NovelToon NovelToon
Ayla, Anak Kandung Yang Tersisih

Ayla, Anak Kandung Yang Tersisih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.

Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.

Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.

Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18#Fakta Tentang Valen

"Mengenai kakiku, aku sudah sembuh sebulan yang lalu. Hanya saja, seseorang menemukan kejanggalan pada kecelakaan yang terjadi. Karena itu, aku harus menyembunyikan kesembuhan ini. Aku juga menyebarkan isu bahwa diriku menderita gangguan kesehatan mental," jelas Valen, tak ingin Ayla terus bertanya-tanya dalam hati mengapa dia tiba-tiba bisa berdiri.

Ya, terungkaplah sudah bahwa saat ini Valen sedang bersandiwara di hadapan semua orang. Dia sengaja melakukan hal itu untuk memancing pelaku sesungguhnya keluar dari persembunyiannya. Kecelakaan yang dialami Valen tentu bukan peristiwa biasa; ada dalang di balik kejadian tersebut. Dengan berpura-pura lumpuh dan menyebarkan kabar bohong mengenai kondisinya, Valen bisa merasa lebih aman, sebab penjahat yang berada di balik semua ini akan menurunkan kewaspadaannya terhadap nyawa Valen.

"Lalu, apakah hanya aku di rumah ini yang mengetahui bahwa kau tidak lumpuh?" tanya Ayla untuk memastikan, takut nanti tanpa sengaja berkata hal yang salah dan menimbulkan masalah.

"Ya. Untuk itu, tolong rahasiakan hal ini," pesan Valen.

Ayla mengangguk tanda setuju, lalu segera menandatangani surat perjanjian pernikahan itu. Kini, kesepakatan yang terasa tak masuk akal di antara mereka berdua benar-benar telah terjalin.

 

Malam harinya ...

"Adnan di mana? Kenapa jam segini dia belum juga pulang?" tanya Bastian kepada Alena, yang saat itu duduk santai sendirian di ruang keluarga.

"Tidak tahu, Kak," jawab Alena tanpa menoleh, tampak fokus menonton televisi sambil memakan camilannya.

"Astaga, anak itu, keluyuran saja terus," gumam Bastian seraya duduk di samping Alena. Ia tampak sangat lelah karena baru saja pulang dari kantor.

"Ngomong-ngomong, Alena, Papa dan Mama ada di mana?" tanya Bastian lagi.

"Papa? Aku tidak tahu. Kalau Mama ada di kamar," jawab Alena singkat.

Suasana keluarga mereka kini terasa sangat aneh sejak kepergian Ayla. Masing-masing dari mereka selalu merasa ada sesuatu yang hilang.

"Mau ini, Kak?" tawar Alena sambil menyodorkan garpu berisi irisan mangga matang yang sejak tadi ia nikmati.

Bastian sedikit terkejut mendapati tawaran itu. "Alena, kau tidak tahu kalau aku alergi mangga?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

Seketika Alena tertegun mendengar ucapan Bastian.

"Maaf, Kak Bastian, aku tidak tahu," jawab Alena sambil tersenyum canggung, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke layar televisi.

Hati Bastian terasa semakin perih. Baru hari ini ia sadar bahwa Alena sama sekali tidak mengetahui kondisinya. Tiba-tiba ingatannya melayang ke masa lalu: saat hari ulang tahunnya, dia tanpa sengaja memakan kue yang mengandung mangga. Ia nyaris kehilangan nyawa dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, semua orang menyalahkan Ayla, mengira dialah yang menyiapkan kue itu. Namun, Ayla bersikeras membantah tuduhan tersebut, karena dia sangat tahu kalau kakaknya itu alergi mangga. Ternyata, kebenaran itu baru terungkap sekarang, tepat setelah Ayla tidak ada lagi di sisinya.

"Jadi, saat itu Ayla tidak berbohong? Mungkinkah Alena yang menyiapkan kue itu? Sebab selain dia, semua orang sudah tahu aku alergi mangga," gumam Bastian dalam hati.

(Ini baru awal dari penderitaan kalian, Bastian. Tenang saja, ke depannya akan kubuat rasanya lebih menyakitkan lagi.)

 

Karena merasa kecewa sekaligus bersalah, Bastian pun beranjak kembali ke kamarnya, meninggalkan Alena tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Kenapa sih? Tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi saja," gerutu Alena dengan perasaan kesal.

Drt... Drtt... Drttt...

Tiba-tiba ponsel Alena berdering keras, membuat wanita itu terkejut mendengar getarannya.

"Astaga, siapa lagi? Kenapa orang-orang tak bisa membiarkanku tenang sebentar saja?" keluhnya sambil mengangkat telepon itu.

(Panggilan tersambung)

"Halo," terdengar suara berat dari seberang sana.

"Ya, ada apa, Kak?" tanya Alena.

"Alena, bisakah kau menjemputku di jalan XXX? Mobilku mogok, dan aku sedikit mabuk. Jalan ini sangat sepi, aku khawatir bakal didatangi perampok kalau berhenti terlalu lama di tempat seperti ini," jelas Adnan dari seberang telepon.

"A-aku sedang sibuk," jawab Alena, enggan beranjak dari acara televisi kesukaannya.

"Baiklah, suruh Kak Bastian saja yang datang. Segeralah, baterai ponselku sudah hampir habis," kata Adnan, lalu sambungan terputus — atau lebih tepatnya, telepon itu mati karena daya baterainya benar-benar habis.

(Panggilan berakhir)

"Ya Tuhan, kenapa sekarang semua orang jadi merepotkan sekali! Sangat menyebalkan. Padahal acaranya lagi seru-serunya. Sudahlah, nanti saja kuberitahu Kak Bastian kalau sudah masuk iklan," pikir Alena, lalu sengaja menunda pesan itu.

Tanpa ia sadari, keputusannya itu justru menjadi awal dari musibah yang menimpa Adnan.

Alih-alih memberitahu Bastian agar segera menjemput, Alena malah tertidur pulas di atas sofa ruang tengah setelah menonton acara kesukaannya cukup lama.

 

Sementara itu, di tempat lain ...

"Mau apa kalian?" tanya Adnan dengan nada tergagap, masih dalam keadaan setengah mabuk.

"Turun!" perintah beberapa orang berpenampilan kasar sambil membawa sepotong kayu, mendekati mobil Adnan.

Adnan merasa ketakutan. Ia enggan turun dari mobil, takut harta benda yang dimilikinya dirampas oleh orang-orang itu.

"Berani-beraninya kau berhenti di tempat tongkrongan kami! Serahkan saja semua uang dan mobilmu itu," ancam mereka sambil menodongkan sebilah pisau ke arah Adnan.

"Mobilku mogok. Aku mohon, jangan sakiti aku," pinta Adnan dengan suara gemetar.

Namun sayang, salah satu dari mereka justru memukul kaca jendela mobil hingga pecah dan berserakan.

Adnan ketakutan seketika. Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret keluar dari dalam mobil. Dalam hatinya, ia sangat berharap kakak dan adiknya segera datang menjemput, namun harapan itu tinggal angan belaka — nyatanya, tak ada satu pun orang yang datang menolongnya.

"Berikan semua uangmu, cepat!" bentak salah satu penjahat seraya menempelkan ujung pisau ke leher Adnan.

"Tidak, aku tidak mau!" jawab Adnan, yang memang selalu lebih mementingkan harta daripada keselamatan dirinya sendiri.

Mendengar penolakan itu, para penjahat semakin marah. Mereka menghajar Adnan dengan kejam, lalu menikam tubuhnya menggunakan pisau. Setelah mengambil semua uang milik Adnan, mereka segera melarikan diri meninggalkan tempat itu, membiarkan Adnan tergeletak tak berdaya.

 

Keesokan harinya ...

"Apa?! Tidak mungkin! Bagaimana keadaan anakku sekarang?" seru Mama Tina dengan suara terkejut, sesaat setelah menerima telepon dari petugas kepolisian yang sedang bertugas patroli malam itu dan menemukan Adnan terbaring tak sadarkan diri di pinggir jalan.

"Sebaiknya Anda sekeluarga segera datang ke Rumah Sakit XXX untuk melihat kondisinya," jawab petugas itu, lalu mengakhiri percakapan.

Mama Tina pun menangis histeris. Suaranya terdengar sampai ke lantai atas, membuat Papa Bayron dan Bastian terkejut dan segera turun untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, Alena masih terlelap nyenyak di dalam kamarnya; ia benar-benar sudah melupakan segala hal yang terjadi pada Adnan semalam.

 

****

1
Soraya
lanjut thor
Author Nadia🪷: iya kak
total 1 replies
putmelyana
next Thor ceritanya
Author Nadia🪷: iya kak
total 1 replies
Valen Angelina
jgn jdi lemah ok....
Author Nadia🪷: okeee
total 1 replies
Adi Sudiro
salah satu cerita dgn segala kebodohan dan ketololan pemeran utama
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya
Author Nadia🪷: iya maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Soraya
mampir thor
Author Nadia🪷: iya kak makasih ya
total 1 replies
Valen Angelina
semoga ayla cepat sembuh😍
Author Nadia🪷: udah gak sabar yaaa🤭🤭🤭🤭 btw sekarang aku juga punya Kanaya, ramekan ya kak, meskipun baru satu bab aja wkwkwkwkw
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚢𝚞𝚔𝚞𝚛𝚒𝚗 𝚎𝚖𝚐 𝚎𝚗𝚊𝚔
Author Nadia🪷: terkapar deh🤭🤭
total 1 replies
Valen Angelina
𝚝𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚋𝚞𝚌𝚒𝚗 𝚖𝚞 𝚠𝚔𝚔𝚠
Valen Angelina
tenang aylia... suamimu ganteng bbgt lo wkkwk😂
Author Nadia🪷: kalau aku jadi Ayla udah gas Ken banget 🤣🤣🤣
total 1 replies
Valen Angelina
𝙷𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚝𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚞𝚊𝚛𝚐𝚊 𝚕𝚋𝚒𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚢𝚕𝚒𝚊... 𝚘𝚛𝚝𝚞𝚊 𝚋𝚘𝚍𝚘𝚑 𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚌𝚘𝚋𝚊 𝚕𝚋𝚒𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚌𝚊𝚢𝚊 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚝 𝚍𝚊𝚛𝚒𝚙𝚍𝚊 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚗𝚍𝚞𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚗𝚍𝚒𝚛𝚒
Author Nadia🪷: betul dan itu sakit banget, kita kalau dibedain orang tua sama saudara kandung sendiri aja sakit hati apalagi sama saudara angkat
total 1 replies
Valen Angelina
𝚋𝚊𝚐𝚞𝚜
Author Nadia🪷: makasih kak
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚢𝚕𝚊..... 𝚜𝚊𝚊𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚕𝚊𝚜 𝚍𝚎𝚗𝚍𝚊𝚖
Author Nadia🪷: makasih kak🥰
total 1 replies
Valen Angelina
𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚟𝚊𝚕𝚎𝚗 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗 𝚢𝚊... 𝚗𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚠𝚔𝚠𝚔𝚔𝚠🤣
Author Nadia🪷: awokawok ngakak, mana iya lagi sama nama nya 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ulfah Fiza
luar biasa
Author Nadia🪷: terimakasih kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!