Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untuk Pertama Kalinya, Dia Membelaku
Di tempat lain.
Jessica sedang menikmati makan malam bersama ibunya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang ia bayar untuk menyebarkan informasi anonim. Dia menghentikan makannya, dan melihat ke arah ponselnya.
“Hotel sudah menerima laporannya.”
“Sepertinya mulai ada dampak.”
Jessica tersenyum puas. Ia tidak pernah menyentuh Joyce secara langsung. Tidak pernah mengancam. Tidak pernah menghina. Semuanya terlihat bersih. Elegan. Dan sulit dilacak.
"Kenapa tersenyum sendiri? Lanjutkan makanmu" tanya ibunya.
Jessica menyesap wine-nya perlahan.
"Tidak ada."
“Senyum senyum sendiri, sambil membaca ponsel, bisa bisanya bilang tidak ada..”
“Sudahlah momi.. satu ranting sudah patah malam ini. Kita lanjutkan makan lagi..”
Mami nya hanya menghela nafas, namun tidak menanyainya lagi. Pembiaran.. selalu itu yang dilakukannya.
Namun jauh di dalam hati Jessica, ia merasa menang. Setidaknya untuk saat ini. Karena ia belum tahu satu hal penting. Perempuan yang ia serang bukan lagi hanya seorang MC bernama Joyce. Dan Ardian Mahendra bukan tipe pria yang akan diam ketika seseorang menyakiti orang yang mulai ia pedulikan.
Sangat pedulikan.
***************
Dua hari setelah insiden laporan anonim itu, Joyce masih berusaha mempertahankan profesionalismenya. Dia berusaha memperbaiki citranya yang diragukan para collega yang pernah bekerja sama dengannya.
Tania sudah menyampaikan kesaksiannya pada pak Damar, dan meski Pak Damar mempercayainya, namun proyek Grand Imperial Hotel masih dalam status evaluasi. Belum dibatalkan, tetapi juga belum aman.
Dan ketidakpastian itu perlahan menguras tenaganya. Karena, Grand Imperial Hotel masih meragukannya.
Sore itu, Joyce ditemani Rike memutuskan keluar dari apartemen untuk sekadar mencari udara segar. Ia memilih sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senayan yang tidak terlalu ramai di hari kerja. Dengan setia Rike menemaninya.
Tidak ada makeup berlebihan. Tidak ada gaun elegan. Hanya kemeja putih longgar, celana hitam, dan rambut yang diikat sederhana. Sneakers melengkapi penampilannya. Begitu juga dengan Rike, yang menyesuaikan
Ia ingin menjadi orang biasa hari itu. Bukan MC terkenal. Bukan perempuan yang sedang diterpa masalah. Hanya Joyce dan Rike.
“Kita kemana nih Joy..?”
Mereka saat ini sedang berada di Gramedia, mencari beberapa bacaan.
“Kita cari kopi dan meal aja yukk. Mulutku dah pahit sejak tadi..”
“Ke Djournal Coffee saja, taste nya bold..”
“Yap..’
Namun semesta rupanya belum selesai mengujinya. Saat keluar dari sebuah toko buku, langkahnya mendadak terhenti. Di depannya.
Arka. Dan Celine.
Joyce langsung membeku. Rike langsung tanggap. Dia menggenggam tangan sahabatnya itu, dan menatap tajam ke arah Arka. Sedangkan Celine yang melihatnya lebih dulu, perlahan menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak ramah.
"Joyce ya..."
Nada suaranya terdengar manis. Terlalu manis.
"Sudah lama nggak ketemu."
Joyce berusaha tetap tenang. Tapi Rike seperti pasang genderang perang. Sedangkan Arka hanya diam, tampak gagap melihat mereka.
"Halo."
Suara Joyce jelas, berusaha membalas sapaan Celine. Dan ia berniat melanjutkan langkah, karena Rike sudah menariknya. Namun Celine kembali berbicara.
"Aku dengar kamu lagi punya masalah pekerjaan ya. Kasihan deh.."
Joyce berhenti. Matanya perlahan menatap Celine.
“Loe diem bisa gak.., Jika tidak tahu cerita asli, jangan mencoba untuk memojokkan Joyce..” di luar dugaan, Rike menjawab dengan sengit perkataan Celine.
“Ooopss.. kok kamu yang marah. Kan aku tanya sama Joyce..”
" Mundurlah Rik.. aku yang akan menjawab sendiri."”
Rike mundur, dan Joyce melangkah ke depan. Sambil tersenyum, Joyce berusaha menguatkan diri, kemudian.
"Aku nggak tahu itu jika masalahku menjadi urusanmu Celine... Padahal aku saja santai, dan masih menikmati suasana mall saat ini"
Meski dalam hati, ia jengkel dan marah. Tapi Joyce berusaha tetap tegar. Dengan berani dia menghadapi Celine.
"Oh maaf, bukan urusanku."
Celine tertawa kecil.
"Tapi berita seperti itu cepat menyebar. Menggunakan tubuh untuk mencari job, terdengar lucu tapi menjijikan"
Arka langsung menoleh. Perkataan Celine membuatnya marah.
"Celine."
Dia mengingatkannya. Namun tunangannya mengabaikannya.
"Menyedihkan juga sih."
Kalimat itu membuat Joyce mengernyit. Namun dia masih diam, hanya menatap Celine. Celine melanjutkan.
"Awalnya kehilangan pacar."
"Sekarang hampir kehilangan karier."
"Berat ya?"
Suasana mendadak membeku. Beberapa orang mulai melirik ke arah mereka. Joyce mengepalkan jemarinya. Ia sedang lelah. Terlalu lelah untuk berdebat. Tetapi penghinaan itu tetap terasa seperti tamparan.
"Kalau cuma untuk mengatakan itu, aku permisi."
Joyce berbalik dan menarik Rike menjauh. Namun suara Celine kembali menghentikannya.
"Mungkin ini karma."
Kali ini bahkan Arka terlihat terkejut.
"Celine!"
"Apa?" balas Celine kesal. "Aku cuma jujur."
Lalu ia menatap Joyce dari atas ke bawah.
"Dari awal aku memang nggak mengerti kenapa Arka mempertahankan hubungan itu selama bertahun-tahun."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang diperkirakan. Bukan karena Joyce mempercayainya. Tetapi karena yang berbicara adalah perempuan yang kini berdiri di posisi yang dulu ia impikan.
"Tahu nggak?" lanjut Celine.
"Aku bahkan sempat kasihan sama kamu."
"Celine, cukup."
Suara Arka kini terdengar jauh lebih tegas. Namun Celine sudah terbawa emosinya sendiri.
"Maksudku lihat saja."
"Apa yang sebenarnya kamu punya?"
"Biasa saja."
"Bukan dari keluarga besar."
"Bukan pengusaha."
"Bukan siapa-siapa."
Wajah Joyce perlahan memucat. Dia merasa terhina dengan perkataan Celine. Rike kembali maju ke depan, dan tangannya terangkat untuk menampar Celine. Namun..
“Rike hentikan.. Tidak ada manfaatnya kita meladeni orang gila di muka umum.”
Perkataan Joyce menghentikan Rike. Meski wajah Joyce merah menahan marah, namun Rike mengakui pertahanan sahabatnya itu bagus sekali. Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu, Arka melihat luka yang benar-benar muncul di mata perempuan yang pernah dicintainya. Sesuatu di dalam dirinya langsung memberontak.
"Cukup Celine!"
Suara Arka menggema lebih keras dari sebelumnya. Bahkan beberapa pengunjung sekitar langsung menoleh. Celine membeku. Mungkin untuk pertama kalinya Arka membentaknya di depan umum.
"Ka?"
"Aku bilang cukup. Jangan mempermalukan diri di depan umum"
Rahang Arka mengeras. Tatapannya tajam.
“Kenapa kamu membelanya Ka..?”
"Celine, berhenti."
"Tapi dia—"
"Aku nggak peduli. Cukup"
Suara Arka terdengar dingin. Sangat dingin. Joyce sendiri tampak terkejut. Karena selama ini Arka hampir tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu.
"Celine."
Arka menarik napas panjang.
"Jangan pernah merendahkan dia lagi."
Keheningan langsung menyelimuti mereka berempat. Wajah Celine berubah. Bukan marah. Tetapi terluka. Karena kalimat itu terdengar terlalu personal. Terlalu membela. Dan ia menyadarinya. Arka masih peduli pada Joyce. Mungkin lebih dari yang selama ini ingin diakuinya.
"Ka..."
Namun Arka sudah kehilangan kesabarannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Celine.
"Kita pergi."
"Arka!"
"Kita pergi sekarang."
Untuk terakhir kalinya Arka menatap Joyce. Banyak hal ingin ia katakan. Permintaan maaf. Penyesalan. Penjelasan. Tetapi tidak ada satu pun yang keluar. Karena ia sadar. Ia sudah kehilangan hak untuk mengatakan semua itu. Beberapa detik kemudian, Arka dan Celine menghilang di balik kerumunan. Meninggalkan Joyce yang berdiri dengan Rike memeluknya di depan toko buku.
Dan entah kenapa... bukannya merasa menang karena dibela. Justru hatinya terasa semakin berat. Karena pembelaan itu datang terlalu terlambat. Jauh setelah semuanya hancur.