Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5: "PEMANDIAN AIR PANAS YANG BERBICARA" part 2
Setelah berjalan melalui pagar batu besar yang mengeluarkan kesan menyeramkan, mereka akhirnya tiba di halaman utama pemandian. Matahari sudah mulai merunduk ke balik bukit, menyisakan warna jingga dan oranye yang menyebar di langit—suasana senja yang membuat setiap sudut pemandian terlihat semakin misterius namun juga hangat.
PEMANDIAN AIR PANAS CIATERO - SENJA
Pemandian tua dengan kolam batu yang mengeluarkan uap hangat—kolam-kolamnya berbentuk tidak beraturan dengan batu-batu besar yang sudah licin akibat terkena aliran air panas selama puluhan tahun. Uap putih tebal keluar dari permukaan air, menyebar ke sekeliling dan membuat pemandangan sekitarnya tampak kabur dan tidak jelas. Bangunan kayu tua yang terlihat dari jauh ternyata adalah ruang ganti dan tempat istirahat, dengan pintu yang berderit setiap kali bergerak dan jendela yang retak namun tetap bisa menangkap sinar senja dengan indah. Tanaman liar seperti bunga bakung dan lili liar tumbuh di sekeliling kolam, dengan warna yang lebih pekat dari biasanya seolah diberi energi khusus dari air panas di bawahnya.
Nenek Siti, penjaga pemandian, menyambut mereka dengan wajah ramah tapi penuh kesedihan—dia sudah menghapus selimut batiknya dan sekarang berpakaian baju renang warna hitam tua dengan selimut tipis yang dibalut di pundaknya. Matanya yang cerah melihat ke arah masing-masing dari mereka dengan penuh perhatian, seolah bisa membaca setiap pemikiran dan pengalaman yang mereka bawa.
NENEK SITI: "Setiap malam, aku bisa mendengar suara-suara dari dalam kolam—mereka adalah makhluk yang membantu membuat aturan dunia tapi merasa terlupakan."
Suaranya terdengar merdu namun penuh dengan kesedihan yang mendalam, menyatu dengan suara gemuruh air yang mengalir dan suara angin yang bertiup lembut di antara pepohonan. Dia mengajak mereka berjalan ke arah kolam utama yang paling besar dan terdalam, di mana uap yang keluar tampak lebih tebal dan berwarna sedikit kekuningan. Di sekitar kolam, ada batu-batu besar yang bisa digunakan sebagai tempat duduk, beberapa di antaranya sudah ditutupi dengan tikar kayu yang lembut.
"Silakan duduk dulu jika kalian mau," ucap Nenek Siti sambil menunjuk ke arah batu-batu tersebut. "Aku sudah menyediakan teh jahe hangat dan kue tradisional yang biasanya aku sediakan untuk tamu-tamu spesial yang datang ke sini."
Rara dan Kala duduk dengan hormat, sementara Jay langsung berjalan ke tepi kolam utama dengan rasa penasaran. Dia merendam jari-jari tangannya ke dalam air dan merasa suhu yang hangat namun tidak menyakitkan, bahkan memberikan rasa nyaman yang luar biasa. Jay masuk ke kolam utama dan merasa ada energi yang mengalir melalui tubuhnya—energi yang hangat dan menyegarkan sekaligus, membuat semua rasa lelah dari perjalanan dan konflik sebelumnya perlahan menghilang. Airnya terasa berbeda dari air panas biasa, lebih lembut dan terasa seperti menyentuh kain sutra yang halus.
Saat tubuh Jay benar-benar terendam dalam air, tas yang dia bawa di pinggang mulai bergetar dengan kuat. Buku tua itu terbuka sendiri dan menampilkan tulisan yang muncul dengan sendirinya di atas permukaan air—huruf-huruf emas yang menyala terang dan bisa dibaca dengan jelas:
"DI SINI, KENAPA ATURAN DUNIA DIBUAT—UNTUK MELINDUNGI SEMUA MAKHLUK, BAIK MANUSIA MAUPUN GAIB, DARI KERUSAKAN YANG SANGAT BESAR YANG PERNAH TERJADI."
Tulisan itu muncul satu per satu dengan kecepatan lambat, seolah ingin memastikan setiap kata bisa terserap dengan baik oleh mereka yang melihatnya. Saat tulisan terakhir muncul, permukaan air kolam mulai bergoyang dengan tidak biasa, membuat gelombang kecil yang menyebar ke sekeliling. Uap yang keluar dari kolam berubah warna menjadi merah muda dan biru muda yang bergantian, hingga akhirnya membentuk bentuk-bentuk yang mulai jelas terlihat.
Maka muncul makhluk gaib dengan bentuk menyerupai cairan yang berpindah-pindah—mereka tidak memiliki bentuk yang tetap, tubuhnya seperti air panas yang bergerak dan berubah bentuk sesuai keinginan, dengan warna yang berubah dari bening menjadi merah muda lalu ke ungu tua. Beberapa di antaranya memiliki bentuk yang menyerupai manusia, yang lain menyerupai hewan atau bentuk yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Mereka muncul dari dalam kolam dengan gerakan yang lambat dan anggun, tidak membuat sedikit pun deru atau gangguan pada air sekitarnya.
Mereka adalah pembuat aturan dunia pertama—wajah mereka yang terbentuk dari cairan tampak penuh dengan usia dan pengalaman, dengan mata yang seperti titik-titik cahaya putih yang menyala lembut. Setelah semua makhluk muncul dan mengelilingi kolam utama, salah satu yang terlihat lebih besar dan lebih terang mulai berbicara dengan suara yang mirip dengan gemericik air dan suara kayu yang berbunga:
MAKHLUK PEMBUAT ATURAN: "ꀘꋬꂵ꒐ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂꋊ꒻ꏂꃳꋬꀘ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ ꍌꋬ꒐ꃳ, ꁝꋬꋊꌦꋬ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂ꒒꒐ꋊ꒯꒤ꋊꍌ꒐ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ. ꓄ꋬꉣ꒐ ꀘ꒐꓄ꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꂵꏂꋊꌦꋬ꒯ꋬꋪ꒐ ꃳꋬꁝꅐꋬ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꂵꏂꋪꋬꇙꋬ ꀘꏂꇙꏂꉣ꒐ꋬꋊ ꒯ꋬꋊ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂꋪꋬꇙꋬꀘꋬꋊ ꁝ꒐꒯꒤ꉣ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꂵꋬꋊ꒤ꇙ꒐ꋬ."
Mereka mulai menjelaskan tentang konflik besar yang terjadi ribuan tahun yang lalu—saat semua dimensi masih saling terhubung tanpa batasan apapun, membuat makhluk dari berbagai dunia saling bertemu dan terkadang bertempur karena perbedaan yang tidak bisa diatasi. Banyak dimensi yang hancur total akibat benturan kekuatan yang terlalu besar, bahkan beberapa dunia yang sudah ada sejak awal waktu pun hilang tanpa jejak.
"ꀘꋬꂵ꒐ ꃳꏂꋪꀘ꒤ꂵꉣ꒤꒒ ꒯꒐ ꓄ꏂꂵꉣꋬ꓄ ꒐ꋊ꒐ ꀘꋬꋪꏂꋊꋬ ꋬ꒐ꋪ ꉣꋬꋊꋬꇙ ꒯꒐ ꇙ꒐ꋊ꒐ ꂵꏂꂵ꒐꒒꒐ꀘ꒐ ꀘꏂꀘ꒤ꋬ꓄ꋬꋊ ꀘꁝ꒤ꇙ꒤ꇙ ꌦꋬꋊꍌ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂꋊꌦꋬ꓄꒤ꀘꋬꋊ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꏂꋊꏂꋪꍌ꒐ ꒯ꋬꋪ꒐ ꃳꏂꋪꃳꋬꍌꋬ꒐ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꋊꌦꏂꂵꃳ꒤ꁝꀘꋬꋊ ꂵꋬꁝ꒒꒤ꀘ ꌦꋬꋊꍌ ꓄ꏂꋪ꒒꒤ꀘꋬ ꋬ꓄ꋬ꒤ ꇙꋬꀘ꒐꓄," tambah salah satu makhluk dengan suara yang lebih lembut. "ꀘꋬꂵ꒐ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꋬ꓄꒤ꋪꋬꋊ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂꂵꃳꋬ꓄ꋬꇙ꒐ ꉣꏂꋪꍌꏂꋪꋬꀘꋬꋊ ꋬꋊ꓄ꋬꋪ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꋬꍌꋬꋪ ꀘꄲꋊꊰ꒒꒐ꀘ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꓄ꏂꋪ꒤꒒ꋬꋊꍌ. ꀘ꒐꓄ꋬ ꃳꏂꋪꉣ꒐ꀘ꒐ꋪ ꒐꓄꒤ ꋬ꒯ꋬ꒒ꋬꁝ ꉔꋬꋪꋬ ꓄ꏂꋪꃳꋬ꒐ꀘ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꂵꏂ꒒꒐ꋊ꒯꒤ꋊꍌ꒐ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ."
Jay yang masih berada di dalam kolam mendengarkan dengan seksama, sambil masih merasakan energi yang mengalir melalui tubuhnya. Dia kemudian mengangkat tangan dan berbicara dengan suara yang jelas dan tegas:
JAY: "Kalau begitu, kenapa tidak ubah aturan sedikit aja? Seperti buat waktu khusus buat mereka bisa berinteraksi dengan manusia tanpa harus mengambil tubuh kan?"
Dia menjelaskan tentang pengalaman barunya dengan Zora dan Pasukan Kebebasan—bagaimana mereka hanya ingin dikenali dan tidak merasa kesepian. Jay juga bercerita tentang bagaimana berbagi snack dan cerita bisa membuat semua makhluk merasa lebih dekat dan memahami satu sama lain dengan lebih baik.
Jay mengusulkan untuk membuat "Hari Pertemuan Antar Dimensi" setiap bulan, di mana semua Titik Diam akan berkumpul di pemandian ini untuk berbagi cerita dan merasakan hidup bersama. Dia menyatakan bahwa pada hari itu, semua batasan antar dimensi bisa dilonggarkan secara aman, sehingga makhluk gaib bisa berinteraksi dengan manusia dengan cara yang damai dan menyenangkan. Selain itu, mereka bisa berbagi makanan khas dari masing-masing dimensi, membuat karya seni bersama, dan bahkan membuat festival yang meriah yang bisa dinikmati oleh semua orang yang memiliki hati yang terbuka.
Mata makhluk pembuat aturan mulai menyala lebih terang, dan bentuk mereka mulai berubah menjadi lebih ceria dan penuh dengan warna-warni yang indah. Mereka saling melihat satu sama lain dengan wajah yang penuh dengan harapan dan rasa lega. Nenek Siti yang sudah duduk di tepi kolam mulai tersenyum dengan lebar, matanya penuh dengan kebahagiaan yang sudah lama tidak dirasakan.
Nenek Siti setuju dan bilang akan membantu menyebarkan informasi ini ke semua Titik Diam. "Aku sudah menunggu saat ini selama bertahun-tahun," ucapnya dengan suara yang penuh dengan emosi. "Aku selalu merasa bahwa aturan yang ada bisa dibuat lebih baik, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Sekarang dengan ide kamu, anakku, semua makhluk bisa hidup berdampingan dengan lebih damai dan bahagia."
Mereka semua mulai berbicara dengan riang, menyusun rencana untuk "Hari Pertemuan Antar Dimensi" pertama yang akan diadakan bulan depan. Makhluk pembuat aturan mulai menjelaskan tentang cara yang benar untuk melonggarkan batasan antar dimensi secara aman, sementara Nenek Siti menyebutkan bahwa dia akan menyediakan makanan dan tempat yang cukup untuk semua tamu yang akan datang. Jay hanya tersenyum dan mulai merendam tubuhnya kembali ke dalam air panas, merasa bahwa semua masalah yang ada akhirnya akan menemukan solusi yang tepat jika semua pihak mau saling mendengarkan dan bekerja sama.
Di langit yang sudah mulai gelap, bintang-bintang mulai muncul dengan jelas dan menyala lebih terang dari biasanya. Uap dari kolam air panas menyebar ke langit, membentuk pola-pola yang indah seperti awan yang sedang menari. Suara nyanyian lembut dari makhluk pembuat aturan mulai terdengar, menyatu dengan suara gemuruh air dan angin yang bertiup lembut—suara yang menjadi bukti bahwa koneksi sejarah antara manusia dan makhluk gaib kini semakin kuat dan penuh dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik.