NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Izin. Saya Rapikan

Begitu pintu lift menutup, lemari besi itu bergerak. Shafiya baru saja masuk sepenuhnya.

Belum sempat menyesuaikan posisi.

Kakinya pun bergeser, dan sedikit kehilangan keseimbangan.

Refleks--tangannya mencari pegangan.

Dan yang lebih dulu melihat adalah Agam.

Reflek pula ia bergerak.

Tangannya terangkat menahan lengan Shafiya.

“Hati-hati, Nona…” ucap Agam cepat, dan menatap perempuan itu seksama.

Hanya untuk memastikan kalau ia baik-baik saja.

Shafiya langsung menegakkan diri.

“Tidak apa-apa…”

Jawabannya pelan, seraya menata napas akibat tegang. Ia kemudian menatap Agam sesaat. "Terima kasih, Mas."

Namun sebelum momen itu benar-benar lewat--tatapan lain sudah lebih dulu sampai.

Sagara melihat semua itu dengan diam.

Tidak ada perubahan raut wajah.

Tapi arah pandangnya jelas.

Tertuju ke tangan Agam yang masih memegang lengan Shafiya.

Agam menarik tangannya dengan cepat. Kemudian mengambil satu langkah menjauh. Kembali ke posisi semula. Berdiri lebih tegak. Dan

Lebih formal.

Lift itu kembali sunyi.

Namun kali ini--sunyinya berbeda. Seolah ruangan menjadi Lebih sempit dari ukurannya.

Dalam pada itu Sagara bergerak.

Ia maju satu langkah, mendekat ke Shafiya.

“Pindah ke dekat saya.”

Ia memang tidak reflek menolong Shafiya seperti Agam. Tapi Sagara memberi tempat yang lebih aman setelahnya.

Shafiya menurut. Ia maju satu langkah. Kini posisinya lebih dekat ke Sagara.

Lift berhenti di lantai paling atas.

Lantai yang tidak tersedia di panel umum.

Tidak semua orang bisa mencapainya.

Karena akses ke sana… tidak sekadar ditekan. Melainkan diotorisasi.

Pintu lift terbuka.

Sagara terlebih dulu menatap ke Shafiya sebelum keluar. Seolah memastikan ia tetap mengikuti. Bahkan di depan pintu ia masih berdiri sebentar--memastikan Shafiya keluar dengan posisi aman.

Lantai itu tidak seramai di bawah.

Tidak ada lalu lalang. Tidak ada suara percakapan. Hanya hamparan karpet tebal yang meredam setiap langkah.

Koridor panjang terbentang.

Dinding kaca di satu sisi menampilkan kota dari ketinggian. Gedung-gedung tampak kecil.

Seolah dunia… berada jauh di bawah sana.

Melihat kehadiran mereka, beberapa staf yang berada di ujung koridor langsung berdiri.

“Selamat siang, Pak.”

Nada mereka lebih tertahan dan hati-hati.

Sagara menjawab singkat, langkahnya tidak dibuat lambat. Shafiya mengikuti. Juga Agam di sisi yang lain lagi.

Di ujung koridor--seorang wanita berdiri dari balik meja kerja. Penampilannya rapi.

Cara berdirinya tegak.

“Selamat siang, Pak.”

Ia sedikit menunduk. Dan saat mendongak, tatapannya tak langsung kembali. Masih bertahan beberapa detik pada Shafiya.

Bukan bermaksud tidak sopan.

Namun jelas sedang mencari jawaban.

Sagara hanya memberi anggukan tipis padanya.

“Meeting siap?”

“Sudah, Pak.” Ia menjawab cepat dan profesional.

Sagara melangkah melewati meja itu.

Menuju pintu besar di ujung.

Tanpa plakat nama. Tanpa tanda.

Namun dari sana exklusifitasnya lebih terasa.

Pintu besar dibuka oleh Agam.

Dan ruang itu menyambut.

Luas. Namun tidak berlebihan.

Didominasi warna gelap. Kayu solid.

Dan kaca tinggi dari lantai hingga langit-langit.

Cahaya masuk bebas. Menyorot kota dari ketinggian. Meja kerja berdiri di tengah.

Bersih dan nyaris tanpa benda.

Tidak ada tumpukan berkas di atasnya.

Tidak ada hal yang tidak perlu.

Shafiya menahan langkahnya sejenak di depan ambang pintu. Sampai Agam menyilakan dengan tangannya.

"Nona. Masuklah."

Shafiya melangkah masuk.

Dan sekali lagi--ia bisa merasakan bahwa

Ruang ini… bukan sekadar tempat bekerja.

Tapi pusat kendali. Tempat semua keputusan diambil. Tanpa ragu dan tanpa kompromi.

"Masih ada waktu lima menit. Saya siapkan semuanya." Agam mengambil beberapa berkas dari laci meja. Menyiapkan tablet, dan menyalakan layar laptop. Tatapannya bertahan di layar itu beberapa detik.

Sagara berdiri di tepi jendela. Pandangannya menembus kaca besar itu. Tangannya terangkat sedikit melonggarkan lilitan dasi. Saat ia menoleh tatapannya membentur Shafiya yang hanya berdiri di tengah ruang, seolah tidak tahu harus berbuat apa.

"Kamu di sini." Sagara menunjuk sofa di sisi ruangan. "Tunggu. Saya tidak lama."

Shafiya mengangguk. Sebelum kakinya melangkah menuju sofa buatan luar negeri itu, Sagara menekan panel kaca di sudut meja kerjanya. Tiba-tiba kaca ruangan berubah buram. Cahaya terhalang masuk. Dan ruang itu tak lagi benderang. Memberikan efek menenangkan jika ingin melewatinya sambil istirahat siang.

Shafiya sempat tertegun. Sebelum akhirnya ia menyadari itu bagian dari kecanggihan tekhnologi dan exklusifitas ruangan ini.

Ia melangkah ke sofa duduk di tepinya yang begitu empuk. Ac yang sejuk membelai tubuhnya. Shafiya menghela napas pelan.

Sagara menatapnya sejenak. Sebelum pandangan itu bergeser ke Agam yang sudah siap dengan dua tablet di tangan.

"Sudah, Pak."

Sagara mengangguk. "Langsung."

Ia mengambil langkah keluar diikuti Agam.

Namun, satu panggilan menahan langkahnya. "Mas, sebentar."

Shafiya bangkit. Berjalan ke Sagara. Berhenti cukup dekat. Tangannya lalu terangkat hendak menyentuh bagian leher lelaki itu.

Sagara reflek menghindar. Tatapannya tajam. Ia tidak pernah suka disentuh orang lain, apalagi tanpa izin.

"Krah kemejanya kurang rapi, Mas." Shafiya berkata cepat. Itu membuat tatapan Sagara berubah sedikit.

"Izin. Saya rapikan."

Sagara diam. Shafiya mungkin menganggapnya persetujuan. Gerakan tangannya yang sempat terhenti. Maju membetulkan bagian krah kemeja itu yang tertekuk ke dalam, meski dengan tatap ragu.

Agam tersenyum singkat. Mengalihkan pandangan ke pintu yang masih tertutup.

"Sudah." Shafiya kembali menurunkan tangannya. Mundur satu langkah.

Sagara mengangguk. Kembali melangkah. Namun sebelum mencapai pintu ia menoleh ke Shafiya. "Jangan keluar ruangan."

"Baik."

Pintu itu kemudian menutup. Meninggalkan Shafiya sendirian di tengah ruangan luas yang kini berubah buram.

1
Nurilbasyaroh
aku tuh slalu suka karya mu thor bagus banget cerita y
Ayuwidia
Aku curiga, jangan2 ini kerjaan si perawat baru itu, dan dalangnya wanita yang masih sangat mengharapkan berada di posisi Shafiya
Afsa
Apakah ada andil Kaluna,ingin Syafiya keguguran🤔
iqha_24
Anjani jahat apa ya?
Amalia Siswati
nunggu lama2 agak kecewa di bab ini,malah terlalu banyak menceritakan karakter sagara,di awal2 sudah di ceritakan bagaimana karakternya tapi selalu di ulang2 bukan fokus ke kisah dengan elaranya.
iqha_24
gercep kan Sagara 👍, lanjut
Ayuwidia
Baca bab ini, berasa deg-degan. Takut Elara dan calon bayinya kenapa-napa 🥺
Nofi Kahza
Iya, Sagara manis juga ternyata🤭
Nofi Kahza
lho.. dh mulai manis ni perhatiannya...🥰
Nofi Kahza
sikap Anjani yg ini gue suka😎
Ayuwidia
Baru sadar kalau kamu suaminya? Kalau mengaku suami, harusnya paham dong tanggung jawab dan kewajibannya apa...
Nofi Kahza
masih bertanya? teman kok suka suudzhon..
Nofi Kahza
Cetaasss! bagus. Satriya itu bibirnya lembut tp diwaktu tertentu tajamnya setajam silet😆
Nofi Kahza
Anjani yang di sini dengan Anjani yang di sana beda ya🤭
Nofi Kahza
Anjani mah, yg dipikirin cuma penerus keturunannya aja. itu Shafiya anak orang loh, rela kasih penerus. ih😒
Nofi Kahza
Yes! harusnya dr kemarin2 kayak gitu, Gar....
Nofi Kahza
Eaaakk .. mulai berkembang nih si Sagara. Suka suka..🥰
Nofi Kahza
tetaplah berpijak di batas wajar aja ya, Gam. Aku tahu, Sagara kakunya nyebelin, tapi aku tetep pinginnya Shafiya itu sama Sagraa🤭
Nofi Kahza
woah. centilnya centil banget🤭
Nofi Kahza
aku suka jika Sagara terusik. kalau bisa buat dia kelimpungan dg gengsinya Kak Othor🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!