NovelToon NovelToon
PETUAH TANAH LELUHUR

PETUAH TANAH LELUHUR

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Spiritual / Duniahiburan / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Artisapic

Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XVIII SUMUR SINABA

      Wedar ing lelampah wiwit kawitane darma samiya amprok dening raksa nira ingkang mubyar, weton ingkang luhur kadiya jiwa ing swargaloka, puspa nira tumegar ing gegana, jiwa suci ingkang ngabdi, sumringa ing lelampah nira, beucik ingkang setitik, damel laku ing lumaku nira, ala ingkang salah kabanjur dening siksa, damel jalmi ing pepada nira, suka cita ing lelampah, samiya bakti ingkang dumadi , harja nira mukti aji.

    Sementara di Ujung Krangkeng, ki Sawerga, dan juga para santri serta kerabat, kala itu hari sudah menjelang sore, sesuai dengan rencana awal bahwa jelang sore itu ki Werga bersama Wirya serta beberapa kerabat sudah bersiap-siap melakukan tiwikrama, dengan penuh khusyu mereka satu per satu melepas sukmanya.

    Pertama yang keluar adalah Wirya, disusul oleh dua santri dan ki Luwih lalu tiga kerabat. Sukma-sukma itu menuju istana Dewi Lanjar.

    Beberapa kedip saja, para sukma sudah berada di depan gerbang istana. Di tempat itu mereka melumpuhkan para penjaga yang jumlahnya dua puluh. Setelah itu mereka melanjutkan ke hamparan seperti lapangan, di tempat itu mereka dibagi menjadi tiga kelompok. Ada yang menuju ke arah kiri, ada juga yang ke kanan, sementara tiga sukma menuju ke pintu depan.

    Baru melangka beberapa jengkal, muncullah sosok wanita bertubuh ular, tubuhnya meluncur cepat seperti orang lari. Melihat hal seperti itu, sukma ki Werga langsung diserang, dan terjadi perkelahian seperti juga sukma lain. Beberapa sosok bertubuh ular itu lari bersembunyi, mereka mengalami serangan dengan kekuatab bathin yang kuat. Seperti sukma ki Werga, sukmanya bertarung dengan berbagaj jurus, dan pada saat gerakan tangan mendorong ke depan, tangan itu mengeluarkan semburan api, di situ sosok ular itu menghindar, namun bagian tubuh lain tersambar semburan api itu.

    Setelah tubuhnya kena semburan api, lalu sosok tubuh ular itu lari di balik lorong kecil dan menghilang. Kemudian para sukma berkumpul di alun-alun tadi. Saat itulah muncul sosok manusia bertubuh ular yang lebih besar.Sosok itu merangsak ke depan dan memburu setiap sukma di situ. Dua sukma terpental oleh ekor wanita itu, dan di saat itu juga, sukma ki Werga menaburkan garan laut ke tubuh sosok itu. Ia lari sambil merasakan panas di tubuhnya.

    Sosok ular tadi menyelinap di antara lorong lalu hilang masuk lubang. Begitu merasa aman, semua sukma tadi masuk ke dalam gedung mewah, ki Werga segera mengambil sebuah patung berwujud orang bertubuh ular. Kemudian mereka keluar dari wilayah itu, hingga mereka berada di depan pintu gerbang. Lalu mereka kembali ke jasadnya masing-masing. Semua kembali dengan selamat.

Sementara itu di gubuk yang telah dibangun mendadak, tampak Mandaga bersama kerabat sedang menjaga jasad para ksatria Cikeusik, mereka sambil membaca mantra aji, juga ada yang memasak. Beberapa saat kemudian, tampak tubuh-tubuh yang ditinggalkan oleh sukmanya itu bergerak-gerak lalu lunglai, ada yang roboh, ada juga yang terjungkal dan hanya tubuh ki Werga serta Wirya yang masih tegak.

Setelah mereka sadar dari keluarnya sukma tadi, tampak wajah Mandaga memerah, nafasnya terasa sesak. Tidak hanya itu, tubuh Mandaga menggigil hebat , matanya terpejam dan tubuhnya dingin sekali. Melihat itu, ki Werga menyuruh mengambil air laut, lalu disiramkan ke kaki Mandaga. Selanjutnya tubuh Mandaga terbaring lemas, hanya nafas yang tampak terlihat di dadanya. Selang beberapa saat, Mandaga batuk-batuk kecil lalu memuntahkan darah hitam, pertanda tubuhnya terkena racun. Ki Luwih segera mengoleskan ramuan penangkal racun.

Dalam keadaan lemas dan belun pulih benar, Mandaga berkata, " carilah sumur di sana, dan apabila tidak asin, berarti itu sumurnya, sumur Sinaba" ,katanya.

Beberapa orang menuju ke arah yang ditunjukan Mandaga, dan benar saja, di tempat itu sekitar beberapa depah, ada sumur kecil yang airnya jernih tapi tidak asin, padahal sangat dekat dengan laut.

" Aneh," gumam Suta di dekat sumur itu.

Lalu mereka membawa air sumur tadi dan langsung diminum oleh Mandaga. Setelah minum air itu, tubuh Mandaga kembali sehat dan mampu untuk berdiri. Sejak saat itu sumur tersebut dinamakan sumur Sinaba.

Setelah semuanya dinyatakan sembuh dan sehat, rombongan itu akhirnya menuju ke Cikeusik. Mereka saling bercerita dan berhasil membawa kayu Lingga Yoni sebesar doran cangkul , dan kayu itu sekarang masih tersimpan di bawah tanah alun-alun Cikeusik sebagai penangkal kilat samber nyawa.

Sementara itu di pendopo Cikeusik, ki Luwih sedang menceritakan dan membahas sedulur 4 ke 5 pancer.

" Maruta maruti itu sebagai perlambang tentang cikal bakal anak lahir yang biasanya akan tampak lewat sebuah mimpi atau wangsit, biasanya akan tiba saatnya bila jabang bayi usia kandungan 4 bulan, kadang si Ibu mimpi melihat kambing, kadang juga mendapat ikan, atau melihat kerbau, sapi dan juga burung serta hewan-hewan lain yang hampir sama dengan ramalan orang China," katanya.

" Kalau air ketuban atau babu kawah itu apa Ki," tanya Nyi Kalis.

" Babu itu pembantu atau pembuka, artinya bahwa, jabang bayi yang akan keluar atau lahir ditandai dengan keluarnya air ketuban atau babu kawah, itulah saudara kita dan sahabat kita di dalam rahim, kalau sampai pecah air ketuban itu maka jabang bayi tersebut mengalami keracunan, biasanya jarang yang selamat, itu biasanya," jelas ki Luwih.

" Terus ada darah, maksudnya apa itu Ki," kata Anggapala.

" Darah itu maknanya saudara kita waktu di kandungan, ia yang melindungi jabang bayi dari segala benturan atau gangguan dari luar kandungan, dan biasanya darah itu mendorong jabang bayi supaya cepat keluar, sehingga selamat, begitu jabang lahir maka keluarlah darah," jelas ki Luwih sambil memandang ke ujung jalan yang banyak orang menuju ke pendopo.

Di ujung jalan pedukuhan, saat itu malam belum larut, rombongan ki Werga datang dengan selamat tak kurang apapun. Mereka seakan di arak oleh beberapa warga sambil mengacungkan kayu lingga yoni. Setelah sampai di pendopo, mereka disalami dan dipeluk oleh kerabat yang ada di pendopo itu.

" Syukurlah kalian datang Ki, silahkan istirahat dulu sebelum menjelaskan apa yang dialami di sana," kata Nyi Kalis.

" Terima kasih berkat doa kalian dan perjuangan kita semua, kami akan menikmati sajian hidangan ini," kata ki Werga.

Selanjutnya di pendopo itu, sabagian rombongan menikmati hidangan, sementara yang lain segera mensucikan tubuh dengan mandi di kolam belakang. Tampak ki Werga menunjukan kayu itu, terlihat warnanya hitam, jenis kayu yang kuat, berurat, dan berat. Sementara Anggapala memegang kayu itu sambil geleng-geleng kepala, lalu menyerahkan kepada yang lain untuk melihatnya dan memegangnya.

Setelah sebagian rombongan tadi mandi, barulah rombongan ki Werga yang mandi, sementara menunggu ki Werga mandi, ki Luwih lupa untuk meneruskan pembahasan tadi. Beliau malah menimang-timang kayu itu sambil berdecak kagum. Kemudian dikagetkan dengan suara orang di situ.

" Lanjutannya mana Ki," kata orang itu sambil merbahkan diri.

1
ArtisaPic
apa tuh judulnya.....soalnya aku baru ikutan di apk ini/Pray/
Winsczu
kayak baca novel yang udah di cetak 🤣. Tapi gapapa, bagus! 👍🏼👍🏼👍🏼
ArtisaPic: itu lanjutan dari judul
MENGUNGKAP SEJARAH PETENG
baca biar jelas ya/Rose//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!