperti semalam.
Pagi itu, Ezra juga turut hadir untuk sarapan. Hari ini adalah hari kepulangan mereka dari villa. Momen itulah yang sejak semalam telah ia nantikan untuk segera mengakhiri sandiwara di depan keluarga besarnya.
Amisha meletakkan cangkir teh dengan denting yang cukup keras sambil menatap sang putra, “Ezra, Mama sudah memikirkannya. Kalian berdua harus tinggal di rumah Mama. Jangan pindah ke rumah pribadimu dulu.”
Ezra tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan kunyahan rotinya sebelum menatap sang ibu, “Tidak, Ma. Aku sudah memutuskan. Kami akan pindah ke rumah pribadiku hari ini.”
“Tapi, Ezra!” Suara Amisha meninggi satu oktaf, ada kilatan kekecewaan di matanya, “Saat di rumah sakit, bukankah kau bilang akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mama setelah sembuh? Kenapa sekarang kau justru ingin pergi menjauh?”
Ezra menghela napas. Ia tahu ibunya sedang memutar memori tentang masa-masa kritisnya yang digunakan sebagai senjata untuk menahan Ezra di sisinya.
“Rumahku jauh lebih dekat ke kantor, Ma. Efisiensi waktu sangat penting bagiku sekarang. Lagipula, aku tidak pindah ke luar kota. Aku berjanji akan sering berkunjung menemui Mama.”
Amisha mendengus tidak puas. Ia beralih menatap Azizah yang sejak tadi hanya diam menunduk, “Azizah, beri tahu suamimu. Bukankah lebih baik tinggal di rumah Mama? Mama bisa menjagamu, apalagi kau belum begitu akrab dengan lingkungan kota.”
“Benar! Aku juga ingin terus bermain dengan Mbak Azizah!” Clara menyahut cepat yang membuat lainnya terkekeh.
Azizah juga tersenyum menanggapi antusias adik iparnya. Ia kemudian melirik Ezra yang kembali fokus pada cangkir kopinya, seolah tidak peduli dengan apa pun yang akan dikatakan istrinya. Dengan gerakan ragu, Azizah membuka ponsel dan mengetikkan sesuatu, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Amisha.
‘Saya ikut keputusan Tuan Ezra saja, Nyonya. Mana pun yang menurut Tuan Ezra baik, saya akan menurut.’
Amisha mengembuskan napas panjang, tampak kalah.
Darel yang sejak tadi mengamati, segera menyambar suasana dengan nada ceria, “Sudahlah, Ma. Toh, masih ada aku dan Windy yang setia menjaga Mama. Rumah Mama tidak akan pernah sepi.”
Amisha akhirnya melunak, meski raut kecewa masih membekas. Ia beralih mengelus pipi mungil cucunya yang duduk di kursi bayi di sampingnya.
Di tengah perdebatan itu, Laksmi berdehem yang berhasil menarik perhatian seisi meja.
“Ibu Amisha... saya izin pamit pulang ke desa setelah ini,” ucap Laksmi dengan nada sopan, ia kemudian menatap Ezra, “Nak Ezra, Nenek titip Azizah. Jaga dia baik-baik.”
Ezra hanya mengangguk singkat, sebuah gestur yang bagi Laksmi mungkin cukup, namun bagi Azizah itu terasa seperti pengabaian.
“Lho, kenapa buru-buru? Tinggallah beberapa hari lagi,” cegah Amisha.
Laksmi menggeleng, “Tidak bisa, Bu. Masih banyak pekerjaan di ladang orang dan kebun teh yang belum selesai. Saya tidak bisa meninggalkan tanggung jawab begitu saja.”
Amisha menatap wanita tua itu dengan sorot mata iba, lalu sebuah ide muncul, “Bagaimana kalau saya belikan tanah untuk anda, Bu Laksmi? Dengan begitu, anda tidak perlu lagi membanting tulang di usia senja. Nanti tinggal mencari buruh untuk menggarap tanah itu.”
Laksmi membelalak, “Ya Allah, tidak perlu, Bu! Saya menolak tegas. Itu terlalu berlebihan!”
Amisha tidak menggubris, ia justru menatap Azizah, “Azizah, bujuk nenekmu.”
Azizah menggeleng cepat, jemarinya lincah mengetik di ponsel.
‘Mohon maaf Nyonya, saya juga tidak bisa. Saya tidak enak jika hanya karena saya menjadi menantu, Nenek menerima hadiah sebesar itu.’
Namun Amisha tidak memedulikan penolakan itu, ia menatap Darel tegas, “Darel, urus semuanya hari ini.”
“Tapi Bu, saya benar-benar tidak bisa menerimanya!” seru Laksmi dan diangguki Azizah.
Amisha menatap mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa dibantah, “Sudah, jangan dibantah lagi. Kalian menolak pun, tanah itu tetap akan menjadi milik Bu Laksmi. Keputusanku sudah final.”
Azizah hanya bisa pasrah menerima hadiah itu. Ia kemudian melirik Ezra, berharap pria itu setidaknya mengeluarkan satu patah kata untuk menengahi. Namun Ezra tetap membisu dan terlihat tidak mendengar perdebatan di sekitarnya.
Setelah sarapan usai, suasana villa sedikit lebih lengang. Azizah berinisiatif membantu Dewi membereskan sisa-sisa makanan di meja makan. Namun Dewi dengan sopan menepis tangan Azizah.
“Jangan, Azizah. Biar aku saja. Kau kan sudah menjadi majikanku sekarang,” ucap Dewi lembut.
Azizah menggeleng tegas. Ia menggerakkan jemarinya dengan cepat dalam bahasa isyarat.
‘Tidak, Bi! Jangan berkata seperti itu. Aku tetaplah Azizah keponakan kecil Bibi selamanya.’
Dewi terkekeh melihat tingkah Azizah yang tidak berubah meski statusnya kini telah berbeda.
“Dewi, bisa buatkan potongan buah untukku?” Suara Amisha muncul.
“Baik, Nyonya,” jawab Dewi, lalu ia segera berlalu menuju dapur.
Amisha kemudian mendekati Azizah dengan senyum yang begitu lebar. Di matanya, Azizah adalah menantu impian yang akhirnya berhasil ia miliki. Namun berbeda dengan kegembiraan sang mertua, hati Azizah justru dipenuhi gundah. Kejadian subuh tadi tentang Ezra yang secara terbuka mengakui ia telah meninggalkan Tuhannya masih terus menghantui pikirannya.
Azizah mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik.
“Wah, seharusnya dari awal aku memintamu menulis di ponsel. Menulis manual dengan pena pasti melelahkan,” ujar Amisha sambil mengamati kegiatan Azizah.
Azizah tidak merespons candaan itu. Ia fokus merangkai kata-kata yang berat di dadanya, lalu menyodorkan layar ponselnya kepada Amisha.
‘Nyonya, saya baru tahu kalau Ezra benar-benar sudah jauh dari Allah. Apa Nyonya juga sudah tahu?’
Dahi Amisha mengernyit. Senyum di wajahnya memudar perlahan.
“Benarkah? Aku sudah lama tidak tinggal dengannya. Memang keluargaku bukan keluarga agamis, tapi kami masih berusaha menjalani kewajiban kami. Untuk Ezra...” Amisha menatap Azizah dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah yang mendalam, “Maaf, Azizah. Apa aku melakukan kesalahan padamu? Apa aku salah karena menjodohkanmu dengan Ezra? Kupikir hanya sifat Ezra saja yang memang kurang baik, tapi ternyata spiritualnya juga? Ya Allah, aku merasa gagal mengenal putraku sendiri.”
Amisha mengelus dada kirinya dan napasnya terdengar sedikit berat.
Khawatir kejadian buruk yang menimpa kesehatan mertuanya kembali terulang, Azizah segera mengetikkan kalimat penenang.
‘Saya akan berusaha, Nyonya. Saya akan berusaha untuk membimbing Ezra kembali ke jalan Allah.’
Membaca tulisan itu, pertahanan Amisha runtuh. Tangisnya pecah seketika. Ia menarik Azizah ke dalam pelukan yang hangat dan erat untuk menyalurkan rasa syukurnya.
“Terima kasih, Azizah... terima kasih,” bisik Amisha di sela isakannya, “Kau memang terlalu baik untuk Ezra, dan aku menjadi egois karena hal itu. Aku yang menginginkan putraku berubah menjadi lebih baik, tapi tampaknya, aku juga sudah menyakitimu.”
Azizah menggeleng dalam pelukan Amisha.
Tidak lama, Amisha menyadari sesuatu. Ia menarik diri dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Begini saja Azizah. Selama kau dirumah Ezra, kau laporkan apapun yang terjadi. Jika dia berani menyakitimu, maka aku sendiri yang akan maju. Akan kubuat dia menyesal karena menyia-nyiakan istri sebaik dirimu.”
Azizah mengerjapkan matanya beberapa kali, masih berusaha mencerna ide Amisha.
“Kau berusaha mengajari Ezra, dan aku akan berusaha mendekatkan kalian. Dan urusan wanita murahan itu, tenang saja, biar aku yang mengurusnya,” ucap Amisha penuh keyakinan.
Azizah kembali mengetik.
‘Nyonya terlalu berlebihan.’
Amisha menggeleng, namun satu kata di layar itu membuat dahinya mengernyit.
“Nyonya...?” Amisha menatap Azizah tidak percaya, “Kenapa masih memanggil Nyonya? Dan tadi juga, Tuan Ezra...? Astaga, Azizah. Panggil aku Mama, dan panggil suamimu tanpa embel-embel Tuan. Kita sudah menjadi satu keluarga sekarang.”
Azizah tersenyum canggung, lalu mengangguk mengerti.