Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di sebuah ruang perawatan, Rania terbaring dengan mata terpejam. Kondisi tubuhnya sudah melewati masa kritis, tapi ia belum juga membuka mata setelah dua hari mendapatkan perawatan di klinik tersebut.
Dokter Pri duduk tak jauh dari ranjangnya. Selama dua hari merawatnya, ia selalu menyempatkan diri untuk duduk di ruangan Rania berharap gadis itu akan bangun. Dokter Pri penasaran tentang identitas gadis tersebut.
Ugh!
Rania melenguh pendek, tubuhnya bergerak setelah dua hari koma tak sadarkan diri. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Perlahan duduk dengan mata terpejam. Dokter Pri tetap duduk di kursinya menunggu kesadaran Rania yang belum terkumpul.
Rania membuka mata perlahan, pandangannya buram tak jelas dan membuat kepalanya semakin berdenyut. Ia kembali terpejam, menyesuaikan semuanya. Lalu, kembali membuka mata dengan pandangan yang perlahan mulai jernih.
Ruangan serba putih, dan bau obat-obatan yang khas ikut menyeruak ke dalam hidungnya.
"Di mana ini?" Ia bergumam lirih sembari mengedarkan pandangan ke segala arah.
Matanya menangkap siluet seorang dokter yang duduk di kursi tak jauh darinya. Dokter laki-laki itu melipat kedua tangan di perut, memperhatikannya dengan saksama. Kepalanya sedikit miring, menatap dingin dan acuh tak acuh.
Argh!
Rania terkejut, tubuhnya terlonjak kecil karena ia mengira hanya sendirian di ruangan tersebut. Lalu, melirik tubuhnya yang mengenakan pakaian pasien klinik.
"Sudah bangun?" tanya dokter tersebut tanpa beranjak dari tempatnya duduk.
Aku ingin tahu, apa dia mengenalku?
Batin dokter laki-laki itu bergumam, menunggu reaksi Rania setelah melihatnya.
"Ah, Primark? Kaukah itu?" tanya Rania dengan mata menyipit memastikan ia tak salah melihat.
Dokter Pri terhenyak, kedua tangannya turun perlahan dengan detak jantung yang bertalu-talu tak karuan mendengar Rania memanggil namanya.
"Kau mengenalku?" tanya dokter tersebut memastikan yang ia dengar tidaklah salah.
Rania tersenyum, kepalanya menggeleng pelan. Ia pikir dokter Pri sedang bercanda dengannya.
"Jangan berpura-pura seperti itu, Primark. Tentu saja aku mengenalmu, seorang anak yang tidak bisa lepas dari sebuah permen lolipop. Sekarang, kau seorang dokter?" cerocos Rania sambil tertawa kecil membayangkan masa sekolah mereka yang dipenuhi dengan canda dan tawa.
Dokter Pri kembali terhenyak, tubuhnya semakin menegang. Setelah sekian tahun tidak bertemu, Rania masih mengingat kenangan tentang masa sekolah mereka. Ia bangkit, melangkah pelan mendekati Rania yang duduk sambil menatapnya.
"Rania, benarkah ini dirimu?" tanya dokter Pri dengan perasaan tak tentu.
Perasaan ingin bertemu yang ia pendam selama bertahun-tahun ini dan akhirnya bisa diwujudkan. Ia berdiri di dekat ranjang Rania, menelisik dengan saksama wajah yang amat dirindukannya itu.
"Tentu saja. Kau pikir siapa ... tunggu! Kau mengenalku?" Rania baru menyadari tentang tubuh yang ia tempati sekarang adalah bukan tubuhnya.
Saat ini ia berada di tubuh Sania, gadis nelayan dari kota Pesisir yang miskin, sedangkan dokter Primark adalah sahabat Rania sejak masa sekolah dari kota Anggrek. Bagaimana mungkin mereka saling mengenal satu sama lain.
Dokter Pri duduk di kursi dekat ranjang Rania, menatapnya yang saat ini mematung karena terpukul kenyataan. Kenyataan bahwa tubuh yang ia tempati saat ini adalah milik Sania, bukan Rania.
"Tentu saja. Aku masih mengenalmu meski kau jauh lebih muda dariku," katanya dengan pasti.
Rania mengernyit, kata-kata 'jauh lebih muda' berputar-putar di otaknya. Gadis ini memang usianya jauh lebih muda dengan Rania, ia masih belia sedangkan Rania adalah seorang wanita dewasa yang sudah pernah melahirkan.
"Apa maksudmu jauh lebih muda?" tanyanya dengan bingung, matanya menatap lebih dalam pada kedua manik dokter Pri yang lembut dan menenangkan. Sama seperti dulu.
Dokter tersebut tersenyum, menggenggam tangan Rania dengan hangat. Genggaman yang sama seperti saat mereka sekolah dulu. Ketika Rania menghadapi masalah yang membuatnya stres.
"Rania, setelah bertahun-tahun kita tidak bertemu, aku pikir kau akan berubah menjadi tua. Tapi, yang aku lihat saat ini adalah sosok Rania sepuluh tahun yang lalu. Rania yang selalu berambisi mengejar keinginannya. Kenapa kau tidak berubah sama sekali? Dan kenapa kau ada di sini? Bukan di kota Anggrek?" ujar dokter Pri dengan perasaan tak tentu.
Pertanyaan itu membutuhkan jawaban agar rasa penasaran di hatinya segera terjawab. Sosok Rania yang saat ini berada di hadapannya benar-benar tidak masuk akal. Tidak seperti dirinya yang semakin menua seiring waktu berjalan. Rania masih sama seperti saat mereka sekolah dulu.
Rania tertegun mendengar pemaparan dokter Pri. Tidak mungkin rasanya ia masih begitu muda.
"Primark, bisa kau memberiku cermin? Aku harus melihat wajah ini," pintanya berbalik menggenggam tangan dokter Pri.
Laki-laki itu mengangguk dan beranjak dari sana. Ia pergi ke kamar mandi, mengambil cermin yang ada di dalam sana membawanya ke hadapan Rania meskipun tak mengerti apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.
"Ini. Tapi, untuk apa kau ingin melihat wajahmu sendiri? Apa kau takut tidak cantik lagi? Aku akui, kulitmu ini memang kusam seperti tidak pernah perawatan. Seingat ku kau sangat peduli pada kesehatan," ucap dokter Pri sembari menghendikan bahu.
Rania merebut cermin itu, menempatkannya di depan wajah. Menelisik wajah Sania yang tak semulus dirinya.
"Wajah ini ... kenapa begitu mirip denganku?" gumamnya sembari mengusap-usap pipi sendiri.
"Apa maksudmu?" Dokter Pri kembali menegang mendengar gumaman Rania.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄