NovelToon NovelToon
Meretas Batas : Titik Cinta!

Meretas Batas : Titik Cinta!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Berbaikan / Cerai / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Avalee

“Menikahlah denganku, Jia.”

“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”

“Jadi kamu menolakku?”

“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”

Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”

Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.

Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.

Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasien yang Tertolak

Pria tersebut tersenyum lebar, selebar lengkungan pelangi, dan itu membuat Jia sedikit … takut. Entah mengapa, perasaan tidak nyaman di dekat pria tersebut, muncul kembali.

Den menjentikkan jarinya. “Ini canggung sekali, baiklah, mari kita bicara. Aku tahu kamu memiliki segudang pertanyaan untukku.”

“Kenyataan begitu, bukankah kamu sudah 'die'?? Lalu sekarang, apa ini? Muncul di hadapanku.”

“Aku memang belum meninggal. Itu semua adalah.… yah … seperti itulah, aku tidak dapat menceritakannya lebih lanjut,” ungkap Den seraya memainkan jarinya pada lutut.

Suasana seketika hening. Jia melihat tingkah Den yang mulai tidak nyaman. Ada kecemasan yang terpancar di wajahnya. “Kamu terlihat cemas.”

“Huh, itu tepat sasaran Jia. Aku datang ke sini atas rekomendasi dokter psikiaterku, karena dia harus cuti untuk sementara waktu …”

“Dari semua Psikiater, dia merekomendasikanku??”

“Ya, dr. Mala, apa kamu mengenalnya?”

Jia mengernyitkan dahinya. “Ah! Dr. Mala, ya aku pernah co-ass di rumah sakit yang sama dengannya. Mungkin dr. Mala tidak tahu bahwa aku mengenalmu. Uhm, akan tetapi … sepertinya aku tidak bisa memberikanmu terapi. Kita saling mengenal satu sama lain sejak lama, dan itu dapat mempengaruhi penilaianku terhadapmu.”

Den terdiam. Kemudian tersenyum kembali. “Baiklah kita batalkan saja terapi kali ini.”

Secepat kilatan petir, Jia bertanya kembali perihal apakah teman-teman SMA mereka mengetahui bahwa Den masih hidup, namun Den hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Intinya … tidak banyak orang yang tahu. Ah, dan juga … aku minta maaf atas perbuatanku dulu di masa SMA … hanya karena pernyataan cintaku ditolak. Sungguh, aku menyesalinya hingga saat ini.” (Baca bab.11, Beauty in the Struggle.)

“Ya, tidak apa-apa. Lagipula, kamu memang tidak akan bisa berbuat bodoh lagi, karena seluruh ruangan di klinikku memiliki CCTV.”

Den hanya tertawa dan melanjutkan lagi ceritanya. Jia berusaha mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya.

Menariknya, Jia merasa tidak ada aura mencekam dan kejahatan di sana. Hanya seperti ungkapan rasa bersalah, dari seorang teman.

“Jadi, apa kita berteman kembali?”

“Uhm, kurasa aku butuh waktu… Den.”

Jia tersenyum dan bergumam lagi dalam hatinya. “Yaah, kemungkinan juga, Liel tidak akan suka mendengar kabar ini.”

Sambil memainkan penanya, Jia dan isi hatinya beradu pendapat, tanpa menghiraukan Den, yang sejak tadi memanggilnya. “Eh, tunggu!! Mengapa aku malah mengkhawatirkan tentang pendapatnya?? Arrgh sialan!!”

“Jia.”

“Hei, Jia Bintari, apa kamu mendengarku?” Tanyanya lembut, selembut kain sutra.

Jia tersentak. Membuatnya kembali ke masa kini, di mana hanya ada dia dan mayat hidup. Tidak, Den bukan lagi mayat hidup, melainkan manusia yang bernapas.

“Hah … oh iya, a–aku mendengarmu.”

Den seketika tertawa. Namun tawa itu hanya Jia yang bisa mendengarnya.

“Sikapmu inilah yang banyak membuat para pria waktu kita SMA banyak mengejarmu.”

Jia menghembuskan napas dengan kasar. “Maksudmu??”

“Kamu dan lamunanmu itu, yang entah sedang berada di mana, namun ketika sadar kembali, kamu tetap bisa fokus dan bisa mendengar lawan bicaramu. Itu kelebihanmu, cantik dan juga … cerdas.”

Mendengar hal itu, bukannya senang, Jia malah mendengus kesal, sebab karena itu pula lah, dia menjadi bahan perundungan di sekolah, di cap sebagai wanita penggoda, genit, dan sebagainya.

Padahal, jika dipikirkan kembali, Jia tidak pernah mencoba untuk mendekati semua pria di sekolahnya. Dia hanya fokus belajar, sebelum jatuh dalam jeratan Liel.

“Ahaa… Jadi, kamu masih menyukaiku rupanya?” goda Jia seraya memicingkan matanya.

Den menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tahu aku tidak berhak lagi menyukaimu Jia, berteman denganmu saja sudah cukup bagiku.”

Jia terkekeh dan berdiri mengambil tasnya. “Baguslah, kamu tahu posisimu bukan? Hm, ini sudah pukul 15.10 wib. Bukankah kita harus menyudahi perbincangan kita?”

Den yang ikut berdiri pun mengangguk pelan dan segera mengikuti Jia keluar ruangan. Dia bahkan mengajak Jia untuk makan bersamanya.

“Ayolah Jia, jangan menatapku tajam seperti itu! Kita bisa makan di sekitar sini, aku sudah mendengar bunyi perutmu sejak tadi.”

Jia mengangguk pelan. Meskipun Jia mengikuti keputusan Den untuk makan bersama, dia tetap waspada dan tidak ingin percaya sepenuhnya, yang terpenting, Jia hanya ingin mengisi perutnya sampai kenyang.

Sementara itu, Olin yang membawa makanan untuk Jia, dilanda kebingungan yang hebat. Dia tidak melihat seorang pun, baik di ruangan maupun luar klinik, kecuali satpam.

...****************...

Di sisi lain, di sore hari yang sama, Liel yang masih berkutat membaca berbagai proposal dan menandatangi beberapa dokumen, berusaha menelpon Jia, namun tidak kunjung diangkatnya.

Pria berjas hitam dengan kemeja putih yang melekat sempurna di tubuhnya itu, kini mulai merasa cemas, namun perasaan itu dengan cepat Liel tepis. Dia masih harus fokus dengan pekerjaannya.

“Nomor yang anda tuju, sedang bersama pria lain, cobalah untuk beberapa saat lagi,” ucap operator seluler.

Liel mendecik kesal. “Ck, mengapa dia tidak mengangkatnya? Apakah pasiennya banyak?”

Tidak berselang lama, ponsel Liel berdering. Kepalanya menoleh dengan cepat, sebelum dia menandatangani dokumen berikutnya. Tony, menelponnya.

“Liel memutar bolanya matanya dengan malas. Haa … mengapa mesti pria berotot ini yang muncul!”

Dia segera menekan tombol warna hijau pada gambar telepon di layar ponselnya.

“Ya, bicaralah.”

“Tuan, maaf jika anda harus mendengar ini. Aku tidak sengaja melewati klinik nona Jia, dan aku melihat nona bersama Denetor menuju ke sebuah restoran, di seberang jalan, tidak jauh dari tempat klinik tersebut.”

Rahang Liel seketika mengeras. Napasnya memburu. Tenggorokannya tercekat. Ada jutaan kemarahan yang tidak bisa segera dia keluarkan dari mulutnya.

“Tuan … tuan muda? Apa anda baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.”

Tony terdiam. Dia tahu benar jika suara tuan mudanya terdengar semakin tenang dan tanpa emosi, itu artinya dia sedang marah.

“Tony, pantau kegiatan mereka dari jauh dan laporkan apa saja yang terjadi. Jangan biarkan Jia dalam bahaya. Aku akan mengutus orang lain untuk memantau Ravindra hari ini.”

“Anda tidak ingin memeriksanya sendiri, tuan? Bukankah anda kemarin menyuruh saya untuk tidak membuntuti nona Jia kembali?”

“Apa aku bisa terbang ke sana sekarang di tengah pekerjaanku yang menumpuk?”

Liel menutup ponselnya sebelum Tony sempat untuk berbicara kembali. Sorot matanya kembali tajam. Dia hanya ingin ketenangan dan belahan jiwanya. Hanya itu, tidak ada yang lain.

Liel tersenyum sinis. “Huh, jadi ini alasanmu tidak mengangkat teleponku?”

Kemudian matanya beralih ke dalam tumpukkan berkas dan dokumen. Dia mulai mengerjakan tugas yang sudah menjadi tanggung jawabnya itu.

Tidak sampai 40 menit, Liel melempar pelan penanya, pertanda pekerjaannya hampir selesai. Ada rasa puas bercampur kemarahan yang memuncak.

“Akhirnya … sisanya akan aku baca besok, karena butuh ketelitian yang tinggi.”

Liel sedikit heran, mengapa dirinya begitu cepat dan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, seperti ada hal yang ingin dia kejar.

Alisnya bertautan. “Apa aku cemburu? Apa yang memburuku? Bahkan terhadap Reonald sekalipun, aku tidak pernah secemas ini??”

Seketika setiap sel di otaknya bekerja dengan cepat, berusaha memberi sinyal kepada Liel bahwa yang dirasakannya adalah benar perasaan cemburu.

Dia bergumam pelan seraya berlari cepat. “Den … dari semua wanita di muka bumi ini … mengapa harus Jia? Sungguh licik. Ini tidak bisa dibiarkan.”

1
Muffin🧚🏻‍♀️
Laaah centil padahal mau juga aslinya kwkw
Muffin🧚🏻‍♀️
Liel ini bisa jadi banyak bicara ya kalo sm jia ?
Muffin🧚🏻‍♀️
Suudzon muluuu jiaaa ah
Muffin🧚🏻‍♀️
Sabar mangkannya nat kekw keburu emosi sih uuu
TokoFebri
agak ngakak ya dengan kata Universitas Sinus wkwwk
TokoFebri
Kay jahat banget.
TokoFebri
Liel, apa kamu yakin mampu menahan rasa rindumu kepada jia?
TokoFebri
liel mikir aja cakep wwkw
TokoFebri
pengen punya pen kayak gitu. mahal kali ya..
TokoFebri
Kalau bicara masalalu memang berat. apalagi kalau yang buruk buruk. tapi jia.. move on ke masa depan. semoga bisa melewati semua masalahmu jia untuk kedepannya.
drpiupou
nah yah kan, bikin cpek aja berdebat wkwkw
drpiupou
wkwkw lgsung auto masuk
drpiupou
waduh wanita malam. gadis malam atau gimana nih mksdnya/Awkward/.

uhh pesta ambil minum pasti ini
Miu Nuha.
Aku menikmati karyamu author Avalee yang keren banget kalo bikin alur cerita. love-hate dan chemistry Jia dan Liel juga bagus, naik turun kek rolercoster, seru! 😆

semangat berkarya!!
Avalee: Akkkh makasih byk kak 😍
total 1 replies
Miu Nuha.
jian, berani sekali jia /Joyful/
Avalee: Yg nulis aja kaget 🙂‍↔️
total 1 replies
Miu Nuha.
masih muter2 kek komedi putar yg gk mau berhenti, sabar ya /Shy//Shy/
Avalee: Sabar bgt 😫😫🤣
total 1 replies
Miu Nuha.
kok ya bisa /Facepalm//Facepalm/
Avalee: Operatornya koplak 😭🤣
total 1 replies
Miu Nuha.
ada aja kamu bikin scene begini Thor /Proud//Proud/
Miu Nuha.
aduh, gara2 kemeja jadi seseius ini /Gosh//Gosh/
,, untunglah papany super duper lovely papa~
Avalee: Baik bgt papanya 🥰🥰
total 1 replies
Miu Nuha.
ahahah lucu sekali /Facepalm//Facepalm/
Avalee: Kakanya Jia menggila 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!