Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepatlah bangun Sweety
Sudah empat hari Sheeva terbaring tak sadarkan diri. Namun hingga detik ini belum ada tanda-tanda Sheeva akan bangun. Dia masih nampak nyaman dengan tidurnya.
Bunda Aya bahkan sampai ikut jatuh sakit karena mengkhawtirkan kondisi Sheeva. Tekanan darahnya menjadi tinggi. Mungkin karena beliau kurang istirahat. Demi menjaga Kesehatannya beliau di antar oleh Kay kembali ke panti.
Sementara untuk bergantian menjaga Sheeva Kay meminta Misya dan Nindy bergantian karena mommy Renita harus menemani suaminya perjalanan bisnis. Misya akan menjaga Sheeva saat Nindy sekolah dan Nindy akan menjaga Sheeva setelah pulang sekolah sampai Kay pulang.
Beruntung hari ini mommy Renita sudah pulang jadi, beliaulah yang menjaga Sheeva. Misya bisa kembali ke toko milik Sheeva untuk mengawasi supplier yang datang mengirim barang. Bagaimana pun toko Sheeva tetap harus berjalan.
Sedang Kay hari ini lagi-lagi harus mengikuti beberapa meeting dan juga ada beberapa hal yang harus dia kerjakan di markas.
" Kay..!"
" Hemm " Kay yang sedari tadi asyik memejamkan matanya dan bersandaran di sandaran sofa kini perlahan memilih bangkit. Kepalanya terasa sedikit sakit.
" Fito nantangi balap malam ini gimana ?" Rama begitu berhati-hati menyampaikan maksudnya.
" Kamu aja yang turun Yong aku belum bisa konsen " Ucap Kay memijit pelipisnya
" Sheeva masih belum bangun ya ?'" Kay menjawab dengan anggukan pertanyaan Yongki.
" Lha iya bos, bagaimana kondisi bu bos. Kita malam belum sempat jenguk "
" Santai aja, kalian juga sedang banyak kerjaankan. Thank's udah handle semuanya selama gue fokus ke Sheeva."
" Sekarang kondisi bu bos bagaimana ?" Yuda ikut bertanya.
" Masih pasif "
" Pantas sih, dia nggak gila atau bunuh diri aja udah untung "
" Nyaris " Rama, Faris, Yuda dan Antoni menoleh tak percaya ke arah kay. Sedang Yongki yang sudah mendengar banyak cerita tentang Sheeva dari Nindy hanya memejamkan matanya.
" Maksudnya ?"
" Dulu dia nyaris bunuh diri " Kay kembali merebahkan kepalanya di sandara Sofa. Matanya terpejam menahan sakit di kepalanya.
" Ya Tuhan.." Ucap Antoni.
" Wajar sih punya keluarga segila itu " Ucapan Yuda, di angguki oleh teman-temannya.
" Ini bakalan jadi PR besar buat loe Kay. " Kay menghela nafas mendengar ucapan Yuda.
" Dengan kondisi Sheeva yang begitu tentu bukan hal mudah bagi kamu masuk ke hidup dia. Gue yakin banget Sheeva tak lagi percaya apa itu cinta dan cenderung akan menutup diri. Karena orang yang harusnya sangat mencintai dan menjaganya, justru orang itulah yang melukainya begitu dalam " Kai mengangguk.
" Daddy dan mommy juga bilang begitu kemaren. Dan sedari awal aku sadar kok akan hal itu."
" Biarlah, bagiku yang terpenting itu dia nyaman dan aman itu sudah lebh dari cukup "
" Jadi om dan tante sudah tau tenta Sheeva dan keluarganya ?" Kay mengangguk.
" Mereka tidak mempermasalahkan hal itu "
" Syukurlah kalau begitu, gue khawatir kalau penolakan om dan tante bisa membuat Sheeva makin tertekan nantinya " Ucap Yongki.
" Sabar Kay, sesuatu yang indah memang butuh esktra perjuangan untuk mendapatkannya." Semua terbengong menatap tak percaya kearah Faris.
" Lah tumben amat kamu bijak ?"
" Ya masak eror mulu " jawab Faris santai.
" Maklumlah kan habis di isi perutnya " Ucap Yuda yang di hadiahi gelak tawa sahabatnya.
" Oya gue mau tolong dikit sama kalian ?"
" Apa itu Kay ?" Ucap Yongki.
" Tolong kirim beberapa anggota kita buat jagain panti dan tokonya Sheeva. feelingku nggak enak soalnya " Yongki mengangguk.
" Loe fokus saha sama Sheeva Kay. Yang lain biar jadi urusan kita-kita "
" Thank's "
Kay memilih pulang usai urusannya dengan The King selesai. Di otaknya hanya Sheeva dan Sheeva. Setelah sampai pun dia tidak masuk ke masion utama, melainkan langsung menuju paviliun tempat Sheeva di rawat. Dia bahkan sudah beberapa hari pindah di kamar sebelah Sheeva.
" Masih belum bangun juga dia mom's ?" Kay masuk ke kamar Sheeva usai mandi dan berganti baju.
" Belum sayang tapi, tekanan darahnya stabil kok. Baru saja om kamu periksa dia "
" Mom's istirahat saja dulu. Biar gantian aku yang jagain Sheeva "
" Memang kamu nggak capek apa, baru pulang lho ?''
" Nggak kok mom's. Lagian disini aku juga sambil rebahan nggak sambil angkat karung "
" Kamu mah sayang " Dengan gemas mommy Renita memukul lengan putranya.
" Ya udah mom's mandi sebentar ya. Jagain anak bungsu mommy "
" Calon mantu mom's "
'' Cih kayak dia mau aja sama kamu "
" Mom's "
" Hahaha.. Iya-iya nanti moms paksa dia kalau nggak mau tapi, buat jadi adik kamu " Kay menatap malas kearah mommynya yang terbahak melihat muka kusut dirinya.
Sepeninggalan mommy Renita, Kay memilih mendekat kearah tempat tidur Sheeva. Di tatapnya wajah lelap Sheeva.
" Kamu masih belum mau bangun ya ?'" Di usapnya dengan lembut pipi Sheeva.
" Senyaman itukah kasur yang aku siapkan ?"
" Bangunlah sweety, jika kamu mau akan kukirim kasur ini ke rukomu " Jari Sheeva terlihat bergerak. Betapa senangnya hati Kay melihat Sheeva mulai merespon omongannya.
" Hay kamu mendengarku ?" Dengan lembut Kay mencium pungung tangan Sheeva yang tidak terhalang oleh infus.
" Semangat ya, banyak yang nungguin kamu bangun. Bunda juga sudah sangat merindukanmu, apalagi Nindy, kasian dia tidak ada temannya di sekolah" Lagi-lagi jari Sheeva bereaksi.
" Please bangun sayang, aku kangen kamu " Kay mendaratkan satu kecupan lagi di kening Sheeva. Mungkin sudah kena amuk Sheeva kalau dia melakukan itu dalam kondisi Sheeva sadar"
Sayang Sheeva hanya memberi reaksi dengan gerakan saja, sedang matanya masih betah terpejam.
" Tidurlah sayang, beristirahatlah sebanyak yang kamu mau. Aku akan tetap setia menunggu kamu disini."
" Tapi, kalau bisa jangan lama-lama ya. Bunda sudah sangat menati kamu bangun "
Kay beralih ke sofa masih ada beberapa berkas yang harus dia periksa. Mau di kerjakan di kantor tadi dia tak bisa berkonsentrasi.
Hampir dua jam lebih Kay sibuk dengan laptopnya. Sampai tidak dia sadari hari sudah mulai petang. Kay memilih merebahkan tubuh lelahnya di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Sheeva. Karena teramat lelah, Kay langsung terlelap.
terlalu berat beban hidup sheeva..